
Suara tangis membela sunyi malam. Terdengar begitu nyaring, namun membawa sebuah kelegaan. Hampir di waktu tengah malam,lahir seorang bayi laki-laki dengan selamat. Membuat ucap syukur menggema di ruang tunggu saat Febrian yang keluar dengan air mata luruh di pipinya namun seulas senyum lebar tergambar di bibir lelaki itu.
'' Bagaimana Bri ?'' tanya Mama yang nampak panik.
Febrian berjalan cepat kemudian menubruk tubuh wanita yang telah melahirkan dirinya.
'' Maafkan Brian Ma, selama ini Brian belum jadi anak yang baik. Brian janji akan jadi manusia lebih baik ma '' ucap Brian dengan derai air mata. Membuat sang Mama ikut menangis sembari mengusap lembut punggung anaknya.
Melihat perjuangan Alira melahirkan putra mereka. Membuat Brian menyadari,ia belum jadi anak yang bisa membanggakan kedua orang tuanya. Ia selalu memilih jalannya sendiri tanpa pernah mau mendengarkan arahan kedua orang tuanya. Itupun yang menyebabkan lelaki itu sedikit berjarak dengan sang Papa.
" Maafkan Brian Ma " ucap Brian lagi,Mama dalam isak tangisnya mengangguk dalam pelukan sang anak. Tenggorokannya terasa tercekat, mendapati sang anak yang tergugu dalam tangis rasa sesak menyeruak di dadanya.
" Sudah, sudah Mama maafkan, kamu gak ada salah sama Mama " sahut Mama menenangkan anak lelakinya. Mama melepaskan pelukan Febrian dan memegang kedua pundak sang anak.
" Kenapa ?" tanya Mama penuh kasih sayang. Febrian menghapus air matanya kemudian menggelengkan kepala.
" Aku gak sanggup lihat Alira Ma, kasihan dia. Tapi aku gak bisa ngapa-ngapain. Terima kasih, Mama sudah berjuang membawa Brian lahir ke dunia ini " ucap Febrian, Mama tersenyum mengusap bahu lebar anaknya yang kini sudah menjadi seorang Ayah.
Mama hanya mampu mengangguk,ada rasa yang menghangat sekaligus sesak di dalam hatinya. Papa mendekati keduanya, menepuk pundak sang anak. Febrian berbalik dan memeluk lelaki yang sebagian rambutnya telah memutih.
" Maafkan Brian Pa " ucap Brian,Papa menepuk punggung sang anak .
__ADS_1
" Tidak ada yang perlu di maafkan. Kamu sekarang sudah jadi Ayah, jadilah ayah dan suami yang lebih baik dari Papa " tutur Papa. Febrian melepaskan pelukannya. Menatap wajah tua yang mulai menampakkan kerut di wajah.
" Doakan Brian bisa menjadi suami dan ayah yang baik Pa " ucap Brian.
" Pasti " sahut Papa singkat dengan seulas senyum di bibir lelaki itu.
Dan kelahiran seorang bayi mungil di pertengahan malam itu, menjadi sebab merekatnya kembali hubungan ayah dan anak yang sempat berjarak. Menghangatkan kembali hubungan yang dingin diantara mereka.
Kelahiran bayi laki-laki yang di beri nama Kevin Aileen menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri untuk orang tua baru itu. Mungkin kehadirannya berawal dari sebuah kesalahan. Namun bukan berarti ia adalah dosa. Ia tetap bayi laki-laki suci yang harus di sambut dengan suka cita. Kehadirannya adalah anugerah meski dengan cara yang salah.
Karena tak ada seorang anak yang merencanakan kelahirannya. Ia hanya menjalani garis takdir hidup yang telah di tentukan Tuhan. Dan tak ada yang berhak untuk menghakimi tentang setiap diri manusia. Karena tak ada yang lebih berhak atas penghakiman manusia selain Tuhan.
