Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Datang ke Rumah Sakit


__ADS_3

Febrian menghentikan langkah kakinya di depan meja resepsionis.


'' Selamat siang Pak,ada yang bisa kami bantu ?" tanya petugas berparas cantik yang memberikan senyum ramah.


'' Siang sus.Pasien atas nama Anya Stevani Putri di ruang apa ya ?'' tanya Andreas , menanyakan ruang dimana Anya di rawat.


'' Sebentar Pak saya cek dulu ''. ucap sang petugas , kemudian mengecek lewat komputer. Beberapa saat Andreas berdiri menunggu informasi ruang rawat Anya.


'' Atas nama Anya Stevani Putri ya Pak ?'' sang petugas memastikan nama pasien yang di tanyakan.


'' Benar Sus '' sahut Febrian yang berdiri dengan bingkisan buah di salah satu tangannya.


'' Ruang VIP pak .'' jawab petugas tersebut. Febrian mengangguk , kemudian lelaki itu menanyakan arah ruang VIP. Dengan ramah dan penuh senyum petugas memberikan pengarahan.


Dengan langkah tegap, Febrian berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai dimana Anya di rawat. Berdiri menunggu lift terbuka, Febrian cukup menyita perhatian dengan tampilannya yang cukup mempesona. Kemeja slim fit berwarna navy dengan lengan panjangnya yang ia gulung sampai batas siku di padukan celana chinos berwarna gelap di padu sepatu loafers berwarna senada. Sebelah tangannya membawa bingkisan dan sebelah tangan yang lain menenteng clutch bag .


Wajah yang biasanya tampak bersih itu kini di tumbuhi bulu-bulu halus yang menambah kesan macho pada lelaki berambut pendek itu. Garis tegas pada rahangnya menambah kesan maskulin dari lelaki yang kini melangkah masuk ke dalam lift. Tanpa memperdulikan mata-mata yang mencuri pandang padanya.


Dalam diamnya selama berada dalam lift. Rasa was-was menghinggapi diri seorang Febrian. Sejujurnya ia belum siap menghadapi Anya dan keluarganya untuk saat ini. Di saat ia sendiri dalam kegamangan hati. Ketika cintanya pun tak pasti entah dimana keberadaannya. Kini ia harus berhadapan dengan keluarga wanita yang ia jadikan wanita keduanya.


Wanita yang tak pernah ia harapkan sebagai pelabuhan. Hanya sekedar tempat singgah,untuk berhenti sejenak sebagai penghilang penat. Bukan pengobat lara hanya sekedar pereda saja.


Kini karma seakan menghampiri membayar lunas segala kecurangan yang ia lakukan pada dua wanita. Menduakan cinta yang mengisi hatinya,dan memberikan pengharapan pada wanita yang menjadi pelepas dahaga. Kini ia di tinggalkan cinta dan terjebak pada kerumitan wanita yang ingin memilikinya.


Febrian tampak menghirup nafas dalam,sesaat setelah berada di depan pintu ruang VIP. Mengeluarkannya lewat mulut, mencoba menenangkan hati yang gelisah. Ia tak bisa menebak apa yang akan terjadi di balik pintu itu. Ia hanya berharap bisa keluar dengan selamat. Ia hanya harus mengakhiri kisah yang memang harus berakhir. Dengan segala keberanian yang telah dikumpulkan, Febrian mengetuk pintu ruang rawat itu.

__ADS_1


'' Masuk !" suara seorang wanita menyuruh dirinya untuk masuk. Dengan perlahan di dorongnya pintu itu. Tiga pasang mata melihat kearah Febrian yang tersenyum canggung.


'' Bri, akhirnya kamu dateng juga '' lemah suara Anya menyambut kedatangan Febrian. Namun senyum yang tergambar di bibir itu adalah senyum bahagia. Febrian berjalan mendekati brangkar, dimana Anya terbaring dengan tubuh lemah.


'' Siang tante !'' sapa Febrian pada wanita yang masih tampak cantik dan anggun meski garis wajahnya tak bisa memungkiri umur yang sebenarnya.


'' Siang nak...?'' kata wanita itu dengan nada bertanya dan alis yang mengernyit.


'' Febrian Tante '' ujar Febrian seraya mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri pada wanita itu.


'' Oh,jadi kamu yang namanya Febrian. Saya Agatha ibunya Anya.'' ucap wanita bernama Agatha itu seraya membalas uluran tangan Febrian. Febrian tersenyum seraya mengangguk kecil. Kemudian melepas jabatan tangan itu dan menyerahkan bingkisan yang ia bawa. Yang di terima dengan baik oleh Tante Agatha.


