
Alira duduk termenung seorang diri, hanya di temani tv yang sedari pagi belum ia matikan. Meski ia tak terlalu fokus dengan acara yang sedang di tayangkan. Setidaknya ia tidak sepi sendiri. Hari ini sang suami sudah kembali beraktivitas di kantor tempatnya bekerja. Sedang asisten rumah tangga belum datang.
Akhirnya yang bisa Alira lakukan hanyalah menghabiskan waktu dengan menonton televisi di temani cemilan yang sudah Febrian sediakan untuk dirinya. Bosan,rasa itu menghampiri ia yang tak memiliki teman. Satu-satunya teman dekat dirinya di kota itu hanyalah Vivian, yang bahkan belum bisa ia hubungi. Entah dimana keberadaan sahabatnya itu.
Suara denting bel di pintu utama membuat Alira mengernyit. Siapa yang siang-siang datang ?. Dengan langkah malas Alira berjalan menghampiri pintu utama.
Saat di buka daun pintu, tampak sosok patuh baya yang berdiri dengan anggun. Terlihat begitu cantik di usia yang tak lagi muda. Penampilan wanita di hadapan Alira terlihat berkelas.
'' Maaf Bu,cari siapa ya ?.'' tanya Alira yang belum pernah bertemu wanita cantik itu. Wanita itu tak langsung menyahut. Menilai dengan seksama wanita muda di hadapannya. Tampak mata itu meneliti dengan jeli tubuh wanita yang kini berdiri dengan canggung di bawah tatapan intens wanita asing itu.
'' Cantik , pantas Febrian tergila-gila sama kamu .'' lirih ucapan wanita tersebut namun cukup terdengar dengan jelas di telinga Alira. Dan senyum samar di bibir wanita itu terlihat oleh Alira.
Tamu wanita yang belum juga Alira persilahkan masuk itu mengulurkan tangan pada Alira yang berdiri mematung dengan wajah bingung.
'' Kenalkan saya Jihan , Mamanya Febrian. '' tutur lembut wanita itu dengan senyum di bibirnya. Alira terperanjat kaget, kemudian menerima uluran tangan tersebut dan mencium punggung tangan sang ibu mertua.
'' Maaf bu, saya tidak tahu. Mari bu, silahkan masuk !." Alira mempersilahkan masuk ibu dari suaminya tersebut.
__ADS_1
Mama Jihan tersenyum ramah, meraih pundak Alira dan mengelus dengan lembut.
'' Tidak apa-apa, Febrian yang memang keterlaluan, tidak pernah membawamu pulang. Alasannya selalu saja sibuk .'' ucap Mama Jihan , Alira hanya tersenyum menanggapi.
Kemudian dua wanita berbeda generasi itu masuk ke dalam ruang tamu.
'' Silahkan duduk dulu bu .'' ujar Alira sopan,Mama Jihan meraih tangan menantunya yang tampak tegang.
'' Mama, panggil Mama sayang. Kamu juga anak Mama. Maaf ya, Mama kemarin tidak datang waktu kalian nikah. Febrian terlalu mendadak memberi kabar .'' lembut suara itu sembari mengelus rambut Alira.
'' Iya Ma, tidak apa-apa .'' jawab Alira sedikit terbata. Jujur saja jantungnya berdebar kencang. Ia sangat takut jika mendapat penghakiman atas kesalahan yang telah ia buat. Bagaimana biasanya yang terjadi di masyarakat, ketika seorang wanita hamil di luar nikah. Hanya wanita yang seakan dipersalahkan atas kesalahan yang terjadi.
'' Maafkan Brian ya sayang,maaf karena Mama sudah gagal mendidik anak Mama.'' sendu raut wajah wanita yang masih berdiri membelai pipi menantunya.
Alira tercekat, rasanya sungguh menyesakkan. Lagi-lagi perbuatan mereka, membuat seorang ibu merasa telah gagal mendidik anak. Padahal bukan sebab itu, merekalah yang telah memilih jalan yang salah.
'' Ma, Alira yakin. Mama sudah jadi ibu terbaik untuk Mas Brian. Kami saja Ma, yang tidak bisa menjaga diri. Kami yang sudah mengecewakan Mama. Maaf Ma .'' lirih Alira. Mama meraih tubuh sang menantu dan membawanya dalam pelukan.
__ADS_1
'' Sudah, apapun yang sudah terjadi tidak perlu untuk ditangisi. Semua sudah terlanjur terjadi,kamu jangan terlalu banyak pikiran. Perhatikan kesehatan kamu dan anak dalam kandungan kamu .'' ucap Mama. Keduanya saling melepas pelukan. Alira mengangguk cepat. Ia tak menyangka wanita menjadi mertuanya adalah wanita yang sungguh baik.
Alira tersenyum sendiri seraya menuang air dalam gelas. Setelah memastikan sang Mertua duduk dengan tenang di sofa. Alira merasa bersyukur,ia memiliki wanita yang tidak hanya memikirkan Egonya sendiri Alira mengajak .
Dengan ditemani minuman hangat tersebut, Alira dan sang Mama berbicara dengan nada lembut dan penuh kasih sayang.
'' Bersiaplah ,Mama pengen bawa kamu jalan-jalan.'' titah Mama pada anak menantunya.
'' Jalan ?, tapi nanti mas Brian nyariin Ma ''. tolak Alira lembut.
" Soal Febrian ,biar Mama yang urus kamu bersiap lah. '' sambung Mama segera mendorong pelan sang menantu yang tampak resah.
'' Ya sudah Ma,Alira mau ganti baju ''. pamit Alira yang kemudian pergi meninggalkan sang mertua nampak duduk dengan tenang. Pergi bersama sang ibu mertua sungguh tak pernah sedikitpun ia bayangkan. Apalagi mertuanya sungguh pengertian dan perhatian.
Dengan menggandeng lengan menantu cantiknya, Mama dan Alira meninggalkan Apartemen. Meski tak mendapat balasan dari Febrian ,Mama tetap membawa menantunya untuk jalan-jalan.
Tempat yang di datangi pertama adalah restoran. Keduanya duduk saling berhadapan di sebuah restoran untuk makan siang bersama. Mama berbincang dengan lembut, menceritakan tentang anak lelakinya sedari kecil, bisa di lihat betapa ia bahagia memiliki seorang Febrian di hidupnya. Itu terlihat dari sorot mata yang berbinar setiap kali wanita itu bercerita tentang anaknya.
__ADS_1
Alira hari itu mengikuti sang mertua yang sedang ingin menghabiskan hari untuk perawatan dan berbelanja. Alira hanya ikut saja ke sana kemari . Hingga tak menyadari ponselnya terus berdering. Ia tak ingat jika ponselnya dalam tas itu ternyata tanpa suara. Berkali-kali panggilan itu tak di jawab, membuat Febrian tampak kacau karena khawatir dan panik seperti akan kehilangan sang istri tercinta.