
'' Ini yakin nih gak salah alamat ?'' untuk entah yang ke berapa kalinya Febrian bertanya pada Erza tentang alamat rumah Alira. Karena yang mencari tahu alamat gadis itu adalah Erza yang simpati melihat keterpurukan sahabatnya.
'' Kamu sebenarnya niat mastiin apa takut ketemu ortunya Alira sih Bri ?'' ketus Erza yang kesal dengan pertanyaan sang sahabat. Febrian tersenyum kaku, sebenarnya ia sedang merasa was-was.
"Kamu yakin gak,Alira balik ke rumah ?" tanya Hardi yang duduk di kursi belakang. Febrian yang mengemudikan mobil tampak menggeleng pelan.
'' Gak yakin sih, beberapa hari aku ke kampusnya,temen dia aja tiba-tiba ngilang. Jadi kemungkinan besar dia sudah mengira aku bakal nyari dia. '' ucap Febrian lemas.
Sebenarnya dia sudah di ambang rasa putus asa untuk menemukan wanitanya. Namun ia harus memaksimalkan usaha yang ia bisa untuk menemukan Alira.
''Terus nanti kalau Alira beneran gak ada. Kamu mau ngomong apaan ke orang tuanya ?'' selidik Hardi. Febrian hanya mengangkat bahu. Membuat Hardi hanya bisa menghela nafas.
Ketiga pemuda itu terdiam, menyusuri jalanan yang kini tampak sempit. Hanya mampu di lewati satu mobil saja. Ketika ada mobil lain atau motor berpapasan harus ada yang berhenti memberi jalan. Karena mereka telah melewati gang kecil.
" Ini yang mana rumahnya ?" tanya Febrian saat mengamati rumah yang berdempetan.
'' Tanya orang,turun deh '' usul Erza. Febrian menghentikan laju mobilnya di depan sebuah rumah di mana ada seseorang yang sedang duduk di teras .
'' Permisi bu '' ucap Febrian yang telah memasang senyum manis di wajahnya.
'' Ya,ada apa Mas ?'' tanya si Ibu dengan tatapan menyelidik.
'' Mau tanya bu , rumahnya Alira yang mana ya bu ?'' tanya Febrian se ramah mungkin.
'' Alira ?,yang mana ya ?'' tanya si Ibu lagi, dengan wajah yang masih menatap curiga pada Febrian,yang bahkan telah memasang wajah ramahnya.
" Ini bu " ucap Febrian seraya memperlihatkan foto Alira yang di jadikan wallpaper di ponselnya.
" Oooh,itu " ibu itu menunjukkan dengan jarinya. Dan rumah yang di maksud tepat berada di depan rumah itu. Febrian tersenyum meski ibu itu memasang wajah cueknya.
__ADS_1
" Makasih ya bu, mari saya permisi " tutur Febrian sopan. Ibu itu hanya mengangguk seraya bergumam.
Febrian undur diri seraya menggerutu. Tiba di dekat mobilnya ia mengetuk-ngetuk kaca mobil.
" Turun kalian !" titah Febrian,dua sahabatnya turun dari dalam mobil.
" Gimana udah tau yang mana ?" tanya Erza sembari turun dari dalam mobil.
" Tuh " sahut Febrian , menunjukkan dengan dagunya. Erza tampak mangut-mangut. Hardi ikut turun dari kursi penumpang.
" Ini mobilnya gak apa-apa,di sini ?" Hardi bersuara seraya mengamati jalan sempit di sana.
" Udah mepet banget itu. Bisa kali lah buat lewat. " jawab Febrian.
" Ya udah ayo masuk !" ajak Erza, Febrian tampak menghirup nafas panjang, mengendalikan debar di dadanya. Hardi menepuk pundaknya dengan seulas senyum bermaksud menenangkan.
Dengan tekad yang bulat, Febrian harus menemui keluarga sang kekasih. Diketuknya daun pintu rumah yang terlihat sepi. Tak berapa lama muncul seorang wanita berumur sekitar kurang lebih 50 tahun.
" Maaf, cari siapa ya ?'' tanya sang Ibu dengan nada khawatir. Febrian tersenyum kemudian mengulurkan tangan, bermaksud menjabat tangan wanita yang bisa di pastikan ibu dari pujaan hatinya. Dengan ragu-ragu ibu itu menerima uluran tangan Febrian,lelaki itu tanpa sungkan mencium punggung tangan ibu dengan sopan. Membuat wanita itu mengernyitkan dahi.