Febrian beralih pada wanita lain yang berdiri di samping Tante Agatha.


'' Febrian '' singkat Febrian yang menyadari tatapan mata yang menghujam itu.


Febrian melepas tangannya dari Cecilia yang bahkan tak memberinya seulas senyum. Ia kemudian menghampiri Anya, yang tersenyum menyambut kedatangan sang pujaan hati.


'' Hai Nya, gimana ?, udah mendingan ?'' tanya Febrian berusaha se ramah mungkin pada wanita yang berbaring lemah itu.


Anya mengangguk dengan senyum tak pudar dari bibirnya. Binar mata itu terlihat jelas melihat Febrian datang menjenguk. Ia meraih tangan Febrian dan di genggamannya dengan erat.


'' Selama ada kamu,aku bakal baik-baik aja Bri . '' ucap Anya penuh pengharapan. Febrian tampak menghela nafas dalam.


'' Nya ..." Febrian hendak menyahut namun Anya buru-buru menyela dengan meletakkan jari telunjuk di bibirnya sendiri.

__ADS_1


'' Ssstt,aku tahu kamu sayang sama aku . Kamu peduli sama aku. Buktinya kamu ke sini kan ?''. ucap Anya seraya menarik tangan Febrian untuk duduk di kursi yang berada di samping tempat tidurnya.


Febrian hanya bisa menelan ludah. Hilang semua rencana yang tersusun di otaknya untuk melepaskan diri dari Anya. Dua orang yang duduk di sofa cukup membuatnya mati kutu. Tapi ia pun tak mungkin memberikan penghargaan palsu pada wanita di hadapannya.


'' Aku kangen banget sama kamu Bri. Kamu kemana aja ?'' suara lemah Anya dengan telapak tangan membelai wajah Febrian. Febrian menangkap tangan itu dan diturunkan dari pipinya. Dan di letakkan di sisi tubuh Anya. Seketika Anya tertegun mendapati diri tertolak oleh lelaki yang berhasil mengobrak-abrik hatinya.


'' Nya, jangan gini. Kamu tahu kan aku udah gak bisa lagi. Jangan memaksakan sesuatu yang gak bisa. Seandainya kita terus bersama pun kamu juga akan terluka. Sorry Nya, kamu wanita baik, gak layak kamu nangisin orang brengseek kayak aku Nya.'' tutur Febrian dengan nada begitu lembut. Namun air mata di pipi Anya sudah berlinang.


'' Aku gak perduli kamu seperti apa Bri . Aku cinta sama kamu. Aku mau kamu Bri ''. ujar Anya dengan suara serak karena tangisnya. Febrian menghapus air mata Anya dengan jarinya.


'' Maaf Nya,maaf. '' ucap Febrian seraya menatap dalam mata yang masih berurai air mata.


'' Kamu jahat Bri !, apa lebihnya dia di banding aku ?. Apa yang dia miliki yang gak aku miliki Bri ?. Katakan Bri,biar aku menjadi dia . Asal aku bisa bersama kamu'' isak Anya frustasi. Sungguh wanita itu sedang putus asa dalam cintanya.


Febrian menggeleng, kemudian meraih tangan Anya,di genggamannya dengan hangat.


'' Kamu gak perlu jadi siapa pun. Karena gak akan merubah apapun '' Febrian tampak begitu dewasa saat ini.


'' Kenapa Bri, Kenapa dia ?, kenapa bukan aku ? ".cecar Anya dalam isaknya.


'' Karena kamu bukan dia Nya, maaf.Tapi kamu gak bisa terus kayak gini. Ada banyak laki-laki di luar sana yang mencintai kamu dengan tulus.'' ucap Febrian. Anya menatap langit-langit kamar dengan tawa hambar.


'' Kamu jahat Bri, kamu bakal nyesel nyia-nyiain aku ,kayak gini ''. ucap Anya penuh emosi.


Di belakang sana,dua wanita itu mengawasi dan mendengarkan. Tampak Cecilia begitu geram pada Febrian. Namun saat ia hendak menghampiri Febrian , Agatha meraih tangan putri sulungnya. Menggelengkan kepala, memberi kode pada sang putri untuk memberikan ruang pada adiknya. Cecilia tampak menghela nafas dalam. Seraya menatap kearah di mana Febrian duduk. Tatapan tajamnya begitu menusuk, tertuju pada Febrian.

__ADS_1


__ADS_2