
Terik sang Surya terasa membakar kulit. Meski angin yang berhembus cukup kencang namun hawa panas masih begitu terasa menyengat. Alira duduk di sebuah saung yang menghadap ke pantai lepas.
Terpaan angin meniup rambutnya yang terurai. Tatapan mata wanita itu melalang jauh. Sesekali terlihat Alira menghela nafas berat. Mencoba meringankan beban yang terasa menghimpit dada. Kakinya yang menjuntai nampak bermain-main dengan pasir.
Sejauh ini ia telah meninggal kan seorang Febrian. Tapi hatinya tak bisa dengan mudah melupakan lelaki yang memberikan dirinya cinta dan juga luka. Rasa rindu itu seakan menggelayut di dada, tanpa bisa ia pungkiri keberadaannya. Wangi aroma tubuh lelaki itu pun seakan terngiang di indera penciumannya.
Tak terasa air mata itu mengalir di pipinya. Tangannya mengusap perut yang masih tampak rata. Di dalam sana, tumbuh buah cinta mereka. Buah cinta yang tumbuhnya harus beriringan dengan luka. Luka yang mengangah dalam dirinya.
Mengikuti ego diri,Alira memilih pergi. Namun dalam kegamangan hati,ia meragu sendiri. Mampukah ia menjadi ibu juga ayah untuk anak yang kini sedang tumbuh kembang dalam rahimnya ?.
'' Mbak Alira " suara Tino membangunkan Alira dari lamunannya.
'' Eh No '' ujar Alira seraya menatap lelaki yang kini telah duduk di sebelahnya.
'' Makan dulu , Mbak '' ucap Tino seraya mengulurkan bungkus nasi kepada Alira. Alira tersenyum, kemudian mengambil nasi bungkus dari tangan Tino.
'' Makasih ya No '' ucap Alira yang di balas senyum kecil pemuda sederhana itu. Alira tidak langsung membuka bungkusan yang Tino berikan. Ia hanya memegangnya dan kembali melayangkan tatapan pada hamparan laut di depan sana.
'' Mbak di makan dulu '' ujar Tino lembut setelah beberapa saat menunggu namun Alira tetap bergeming. Alira menoleh pada Tino dengan seulas senyum.
__ADS_1
'' Iya sebentar '' sahut Alira dengan nada lemah.
'' Ini sudah terlambat untuk makan siang mbak. Kasihan dedeknya '' ucap Tino dengan lembut. Dua anak manusia itu saling bertemu pandang, Alira tersenyum sedih. Mendapati sebuah perhatian dari lelaki yang bahkan baru beberapa hari di kenalnya.
'' Makasih ya No, kamu selalu perhatian dan peduli dengan ku ''. tutur Alira dengan nada sendu.
'' Sama-sama mbak, sudah seharusnya kan baik dengan sesama '' sahut Tino. Alira mengangguk, kemudian beralih menatap nasi bungkus di tangannya. Di bukanya bungkusan nasi Padang dengan rendang sebagai lauknya.
'' Kamu tahu kan No,aku hamil tanpa suami. Kok kamu tetep baik banget sama aku. Gak jijik No,sama aku ?'' tanya Alira di sela makan siangnya. Alira terkadang merasa begitu rendah saat dengan mudahnya ia menyerahkan kesuciannya dengan dalih cinta. Kini saat cinta itu berkhianat namun jejak cinta yang tertinggal tak mampu terhapus. Dan kini,di perutnya tertinggal sisa cinta yang tak mungkin ia musnahkan.
'' Manusia itu tempatnya salah mbak. Dan setiap diri seseorang tidak berhak menjadi hakim untuk orang lain. Sama halnya saya, saya tidak berhak menilai apalagi menghakimi mbak Alira.'' tutur bijak Tino, membuat Alira tersentuh ucapan lelaki seusai dirinya, namun sungguh dewasa dalam berpikir.
'' Belum tentu saya lebih baik daripada mbak Alira '' tambah Tino yang kini tatapannya tertuju pada hamparan air laut di hadapannya.
Diantara rasa bersalah yang menghimpit dadanya ada lega yang hinggap. Saat Tuhan masih menyayangi dirinya dengan di pertemukan dengan orang-orang seperti Tino dan ibunya.
