Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Memulai di Tempat Baru


__ADS_3

" Udah beres semua Ra ?'' tanya Vivian pada Alira yang lagi-lagi tampak termenung.


'' Eh , iya Vi udah kok. '' jawab Alira terbata. Ia ya telah selesai mengemas pakaiannya dalam koper,duduk termenung. Pikirannya terus melayang. Dengan membawa beban janin di perutnya, memutuskan meninggalkan Febrian dengan segala kisahnya ternyata cukup berat.


Ia kecewa,ia sakit,ia benci dengan pengkhianatan yang di lakukan lelaki itu. Namun rasa benci yang masih beriringan dengan rasa cinta itu. Masih menyisakan rindu. Ia tak bisa memungkiri bahwa di sudut hatinya masih ada cinta itu. Karena tak semudah itu melupakan sebuah rasa.


'' Kamu udah siap kan ?'' tanya Vivian lembut seraya menggenggam tangan sang sahabat. Alira mengangguk. Namun wajah sendu itu tak bisa hilang begitu saja di wajahnya. Vivian merengkuh tubuh Alira.


'' Semua bakal baik-baik saja '' ucapnya memberi dukungan untuk sang sahabat.


Vivian melepas pelukannya, menatap mata Alira, kemudian memegang kedua bahu Alira.


'' Aku tahu ini berat banget buat kamu,tapi aku yakin kamu bisa melewatinya. '' tutur Vivian meyakinkan Alira. Alira tersenyum samar.


Ia memang tak ingin lagi berurusan dengan Febrian . Menjauh dari lelaki yang telah menorehkan luka di hatinya. Namun tak bisa di pungkiri ada benih lelaki itu yang bersemayam di rahimnya. Benih yang akan tumbuh dan mengingatkan tentang Febrian selamanya. Lelaki itu tetap akan menjadi bagian hidup yang tak mungkin terlupakan.


Keduanya perlahan menuruni tangga. Dengan sebuah koper yang di bawah oleh Vivian. Koper berisikan pakaian milik Alira. Dengan tekad yang tertanam di hatinya. Alira benar-benar pergi, meninggalkan kota yang telah mengenalkan dirinya pada cinta dan juga lara di hatinya.


'' Vi,aku nanti gimana ?'' tanya Alira bimbang .


'' Gimana ?, maksudnya ?'' Vivian tampak mengernyit tak paham dengan pertanyaan sahabatnya.


'' Buat hidup aku sama anakku Vi,aku gak mungkin selamanya bergantung sama kamu '' tutur Alira. Kini dua wanita itu sudah duduk di dalam pesawat yang hendak mengantarkan mereka menuju kota tujuan.


Vivian tersenyum, menatap Alira yang tampak gusar.

__ADS_1


'' Kamu tenang aja gak usah mikirin apa-apa dulu.'' ucap Vivian,ia sanggup menghidupi sahabat dan calon bayi yang ada di perut Alira.


'' Gak bisa gitu dong Vi,kamu udah nolong aku kayak gini aja aku udah makasih banget. Kalau buat biaya hidup gak mungkin aku terus-terusan ngerepotin kamu '' ucap Alira yang merasa tak enak jika terus menjadi beban sahabatnya.


'' Oke, nanti aku bilang sama orang yang ngurus rumah eyang,biar kamu nanti ikut ngurus tambak peninggalan eyang.'' ucap Vivian memberi jalan.


'' Nah itu lebih baik, setidaknya walaupun aku kerja juga sama kamu. Tapi ada yang aku kerjakan.'' ujar Alira. Sedikit beban yang di pusingkan dirinya sedikit terangkat. Jujur ia yang masih di biayai orang tua. Dan tambahan bulanan dari Febrian, tiba-tiba memutuskan untuk hidup menjauh dari mereka. Membuat kekhawatiran sendiri di hatinya.


Ada rasa takut ia tak mampu melewati jalan yang di pilihnya. Ia masih terlalu muda dan belum memiliki pengalaman hidup. Kini ia lari dari orang-orang yang mengenalnya ,membawa satu beban nyawa di rahimnya. Ada banyak keraguan yang hinggap di hati.


Namun ia sudah memilih jalan ini. Jalan yang terbaik saat ini untuk dirinya. Meski ia tak tahu akan apa yang terjadi nanti. Cukup jalani saja saat ini.


