
Gemericik air yang mengalir ke arah kolam terdengar menyejukkan suasana sore yang cerah itu. Dua wanita tampak duduk menatap air jernih yang menyuguhkan ikan-ikan yang berenang di dalam air.
'' Bagaimana keadaan kandungan kamu Ra ?'' tanya Bi Sari yang sedang menaburkan pakan ikan.
" Sehat bi, berkembang dengan baik " sahut Alira seraya menatap air yang beriak karena pergerakan ikan yang mengerumuni makanan yang dilemparkan oleh Bi Sari.
" Jaga dengan baik apa yang sudah Tuhan titipkan kepada kamu. Meski mungkin itu berawal dari kesalahan. Tapi hadirnya dia bukanlah hal yang salah " . ucap Bi Sari bijak,Alira menatap wanita itu dengan seulas senyum.
" Iya Bi, Alira pasti akan menjaganya dengan baik. Terlepas dari kesalahan yang telah Alira lakukan, dia adalah titipan yang harus Alira jaga " tutur Alira sambil mengusap perutnya yang mulai tampak membesar.
Hampir tiga bulan Alira menepi dari kehidupan di kotanya. Menghilang dari kehidupan seorang Febrian Dirgantara,dan juga dari keluarganya. Ia masih tak sanggup untuk mengatakan apa yang terjadi pada dirinya di hadapan kedua orang tuanya.
Vivian berkali-kali mengatakan hendak membawa kedua orang tuanya untuk bertemu. Tapi ia terus mengelak,rasa bersalahnya terlalu besar mengendap di hati. Ia tak sanggup membayangkan wajah kecewa kedua orang tuanya. Apalagi dengan keputusannya untuk membesarkan bayi itu kelak, seorang diri. Jelas akan membuat Ayah dan Ibu semakin terluka.
" Kedepannya pasti tidak akan mudah. Kamu harus menyiapkan mental sekuat baja untuk menghadapi segala permasalahan di depan sana. Menjadi orang tua tunggal bukanlah hal yang sepele. Kamu harus bisa menulikan telinga kamu dari semua omongan orang. Membutakan mata kamu dari mereka yang menghina dan merendahkan. Membisukan mulut kamu untuk tidak menjawab setiap cibiran ." Lembut dan terdengar sangat bijak tutur kata yang terucap dari wanita itu.
" Itu yang masih Alira takutkan Bi, Alira rasanya tidak siap menghadapi semua itu sendiri. " ujar Alira dengan tatapan nanar.
Bi Sari yang telah selesai memberi makanan ikan-ikannya kini menoleh ke arah Alira.
" Siap tidak siap harus, harus berani menghadapi semuanya. Kamu tidak boleh lemah. Bagaimana nanti dengan anak yang akan bergantung hidup dengan kamu ?, jika kamu tidak lebih kuat darinya." ujar wanita itu .
__ADS_1
Alira tampak menerawang, tatapannya nyalang memandang ke depan. Rasanya hidup tak akan pernah mudah lagi untuk dirinya. Satu kesalahan telah membawanya terpuruk hingga jatuh pada jurang tanpa batas.
" Terima kasih,Bibi mau menerima keadaan Alira tanpa pernah menghakimi atas kesalahan yang Alira lakukan." ucap Alira tulus. Alira menatap wanita itu dengan segala rasa syukur di hatinya.
" Bibi tidak berhak menghakimi siapapun, karena bibi pun tak lebih baik dari mu. Bibi juga pernah ada di posisi seperti dirimu. Bedanya hanya bibi di nikahi oleh lelaki yang menjadi Ayah Tino meski hanya sirih " tutur Bibi, tatapan wanita itu berubah sendu. Ada gambaran luka yang tersisa di sorot matanya.
Alira menatap dalam diam wanita yang kini tampak gusar. Perlahan Alira meraih tangan Bi Sari dan menggenggamnya. Mata keduanya bertemu tatap. Alira tersenyum kecil.
