
Febrian kembali kedalam ruangannya dengan tiga cangkir kopi. Di letakkan nya di depan para sahabat yang duduk di sana.
'' Bikin sendiri Bri ?'' tanya Erza yang melihat Febrian menyajikan sendiri minumannya.
'' Udah pada balik OB nya '' sahut Febrian seraya menjatuhkan tubuh duduk di sebelah Hardi.
Wajah suntuk tergambar jelas di wajah lelaki tampan itu. Febrian tampak menjatuhkan kepalanya di sandaran sofa. Menengadah menatap langit-langit ruang kerjanya.
'' Cerita deh, masalah kamu tuh apa ? '' tanya Erza yang merasa penasaran dengan masalah yang menimpa sang sahabat.
'' Aku di putusin Alira ,dan dia sekarang ngilang. Aku gak tau mesti cari dia kemana .'' ucap Febrian seraya memijit pelipisnya.
'' Kok bisa,dia mutusin kamu ?'' tanya Hardi,bagi dia yang sudah sangat mengenal perangai Febrian ,dia bisa menilai se cinta apa lelaki itu pada wanitanya.
'' Aku ketahuan selingkuh '' jawab Febrian lemah. Dua sahabatnya melotot dan menegakkan duduknya dengan bersamaan. Rasanya tidak bisa di percaya. Saat melihat bagaimana bucin nya Febrian pada Alira. Namun lelaki itu menyelingkuhi kekasihnya itu.
'' Kok bisa ?'' pertanyaan itu meluncur dari mulut Erza dan Hardi hampir bersamaan. Febrian menghela nafas berat, tatapan matanya nyalang menatap plafon ruangannya.
'' Salahku sih,aku main api di belakang dia. Aku menjalin hubungan dengan Anya . Aku pikir aku bisa nyelesain semua ini tanpa melibatkan Alira dan hubungan ku dengan Anya akan tetap jadi rahasia. Ternyata aku salah '' tuturnya dengan raut penyesalan. Namun sesal tak ada arti lagi semua telah terjadi.
" Anya itu siapa ?'' tanya Hardi yang merasa baru mendengar nama itu.
'' Dia rekan kerja aku,dia ngasih aku modal cukup gede. Dan akhirnya dia meminta aku jadi pacarnya. Akhirnya ya sudah aku menjalin hubungan yang aku pikir cuma hubungan saling menguntungkan saja. Dan aku berencana meninggalkan Anya setelah aku mengembalikan modal miliknya. Tapi ternyata Alira malah memergoki aku lagi gituan sama Anya .'' cerita Febrian pada dua sahabatnya yang kini semakin melototi dirinya.
Bagi tiga bersahabat itu tak ada rahasia. Apapun borok ketiganya mereka tahu semua. Namun memang urusan wanita Febrian jauh lebih unggul di banding dua sahabatnya.
" Jadi kamu sama di Anya ,Anya itu sampai sejauh itu ?'' Erza bertanya seraya geleng-geleng heran dengan kelakuan sahabatnya itu. Febrian mengangguk , mengiyakan.
" Kita udah sama-sama dewasa,udah tau kebutuhan biologis kita. Dia sering nempel-nempel pas aku ajak oke. Salahku dimana ?'' tanya Febrian yang kini duduk dengan tegak.
__ADS_1
Lemparan bantal sofa melayang tepat mengenai kepala Febrian.
'' Otak lo yang salah Bri '' rutuk Ezra yang sampai mengeluarkan kata lo, gue nya saking dibuat gemas dengan kelakuan sahabatnya.
" Mungkin lo gak pake hati sama si Anya, tapi dengan lo berhubungan badan sama tuh cewek jelas walaupun gak pake perasaan tapi ada sesuatu yang menarik lo buat nyentuh dia '' sambung Hardi. Febrian hanya bisa menunduk menerima kekesalan para sahabat.
'' Terus sekarang gimana ?'' lanjut Erza . Febrian menggeleng seraya menyahut ''Gak tau Alira ninggalin aku ,dan Anya ngancem buat narik semua modalnya kalau aku nyariin Alira.''
Penjelasan Febrian membuat dua sahabatnya menghela nafas panjang.
'' Kenapa lo gak pinjem bank aja sih ?'' ucap Hardi.