" Saya teman dekatnya Alira bu, datang ke sini bermaksud untuk berkunjung. Karena kebetulan kami sedang ada acara di daerah sini " lihai sekali lidah itu bersilat. Bahkan sampai kedua sahabatnya melengos.
" Oh temannya Alira,mari masuk !. Kenapa Alira nya gak ikut pulang ?" sebuah pertanyaan yang keluar dari bibir ibu memastikan bahwa gadis tersebut tak ada di rumah.
" Banyak tugas kampus bu, belum sempat pulang " tutur Febrian meyakinkan.
Tamu di pagi menjelang siang itu di persilahkan masuk setelah mereka saling berjabat dan berkenalan terlebih dahulu.
" Duduk dulu nak !'' titah Ibu saat berada di ruang tamu. Mereka mengiyakan serentak.
__ADS_1
" Ibu kebelakang dulu,mau minum apa ?'' tanya Ibu sembari menatap lelaki yang lebih aktif berbicara sejak tadi,yaitu Febrian.
"Tidak usah repot-repot bu " ucap Febrian basa-basi. Karena sesungguhnya perjalanan yang menghabiskan waktu hampir dua jam itu cukup membuatnya dahaga.
" Tidak repot,Ibu buatkan teh atau kopi ?" ulang ibu pada tamu yang mengatakan teman dekat sang anak.
" Terserah ibu saja " jawab Febrian dengan senyum yang tak juga pudar dari bibirnya. Senyum untuk memikat sang calon mertua .
Kata calon mertua yang tersemat di benaknya membuat hatinya berdebar. Bahkan Alira saja tak ia tahu dimana keberadaannya. Dari raut wajah wanita itu terlihat jelas jika Alira tak ada di sana.
" Fix,Alira gak di rumah, terus kamu mau gimana ?" lirih Hardi setelah Ibu Alira masuk ke dalam. Febrian mengguyar rambutnya, kemudian mengusap kasar wajah lelahnya.
" Gak tau,aku mesti nyari dia kemana " ucap Febrian dengan raut putus asa.
" Ya udahlah lupain aja dia,tinggal kamu pacarin si Anya itu " celetuk Erza meski berbisik namun jelas di telinga Febrian. Dengan tampang kesal Febrian menoyor kepala belakang Erza yang duduk terhalang Hardi.
" Enaknya aja,Alira itu cewek baik-baik. Gak asal laki dia doyan. Beda sama Anya yang jelas udah gak segel " sarkas Febrian yang mendapat cibiran dari sahabatnya.
" Ya karena Alira cewek baik-baik, makanya sadar diri . Mau yang baik sendirinya,kayak teh celup,sana sini oke " gerutu Erza , Febrian menggeser duduknya dan membungkam mulut Erza.
" Bener-bener temen laknat lo Za " kesal Febrian, Hardi yang merasa terganggu dengan kelakuan dua sahabatnya menghempaskan tangan Febrian.
" Kayak anak kecil kalian berdua tuh. Malu sana yang punya rumah " Hardi menengahi. Dua sahabatnya kini sudah kembali duduk dengan tenang terhalang dirinya.
Tak berselang lama ,ibu keluar dengan nampan berisi tiga cangkir kopi panas dan sepiring bolu.
" Silahkan diminum,maaf adanya hanya ini " ibu mempersilahkan setelah meletakkan minuman dan bolu di atas meja.
" Terima kasih bu, jadi ngerepotin " ucap Febrian, seraya mengangkat cangkir dan menyeruputnya sedikit. Sebagai bentuk menghargai orang yang sudah menjamunya.
__ADS_1
" Jadi maksud kalian mampir ke sini apa ?, Alira nya kan kalian juga tahu tidak di rumah ". ucap Ibu, dengan tatapan berpindah-pindah pada tiga pemuda di hadapannya.
Tampak mereka saling pandang. Febrian yang di buat paling ketar-ketir. Haruskah ia mengatakan tentang Alira yang mengambil cuti kuliah dan menghilang ?. Febrian menundukkan kepalanya. Mencoba berpikir apa yang harus di jelaskan.