Mereka yang memperlakukan dirinya dengan sangat baik. Mereka yang tidak pernah menghakimi segala kesalahannya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, jika ia akan memperbaiki diri. Ia akan berjuang untuk hidupnya. Ia yang telah memilih pergi ,maka ia pun harus menanggung segala konsekwensinya.
'' Mbak Alira sudah mengabari orang tua mbak ?'' tanya Tino saat Alira telah menyelesaikan makan siangnya. Dan membuang bungkus nasi pada tong sampah tak jauh dari sana. Alira mengambil botol air mineral dan membukanya. Alira menggeleng, kemudian meneguk air minum dalam botol itu.
__ADS_1
'' Aku belum berani mengabari mereka. Aku sudah terlalu mengecewakan . Mereka sudah mendidik ku dengan baik dan benar. Tapi aku justru mengecewakan mereka dengan tindakan tercela. '' ucap Alira . Tatapan nya kembali menerawang, mengingat tentang kedua orang tua nya.
Bayang kekecewaan kedua orang tuanya membayang di pelupuk matanya. Bagaimana kedua orang tuanya jika sampai tahu apa yang kini sedang terjadi pada dirinya ?. Sungguh ia tak bisa memikirkannya. Ia sudah mencoreng wajah orang tuanya dengan noda hitam yang tak mampu ia hapus.
" Sekecewa apapun orang tua terhadap anaknya, mereka pasti mau menerima maaf kita. Menerima kita dengan dua tangan terbuka. " ucap Tino, Alira tersenyum getir.
" Aku hanya belum berani melihat wajah terluka mereka karena ulahku. Aku tahu,aku tak bisa selamanya berlari dan menghindari kenyataan. Pada saatnya nanti semua ini akan terlihat dengan jelas, betapa buruknya aku sebagai wanita yang tak bisa menjaga diri. Aku hanya butuh waktu. Butuh waktu untuk menguatkan hati,agar aku bisa menghadapi ini". tutur Alira yang sesungguhnya tak yakin. Mampu kah ia menjalani ini dengan baik ?.
Keduanya terdiam,masih dengan mata menikmati pemandangan di hadapan mereka. Ombak yang tak terlalu besar tampak menggulung air di pantai. Angin masih berhembus cukup kencang, dengan panas juga masih cukup menyengat.
" Apa rencana mbak kedepannya ?" tanya Tino yang entah kenapa hari ini terdengar cukup cerewet menanyakan tentang masalah hidupnya.
" Aku belum punya planning apapun untuk ke depannya akan seperti apa " jawan Alira lirih namun cukup terdengar dengan jelas di telinga Tino. Tino menepuk pundak Alira dan tersenyum manis pada wanita .
" Mbak masih punya cukup waktu untuk merancang rencana hidup mbak. Hanya saja mbak tidak bisa lagi berpikir tentang diri sendiri. Ada nyawa lain yang harus mbak pertanggung jawabkan kedepannya. Jangan hanya karena ego yang mbak miliki akan ada jiwa yang terluka nantinya ''. ujar Tino lembut seraya menatap ke dalam dua bola mata bening yang menengadah menatap lelaki yang lebih tinggi darinya.
Sesaat kemudian Alira menunduk dan menghela nafas. Ia tahu kini ia sedang menyelamatkan egonya . Memisahkan calon anak dengan ayahnya. Namun bayang pengkhianatan itu sungguh masih menyayat hatinya.
" Aku sendiri ragu No,apa aku bisa menjaganya dengan baik ?, apa aku bisa menjadi ibu dan ayah sekaligus untuknya ?'' ungkap Alira seraya memegang perutnya. Tino nampak bersedekap dan memejamkan mata menikmati hembusan angin yang menyapa.
__ADS_1
" Mbak masih punya waktu untuk memperbaiki keadaan. Apa yang terkadang kita anggap baik belum tentu pada kenyataannya. Mungkin mbak merasa pergi dari Ayah calon bayi itu adalah keputusan terbaik. Tapi mbak juga harus berpikir dari sudut pandang yang lain." Tino menghela nafas. Seperti ada sesak yang menggelayut di dadanya.
" Sakit mbak saat ada orang yang bertanya, siapa ayahmu ?. Tapi kamu tidak pernah tahu siapa mereka. " tatapan mata pemuda itu semakin jauh. Ada luka yang sepertinya terendap di dadanya.