Alira dan Vivian turun dari pesawat, menghirup udara baru. Keduanya saling tatap, seakan berbicara lewat sorot mata. Kemudian keduanya tersenyum dan mengangguk. Tangan mereka saling menggenggam. Dengan sebelah tangan Alira yang lain menyeret koper miliknya.


Dengan sebuah tekad baru, dengan sebuah keberanian baru. Alira siap menata hidup baru bersama calon buah hatinya. Biarkan cerita cintanya tertinggal menjadi sejarah. Ia akan melewati semua dengan kepala menengadah. Ia harus kuat,ia harus bisa.


'' Sekitar dua jam lagi. Kenapa ?'' tanya Vivian setelah melihat jam tangannya.


'' Ngantuk aku Vi '' ujar Alira.


'' Tidur aja nanti aku bangunin kalau udah mau nyampe '' sambung Vivian.


'' Gak apa-apa ya aku tidur '' tambah Alira menatap Vivian di sampingnya. Vivian mengangguk memberi persetujuan.


Tak berselang lama Alira terlelap dalam tidurnya. Vivian tersenyum melihat Alira tertidur,ia tahu sahabatnya semalam tak bisa tidur dengan baik. Ia pun tak yakin mampu melewati dengan baik hidupnya saat berada di posisi Alira.

__ADS_1


Dikhianati lelaki yang sangat di cintai di saat ia mengandung benih lelaki itu. Sungguh terlalu miris. Jika tetap bertahan,ada hati yang remuk berkeping-keping mengingat tentang pengkhianatan yang di lakukan. Pergi pun tak semudah itu di lakukan,ada nyawa lain yang akan bergantung hidup padanya.


'' Kamu harus kuat Ra '' lirih Vivian melihat Alira yang tampak tenang dalam tidurnya.


Di sisi lain Febrian tak bisa bekerja dengan baik. Baru dua hari tak melihat Alira hidupnya seakan gelap tanpa cahaya. Tak ada lagi gairah di hatinya.


'' Kamu dimana Ra ?'' tanyanya pada diri sendiri. Ia masih berada di dalam kantor meski hari mulai menggelap.


Tampak Febrian beranjak dari duduknya. Membuka tirai di jendela, rintik hujan tampak menetes di luar sana. Tatapan lelaki itu seakan menembus ruang yang mengurungnya. Kilas bayang wanita dengan senyum yang meneduhkan jiwa itu hadir menghantui resah hatinya.


'' Aku kangen Ra,maafin aku Ra '' rintih Febrian sendiri. Tangannya mengusap kaca yang berembun. Namun tetap saja kaca itu gelap, se gelap hatinya yang di penjara dalam ruang rindu.


'' Bro '' suara seseorang dengan tepukan di bahunya mengembalikan kesadarannya. Ia membalikkan badan. Dua lelaki tampan tersenyum padanya. Entah sejak kapan mereka di sana. Bahkan ia tak mendengar mereka masuk.


'' Kalian berdua ?'' kaget Febrian melihat dua sahabatnya tiba-tiba sudah berada di ruangannya.


'' Ngelamunin apa sampai kita masuk gak denger ?'' tanya Erza,lelaki jangkung berkulit putih dengan kacamata yang setia bertengger di hidungnya.


'' Alira ku pergi Za '' ratap Febrian dengan wajah sendu menatap dua sahabatnya.


'' Kok bisa ?'' tambah Hardi,si lelaki macho dengan kulit eksotis nya dan otot besarnya.


'' Nanti aku ceritain. Duduk dulu,by the way tumben tiba-tiba nongol '' ujar Febrian seraya mendorong pelan dua sahabatnya untuk duduk di sofa uang tersedia di ruangan tersebut.


'' Tiba-tiba pengen nyamperin kesini, ternyata feeling kita terlalu kuat, kamu emang lagi butuh teman. '' ujar Hardi sambil mendudukkan tubuh diikuti oleh Erza yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


Febrian berdecih mendengar jawaban Hardi. Ia beranjak meninggalkan dua sahabatnya menuju pantry karena para OB sudah pulang. Ia berniat akan membuat minum untuk dua tamu tak di undangnya .


__ADS_2