
Alira memasuki rumah itu dengan pandangan mengitari ruangan tersebut. Sebuah foto dirinya terbingkai indah tergantung di dinding dengan ukuran yang cukup besar. Alira mengamati ruang tamu yang telah terisi dengan perabotan.
'' Sayang, kamar kita di atas '' ucap Febrian,saat menghampiri Alira yang masih berdiri di ruang tamu. Alira menatap tajam Febrian . Rasanya ia belum siap seutuhnya untuk tidur seranjang dengan lelaki itu. Ia tak bisa membayangkan saat bercumbu dengan sang suami. Pasti bayang tentang Febrian yang sedang mencumbu wanita lain akan menghantui dirinya.
Febrian yang melihat keengganan sang istri, mendekat dan meraih dua telapak tangan wanitanya. Menatap dalam manik hitam yang masih saja menatapnya penuh kecurigaan.
'' Aku gak akan maksa kamu untuk melayani ku sebagai suami. Sampai kamu ikhlas dan rela melakukannya. Tapi jangan minta pisah kamar,aku gak mau . Please kasih aku kesempatan Ra '' tutur tulus Febrian, Alira yang melihat tatapan mata itu menganggukkan kepala. Febrian tersenyum lebar, kemudian menarik tubuh sang wanita untuk masuk dalam dekapannya.
Alira tak menolak pelukan Febrian namun juga tak membalasnya. Wanita itu hanya terdiam dengan segala kebimbangan yang masih saja melekat dalam hati.
Puluhan, bahkan mungkin ratusan kata maaf ternyata tak semudah itu untuk menghapus sebuah pengkhianatan. Alira mencoba untuk berdamai dengan semuanya, menerima dengan tangan terbuka, lelaki yang mengambil tanggung jawab atas kesalahan mereka. Tapi tetap saja hati tak semudah itu melupakan tentang pengkhianatan yang di lakukan Febrian padanya. Rasa sakit itu sungguh sulit untuk di hapuskan.
Kini suami istri itu telah masuk di kamar utama. Kamar yang akan mereka tempati berdua. Kamar yang cukup luas dengan ranjang king size di sana. Satu sofa single di pojok ruangan. Meja rias di samping tempat tidur,dan lemari besar yang juga terdapat di ruangan itu. Satu pintu menuju kamar mandi yang terdapat dalam kamar.
__ADS_1
Alira duduk di tepi ranjang, mengamati kamar yang sudah tertata rapi. Febrian tampak menyusul naik dengan koper di tangannya. Lelaki itu tersenyum kemudian duduk di samping sang istri. Tatapan lembut penuh cinta itu ia tujukan untuk wanita yang bahkan tak menoleh padanya.
'' Kalau ada yang ingin kamu rubah isi kamar ini, ataupun isi rumah ini,kamu rubah saja. Ini rumah kamu, rumah yang aku bangun khusus untuk aku persembahkan buat kamu '' ucap Febrian dan berhasil membuat Alira menoleh padanya.
'' Maksud Mas apa ?'' tanya Alira dengan tatapan tajamnya. Febrian tersenyum kemudian beranjak. Lelaki itu membuka berangkas dan mengambil sebuah map dari dalam sana. Febrian kembali mendekati sang istri dan memberikan map itu pada Alira.
Alira dengan ragu menerima map yang di sodorkan suaminya. Febrian meyakinkan dengan senyum bahwa dirinya memang berharap Alira membuka map tersebut.
'' Setelah kamu pergi,aku menjual rumahku yang dulu. Aku selalu merasa bersalah sampai aku sering tidak bisa tidur. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menjual nya dan membangun rumah ini atas nama kamu. Saat itu aku bahkan gak tau kapan ketemu kamu. Tapi aku ingin mendedikasikan rumah ini untuk kamu. Semua hal yang pernah kamu ceritakan ke aku tentang rumah impian kamu,aku coba untuk wujudkan. Di rumah ini aki bisa merasa sedikit tenang, meski rasa bersalah itu tak juga hilang. Tapi setidaknya aku merasakan di sini kamu ada ''.
Febrian membelai lembut rambut panjang Alira yang tergerai indah. Senyum tak lekang dari bibir lelaki tampan itu. Rasanya seperti mimpi, ketika ia bisa membelai rambut indah sang kekasih.
'' Aku mau bersih-bersih dulu '' ucap Alira seraya bangkit dari duduknya. Sesungguhnya ia merasa sedikit tak nyaman dengan perlakuan sang suami. Ada rasa berdebar namun juga bersanding dengan rasa lara.
__ADS_1
Febrian hanya mengangguk dan menatap istrinya hingga wanita itu menghilang di balik pintu kamar mandi. Duduk sambil memejamkan mata, dengan kedua telapak tangan menutup wajah. Ada sesak setiap saat ia merasa bahwa sang istri belumlah menerima keberadaan dirinya.
Tapi ia bisa apa,ia sadar semua karena ulahnya. Namun diabaikan oleh orang tercinta ternyata menyesakkan dada. Sampai suara pintu kamar mandi terbuka. Febrian menampilkan wajah tersenyum nya.
''Di lemari itu ada baju tidur,udah aku siapin buat kamu '' ucap Febrian sambil menunjuk lemari pakaian. Alira tampak mengernyit.
'' Karena aku selalu yakin kamu pasti akan kembali dan menjadi penghuni rumah ini '' sambung Febrian saat melihat kernyitan di dahi istrinya.
'' Makasih '' singkat Alira yang kemudian berlalu ,dan membuka lemari yang di tunjuk okeh sang suami. Febrian tersenyum kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Malam semakin larut, rumah yang kini telah dihuni dua orang anak manusia itu pun tak lagi menampakkan aktifitas. Alira telah terlelap di balik selimut tebalnya. Di sampingnya Febrian terlentang dengan mata yang masih terbuka. Menatap langit-langit kamar. Sesekali terlihat lelaki itu menghela nafas berat.
Begitu banyak hal yang bergelayut dalam benaknya, namun yang paling mendominasi adalah masalahnya dengan Alira. Ia bingung harus bagaimana agar wanita itu bisa menerima dirinya dengan luka yang terlanjur ia tancapkan di hati wanita itu.
__ADS_1
Tapi menyerah bukanlah sebuah pilihan. Ia akan tetap berjuang untuk maaf dari sang istri. Kini Febrian memiringkan tubuhnya, memeluk sang istri yang tidur membelakangi.
'' Aku cinta kamu Ra,apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan rada percaya kamu ?. Aku gak bisa tanpa kamu Ra. '' lirih Febrian sebelum akhirnya terlelap sambil memeluk hangat sang istri.