Kini yang pasti sepasang suami istri itu sedang menikmati peran barunya sebagai orang tua. Memberikan semua yang terbaik untuk anak yang telah di percayakan kepada sepasang suami istri itu.
Alira menjadi ibu yang sigap , lembut dan penuh kasih sayang. Febrian menjadi ayah siaga yang selalu siap untuk istri dan anaknya. Keduanya berusaha menjadi orang tua yang kompak untuk anak mereka. Meski terkadang ada perselisihan, namun mereka mampu menyelesaikan dengan baik.
Komunikasi menjadi kunci agar hubungan berjalan dengan lancar dan sama tahu apa yang diinginkan satu sama lain. Sehingga tak ada kesalahpahaman yang menyebabkan sebuah beban pikiran.
Waktu yang berlalu, Kevin Aileen sudah berumur enam bulan. Pipinya terlihat chubby dan sangat menggemaskan. Siapa yang tak suka melihat bayi putih bersih itu ?. Kini bayi itu sering berada di kantor bersama sang Ayah. Karena Alira telah kembali menjadi seorang mahasiswi untuk menyelesaikan kuliahnya.
Febrian mengijinkan sang istri untuk menyelesaikan kuliah,ia tak mau menghambat pendidikan sang istri. Asal untuk kebaikan lelaki itu dengan senang hati mendukung istrinya. Meskipun kini ia harus bekerja sekaligus mengawasi sang anak. Febrian memang mempekerjakan seorang suster, namun ia harus memantau langsung anaknya. Sehingga saat Alira ke kampus, suster yang mengasuh Kevin akan mengasuh di kantor.
__ADS_1
Seperti hari itu,saat Alira yang datang ke kantor dengan bawaan segala keperluan sang anak. Mendatangi ruangan sang suami yang ternyata sedang ada meeting dengan wanita yang kini cukup akrab dengan dirinya. Dialah Marsha, yang masih bekerja sama dengan Febrian dan kini wanita itu menjadi teman yang cukup dekat dengan Alira.
'' Eh ada tamu, sorry gak ketuk pintu. Aku buru-buru hampir telat '' ujar Alira di bawa tatapan tiga orang di sana Marsha , Rasya dan Febrian. Febrian bangkit dari duduknya, dan mengambil alih tas yang berada di tangan sang istri.
Kemudian lelaki itu memeluk istrinya setelah meletakkan tas berisi keperluan Kevin.
'' Tenang dulu gak usah buru-buru. Gak akan telat '' ucap Febrian menenangkan istrinya. Lelaki itu melepaskan pelukannya dan merapikan rambut Alira yang sedikit berantakan.
'' Sudah ada ojol yang stand by di luar. Yang akan nganterin kamu ke kampus.'' tutur Febrian, membuat senyum terkembang di bibir wanita yang kini tampak seperti remaja lagi. Saat tubuhnya kembali seperti semula.
'' Makasih sayang '' ucap Alira sembari menyematkan kecupan di pipi sang suami. Melupakan tiga orang di ruangan itu , Marsha, Rasya dan pengasuh putranya.
'' Haduh nasib jomblo ya gini '' celetuk Rasya seraya merapikan berkas yang berserakan di atas meja.
'' Di anggapnya kita patung Ras '' timpal Marsha. Pengasuh Kevin tampak menahan senyum. Sedang Alira dan Febrian tertawa tanpa rasa bersalah.
Dan kejadian seperti itu sering terjadi, mereka menjadi contoh pasangan yang bisa selalu harmonis dan bisa saling mendukung. Mereka adalah pasangan yang diidolakan oleh para pekerja Febrian. Pasangan tampan dan cantik yang selalu harmonis, romantis serta pasangan yang bisa saling melengkapi.
Perjalanan rumah tangga mereka masih panjang. Namun mereka terus berusaha menjadi pasangan yang saling menghargai, saling mengerti ,saling mendukung dan terus menyemaikan benih cinta dalam dada. Hingga cinta terus tumbuh tak ada habisnya.
End
__ADS_1