Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Rasa yang Terulang


__ADS_3

Dengan tatapan mata menghakimi, Vivian menatap Febrian saat lelaki itu masuk ke dalam ruang rawat tempat sang istri di rawat.


'' Kalau sampai ada apa-apa sama Alira,gue bunuh lo.'' ancam Vivian seraya menunjuk wajah Febrian dengan tatapan bengisnya.


" Sebelum kamu membunuhku aku sudah mati duluan jika terjadi sesuatu dengan Alira. Dia adalah hidupku.'' ujar Febrian lemah, tatapannya nanar menatap wanitanya yang terpejam di atas ranjang rumah sakit. Vivian berdecak kesal mendengar ucapan yang baginya tak lebih dari sebuah bualan semata.


Melihat istrinya yang masih di penuhi amarah,Nicho mendekati sang istri dan merangkul pinggang wanita itu.


'' Alira butuh istirahat,kita keluar dulu yuk !." ajak Nicho, Vivian mendengus kesal. Namun tak urung mengikuti langkah suaminya. Nicho menoleh ke arah Febrian seraya mengangguk pelan. Yang di balas dengan anggukan pula oleh Febrian.


Terlihat Febrian menghirup nafas dalam. Berjalan mendekati sang istri yang terlelap. Infus terpasang di tangannya, bahkan di pasang juga selang oksigen. Berarti mengamati dengan sesak yang menyeruak dalam dada. Kristal bening tanpa terasa mengalir dari dua bola mata itu.


'' Sayang .'' panggil Febrian lemah, lelaki itu kemudian duduk di kursi yang terletak di sisi tempat tidur. Diraihnya tangan sang istri yang terbebas dari infus. Di kecupnya dengan penuh kasih sayang.


'' Maafkan aku yang sudah lalai menjaga kalian. " ucap serak Febrian yang kini semakin tergugu dalam tangis. Di genggamannya dengan lembut telapak tangan yang tampak lemas .

__ADS_1


Febrian menghapus air matanya dengan telapak tangan. Mengecup kening sang istri yang terlihat begitu pucat.


'' Percaya sama aku Ra,aku gak mungkin khianati kamu lagi Ra. Aku gak akan pernah melakukan kebodohan yang sama untuk kedua kalinya Sayang.'' ucap Febrian dengan segumpal rasa bersalah yang menghimpit dada.


Lama Febrian duduk menatap sendu wajah sang istri yang tak juga terbangun dari tidur . Mungkin efek obat yang baru di berikan oleh perawat membuat tidur wanita itu begitu lelap. Malam kian menjelang, tak terasa Febrian tertidur di kursi dengan kepala tergeletak di sisi ranjang.


Efek obat yang dikonsumsi Alira sepertinya sudah menghilang perlahan. Mata wanita itu tampak mengerjap. Dua alisnya tampak berkerut. Mendapati ruangan asing saat ia membuka mata. Dan saat Alira mencoba mengangkat tangannya terasa sakit akibat jarum infus yang tertancap di pergelangan tangan. Wanita itu tampak meringis, sebelah tangannya terasa ada yang menggenggam.


Dengan perlahan Alira menoleh ke samping,di dapatinnya sang suami yang tampak terlelap. Rasa sakit itu menghantam dalam hatinya. Meluluhlantakkan hati yang sudah ia satukan kembali keping demi keping hati yang sudah di hancurkan lelaki itu.


Isak tangis tak mampu tertahankan keluar dari bibir pucat itu. Suara isak tertahan yang akhirnya mengusik tidur Febrian. Tampak lelaki itu membuka mata. Dan rasa kantuknya menghilang seketika mendapati istrinya terisak dalam tangis.


'' Sayang , kamu sudah bangun?.''tanya Febrian yang kini menatap sang istri. Namun wanita itu tak mengeluarkan suara justru memalingkan wajah, enggan menatap lelaki di sampingnya.


'' Sayang .'' ucap Febrian seraya mengusap kepala istrinya yang langsung menghindar dengan menggeser kepalanya.

__ADS_1


'' Tinggalin aku sendiri dulu.'' ucap Alira dingin tanpa menoleh sang suami.


'' Sayang,dengarin aku dulu. Sumpah demi Tuhan aku gak ngapa-ngapain sama Marsha. Aku tahu gak mudah buat kamu percaya lagi sama aku. Tapi aku berani bersumpah aku gak khianatin kamu lagi.''


'' Please, kasih aku waktu sendiri.'' ucap Alira lagi. Dengan berat hati , Febrian berdiri dari duduknya.


'' Aku di luar, kalau mau apa-apa kamu panggil aja. Besok aku kasih bukti kalau aku gak melakukan hubungan terlarang dengan Marsha.'' tutur Febrian. Alira masih diam tanpa menatap sang suami. Febrian tampak menoleh kembali kearah sang istri sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.


Lelaki itu bersandar di daun pintu setelah ia menutupnya kembali. Menunduk dengan tangis yang mengucur dari dua bola matanya. Rasa bersalah itu kembali merasuk dalam dada. Karena merasa tak bisa melindungi calon bayi dan sang istri.


Di dalam ruang rawat pun sama. Alira terlarut dalam tangis yang pilu. Haruskah ia mempercayai ucapan sang suami ?. Benarkah lelakinya itu tak lagi mengkhianati dirinya ?. Berjejal pertanyaan penuh keraguan yang bersarang dalam benaknya.


Alira tampak mengigit bibir bawahnya menahan tangis yang seakan tak mampu di tahan lagi. Tak hanya hancur lagi hatinya jika benar suaminya itu berkhianat lagi.


Maaf buat teman-teman yang setia mengikuti kisah Alira dan Febrian. Karena up nya bolong-bolong. Sedang ada acara yang gak bisa di tinggalkan. Mungkin setelah tgl 20, bisa update rajin. Makasih semua yang sudah baca cerita aku 🙂

__ADS_1


__ADS_2