Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Masih Sama


__ADS_3

Sebuah pesan masuk saat Febrian sedang melajukan mobilnya menyusuri jalanan siang itu. Ternyata Rasya yang memberi kabar tentang pertemuan dengan dengan pemasok barang. Tidak bisa digantikan Rasya, karena pemuda itu pun harus menemui rekan kerja yang lain.


'' Sayang,ke kantor dulu sebentar ya. Gak apa-apa kan ?, nanti kamu istirahat di ruangan aku .'' ujar Febrian seraya melirik sekilas pada istrinya yang duduk bersandar dengan wajah letih.


'' Ya udah gak apa-apa .'' jawab singkat Alira. Kini wanita itu tampak terpejam, menikmati goncangan kecil dari mobil yang di kemudikan oleh suaminya.


Sekali lagi, Febrian melirik Alira yang terpejam. Tangannya terulur mengusap lembut kepala sang istri.


'' Capek banget Yang ?.'' tanya lembut Febrian. Alira membuka mata sekejap. Kemudian mengangguk seraya menyahut dengan suara lemah.


'' Bukan capek banget,tapi ngantuk banget .''


'' Ya udah nanti sampai kantor langsung tidur. Jangan sekarang, Sebentar lagi nyampe, nanti kamu pusing .'' ucap Febrian yang kini menggenggam tangan Alira. Alira membuka mata dan menatap sejenak lelaki yang sesungguhnya masih memiliki seluruh hatinya. Namun terhalang hati yang terlanjur patah.


Alira hanya tersenyum samar, menikmati semua perhatian dari sang suami, entah itu sebagai bentuk penyesalan diri atau sebagai alibi. Alira terkadang pun ingin berdamai dengan memaafkan semua yang sudah terjadi. Tapi ketika kilasan kejadian itu terbayang sungguh sakit itu masih nyata terasa.

__ADS_1


'' Sayang, sudah sampai .'' ujar Febrian menyadarkan Alira dari lamunan. Sedikit tergagap Alira meraih tas di pangkuan. Febrian turun dari mobil, setengah berlari lelaki itu menghampiri pintu penumpang. Membukakan pintu untuk sang istri. Alira tersenyum tipis seraya turun perlahan dari dalam mobil.


Dengan sigap Febrian meraih tangan Alira dan mengambil tas di tangan wanita itu. Di dekapnya pinggang sang istri dengan sebelah tangannya. Berjalan dengan senyum tak pudar di bibir Febrian. Rasanya sungguh luar biasa,bisa berjalan dengan sang pujaan hati.


Tak perduli ada banyak pasang mata yang mengawasi dengan raut wajah tercengang. Bagaimana tidak ?, sang atasan yang beberapa bulan terakhir bahkan tak pernah dekat dengan wanita. Tiba-tiba menggandeng seorang wanita cantik dengan perut yang sudah tampak membuncit.


Nyatanya lelaki itu,tak ambil perduli. Yang terpenting baginya saat ini Alira berada di sisinya. Kehamilan Alira yang bisa di katakan sebagai aib, baginya sebuah berkah. Karena jika wanita itu tak mengandung benihnya sudah di pastikan tak akan lagi mau kembali padanya. Biarlah pernikahan mereka seakan hanya menjadi penebus atas salah yang sudah terlanjur terjadi. Namun bagi Febrian pernikahan itu adalah jalan dirinya untuk mengikat seorang Alira agar tetap berada di sisinya.


Sampai di dalam ruang kerja Febrian. Alira di bawa oleh Febrian di sebuah sofa bed yang cukup besar. Berada di sudut ruangan, menempel pada dinding kaca dengan pemandangan yang cukup memanjakan mata. Ruangan Febrian yang berada di lantai tiga. Membuat Alira bisa melihat kebawah.Hilir mudik kendaraan tampak dari sana. Dan sebuah taman yang ternyata terletak di seberang jalan nampak cukup jelas dari ruang kerja sang suami.


Alira masih berdiri di dekat dinding kaca. Menatap keluar ruangan yang memperlihatkan cuaca yang cukup panas. Sedangkan Febrian sedang berbincang dengan Rasya yang baru saja masuk ke dalam ruangan atas perintah dari Febrian. Beberapa kali sudut mata Rasya melirik pada Alira, wanita yang masih asing di matanya. Karena selama berpacaran dengan Febrian wanita itu tak pernah mendatangi kantor , tempat Febrian bekerja.


Tapi mendengar penuturan Febrian, Rasya tampak mengernyit dan menatap penuh tanya pada sang atasan.


'' Istri ?.'' tanya Rasya seakan tak percaya. Febrian mengangguk pasti, membuat Rasya semakin di buat tercengang dengan pengakuan atasannya.

__ADS_1


'' Kok bisa ?'' tanya Rasya sedikit mengecilkan suaranya dan kini duduk mencondongkan tubuh kearah Febrian. Menatap penuh selidik pada lelaki di hadapannya.


Febrian sedikit jengah pada kelakuan Rasya. Dengan tangan ringannya di pukul kepala Rasya dengan gulungan map yang berada di tangannya.


'' Berisik kamu,sana keluar !." ucap Febrian pada bawahannya yang memang sudah seperti adik untuknya. Rasya bangkit berdiri dengan tampang cemberut.


Keluar ruangan Febrian dengan berbagai pertanyaan yang masih menggelayut di dalam benaknya. Febrian tampak tersenyum samar saat menatap wanitanya yang seakan tak terusik karena perbincangan dirinya dengan Rasya.


Febrian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir waktunya ia bertemu dengan rekan kerja. Dihampirinya sang istri yang masih menatap keluar dari balik dinding kaca itu. Febrian mendekap Istrinya sari belakang sembari menyematkan kecupan di kepala Alira.


'' Sayang , kamu istirahat dulu di sini. Aku meeting dulu sebentar .'' pamit Febrian.


'' Iya Mas.'' sahut Alira dengan menoleh kearah Febrian. Febrian melepas pelukannya dan mengecup sekilas pipi Alira.


'' Alu pergi dulu .'' lanjut Febrian yang kemudian melangkah pergi setelah Alira mengangguk mengiyakan. Wanita itu menatap punggung kokoh yang menghilang di balik pintu ruang kerja Febrian.

__ADS_1


Tampak wanita itu berkaca-kaca, seraya memegang dadanya.


'' Perasaan ini masih sama Mas.'' lirihnya. Namun mengapa begitu sulit menata kembali serpihan hati yang terlanjur berserakan ?.


__ADS_2