
Desir angin berhembus, membuat rambut panjang itu terbang melambai tertiup angin. Suasana pagi yang syahdu menemani hatinya yang sendu. Tatapannya mengembara jauh, tangannya mengusap lembut perut yang masih terlihat rata.
Di teras belakang rumah peninggalan eyang Vivian,Alira berdiri di dekat pagar teras yang hanya sebatas pinggulnya. Menatap kolam ikan yang terdengar gemericik karena airnya yang terus mengalir. Suasana desa yang damai sedikit menenangkan risau hatinya.
Bukan hal mudah untuk seorang Alira, pergi dengan benih yang sedang tumbuh di perutnya. Menyelamatkan ego diri yang ter khianati. Namun keraguan sering menghampiri. Mampukah ia jadi single parent untuk buah hatinya ?.
Rasanya ia masih terlalu muda untuk menjadi orang tua. Membesarkan seorang anak sendiri. Sungguh berat, namun kembali untuk meminta pertanggung jawaban dari Febrian rasanya hati tak bisa menerima. Pengkhianatan itu, masih membekas jelas. Rasa sakit yang tertinggal tak bisa ia sembuhkan dalam sekejap. Meski ia tak memungkiri ada rindu yang masih mengganggu.
'' Ra '' suara lembut Vivian membuat Alira menoleh. Tersenyum mendapati sang sahabat datang dengan dua cangkir minuman yang masih mengepulkan asap.
'' Teh hangat '' Vivian menyodorkan cangkirnya pada Alira yang segera menyambutnya.
'' Thank you '' ucap Alira, Vivian hanya tersenyum. Kemudian beranjak,dan duduk di sebuah kursi yang terdapat di teras belakang. Alira mengikuti langkah Vivian. Ia duduk di seberang Vivian terhalang meja bundar di sana.
'' Aku sudah ngomong sama bi Sari tentang keadaan kamu. Jadi biar nanti kamu di kasih kerjaan yang ringan saja.'' ucap Vivian usai menyeruput teh hangat miliknya. Alira meletakkan cangkir teh di meja setelah meminumnya.
'' Gimana tanggapan bi Sari ?, dia gak keberatan dengan keberadaan ku ?. Apalagi dengan statusku yang hamil di luar nikah. '' ucap Alira dengan nada sendu.
'' Don't worry,gak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Semua orang pernah melakukan kesalahan.'' ucap Vivian dengan senyum menenangkan sang sahabat. Alira tersenyum getir menanggapi.
'' Terlalu fatal kesalahan yang ku buat Vi, terlalu memalukan .'' ujar Alira dengan tatapan nanar. Vivian menggenggam tangan Alira.
'' Tuhan masih memberi kamu kesempatan untuk memperbaiki diri Ra. Jadikan kesalahan yang pernah kamu lakukan sebagai pecut untuk kamu memperbaiki diri. Mungkin yang terjadi sekarang, adalah peringatan. Bahwa kita tidak boleh terlalu mencintai dan mempercayai seseorang. Hingga kita menyerahkan segala yang kita punya. Jadikan ini pelajaran, kamu orang baik Ra ''. tutur Vivian dengan tatapan tak lepas dari wajah sahabatnya.
'' Makasih Vi,kamu selalu ada buat aku. Bahkan di saat seperti ini kamu adalah orang pertama yang menyediakan bahu untukku bersandar ''.
'' Itu gunanya sahabat Ra ''. Keduanya saling melempar senyum.
__ADS_1
Awal hari itu di mulai seorang Alira untuk merangkai sebuah hidup baru. Bersama janin yang kini bersemayam di rahimnya . Memulai sebuah kehidupan setelah meninggalkan luka yang belum seutuhnya sirna.
'' Pagi non !'' sapa seseorang yang membuat dua wanita itu menoleh pada sosok yang sama. Lelaki berwajah manis yang memiliki senyum menawan. Menundukkan kepala sebagai penghormatan. Vivian tersenyum simpul melihat lelaki bermata teduh itu.
'' Pagi No '' sahut Vivian , pada lelaki bernama Tino anak bi Sari.
'' Mau ke tambak ?'' sambung Vivian, lelaki yang hampir seusia dengan Vivian itu tampak mengangguk. Terlihat mata Tino tertuju pada Alira, gadis cantik yang belum dikenalnya.
