
Febrian hanya bisa pasrah dengan semua yang di ucapkan wanita yang kini menjabat sebagai istrinya. Ia bisa apa ?, semua memang salah dirinya. Jika harus sisa waktu yang ia punya untuk dirinya berjuang mendapatkan cinta itu lagi. Akan ia lakukan,ia lebih memilih di acuhkan oleh Alira daripada tidak melihat wanita itu di hadapannya.
Sepasang suami istri itu saling tatap,Alira dengan tatapan dingin dan tajamnya. Sedang Febrian dengan tatapan lembut penuh kerinduan. Tak ada kata yang terucap dari bibir Febrian,mata sendu menyiratkan rindu yang teramat dalam itu membuat dada Alira berdebar.
Wanita itu terhipnotis dalam bola mata hitam yang menyeretnya masuk dalam debaran hati yang sama. Saat Febrian mendekat dan menarik dirinya dalam pelukan. Alira hanya bisa mematung dalam diam. Rasa cinta, rindu , luka dan patah itu menjadi satu. Membuat emosi yang menggumpal dalam dada, membuat air mata tumpah tanpa kata.
'' Maaf,jika harus seumur hidupku mengucapkan maaf, akan aku lakukan Ra. Aku tahu salahku terlalu besar padamu. Aku tahu kata maaf ku tak akan merubah semuanya,tak akan menyembuhkan luka yang sudah ku buat padamu. Hukum aku sesukamu Ra,asal jangan pernah tinggalkan aku lagi. Aku gak bisa tanpa kamu Ra '' lirih Febrian seraya memeluk erat sang istri. Air mata tak dapat ia tahan.
Begitupun Alira yang sudah menumpahkan air matanya. Isak tangis Alira semakin keras terdengar. Tangan Alira terangkat mulai memukul punggung suaminya.
'' Sakit Mas, sakit. Rasanya sakit banget Mas. Salah aku apa?. Kenapa kamu tega Mas ?'' ucap Alira dengan tangis yang semakin menjadi.
Rasa sakit begitu terasa, penghianatan itu masih tergambar jelas dimatanya.
'' Maaf '' hanya itu yang bisa terucap dari bibir Febrian. Lirih suara itu di sela tangis rasa bersalahnya. Ia hanya bisa menerima saat tangan sang istri terus memukul dirinya. Ia rela, bahkan sangat rela. Karena ia tahu rasa sakit di hati Alira lebih dari rasa sakit yang di terimanya.
Sampai Alira mendorong dirinya,dan melepaskan pelukan Febrian. Wanita itu semakin tersedu, hingga akhirnya terduduk di lantai . Rasa sakit itu kembali terasa, seakan luka itu kembali basah. Febrian mengguyar rambutnya, rasa sesak di dada melihat wanitanya tergugu dalam tangis,dan itu karena dirinya.
__ADS_1
''Ra, hukum aku Ra. Hukum aku,tapi please jangan nangis. Aku gak bisa lihat kamu begini '' ucap Febrian yang kini kembali memeluk sang istri yang terduduk di lantai.
'' Kamu yang bikin aku begini ,Mas . Kamu !'' ucap Alira sedikit keras.
'' Maaf,aku minta maaf. Ijinkan aku memperbaiki semuanya ,sayang '' ujar Febrian seraya mengusap lembut rambut Alira.
'' Bisa kamu kembalikan hatiku yang sudah kamu hancurkan Mas,bisa ?'' rintih Alira dalam tangis yang masih tergugu pilu.
Febrian mendekap semakin erat tubuh istrinya. Rasa bersalah kian menghujam dalam hatinya. Sejahat itu yang telah ia lakukan pada wanita yang begitu ia cintai.
Seandainya waktu bisa kembali, ia tak akan pernah menoreh luka itu pada hati yang begitu lembut dan rapuh. Andai segalanya bisa ia ulang tak ada luka yang akan ia torehkan. Ia begitu mencintai wanita yang kini tergugu dalam tangis yang pilu.