'' Coba deh kalian pikir,ada orang ngasih modal gede,abis itu nawarin diri ke kalian. Masa iya kalian gak tertarik ?,aku sih gak munafik .'' terang Febrian yang langsung mendapat toyoran di kepala dari Hardi.
'' Sebenarnya kamu tuh cinta gak sama Alira ?'' tanya Hardi yang gemas dengan kelakuan sahabatnya itu.
'' Mana ada cinta selingkuh Febrian ?'' geram Erza .
'' Aku gak munafik ya,aku emang cinta sama Alira,tapi kalau terus-terusan di sodorkan hal yang mengundang hasrat. Ya gan tahan lah ''. ucap Febrian, membuat dua sahabatnya geleng-geleng kepala.
'' Ya udah sekarang ngapain lo cariin Alira tinggal lo pacarin aja si Anya itu. '' celetuk Ezra yang selalu menjunjung tinggi kesetiaan.
'' Aku gak cinta sama dia Za'' keluh Febrian. Hardi mencibir Febrian yang berbicara cinta saat dia tak bisa menjaga cinta itu.
'' Makan tuh cinta '' ucap Hardi kemudian mengangkat cangkir berisi kopi yang terasa hangat.
'' Terus rencana kamu gimana ? ' tanya Erza yang juga baru meminum kopi hangatnya.
'' Cari Alira. Hidupku rasanya hambar gak ada dia. Yang biasanya selalu ada yang ngingetin aku makan, ngingetin olahraga. Sekarang gak ada .''keluh Febrian yang merasa kini hidupnya benar-benar seakan tak bersemangat.
__ADS_1
Ketiga orang bersahabat itu melanjutkan obrolan sampai waktu cukup malam. Gerimis di luar telah menjadi hujan. Saat ketiga bersahabat itu keluar dari ruangan.
Dan lagi, hanya karena hujan, bayang tentang Alira muncul di benaknya. Kekasihnya itu menyukai hujan. Setiap kali turun hujan ada raut wajah sumringah. Hujan dan Alira adalah hal yang tak terpisahkan.
'' Bengong lagi '' ucap Hardi seraya menepuk punggung Febrian membuat lelaki itu tersadar dari lamunan.
'' Aku kangen banget sama Alira '' sahutnya membuat dua lelaki yang lain hanya bisa menggelengkan kepala tak paham dengan sahabatnya itu .
'' Besok gue coba selidiki dimana tempat tinggal dia '' Akhirnya Erza menyerah untuk tak membantu sang sahabat.
'' Serius ?'' tanya Febrian dengan senyum terkembang. Erza mengangguk pasti.
'' Thank you banget, kalian emang the best. '' ucap Febrian yang kembali mendapatkan secercah harapan untuk bertemu kekasihnya itu.
Ketiga bersahabat itu berpisah di area parkir tempat Febrian kerja. Febrian menembus hujan yang lumayan lebat dengan laju mobil sedang. Foto Alira yang terdapat di atas dasboard mobil membuat nya tersenyum kecil.
'' Tunggu aku jemput kamu sayang '' lirih Febrian. Ia harus bertemu kembali cintanya,ia tak akan kehilangan wanita itu.
Sampai di rumahnya, Febrian menyipitkan mata saat melihat sebuah mobil terparkir di sana. Dan ia cukup tahu siapa pemilik mobil merah tersebut. Anya, wanita itu mendatangi rumahnya saat seharian ia di cuekin Febrian.
Pesan wanita itu hanya sekedar di bacanya. Tak ada gairah hanya sekedar membalas chat dari Anya. Sekarang dia harus berhadapan dengan wanita itu.
Langkah lunglai Febrian menyeret langkah, memasuki area ruang tamu. Tak ada seseorang di sana. Ia meneruskan langkah melewati ruang keluarga. Tak ada pula wanita itu ada di sana.
'' Lancang '' gerutu Febrian , menyadari kemungkinan terbesarnya adalah wanita itu berada di kamarnya.
Langkahnya di percepat, menaiki setiap undakan tangga. Ia hanya ingin segera masuk ke dalam kamar dan mengusir wanita itu. Namun saat ia mendorong pintu kamar nya sebuah pemandangan di hadapannya membuat jakunnya naik turun.
'' Shittt ''
__ADS_1