'' Oh ya No, kenalkan ini Alira temen aku, dia bakal tinggal di sini. Tolong kamu jaga dia ya, selama aku gak di sini. Dia bakal ikut kerja di tambak, kamu dampingi dia ya '' tutur Vivian pada lelaki yang dulu menjadi teman mainnya sewaktu kecil saat berkunjung ke tempat eyang.
''Siap non '' jawab Tino pendek, lelaki yang selalu menghormati nona mudanya meski mereka sering bersama.
'' Ini Tino Ra, anak bi Sari . Kalau ada apa-apa kamu minta tolong sama dia. Dia juga sahabat aku dari kecil.''
Alira tersenyum pada lelaki yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
'' Gak apa-apa non ''
" Kalau sama aku jangan non dong, panggil Alira saja '' pinta Alira.
'' Baik non,eh maksudnya mbak Alira '' ujar Tino seraya tersenyum tersipu. Alira dan Vivian tertawa lirih melihat kepolosan yang tergambar di wajah lelaki itu.
'' Ya sudah non,saya pamit dulu '' ucap Tino undur diri.
'' Iya No, nanti malem ke sini ya. Temenin kita jalan ''. pinta Vivian.
'' Baik non '' sahut Tino yabg kemudian undur diri dari hadapan dua gadis cantik itu.
__ADS_1
Tinggal dua bersahabat itu tertinggal di sana. Di teras belakang rumah menikmati secangkir kopi seraya menatap indahnya cahaya matahari di pagi hari.
'' Kamu pulang kapan Vi ?'' tanya Alira usai menghabiskan teh dalam cangkir. Menatap sang sahabat yang sedang berselancar di dunia maya dengan ponselnya. Vivian meletakkan ponsel di meja, menatap Alira sebelum menjawab .
'' Lusa aku udah harus balik Ra,aku cuma ijin seminggu. Maaf ya,aku gak bisa nemenin kamu untuk menyesuaikan diri di sini '' . Vivian tampak murung saat mengatakannya.
'' Gak apa-apa lagi Vi,aku juga ngerti. Kamu pasti nanti bakal di ganggu Febrian. Maaf ya ''. ucap Alira,ada rasa sakit juga rindu saat mengucapkan nama itu.
''Tenang aja,aku pasti bisa ngibulin dia. Nanti kalau aku bakal kirim motor kamu langsung ke sini. Biar bisa buat transportasi kamu '' sambung Vivian, Alira mengangguk sebagai jawaban.
Matahari mulai merangkak naik. Alira dan Vivian memutuskan masuk ke dalam rumah. Di ruang makan mereka di sambut menu sarapan yabg sudah tersedia di meja makan.
'' Sarapan dulu non !'' tawar bi Sari yang sedang menata piring di meja makan.
'' Woo,makan besar kita Ra. Lupakan diet ini mah. Masakan bi Sari terlalu menggiurkan ". ucap Vivian sumringah sembari melihat makanan yang tersaji di sana.
Cah kangkung,sop ayam. Ikan goreng,udang krispi ,udang pedas manis serta nasi putih yang mengepulkan asapnya. Sungguh hidangan yang membuat perut meronta.
Hidangan yang tak akan pernah ditemui di meja makan keluarga Vivian di pagi hari. Karena hanya akan ada segelas minuman hangat dan setangkup olahan roti. Dari roti bakar atau sandwich.
'' Silahkan non di cicipi masakan bibi '' ucap bi Sari mempersilakan dua gadis cantik yang sudah duduk di kursi meja makan.
'' Bibi sekalian dong '' ajak Vivian, nona muda yang rendah hati. Selalu bisa menempatkan diri sebagai manusia biasa bukan seorang nona muda. Yang mengedepankan sebuah kasta.
'' Bibi makan di belakang saja non '' ujar Bibi. Vivian berdiri dan menghampiri wanita paruh baya tersebut. Dan mendudukkan wanita itu di kursi meja makan.
'' Sekalian bi, enakan juga kalo makan bareng'' ucap Vivian yang kemudian kembali duduk di samping Alira.
__ADS_1
Alira tersenyum,merasa bersyukur ia masih di kelilingi orang-orang baik. Di saat ia sedang menuai hasil dari perbuatan salahnya di masa lalu.