
Gelisah,itu yang Febrian rasa saat ia belum juga mendapat kabar dari istri dan sang ibu yang terakhir kali mengabari hendak membawa istrinya keluar rumah. Prasangka buruk mulai menggelayuti pikiran Febrian. Ia takut sang ibu menghakimi istrinya atas kesalahan mereka.
Ia tak mau sang istri menanggung sendiri atas dosa bersama itu. Setelah makan siang, Febrian tak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya. Akhirnya lelaki itu memilih bangkit berdiri dari duduknya. Keluar ruangan menghampiri Rasya, salah satu orang kepercayaannya.
'' Sya !" panggil Febrian pada Rasya yang tampak sibuk di depan laptopnya.
'' Ya,ada apa Pak ?.'' tanggap Rasya yang langsung menengadah menatap sang atasan.
'' Saya ada acara di luar. Nanti kalau ada hal yang urgent kamu hubungi saya. Tapi sekiranya bisa kamu selesaikan. Saya percayakan sama kamu .'' tegas Febrian,yang di angguki okeh Rasya.
'' Baik Pak .'' singkat Rasya.
'' Kalau begitu,saya pergi dulu .'' pamit Febrian tanpa menunggu sahutan , lelaki itu telah melenggang pergi.
Sekali lagi ia mencoba menghubungi nomer sang istri, aktif namun tak ada jawaban. Barulah ia lega saat ibunya mengangkat panggilan darinya.
'' Ma !'' seru Febrian saat Mama mengangkat telepon darinya.
'' Kenapa Bri ?.'' tanya Mama pada anak lelakinya.
'' Mama dimana ?.'' sambung Febrian yang kini menyalakan mesin mobil.
'' Di salon .'' singkat Mama, Febrian mengernyitkan dahi.
'' Salon mana Ma ?.'' imbuh lelaki yang masih di penuhi rasa was-was.
__ADS_1
'' Mama share lock alamatnya, ya udah Mana tutup .'' ucap Mama tanpa minat,karena sedang menikmati perawatan di salon.
Sebuah notifikasi masuk di ponsel Febrian. Sebuah titik tempat keberadaan sang Mama tertera di layar ponsel. Dengan segera lelaki itu melajukan mobil sport miliknya. Jalanan siang cukup lengang, dengan kecepatan cukup tinggi Febrian menembus teriknya matahari .
Dengan tergesa ia turun dari mobil, entah mengapa ia tetap berpikir negatif. Takut seandainya sang Mama bertindak semena-mena pada wanitanya. Membuka pintu salon perlahan dan matanya melebar mendapati pemandangan di hadapannya.
Dua orang wanita berbeda usia itu sedang melakukan perawatan rambut dengan obrolan hangat dan sesekali tawa kecil dari keduanya. Dengan senyum samar, Febrian melangkah mendekati dua orang yang belum menyadari kedatangan dirinya.
Sampai Mama melihat bayangan sang putra dari cermin di hadapannya. Keduanya saling bertatapan lewat cermin besar itu. Reflek Mama menoleh pada anak lelakinya.
'' Astaga Bri, ngapain kamu . Bukannya lagi kerja ?.'' tanya Mama yang heran dengan kedatangan sang anak. Alira yang mendengar penuturan sang mertua ikut menoleh dan mendapati sang suami yang tersenyum manis untuk kedua wanita penting di hidupnya.
Febrian mendekat pada Mama dan mengecup sekilas pipi wanita yang masih sangat terjaga kecantikannya meski diusia yang sudah cukup tua.
'' Kan Brian kangen Mama .'' sahut Febrian yang mendapat cebikkan bibir dari Mama.
'' Ponsel kamu dimana Yang ?,kok aku telpon gak diangkat ?.'' lembut pertanyaan yang meluncur dari bibir lelaki tampan itu.
'' Ponselku di tas kayaknya, gak ada suara panggilan dari tadi .'' jawab Alira seraya menatap tempat ia meletakkan tas yang berisi barang-barang miliknya.
'' Dasar baru di tinggal pergi sebentar udah bingung nyariin .'' sungut Mama yang sudah kembali dengan perawatan rambutnya.
