Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Air Mata dalam Sepi


__ADS_3

Petang menjelang, terang sang mentari telah terganti oleh cahaya lampu yang ada hampir di setiap sudut tempat. Salah satunya di cafe yang tampak ramai pengunjung petang itu. Tampak terang benderang meski langit telah menampakkan warna pekatnya.


Di smoking area, terlihat duduk tiga lelaki dengan sebatang rokok masing-masing terselip di jari mereka. Tiga cangkir kopi tersaji dengan masing-masing di temani cake sesuai pesanan mereka.


'' Jadi rencananya gimana ?'' Hardi bertanya pada dua sahabatnya seraya menatap keduanya bergantian.


'' Kita culik aja si Vivian '' ucap Erza penuh percaya diri .


'' Gak segila itu juga Za,yang ada kita gak dapet alamat Alira . Malah masuk penjara ogeb '' kesal Febrian mendengar ide gila Erza. Tampak Erza mendengus karena ucapan Febrian.


'' Terus menurut kamu gimana ?'' tanya Erza dengan nada sedikit sewot.


'' Ya kamu cari alamat rumahnya kek, kita datengin baik-baik ''. usul Hardi.


'' Nah itu aku lebih setuju '' sambung Febrian,yang kemudian mengangkat cangkir dan meminum kopi miliknya.


'' Nih alamat nya '' Erza menyodorkan selembar kertas kecil, bertuliskan alamat sebuah rumah. Febrian mengambilnya dari atas meja . Tampak lelaki itu mengernyitkan dahi,saat membaca alamat yang tertera di sana .


''Kenapa ?'' Hardi tampaknya penasaran dengan raut wajah yang di tampilkan sang sahabat.


'' Perumahan elit, pantes pake bodyguard segala. Bukan anak orang sembarangan ternyata. '' jawab Febrian sembari memberikan kertas tersebut pada Hardi.


Hardi terlihat memperhatikan dengan seksama.


'' Bener, pasti anak konglomerat. '' gumam Hardi. Ketiga lelaki itu terdiam, menghisap rokok masing-masing.

__ADS_1


'' Kapan kamu mau datengin rumahnya ?'' Erza bersuara setelah beberapa saat mereka bertiga menikmati kopi dan rokoknya.


'' Secepatnya, aku harus ketemu Alira secepat mungkin. Aku gak mau di melahirkan tanpa ada aku. Anakku harus ada bapaknya '' sahut Febrian dengan tatapan menerawang. Dihembuskannya gumpalan asap ke udara.


''Tunggu ?, melahirkan ?. maksudnya ?'' cerca Hardi yang belum tahu cerita tentang Alira. Lelaki itu menatap dua sahabatnya dengan tatapan bingung.


'' Maksudnya Alira hamil anak kamu Bri ?'' lanjut Hardi dengan tatapan tertuju pada Febrian.


Febrian mengangguk menanggapi pertanyaan Hardi, membuat lelaki itu terperangah.


'' Bener-bener player kamu Bri, Alira kamu embat, Anya juga. Untung gak bunting barengan mereka.'' tanggap Hardi sambil mengangkat cangkirnya dan meminum kopi yang mulai dingin.


'' Eh iya ya, coba mereka hamil barengan. Terus datengin Brian minta tanggung jawab bareng. Wah sekali ijab dua istri lo dapet '' ucap Erza antusias. Yang langsung di hadiahi toyoran di kepalanya oleh Febrian.


'' Temen gak ada akhlak '' ucap Febrian.


Sampai akhirnya tak cukup hanya dengan makanan kecil yang menemani ketiganya. Mereka memutuskan untuk makan malam di sana. Saat sedang menikmati makanan mereka suara ponsel Febrian berdering.


Febrian mengambil hp yang di letakkan di atas meja. Nama Ayah Alira tertera di layar ponselnya. Ia memandang kedua sahabatnya, sampai panggilan itu terhenti ia belum mengangkatnya.


'' Siapa ?'' tanya Erza yang penasaran .


'' Bapak nya Lira '' jawab Febrian bersamaan dengan notifikasi pesan masuk.


'' WA ,aku buka dulu '' ucap Febrian yang juga di buat penasaran . Karena belum pernah sekalipun Ayah Alira menghubungi dirinya. Meski ia telah cukup lama meninggalkan nomer ponsel.

__ADS_1


Febrian membuka pesan di aplikasi WhatsApp, dahinya tampak mengernyit. Membaca pesan yang di kirim Ayah Alira. Segera ia membalas dengan menyanggupi permintaan lelaki itu.


'' Ada apa ?'' Hardi dan Erza mengajukan pertanyaan hampir bersamaan.


'' Nyuruh aku dateng ke sini. '' jawab Febrian sambil menyodorkan hp kearah kedua sahabatnya. Keduanya membaca alamat yang tertera di sana. Kemudian mereka berdua saling pandang.


'' Jauh juga '' celetuk Hardi.


'' Ini daerah pesisir kan ?, jangan-jangan kamu mau ditenggelamkan di laut lagi '' ucapan absurd dari Erza. Febrian tampak berdecak sebal menanggapi ucapan Erza.


'' Gak mau tahu, kalian mesti ikut aku ke sana besok pagi . '' ujar Febrian kepada dua sahabatnya. Yang langsung mendengus bersamaan.


'' Pas enak-enakan gak ada ngajak kita ya Di. Pas bermasalah gini baru ngajak -ngajak '' cibir Erza,yang diangguki oleh Hardi yang sedang menyuapkan steak kedalam mulutnya.


'' Kalian berdua kan besti'' jawab Febrian,yang langsung membuat dua sahabatnya pura-pura muntah.


'' Alay banget sumpah '' ucap Hardi.


Mereka menghabiskan makan malam, kemudian berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Setelah menyepakati esok mereka akan pergi bersama.


Febrian memasuki rumahnya yang tampak gelap dan sepi. Hanya satu penerangan dalam rumah tersebut di bagian ruang tengah. Rasa sepi menggelayuti hatinya,rasa yang setiap hari ia rasa setelah kepergian Alira dari hidupnya.


Langkah Febrian sampai di ruang tengah,lelaki itu duduk di sofa. Menengadah menatap langit-langit ruang tengah. Bayang Alira masih tergambar dengan jelas. Tiga bulan seakan tak sedikitpun menghapus bayang wanita itu.


'' Ra, sampai kapan kamu menghukum ku seperti ini ?'' lirihnya. Dan selalu berhasil membuat air mata itu mengalir.

__ADS_1


Hanya saat bekerja dan bersama kedua sahabatnya,rasa sepi dalam hatinya sedikit berkurang. Tapi saat sendiri,rasa sepi itu seperti mencekiknya. Dadanya selalu saja terasa sesak. Bak tertekan benda yang berat. Rasanya begitu sakit, hingga membuatnya sulit untuk bernafas.


__ADS_2