Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Kedatangan tak Terduga


__ADS_3

Alira tampak tertegun, menatap dua orang yang berdiri di hadapannya. Tampak keduanya menatap dirinya dengan wajah menegang namun dengan sorot mata kerinduan.


'' Bapak,Ibu ''lirih Alira melihat kedua orang tuanya berdiri di depan pintu rumah yang beberapa bulan ini ditinggalinya. Wajah Bapak terlihat semakin menegang saat mengamati bentuk tubuh sang anak. Mata ibu telah berkaca-kaca.


Melihat wajah kecewa dan terluka di hadapannya membuat Alira tak mampu lagi menahan air matanya. Alira menjatuhkan diri, berlutut di hadapan kedua orang tuanya dengan derai air mata. Tertunduk, tanpa berani menatap wajah penuh kesedihan yang terlihat di wajah Bapak dan Ibu .


'' Maafin Alira Pak,Bu '' ucap Alira tersengal. Ibu menutup mulutnya karena tangisnya lini pecah . Bapak tampak mengerjapkan mata, seakan menghalau air mata yang hendak tumpah.


'' Alira tidak bisa menjadi anak yang Bapak dan Ibu banggakan. Maaf Alira mengecewakan kalian dengan kebodohan yang telah Alira lakukan ''. ucap Alira dengan air mata yang membanjir.


'' Bagaimana bisa seperti ini nak ?'' isak ibu yang kini ikut menjatuhkan diri di hadapan sang anak. Keduanya bersimpuh di depan pintu. Ibu meraih pundak Alira dan mengguncangnya sedikit keras.


'' Kenapa begini Ra ?'' Ibu mengulang pertanyaan, Alira hanya mampu menangis. Rasanya sungguh menyakitkan menjadi sebab sang ibu mengeluarkan air mata. Air mata luka dan kecewa yang di sebabkan oleh dirinya.


'' Aku sudah gagal pak,aku gagal menjadi ibu yang baik Pak '' Ibu semakin meraung memukul dadanya sendiri. Begitu sesak rasa di dadanya, mendapati anak yang telah keluar dari norma. Membuat dirinya merasa telah gagal mendidik sang anak.


'' Maafin Alira bu,maaf . Ini bukan salah ibu tapi ini murni ketidakbecusanku menjaga diri. Alira yang salah bu ''.ucap Alira seraya sesenggukan. Ia meraih tubuh sang ibu dan di peluknya. Keduanya saling memeluk dalam tangis. Bapak masih terpaku menatap dua wanita berharga di hidupnya.


Drama pertemuan yang sungguh mengharukan untung tak jadi tontonan. Pasalnya siang itu hari sibuk. Sebagian dari penduduk di desa itu bekerja .


Beberapa saat mereka tampak diam, menenangkan hati masing-masing. Setelah kondisi mereka cukup tenang. Alira mengajak kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


'' Jadi kamu sembunyi di sini selama ini ?'' yang Ibu masih dengan tatapan kesedihannya.


'' Iya bu,maaf . Vivian yang memberi tahu ibu Alira di sini ?'' Alira bertanya tanpa berani bertemu pandang dengan kedua orang tuanya.


'' Bukan, sudah beberapa kali Bapak dan Mas mu menemui Vivian tapi tidak mengatakan kamu dimana. Dia bilang tidak tahu keberadaan mu.'' cerita ibu dengan tatapan menerawang. Bapak masih terdiam seraya memijit pelipisnya.


Alira semakin merasa bersalah, ialah yang melarang Vivian untuk tidak memberitahu pada keluarganya.


'' Maaf Alira yang melarang Vivian untuk mengatakan pada Bapak dan Ibu, Alira malu Bu. Alira sudah mengecewakan kalian '' ucap Alira yang kini kembali terisak.


''Bapak dan Ibu memang kecewa dengan apa yang sudah kamu lakukan. Tapi nasi sudah menjadi bubur,mau diapakan lagi ?. Tak ada manusia yang bisa mengembalikan keadaan yang sudah terlanjur terjadi. Satu yang harus kamu ingat,bahwa se kecewa apapun kami. Kamu tetap anak kami. Kesalahan yang terjadi pun tak luput dari kesalahan kami sebagai orang tua yang tidak bisa menjaga amanah dengan baik ''. tutur Ibu , Alira semakin terisak.


