Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Menyadari Kesalahan


__ADS_3

Suara ketukan pintu ruangan dimana Alira dirawat terdengar dari dalam ruangan yang kini tampak sunyi. Febrian tampak sibuk dengan laptopnya,sedang Alira sedang membaca buku yang baru ia minta pada sang suami untuk menemaninya agar tak terlalu jenuh.


Febrian mengangkat wajah, mengalihkan perhatiannya dari laptop yang masih menyala. Lelaki itu berdiri dan berjalan ke arah pintu. Saat pintu terbuka , sontak membuat mata lelaki itu terbuka lebar.


'' Kamu ?, mau apa lagi kamu Sha ?'' geram Febrian melihat Marsha yang tersenyum manis di hadapannya. Wanita yang mengenakan kacamata hitam itu tampak melepaskan kacamatanya.


'' Hai Bri ?'' sapa Marsha dengan nada riang. Tak peduli dengan tatapan membunuh yang di tujukan oleh lelaki di hadapannya.


'' Jangan macem-macem kamu Sha, pergi dari sini,atau perlu aku seret kamu ?'' ancam Febrian, Marsha tertawa menanggapinya.


'' Sorry Bri,tapi aku kesini bukan untuk ketemu sama kamu'' ujar Marsha seraya mendorong sebelah pundak Febrian dengan jari telunjuk. Tanpa perduli dengan Febrian yang berdiri menghalangi pintu masuk. Gadis yang mengenakan rok mini serta blazer berwarna pink itu menerobos masuk. Langkah jenjang dengan beralaskan high heels di kakinya. Menambah anggun wanita berpawakan tinggi itu .


'' Please Sha,gak usah bikin keributan kamu ya '' ucap Febrian kesal, namun wanita itu sama sekali tak menggubrisnya. Dengan tentengan buah di sebelah tangannya. Wanita itu menghampiri Alira yang menatap kedatangan Marsha dengan tatapan sulit di artikan.


'' Selamat siang Mbak Alira '' sapa Marsha dengan nada bicara yabg lembut dan senyum yang terlihat tulus.

__ADS_1


'' Siang Mbak '' sahut Alira dengan senyum hambar.


'' Buah untuk mbak Alira ,maaf ya siang-siang mengganggu '' ucap Marsha basa-basi sembari meletakkan bawaannya di atas meja yang terletak di samping tempat tidur.


'' Makasih mbak '' sahut Alira dengan raut wajah datar.


Marsha duduk tanpa di persilahkan, sedang Febrian berdiri dengan sikap siaga penuh. Raut khawatir tak bisa di sembunyikan dari mimik lelaki itu.


''Mbak Alira mungkin bingung dengan kedatanganku, mungkin juga benci. Wajar sih karena aku sudah membuat satu kesalahan besar. Yang mungkin tidak layak untuk di maafkan '' Marsha memulai kata dengan senyum getir tergambar di wajah cantik itu. Terlihat wanita itu menghela nafas dalam. Dan memberanikan diri menatap wanita yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wanita yang menatap dirinya dengan tatapan datar yang tak mampu ia pahami makna dalam tatapan mata itu.


Dengan sisa keberanian dalam hatinya, Marsha meraih tangan Alira dan menggenggamnya. Bisa ia rasakan bahwa Alira menegang.


'' Aku tahu kesalahan yang aku buat begitu fatal hingga menyebabkan Mbak Alira seperti ini. Aku benar-benar minta maaf sebesar-besarnya '' sambung Marsha seraya menundukkan kepala. Alira menatap wanita itu dengan tatapan nanar. Begitu pun dengan Febrian yang terlihat mengernyitkan dahi. Tak mengerti maksud dari wanita itu. Tulus kah yang terucap dari bibir Marsha atau hanya tipu muslihat belaka ?.


'' Mungkin kesalahanku tak bisa termaafkan oleh mbak Alira,aku mengerti dan aku tidak bisa memaksa mbak Alira untuk memaafkan ku. Tapi aku benar-benar menyesal dengan apa yang sudah aku lakukan '' pungkas Marsha yang kemudian kembali mengangkat wajahnya dan menatap Alira yang masih terdiam.

__ADS_1


'' Aku pamit, semoga mbak Alira segera pulih kembali '' lanjut Marsha sembari melepas tangan Alira dan beranjak dari duduknya. Berdiri dan menatap Febrian yang masih dengan mode siaganya.


'' Bri,aku juga minta maaf sama kamu karena sudah membuat kekacauan ini. Untuk masalah kerjasama kita,aku serahkan semuanya ke kamu. Kalau kamu berkenan untuk meneruskan aku akan sangat berterima kasih. Karena kerjasama ini mempunyai prospek yang menurutku sangat bagus. Dan aku janji untuk bekerja secara profesional tanpa melibatkan masalah pribadi'' tutur Marsha yang kini berdiri berhadapan dengan lelaki yang masih memiliki hatinya. Meskipun ia telah bertekad untuk melepaskan.


Febrian menatap sekilas sang istri yang juga sedang menatap kearah dirinya.


'' Tergantung dengan istri ku , aku gak mau kalau sampai ada hal yang menyakiti perasaan dia lagi '' sahut Febrian, Marsha tersenyum tipis.


'' Aku mengerti, apapun keputusan kamu ,aku terima . Karena ini semua kesalahanku '' ujar Marsha, kemudian wanita itu berbalik menatap kembali pada Alira yang belum juga mengeluarkan sepatah kata pun.


'' Sekali lagi aku minta maaf pada Mbak Alira. Aku pamit '' ucap Marsha seraya menganggukkan kepala. Wanita itu berbalik dan melangkah hendak meninggalkan ruang rawat.


'' Mbak Marsha '' suara Alira menghentikan langkah Marsha yang belum beranjak jauh dari tempat Alira. Marsha menoleh pada wanita yang kini sedang menatapnya dengan tatapan yang lebih hangat.


'' Aku sudah memaafkan Mbak Marsha. Semoga tidak ada kejadian seperti ini lagi di masa depan. Aku paham, bahwa terkadang ada perasaan yang tak mampu kita ingkari keberadaannya. Tapi kita harus sadar kapan perasaan itu harus kita perjuangkan atau kita lepaskan. Aku yakin Mbak Marsha orang yang baik. Dan aku sangat menghargai niat baik mbak Marsha yang mengakui kesalahan. Untuk itu mari kita mulai semuanya dari awal'' ucap Alira yang diakhiri dengan sebuah senyum tulus. Marsha tersenyum lega, kemudian berjalan mendekati Alira dan mendekap wanita itu.

__ADS_1


'' Terima kasih Mbak,aku janji gak akan melakukan hal seperti itu lagi'' ucap Marsha tulus. Alira mengangguk dalam dekapan Marsha. Febrian tersenyum samar melihat dua wanita itu saling memaafkan.


Setelah selesai dengan obrolan kecil, Marsha berpamitan. Seulas senyum tulus penuh kelegaan tergambar jelas di bibir wanita itu. Akhirnya semua berakhir dengan baik-baik saja. Dalam dadanya terasa begitu lega,saat ia memutuskan untuk melepas cinta yang tak mungkin ia perjuangkan. Ia sudah menyadari, selama ini terlalu terlarut dalam cinta buta yang menguasai seluruh hatinya. Hingga ia tersesat dalam cinta yang salah.


__ADS_2