
Seperti janjinya pada sang istri, Febrian pulang kerja lebih awal daripada hari-hari biasanya. Langkah panjang lelaki itu memasuki ruang tamu. Tak di jumpai istrinya yang biasa menunggu di sana.
'' Sayang !." seru Febrian, memanggil Alira yang tak kelihatan batang hidungnya.
Tak ada sahutan, Febrian melangkah menuju kamar tempat ia tidur dengan sang istri.
'' Sayang !." lagi-lagi Febrian memanggil Alira sembari mendorong daun pintu. Fan ternyata di kamar pun. Alira tak kelihatan keberadaannya.
Febrian melonggarkan dasi yang masih terpasang di lehernya. Melempar dengan asal tas kerja miliknya hingga terdampar di tengah ranjang.
'' Alira kemana sih ?.'' tanya Febrian pada dirinya sendiri. Lelaki itu kembali memutuskan keluar kamar setelah melepas dasi yang terasa mencekik leher.
'' Mbak,Mbak Tia !.'' teriak Febrian di ruang tengah. Wanita yang sore itu tampak lebih cerah wajahnya, menghampiri sang tuan dengan tergopoh-gopoh.
'' Ya Pak,ada apa ?.'' tanya Mbak Tia agak takut dengan suara menggelegar yang keluar sari mulut lelaki di hadapannya.
'' Alira dimana ?.'' tanya Febrian dengan wajah dingin.
'' Tadi bilang mau mandi Pak, setelah itu saya tidak tahu. '' sahut mbak Tia tanpa berani menatap sang majikan.
Tanpa berpamitan, Febrian langsung lari masuk ke dalam kamar. Tatapannya tertuju pada pintu kamar mandi. Tak ada suara dari dalam sana. Febrian mendekat, menempelkan telinga di daun pintu tak ada suara aktivitas di kamar mandi. Di raihnya handle pintu,dan ternyata tak terkunci.
Mata Febrian tertuju pada bathtub, tampak lelaki itu menghela nafas, saat melihat sang istri tertidur saat berendam. Febrian hanya bisa menggelengkan kepala, berjalan mendekat perlahan tanpa menimbulkan suara.
__ADS_1
Berjongkok , menyamakan tinggi dengan wajah Alira yang terpejam. Febrian tersenyum, kemudian mengusap lembut pipi sang istri. Betapa ia begitu panik saat tak menjumpai wanitanya. Ia begitu khawatir Alira akan kembali meninggalkan dirinya, menjadi bayangan yang begitu sangat menakutkan.
Febrian mendekatkan wajahnya dan mengecup sekilas bibir merona istrinya. Sentuhan lembut itu ternyata mengusik Alira yang tertidur dengan lelap. Tampak wanita itu mengerjakan mata. Perlahan kelopak mata itu terbuka dan mendapati wajah tersenyum sang suami.
'' Mas .'' ucap Alira dengan nada serak khas bangun tidur.
'' Sayang,aku pikir kamu dimana. Aku udah panik aja. Kenapa ?, capek ?." tanya Febrian dengan tatapan penuh cinta. Dan mengusap lembut wajah sang istri yang hari itu terasa begitu lembut dan tampak lebih cerah.
'' Iya,tadi aku keluar. Maaf ya gak ngomong sama Mas .'' jawab Alira yang masih berada dalam bathtub.
'' Gak apa-apa,emang kemana ?.'' sambung Febrian dengan tatapan tak sedikit pun lepas dari wajah cantik sang istri.
'' Ke salon tadi sama mbak Tia.''
Febrian bangkit, mengambil handuk yang di gantungkan oleh Alira tak jauh dari bathtub.
'' Kamu keringin dulu badannya.'' ucap Febrian sembari mengulurkan handuk berwarna putih bersih itu.
'' Mas balik badan dulu .'' pinta Alira pada Febrian.
'' Emangnya apa yang akan kamu sembunyikan sama Mas ?.'' tanya Febrian menggoda sang istri seraya menjawil hidung wanitanya.
'' Pokoknya Mas ngadep ke sana .'' ulang Alira saat melihat wajah jahil suaminya.
__ADS_1
'' Iya sayangku .'' Febrian mengiyakan, kemudian memunggungi Alira. Dengan santainya Alira keluar dari bathtub dan berjalan ke arah shower untuk membasuh tubuhnya dengan keadaan tanpa sehelai benangpun.
Ia lupa ada cermin besar di sana. Dan dengan jelas, Febrian melihat setiap lekuk tubuh sang istri yang baginya justru semakin seksi dengan perut buncitnya . Darah Febrian berdesir , seluruh tubuhnya memanas seketika. Lelaki itu meneguk kasar ludahnya. Sungguh pemandangan di belakangnya membuat ia panas dingin tak karuan.
'' Sayang,aku tunggu di kamar, jangan lama-lama .'' akhirnya tak sanggup lelaki itu menyantap pemandangan yang begitu menggiurkan. Ia takut menerjang sang istri dan menyisakan trauma lain untuk wanitanya. Ia ingin saat intim atas dasar keikhlasan istri tercinta.
Belum Alira menjawab, Febrian sudah buru-buru keluar kamar mandi dan menghilang di balik pintu. Febrian menghirup nafas dalam dan menghembuskan dengan berat. Rasanya sungguh frustasi harus di hadapkan dengan hidangan yang menggelegak kan hasrat namun tak bisa tersentuh.
Febrian memutuskan untuk mandi di kamar sebelah. Mendinginkan otaknya yang seakan mendidih. Ia butuh pelampiasan untuk menenangkan hasratnya yang bergejolak.
Saat Alira keluar dari kamar mandi tak lagi di jumpai sang suami. Ia berpikir mungkin suaminya menunggu di luar. Ia segera mengambil dress selutut yang tampak cantik dengan lengan pendek. Dress berwarna putih dengan motif bunga-bunga berwarna-warni menambah cantik wajah wanita yang sedang merasakan jatuh cinta lagi. Jatuh cinta pada orang yang sama,yang selalu memperlakukan dirinya bagai seorang ratu.
Usai berdandan , dengan rambut di kuncir ekor kuda. Alira keluar kamar. Dan di jumpai sang suami yang sedang menutup pintu kamar yang terletak di samping kamar mereka.
'' Mas habis ngapain ?.'' selidik Alira yang melihat suaminya .
'' Mandi sayang,biar cepat. '' sahut Febrian sambil melangkah mendekati sang istri,meraih tas tangan yang di bawa Alira. Dengan sigap, Febrian membawa tas Alira di tangan sebelah kirinya. Sebelah tangan yang lain meraih pinggang Alira. Membawa tubuh Alira menempel pada dirinya.
Sore itu sepasang suami-istri datang di sebuah klinik dokter kandungan. Memeriksa kandungan Alira. Berkat kesigapan seorang Rasya kini mereka berdua tinggal masuk dan duduk manis di hadapan dokter. Melakukan pemeriksaan dengan seorang dokter kandungan yang terlihat begitu cantik dengan jilbab yang di kenakan.
Pemeriksaan selesai dengan hasil memuaskan. Janin di perut Alira tumbuh kembang dengan sangat baik. Dengan selembar hasil USG , Febrian tak berhenti tersenyum. Hatinya menghangat seketika. Ditariknya tubuh sang istri hingga menempel pada tubuhnya.
Rasa bahagia di hatinya, tak mampu terucap dengan kata. Semua terlalu indah. Hadirnya sang buah hati membuat mereka merasakan cinta yang lain. Cinta tanpa kata, namun terasa ketulusannya.
__ADS_1