Rasa bersalah semakin menggelayut dalam dada. Ia telah mencoreng wajah orang tuanya dengan arang hitam. Namun mereka masih menerima. Hanya lantunan kata maaf yang terus terucap dari bibir itu.


'' Bagaimana Bapak tahu tentang Febrian ?.'' tanya Alira yang kini menatap Bapak dengan tatapan penuh tanda tanya.


'' Jadi benar dia ayah dari anak dalam kandungan mu ?'' Bapak kembali bertanya, Alira mengangguk lemah. Bapak tampak menghela nafas.


'' Beberapa kali dia datang kerumah mencari mu ,dia juga sudah mengatakan kenapa kamu pergi darinya. Tapi dia tidak pernah bilang jika kamu sedang mengandung anaknya ''. ujar ibu. Alira menelan ludah dengan kasar. Tenggorokannya terasa tercekat.


'' Dia,dia belum tahu Lira hamil bu '' sahut Alira. Bapak dan Ibu saling pandang.

__ADS_1


'' Apa kamu pikir kamu sanggup menjadi orang tua tunggal ?'' tanya Bapak. Alira menggigit bibirnya,ia sendiri masih ragu akan hal itu. Ia saja belum bisa sepenuhnya mengurus diri sendiri. Bagaimana ia bisa menanggung satu lagi nyawa ?. Alira hanya bisa menunduk tanpa bisa menjawab.


'' Menjadi orang tua tidak semudah yang kamu pikir Ra, apa kamu tidak memikirkan anakmu nanti yang akan mencari ayahnya ?'' tambah Ibu.


'' Tapi dia sudah selingkuh dari Lira bu '' ucap Alira yang merasa bahwa keputusan dirinya meninggalkan Febrian adalah hal yang tepat.


'' Ya,dia sudah mengakui itu,dan dia bilang menyesal. Terlepas dari semua kesalahan yang dia lakukan terhadap kamu. Dia harus bertanggung jawab atas janin yang ada di perut mu .'' ucap Ibu, Alira ingin menyangkalnya,tapi ia tak punya keberanian itu.


Ia sudah cukup mengecewakan kedua orang tuanya dengan aib yang ia bawa. Apalagi jika ia memilih melajang dengan anak tanpa ayah. Kedua orang tuanya jelas akan lebih malu. Belum lagi, nanti jika anak itu lahir dan mempertahankan tentang sang Ayah. Apa yang harus ia berikan sebagai jawaban ?.


Alira masih menyimpan tanya tentang siapa yang memberitahu keberadaan dirinya pada kedua orang tuanya. Namun saat tanya itu masih tertanam di hati. Datang bi Sari yang baru saja dari pasar.


Alira memperkenalkan wanita yang selama beberapa bulan menjadi tempat bersandar dirinya. Kemudian Bi Sari yang melihat bahwa tamunya belum di buatkan minum , wanita itu masuk ke dapur dan menyuguhkan minuman dingin dan sepiring kue yang kebetulan baru dibelinya .


Mereka tampak berbincang cukup akrab. Alira menjadi pendengar dengan rasa yang kian di selimuti rasa bersalah. Saat ia mendengar ibu yang bercerita, bagaimana khawatirnya merek yang tak tahu kabar dan keberadaan sang anak.


'' Maaf ya mbak sudah ngerepotin selama ini '' ucap Ibu di sela obrolan hangat yang tercipta diantara mereka.


'' Tidak ada yang merepotkan Bu,saya senang ada Alira. Saya jadi ada teman.'' sahut Bi Sari.


''Mbak Sari ini tinggal sendiri di sini ?'' selidik ibu.

__ADS_1


'' Iya,saya punya anak satu. Tapi tinggal di rumah saya sendiri. Dan saya menunggu rumah peninggalan Eyang nya non Vivian di sini''. jawab Bi Sari. Ibu tampak mengangguk mengerti.


Tanpa ada yang tahu di balik jendela samping rumah. Tino berdiri bersandar di dinding. Tersenyum lega, kedatangan orang tua Alira adalah ulahnya yang mengabari kakak Alira dari nomer ponsel yang ia ambil saat meminjam ponsel milik Alira.


__ADS_2