Sungguh, kini ia memahami kemarahan yang membelenggu sang kekasih hati. Ia mengerti, betapa luka itu begitu menyakitkan. Karena keegoisan nya,kini ada hati yang retak dan tak mungkin bisa ia utuh kan kembali.
Cukup lama dua insan itu berpelukan dalam diam. Hanya tangis yang menguasai keduanya. Alira dengan luka yang masih terasa dan Febrian dengan sesal yang tak berkesudahan.
Febrian melepas pelukannya, menangkup wajah sang istri dan menghapus lelehan air mata di wajah sang wanita.
__ADS_1
'' Aku tahu ,aku bukan lelaki terbaik dalam hidup kamu. Aku sudah membuat luka yang mungkin tak termaafkan. Tapi tolong,satu kali saja. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki keadaan ini. Aku tak bisa mengembalikan apa yang sudah aku hancurkan, namun ijinkan aku untuk menata kembali serpihan hati itu. Meski tak mungkin kembali utuh. Aku tak akan menuntut apapun darimu, cukup tetap di sisiku .'' Febrian menatap dalam mata Alira yang memperlihatkan luka hatinya. Tak ada sepatah kata terucap dari wanitanya. Namun tak ada juga penolakan dari Alira.
'' Jangan pernah pergi lagi dariku Ra,aku gak bisa tanpa kamu '' tambah Febrian untuk kata yang telah terulang kali terucap dari bibirnya. Ia hanya ingin wanitanya tetap di sisinya. Terlalu menyakitkan berada jauh tanpa bisa memandang dan menyentuh sang kekasih.
Hari itu, ketika seharusnya sepasang pengantin sedang berbahagia. Tapi sepasang kekasih yang telah menjadi suami istri itu kini saling meluapkan isi hati mereka.
'' Yakinkan aku , kalau kamu bisa aku percaya lagi mas !'' ucap Alira menatap dua mata kelam penuh penyesalan. Febrian mengangguk mantap.
'' Beri aku waktu, untuk membuktikan kalau aku tidak akan melakukan kesalahan itu lagi Ra. Aku sadar semua kesalahanku,dan aku sadar semua keegoisan ku. Beri aku satu kali kesempatan, jika aku tak bisa lagi mengembalikan kepercayaan mu padaku. Aku rela kamu tinggalkan asal kamu bahagia Ra ''. ucap Febrian dengan keluh. Karena jika sampai wanita itu pergi lagi dari hidupnya. Ia tak bisa membayangkan akan seberapa hancur hidupnya.
'' Aku pegang ucapan mu Mas '' ucap Alira . Febrian menganggukkan kepala, kemudian mencium kening wanitanya. Sungguh rasa itu belum sirna hanya tersamarkan oleh luka yang mengangah. Rasa cinta itu masih memberikan Alira sebuah pengharapan bahwa yang mereka jalani saat ini adalah jalan yang seharusnya. Namun sisi hati yang terluka masih mengingatkan hatinya agar tak terlena oleh cinta yang di tawarkan Febrian.
'' Kita pulang sore ini ya ?, gak apa-apa kan ?. Aku harus secepatnya mengurus pernikahan kita agar terdaftar. Aku tidak mau kita hanya menikah siri '' tutur Febrian, Alira mengangguk tanpa bersuara.
Wanita itu terlihat menghirup nafas dalam dan panjang. Menenangkan rasa yang campur aduk di hatinya. Kemudian bangkit berdiri. Rasa tubuhnya begitu lelah, bahkan beberapa kali terasa pergerakan dalam perutnya. Belum terlalu kentara namun bisa ia rasa.
'' Aku pengen istirahat dulu '' ucap Alira sambil berdiri,dan beranjak menuju tempat tidur. Febrian ikut berdiri, tapi masih tertegun di tempat melihat wanitanya memegang pinggangnya yang terasa pegal.
__ADS_1
Febrian hanya bisa menelan ludah, membayangkan selama ini Alira berjuang sendiri untuk bayi dalam kandungannya.