
Brakkk
Suara pintu yang di dorong kasar. Marsha yang berada dalam ruangan tersebut menatap arah pintu.
'' Maaf bu,saya sudah saya sudah berusaha melarang beliau '' ucap wanita dengan blazer pink di padu tok mini di atas lutut dengan warna senada. Penampilan seksinya di dukung dengan high heels dan rambut indah tergerai . Dialah sekertaris Marsha tak kalah cantik dengan sang atasan.
Marsha tampak mengangguk,dan menatap tamu tak di undang nya pagi itu. Wajah dingin Febrian menyiratkan kemarahan lelaki tersebut. Setelah sang sekertaris keluar meninggalkan ruangan Marsha, Febrian mendekati wanita yang duduk menopang kaki dengan sesungging senyum tanpa memperdulikan tatapan membunuh sari Febrian.
'' Hai Bri !'' sapa Marsha ,tak ada balasan sapaan dari bibir lelaki itu.
'' Maksud kamu apa Sha ?'' geram Febrian seraya membungkuk dengan kedua tangan berada di atas meja. Menatap penuh amarah pada wanita yang bahkan tidak terintimidasi dengan tatapan garang lelaki di hadapannya.
Wanita itu justru mencondongkan tubuhnya yang duduk di kursi. Membuat keduanya seakan tak berjarak.
'' Memangnya aku kenapa Brian ?'' tanya Marsha tanpa ada rasa bersalah di setiap kata yang terucap olehnya.
__ADS_1
'' Apa tujuan kamu mengirimkan foto itu pada istri saya ?'' tanya Febrian dengan nada dingin.
Marsha mengernyitkan dahi, seolah tak mengerti dengan apa yang Febrian ucapkan. Kemudian wanita itu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
'' Aku gak ngerti, apa yang kamu maksud '' ucap Marsha seraya memainkan pulpen di tangannya.
'' Gak usah pura-pura bodoh Sha, aku tahu kamu yang ngirim foto itu. Maksud kamu apa ?. Istri saya sedang hamil dan kamu mengganggunya dengan hal seperti itu ?. Waras kamu Sha ?'' bentak Febrian dengan luapan amarah yang menyeruak dari dalam dadanya.
Marsha tersenyum sinis, menatap dengan tatapan meremehkan pada lelaki yang telah di kuasai emosi itu.
'' Buktinya mana kalau aku yang kirim foto itu ?'' tanya Marsha dengan kembali mencondongkan tubuhnya. Dengan kobaran amarah yang terpancar dari sorot mata Febrian, lelaki itu mencengkeram dagu Marsha.
Marsha mengusap dagunya yang terasa sakit. Ia menatap Febrian dengan tatapan mata berapi-api.
'' Saya pastikan kamu menyesal sudah melakukan ini Febrian '' geram Marsha.
__ADS_1
'' Jangan harap '' sahut Febrian.
'' Saya akan tarik semua investasi saya,dan saya pastikan perusahaan kamu akan hancur ''ancam Marsha,yang di sambut senyum sinis Febrian.
'' Saya tidak perduli '' ucap Febrian yang kemudian bergegas pergi dari ruangan tersebut. Tinggal Marsha dengan kemarahannya. Wanita itu tampak tersengal, amarah menguasai seluruh rongga dadanya.
Gagal tak pernah ada dalam cerita hidup seorang Marsha. Ia menyimpan rasa pada Febrian semenjak mereka masih sama-sama duduk di bangku kuliah. Dan ia mengubur semua rasa yang di milikinya demi mengejar mimpinya meneruskan S2 di luar negeri.
Setelah sekian tahun perpisahan ,ia di pertemukan kembali dengan lelaki pujaannya. Namun sungguh miris nasib yang harus ia terima saat ia tahu Febrian tak lagi sendiri. Dan kemarahan dalam dadanya semakin membesar saat ia melihat betapa lelaki yang selama ini dipujanya memuja sang istri dengan segenap hatinya.
Tak sekali dua kali ia mencoba menggoda lelaki itu. Tapi tak juga bisa ia mendapatkan hati lelaki yang tak pernah hilang dari hatinya.
'' Berengseek kamu Febrian '' teriak Marsha dengan dua tangan menutup wajah. Air mata mengalir tanpa permisi. Rasa sakit tak hanya di dagu wanita itu. Namun yang terasa lebih sakit adalah hatinya. Hatinya ya g telah patah tanpa pernah ia menyatukannya .
'' Apakah aku harus menyerah ?'' tanya Marsha pada dirinya sendiri. Tatapan matanya nanar, hatinya bergemuruh dengan segala emosi yang menggelegak dalam dada. Antara cinta dan luka yang harus ia rasa dalam waktu yang sama. Ia masih mencintai lelaki itu, meski luka sudah tertoreh di dalam hatinya.
__ADS_1
'' Febrian !!!'' teriak Marsha tertahan,yang kemudian tergugu dalam tangis pilu. Wanita itu mengacaukan meja kerjanya. Wajah cantiknya tak lagi nampak bercahaya. Yang tertinggal hanya wajah penuh luka. Saat cinta tak mampu ia raih. Akankah ia terus bertahan dalam luka atau menyerah untuk menggadaikan rasa pada hati yang tak mungkin mampu ia tembus pertahanan nya ?.
'' Arrrggh '' teriak Marsha dengan menutup kedua telinganya. Rasanya ia ingin mati saja. Meninggalkan semua kisah pahit cintanya. Mebawa rasa dalam keabadian.