" Gak usah bibi ceritakan kalau itu menyakitkan untuk bibi " ujar Alira ,bibi tampak menggelengkan kepala. Kemudian menangkup tangan Alira yang menggenggam tangannya.
" Rasa sakit ,rasa kecewa ,dan luka itu sudah bibi rasakan puluhan tahun yang lalu. Namun bekasnya masih terasa. Dulu bibi dibutakan cinta. Bibi rela menjadi istri kedua dari lelaki yang sangat bibi cintai. Hingga hadir Tino saat itu. Belum sampai bibi melahirkan hubungan bibi dengan Ayah Tino di ketahui istri sahnya. Dan bibi di tinggalkan tanpa kata dia pergi begitu saja." cerita bibi dengan tatapan menerawang jauh.
Tanpa terasa air mata mata mengalir dari pelupuk mata Alira. Baru membayangkan saja sudah seberat itu. Mampukah ia melewatinya ?, apakah ia bisa sekuat bi Sari untuk menjalaninya ?. Entahlah ia merasa tak sehebat itu untuk melewati setiap langkah hidupnya.
" Sebenarnya apa yang membuat kamu menghilang dari ayah janin dalam kandungan mu ?" tanya bi Sari sesaat setelah mereka terdiam.
" Vivian tidak bercerita pada bibi ?" tanya Alira balik, karena dia berpikir bahwa bibi telah mengetahui cerita tentang dirinya. Bibi tampak menggeleng lalu berucap . " Non Vivian hanya bilang, jika kekasih mu mengkhianati kamu itu saja ".
" Yah ,dia berselingkuh dengan wanita lain Bi,dan dia tidak tahu jika aku sedang mengandung anaknya. " sahut Alira,bibi tampak menghirup nafas dalam.
" Apa setelah kamu pergi pun dia tidak mencari mu ? " lanjut bibi bertanya.
__ADS_1
" Hampir setiap hari kata Vivian dia datang ke kampus ,tapi apa aku harus kembali padanya ?, apa dia benar-benar bisa berubah dan tak akan mengulangi kesalahannya ?'' tanya Alira lebih di tujukan pada dirinya sendiri.
" Kalau dia benar mencintai kamu,dia pasti bisa berubah. Kesalahan yang ia lakukan menjadi sebab pergi nya kamu harusnya bisa menjadi pelajaran untuk dirinya ". jawab Bi Sari.
" Entahlah bi, sulit untuk aku bisa kembali percaya sama dia ". Alira berbicara dengan wajah murung.
" Bibi mengerti, ketika kepercayaan yang kita berikan justru di khianati memang sangat sulit untuk kembali mempercayai." tutur Bi Sari.
Percakapan dua wanita itu terhenti saat senja menampakkan semburat jingga yang tergambar di cakrawala. Mereka memasuki rumah bergaya kuno yang masih terlihat bagus dan selalu rapi.
Alira memilih masuk ke dalam kamar. Wanita itu duduk di depan jendela, menatap senja yang semakin gelap di telan malam. Alira mengusap perutnya sendiri.
" Mas Brian " lirih Alira dengan air mata yang menetes.
Ia tak pernah bisa memungkiri jika hatinya masih selalu merindukan lelaki itu. Rindu yang terasa menggunung di hatinya. Rindu yang tak bisa ia tahan keberadaannya.
Meski kata benci ia koar-koarkan untuk meluapkan rasa kecewanya pada lelaki itu. Namun rasa rindu yang menyelimuti hati tetap tak bisa pergi. Di setiap malam adalah penjara baginya. Saat rasa rindu itu kian terasa.
Semakin ia tanamkan kebencian, tetap saja ia tak bisa menghapus rasa cinta yang berdiam diri di sudut hati. Benar orang bilang,jika rasa cinta dan rasa benci terlaku tipis perbedaannya.
" Mas Brian kenapa harus seperti ini Mas ?" tanya Alira pada dirinya sendiri. Saat rasa yang terpatri di hati semakin sulit untuk ia kendalikan. Rindu yang ia rasa semakin erat membelit hatinya.
__ADS_1