
Baru sehari Alira di tinggal sang suami kerja di luar kota. Ternyata rasa rindu itu sudah menggunung di hatinya. Hampir setiap malam ia tak bisa tertidur dengan nyenyak. Terbiasa tidur dalam pelukan suaminya membuat ia merasa ada yang kurang saat harus tidur sendiri. Beberapa kali terbangun di tengah malam. Membuatnya susah untuk kembali memejamkan mata.
Pagi itu, Alira sudah tampak segar setelah mandi dan bersiap untuk jalan-jalan di sekitar rumah. Saat menuruni tangga, suara denting ponsel berbunyi. Sebuah pesan masuk, wanita itu menghentikan langkahnya di undakan tangga. Berharap pesan masuk dari sang suami. Senyum terkembang di bibirnya, namun saat hanya deretan nomer yang terlihat membuat dahi wanita itu berkerut.
Dan saat pesan di buka, dadanya berdebar kencang. Matanya seketika terasa memanas. Lututnya melemas seketika. Foto itu sungguh mengiris hatinya. Terlihat wanita yang diakui oleh Febrian teman kuliahnya terpampang di sana.
Dengan memperlihatkan pundak dan sebagian dada tanpa penutup. Di belakangnya terlihat Febrian dengan kimono membungkus tubuh lelaki itu. Memang posisi Febrian membelakangi kamera,tapi jelas postur tubuh itu adalah sang suami.
Bayang perselingkuhan Febrian kembali berseliweran di kepalanya. Tak berselang lama muncul lagi pesan gambar masuk. Wanita itu tampak duduk di pinggir ranjang yang tampak berantakan. Sebuah pesan teks yang tertulis di bawah foto tersebut membuat Alira tak bisa lagi menahan laju air matanya.
" Jangan salahin suami kalau nyari di luar, soalnya kamu yang gak bisa bikin dia puas." Alira menggigit bibir bawahnya,dan seketika kakinya terasa lunglai, wanita itu terduduk di tangga dengan tangan menggenggam besi yang di jadikan pegangan. Hatinya bergemuruh, memang tak ada foto intim suaminya dengan wanita itu. Tapi apa yang di lakukan dua orang dewasa dalam satu kamar ?. Bahkan sang suami tampak hanya mengenakan kimono.
" Arrrggh ." jerit Alira saat di rasa perutnya begitu sakit. Seperti ada yang meremas di dalam sana. Tangannya yang berpegangan terasa melemas, wanita itu memegangi perutnya yang kontraksi. Alira berusaha berdiri, dengan tangan memegang perut yang terasa kian sakit.
Tinggal tiga undakan lagi sampai di lantai bawah, Alira tak mampu menopang tubuhnya. Wanita itu terjatuh, meski tak tinggi dengan kondisi perut yang besar. Membuat Alira merasakan kesakitan.
__ADS_1
"Mbak, mbak Tia. Tolong !." panggilnya dengan suara bergetar. Antara tangis dan rasa sakit yang mendera.
" Mbaaak !." Alira berusaha berteriak memanggil sang asisten rumah tangga.
" Ya bu, sebentar .'' sahut Mbak Tia yang belum mengetahui keadaan sang nyonya.
" Mbak Tia, tolong !." Alira kembali memanggil pembantunya. Tak berselang lama wanita paruh baya itu tergopoh-gopoh menghampiri Alira.
Betapa terkejutnya Mbak Tia yang melihat Alira terduduk di lantai seraya meringis kesakitan.
" Sakit mbak,sakit banget." rintih Alira sembari memegangi perutnya. Betapa terkejutnya Mbak Tia saat pandangannya tertuju pada kaki Alira. Darah segar mengalir di sana.
" Ya ampun bu, saya harus bagaimana ?. Bapak bu, bapak dimana ?. Ini harus bagaimana ?." panik Mbak Tia dengan wajah yang sudah pucat pasi. Alira merintih tak henti, namun pikirannya masih bekerja dengan baik.
" Tenang dulu mbak,tolongin saya. Bapak di luar kota. Tolong minta bantuan saya harus segera ke rumah sakit mbak." lirih Alira dengan wajah yang sudah putih pucat dan terlihat lemas.
__ADS_1
" Ibu tahan dulu,saya cari bantuan ." ucap Mbak Tia yang langsung melesat meninggalkan Alira yang terlihat semakin melemah. Di tengah rasa sakit yang di rasakan wanita itu, bayang penghianatan sang suami berkelebat di benaknya.
Mungkinkah sang suami yang selama ini menunjukkan cinta yang begitu besar. Hanya sebuah pencitraan untuk menutupi kelakuan lelaki itu di belakangnya ? . Apakah ketidaksetiaan adalah penyakit jiwa yang tak bisa di sembuhkan ?. Apakah selama ini sang suami mencari kepuasan di luar sana ?. Apa itu sebabnya lelaki itu mampu menahan hasrat saat ia belum mengijinkan sang suami menjamahnya ? . Rentetan pertanyaan yang semakin membuat Alira merasa pusing, sakit di perutnya semakin terasa. Hingga akhirnya wanita itu tak mampu duduk, kesadarannya mulai menghilang.
Alira telah terlentang di lantai saat Mbak Tia datang dengan beberapa orang. Mata wanita itu terpejam, membuat panik mereka yang melihat keadaan Alira. Dengan cepat, tiga orang lelaki mengangkat tubuh Alira, sementara para wanita yang ikut datang mengikuti dengan wajah tegang.
Dengan menggunakan mobil milik tetangga sebelah rumah. Akhirnya Alira bisa segera di larikan ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, segera wanita itu di dorong masuk ruang UGD. Mbak Tia merasa bingung harus bagaimana. Di saat wanita itu tidak tahu harus bagaimana. Suara dering ponsel dari dalam tas mengagetkan dirinya.
Ia baru teringat ponsel sang majikan yang tadi di ambilnya. Nama Vivian tertera di layar benda pipih tersebut. Hatinya seketika merasa lega. Segera ia mengangkat panggilan tersebut.
" Non Vivian, tolongin saya. Bu Alira masuk rumah sakit. " ucap Mbak Tia tanpa menunggu sapaan dari seberang sana.
" Rumah sakit ?, rumah sakit bagaimana ?." panik Vivian.
" Bu Alira sepertinya jatuh dari tangga, beliau pendarahan. Sekarang di ruang UGD. Bapak sedang tidak di rumah ,saya bingung non." ujar Mbak Tia panik.
__ADS_1
" Di rumah sakit mana saya segera ke sana." sambung Vivian yang tak kalah paniknya. Mbak Tia menyebutkan alamat rumah sakit dimana sang nyonya di rawat. Wanita itu tampak sedikit bisa bernafas lega. Setidaknya ia tidak sendirian, jika ada tindakan yang harus dilakukan ada yang bisa menjadi wali dari majikannya.