Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Usaha Febrian


__ADS_3

Bangun dari tidurnya, Alira merasakan ada yang menimpa perutnya. Sedikit terkejut, Alira menyadari tangan yang melingkar di perut. Alira menoleh ke samping dan mendapati wajah tenang Febrian. Lelaki yang kini sudah sah sebagai suaminya.


Beberapa saat Alira diam , mengamati wajah yang masih sama tampan seperti saat ia mengenal lelaki itu dan menjatuhkan hati padanya. Mengamati wajah itu membuat rasa sesak muncul kembali di dada. Lelaki yang membuatnya merasa istimewa dengan limpahan cinta namun dengan teganya membuat luka yang teramat menyakitkan.


Perlahan ,Alira mengangkat tangan Febrian yang masih melingkar di perutnya. Febrian yang merasakan tangannya di sentuh seorang , mengerjapkan mata. Matanya terbuka dan langsung bertemu tatap dengan Alira yang masih menatap kearahnya.


Febrian tersenyum, sebelah tangannya meraih wajah Alira dan membelainya dengan lembut. Sesaat Alira terpesona wajah tampan yang berada sejengkal di hadapannya.


Febrian mendekatkan wajahnya dan mengecup sekilas kening istrinya. Alira terperanjat, kemudian menggeser tubuhnya dan duduk tegak. Wanita itu seakan membentengi diri agar tak jatuh pada pesona lelaki yang kini menatap dirinya dengan seulas senyum manis.


Siang menjelang sore , sepasang pengantin itu justru mengurung diri dalam kamar. Melupakan orang-orang yang mungkin menunggu mereka di luar sana. Alira yang merasa terlalu capek memilih beristirahat sejenak sebelum mengemas pakaian miliknya.


Sedang Febrian yang melihat istrinya terlelap begitu ingin mendekapnya. Meluapkan rasa rindu yang begitu besar. Hingga akhirnya lelaki itu memilih ikut berbaring dan memeluk erat sang istri. Dan kini Febrian menatap dalam diam saat istrinya terlihat salah tingkah.


Alira tak bisa memungkiri hati yang masih menyisakan cinta untuk lelaki itu. Namun ego masih menguasai untuk menunjukkan bahwa ia tak menginginkan sang lelaki di sampingnya. Rasa sakit itu masih terasa, meski cinta itupun terasa jelas getarannya.


Febrian beranjak dari tempat tidur, mendekati Alira yang sedang mengambil pakaian di lemari. Memeluk wanita itu dari belakang dan mengecup tengkuk Alira dengan lembut.


'' Aku keluar dulu '' pamit Febrian, tanpa menunggu jawaban istrinya ia melenggang pergi dari kamar. Alira memegang dadanya yang berdebar kencang.

__ADS_1


Pelukan itu rasanya masih sama, nyaman dan hangat. Alira menghela nafas dalam. Sampai kapan ia mampu membohongi hatinya yang masih memiliki rasa yang sama meski harus beriring dengan luka yang mengangah.


Sampai di ruang tengah, Febrian mendapat tatapan kesal dua sahabatnya yang sedang menikmati secangkir kopi dan kue-kue yang tersedia di piring.


'' Bro, gimana ada penerangan sore ini ?'' tanya Febrian yang kemudian ikut duduk diantara para sahabatnya.


'' Ck, giliran yang ribet-ribet kita yang diribetin. Giliran yang enak anteng aja dari tadi '' cibir Erza , Febrian tampak acuh lalu mengambil cangkir milik Hardi dan meminumnya.


'' Itu punya ku,main serobot aja. Dasar gak sabaran,saking lamanya puasa sampai gak nahan . Siang aja langsung hajar. Gak lihat apa hasil pembibitan kamu udah gede gitu. Langsung gas aja '' gerutu Hardi.


Febrian tertawa melihat kekesalan dua sahabatnya yang ia tinggal tidur siang bersama Alira.


" Lha dari tadi di dalam mulu ngapain ?'' tanya Hardi penasaran.


Tampak Febrian menghela nafas, kemudian memijit pangkal hidungnya yang sedikit penat.


" Tidur, semalam aku gak bisa tidur. Baru tadi bisa nyenyak '' ucap Febrian tanpa menceritakan tentang drama sebelum mereka terlelap. Kedua sahabatnya tampak mencebikkan bibir seraya saling pandang. Seolah mereka saling berbicara lewat tatapan mata.


" Gimana tiket nya ?" tanya Febrian mengulang pertanyaan yang tadi tak terjawab.

__ADS_1


" Beres, adanya penerbangan malam nanti. Udah aku booking buat mertua kamu sekalian " ujar Erza. Febrian tampak manggut-manggut.


" Thanks banget bro, kalian berdua udah membantu aku sampai detik ini." ujar Febrian serius. Erza menepuk pundak sang sahabat seraya berucap . " sama-sama ,itukan gunanya temen."


" Lihat ,Ibu sama Bapak gak ?" tanya Febrian setelah beberapa saat mereka terdiam.


" Tadi bilang mau ke rumah bi Sari '' jawab Hardi. Febrian mengangguk, kemudian berdiri dari duduknya.


" Aku mau mandi dulu, kalian gimana mau di sini apa mau ke penginapan ?" tanya Febrian sambil melihat kedua sahabatnya bergantian.


" Udah gak usah mikirin kita berdua. Gampang,habis ini kita mau jalan dulu. Kamu baik-baik in istri kamu aja dulu. Kita ngerti lagi kalau kamu baru saja mulai perjuangan yang sebenarnya. " tutur Hardi yang membuat Febrian tersenyum.


" Ya, udah. Aku masuk dulu. Kalau perlu apa-apa telpon aja " ucap Febrian yang di angguki oleh dua sahabatnya.


Febrian kembali masuk ke dalam kamarnya. Terlihat ada beberapa tumpukan pakaian di atas ranjang. Alira terlihat sibuk, wanita itu mulai memasukkan barang-barangnya dalam koper. Terlihat wanita itu melirik sekilas suaminya yang masuk ke dalam kamar. Tapi tak ada niatan untuk menyapa suaminya.


Febrian tak merasa keberatan sama sekali,ia mendekati Alira yang sedang menunduk seraya menata beberapa pakaian ke dalam koper. Ia menunduk kemudian, mengecup pipi Alira. Membuat wanita itu membelalakkan matanya.


" I love you " bisik Febrian di telinga Alira. Sederhana,dan terdengar biasa saja. Tapi sukses membuat debaran jantung Alira meningkat kecepatannya. Namuia berusaha baik-baik saja. Bahwa kecupan dan ucapan sang suami tak ada artinya. Ia lupa jika ada pipi yang merona merah saat hati terasa berbunga. Dan itu terlihat jelas dari mata Febrian yang kemudian mengusap lembut Istrinya.

__ADS_1


Febrian tak akan berhenti berusaha untuk mengembalikan segalanya. Meski tak lagi utuh tapi setidaknya ia tidak hanya diam saja. Ia mencintai Alira dan akan mengembalikan cinta itu seperti seharusnya.


__ADS_2