Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Untuk Meyakinkan mu


__ADS_3

Langkah panjang Febrian menyusuri lorong rumah sakit yang tampak ramai siang itu. Sejak semalam lelaki itu belum kembali melihat keadaan sang istri. Penolakan Alira saat dia berada di sisi wanita itu. Membuatnya pergi untuk mengungkap kebenaran. Ia tak mau ada salah paham antara dirinya dengan sang istri.


'' Darimana saja kamu Bri ?,Mama sudah bilang jagain istri kamu'' Mama menyambut kedatangan sang anak yang masuk dalam ruang rawat istrinya,dengan tatapan jengkel. Sebab tadi saat Mama datang Febrian tak terlihat batang hidungnya.


'' Ada yang perlu Febrian selesaikan Ma '' sahut Febrian dengan tatapan tertuju pada wajah pucat yang terpejam dalam lelap tidurnya.


'' Fokus sama istri kamu dulu Bri, Mama gak mau sampai terjadi apa-apa sama anak dan istri kamu'' lanjut Mama yang sambil beranjak dari kursi yang terletak di samping brangkar. Berjalan menuju sofa ya g terdapat di ruangan tersebut.


'' Ini juga juga demi istri Brian Ma, Brian gak mau, Alira terus salah paham sama Brian'' jawab Brian yang kini duduk menggantikan sang Mama. Menatap dalam wajah tenang sang istri yang terpejam. Membelai pipi dengan lembut. Kemudian mencondongkan wajah untuk mengecup dahi sang istri.


'' Selesaikan urusan kamu dengan wanita itu secepatnya. Mama gak bisa bayangin gimana sakitnya Alira melihat foto seperti itu. Dua sedang berjuang untuk anak kamu,tapi kamu malah seneng-seneng sama wanita lain'' sungut Mama yang masih menyimpan rasa kesal pada anak lelakinya.


Brian menghela nafas, kemudian bangkit dari tempat ia duduk. Berjalan mendekati sang Mama dan duduk di samping wanita paruh baya itu . Brian duduk menghadap Mamanya. Dan mulai berbicara dengan nada berusaha ia tekan. Agar tak mengganggu istirahat sang istri.


'' Sudah Brian bilang kan Ma, Brian gak ngapa-ngapain sama Marsha. Brian gak sebodoh itu untuk mengulang kesalahan yang sama. Brian cinta sama Alira Ma. ''


Mama menghirup nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Tatapan matanya tertuju pada sang menantu.


'' Buktikan apa yang kamu katakan Bri,Mama gak mungkin membela kamu jika kamu benar-benar melakukan kesalahan itu. Gak bisa Mama bayangkan sakit hatinya Alira kalau kamu mengkhianati dia . Kamu harus jaga calon cucu Mama, jangan kamu sia-siakan'' tutur Mama.

__ADS_1


Brian menggenggam tangan sang Mama, dan mengangguk .


'' Pasti akan Brian jaga Ma. Mama percaya sama Brian,Brian akan menjaga apa yang sudah Brian miliki dengan seluruh hidup Brian Ma'' ucap Febrian dengan yakin. Mama, meletakkan satu tangannya di atas tangan Febrian yang menggenggam sebelah tangannya yang lain.


'' Mama pegang ucapan kamu Bri '' ujar Mama sembari menatap wajah sang anak. Sesaat keduanya saling terdiam dengan pikiran masing-masing.


'' Mama pergi dulu,Mama ada acara siang ini. Kamu jangan tinggalkan istri kamu lagi. Takut nanti dia butuh apa-apa dan kamu gak ada.'' Mama meraih tasnya dan berdiri dari duduknya.


'' Iya Ma '' singkat Febrian, Mama melangkah meninggalkan anaknya dan menghampiri sang menantu yang masih saja terpejam. Di usapnya dengan lembut rambut Alira.


'' Cepat sembuh sayang '' tutur Mama, kemudian melangkah meninggalkan ruang rawat tersebut. Setelah pintu ruang rawat tertutup. Tinggal sepasang suami istri dalam ruangan. Febrian kembali mendekati Alira. Duduk di kursi sebelah ranjang dimana Alira berbaring.


Diraihnya tangan sang istri yang tak terpasang infus. Di kecupnya punggung tangan Alira dengan mata berkaca-kaca. Lama Febrian menatap wajah Alira dalam diam. Sampai suara ketukan di pintu mengagetkan dirinya.


'' Di sofa saja Sya '' titah Febrian yang fi angguki oleh Rasya. Kedua lelaki itu berjalan kearah sofa.


'' Gimana ?'' tanya Febrian setelah keduanya duduk. Rasya tampak sibuk mengeluarkan beberapa barang dari dalam tasnya.


'' Sudah saya dapatkan cctv-nya , sesuai permintaan Bapak '' sahut Rasya sembari membuka laptop yang ia letakkan di atas meja.

__ADS_1


'' Bagus ,coba saya lihat '' ucap Febrian yang merasa memiliki bukti untuk membuat kepercayaan sang istri kembali padanya.


Rasya membuka file yang tersimpan dalam laptop dan memperlihatkan sebuah video cctv tempat mereka menginap.


'' Ini cctv depan kamar bu Marsha,bisa di lihat dari nomer kamarnya 103 dan ini dari depan kamar anda nomer 106 berjarak tiga kamar dari kamar bu Marsha. Dan ini kegiatan kita pagi terakhir sebelum kita pulang. Saya dan Bu Marsha masuk ke dalam kamar anda sebelum kita ketemu clien untuk berdiskusi. Dan saat saya masuk anda baru keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang sama persis seperti di foto. Tapi kemudian saya keluar dari kamar anda untuk mengambil dokumen yang tertinggal di kamar saya. Tidak lebih dari lima menit saya kembali ke kamar anda dan Anda masih berada dalam kamar mandi untuk mengenakan pakaian '' jabar Rasya, Febrian mengangguk. Ia hanya berharap semoga Alira kembali menaruh kepercayaan lagi pada dirinya.


" Terima kasih Sya, atas bantuan kamu " ucap Febrian seraya menepuk pundak lelaki yang duduk di sampingnya.


" Sama-sama Pak " sahut Rasya .


Febrian menyandarkan punggungnya dengan tatapan mengarah pada Alira.


" Jangan pernah mengecewakan orang yang kamu sayangi Sya, sekali kamu mengecewakannya sulit untuk kembali mendapatkan kembali kepercayaannya." tutur Febrian, Rasya menoleh sang atasan yang sama sekali tak menoleh ke arahnya.


Beberapa saat hening menyelimuti ruang rawat. Sampai akhirnya Rasya berpamitan pada Febrian .


" Kalau begitu saya pamit kembali ke kantor Pak " ucap Rasya, Febrian mengalihkan pandangan dari Alira menoleh ke arah Rasya.


" Untuk sementara waktu saya titipkan kantor sama kamu Sya. Mungkin nanti akan ada sedikit kejutan dari Marsha, wanita itu kemungkinan akan mengambil kembali investasi nya. Kamu handle semua, nanti jika ada kerugian yang tak bisa di tanggulangi oleh perusahaan. Biar menjadi tanggung jawab saya." jelas Febrian.

__ADS_1


" Mengerti Pak " sahut Rasya singkat.


Setelahnya Febrian mengantar Rasya sampai pintu ruang rawat. Meninggalkan seorang wanita yang tiba-tiba mengalirkan air matanya dalam diam , dengan mata yang masih pura-pura terpejam.


__ADS_2