'' Namanya juga bucin Ma .'' sahut enteng Febrian, interaksi mereka tak lepas dari pelayan salon yang ikut tersenyum melihatnya.
Febrian melangkah mendekati tas milik istrinya. Mengambil ponsel Alira yang memang terdapat di dalam tas. Tanpa ijin, Febrian menggulir layar ponsel dan tersenyum kala mendapati pin untuk membuka kunci layar ponsel milik Alira masih sama. Yaitu tanggal lahir dirinya.
__ADS_1
Ada perasaan menghangat, seakan hal kecil itu masih memberinya sebuah harapan besar. Bahwa cinta itu masih ada. Hanya butuh waktu untuk mengembalikan keadaan seperti semula. Menanggalkan segala lara yang terlanjur melekat dalam jiwa .
'' Ponselnya kamu silent Yang, pantes aku telpon kamu gak denger .'' tutur Febrian seraya mendekati sang wanita kemudian duduk di kursi kosong di sebelah Alira. Memperlihatkan notifikasi panggilan tak terjawab dari dirinya.
'' Maaf Mas,aku gak inget kalau ponsel aku silent .'' sahut Alira yang kini sudah selesai dengan perawatan smooting di rambut panjangnya. Febrian yang tampak terpesona menatap wajah segar serta rambut halus sang istri menatap penuh cinta wanita di hadapan dirinya itu. Tangannya terulur mengusap lembut rambut hitam mengkilap milik sang istri.
'' Gak apa-apa kok Yang .'' jawab Febrian penuh pengertian. Mata Mama menangkap sinyal cinta begitu besar yang terlihat di sorot mata anak lelakinya. Wanita itu tersenyum samar,lega hatinya saat sang anak telah memiliki cinta untuk pelabuhan terakhirnya. Bukan sekedar mengambil tanggung jawab atas kesalahan yang ia perbuat.
'' Bri, karena kamu di sini, jadi bayarin perawatan kita. Toh yang untung itu kamu. Istri kamu yang cantik makin cantik kan ?.'' ucap Mama yang juga telah selesai perawatan.
'' Siap Ma, habis ini mau kemana lagi ?.'' tanya Febrian dengan tatapan berganti, menatap Alira yang menampakkan wajah lelah namun sepertinya tak berani membuat keputusan. Kemudian lelaki itu menatap sang Mama.
'' Pulang aja, kasihan istrimu sudah capek nemenin Mama seharian.'' jawab Mama yang melihat menantunya sudah terlihat lelah.
'' Oke, Alira pulang sama Brian, Mama sama sopir kan ?.'' lanjut Brian yang diiyakan oleh Mama yang kini tampak sedang membaca pesan di ponsel dengan tatapan seriusnya.
'' Iya Alira sama kamu, Mama langsung pulang. Papa bilang akan ada tamu datang. Mama harus pulang duluan.'' tutur Mama seraya bangkit dari duduknya. Menyambar tas yang tergeletak bersebelahan dengan tas milik Alira.
'' Sayang, Mama pulang dulu, besok kita we time lagi. Mama seneng ada yang temenin shopping dan nyalon .'' ucap wanita cantik yang masih tampak energik, sembari mencium pipi kiri dan kanan sang menantu.
'' Iya Ma .'' sahut Alira pendek dengan senyum lembutnya.
'' Oh Ya, belanjaan kamu nanti Mama turunin di depan ya. Bay sayang !." ujar Mama yang tampak sedikit buru-buru pergi.
'' Hati-hati Ma .''seru Alira yang diangguki Mama dengan seulas senyum yang kemudian menghilang di balik pintu salon.
__ADS_1
Febrian yang sedang mengurus pembayaran tampak tersenyum senang melihat interaksi mereka. Mama menerima dengan baik istrinya. Dan itu cukup untuk membuat dirinya merasa bahagia.
Keluar dari salon seraya memeluk pinggang sang istri setelah selesai dengan urusan di day salon. Senyum terkembang lebar di bibir lelaki itu. Sungguh ia merasa menjadi lelaki beruntung karena memiliki wanita cantik itu sebagai istrinya.