Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Bertambah Masalah


__ADS_3

Tampak Febrian mengirup nafas pelan seraya menunduk. Mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan apa yang ingin di ucapkan.


'' Mmm, sebelumnya saya mau minta maaf terlebih dahulu. Karena saya sebenarnya sudah menjalin hubungan dekat dengan Alira sudah setahun lebih tapi belum sempat berkunjung ke sini karena kesibukan saya dan Alira. Niat saya kesini selain berkunjung adalah meminta restu dari keluarga Alira untuk saya menjalin hubungan serius dengan putri ibu '' tutur Febrian, yang diam-diam di kagumi dua sahabatnya akan ke gentle annya.


Ibu menatap Febrian dengan seksama, mencari keseriusan dalam ucapan pemuda di hadapannya. Ada kemantapan yang tersirat di wajah lelaki itu. Membuat Ibu mengangguk kecil kemudian bersuara '' Ibu sebagai orang tua, selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anak ibu. Kalau memang kalian berdua ditakdirkan berjodoh, tentu ibu merestui. Tapi hanya sekedar itu yang bisa ibu lakukan. Restu Ayah Alira yang utama dan tentu juga kesanggupan Alira untuk bersama Nak Febrian yang terpenting. Seharusnya kalian datang bersama. Kalau memang ingin membicarakan hal yang serius '' tutur ibu lembut namun terdengar tegas.


Febian kembali menundukkan kepalanya,rasa gelisah menguasai seluruh rongga dadanya.


'' Maaf sekali lagi Bu, sebenarnya saya dan Alira sedang ada kesalahpahaman . Sudah beberapa hari ini Alira tidak mau bertemu saya dan mendengar penjelasan saya . Saya akui memang itu kesalahan saya,tapi saya sungguh-sungguh mencintai anak ibu dan saya berniat meminang putri ibu setelah dia wisuda.'' jelas Febrian dengan wajah menunduk. Terdengar helaan nafas berat dari ibu.


'' Sudah ibu duga, karena sudah beberapa hari ini Alira tidak bisa di hubungi. Ibu tahu niat kamu baik,dan ibu hargai itu. Tapi kamu perbaiki dulu hubungan kamu dengan Alira. Baru kamu kembali lagi ke sini untuk bertemu Ayahnya. Kalian sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah kalian. Jangan suka berlarut-larut ketika dalam masalah segera selesaikan '' tutur Ibu.


'' Baik bu , sesegera mungkin akan saya selesaikan masalah saya dengan Alira. Saya tahu saya yang bersalah dalam hal ini. Tapi sungguh saya tidak ingin kehilangan Alira ,Bu '' ucap Febrian terdengar tulus. Ibu bisa menilai itu dari raut wajah pemuda itu. Tergambar senyum tipis di bibir ibu .


'' Ibu hanya bisa mendoakan semoga saja kalian berjodoh . Semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Selesaikan lah secara dewasa '' petuah ibu bijak. Febrian mengangguk. '' Tentu akan Febrian selesaikan secepatnya bu '' ucap Febrian mantap. Padahal ia sendiri belum tahu di mana keberadaan Alira.


'' Minum dulu nak,maaf adanya hanya seperti itu. Ibu tidak tahu akan ada tamu ''ucap Ibu mempersilakan tamunya untuk minuman yang telah di sediakan.


'' Ini sudah lebih dari cukup bu '' Hardi yang menyahut ucapan ibu. Ibu tersenyum, menanggapi. Ketiganya meminum, minuman yang telah ibu sediakan. Tak lupa menyicipi kue yang ibu hidangkan.

__ADS_1


Hari mulai beranjak siang. Matahari merangkak naik memancarkan sinar teriknya. Mereka menyudahi obrolan dengan ibu dan berpamitan untuk pulang.


'' Secepatnya saya akan kembali ke sini. Untuk bertemu Ayah dan Ibu . Saya pamit pulang, tolong sampaikan salam untuk Ayah '' ucap Febrian setelah berpamitan.


Tiga lelaki itu telah berdiri di teras rumah sederhana itu dengan diantar oleh ibu.


'' Nanti ibu sampaikan salamnya . Hati-hati di jalan '' tutur Ibu. Mereka mengangguk dan menyahut. '' Terima kasih bu. Kami pamit '' ucap Erza mewakili ketiganya.


Di bawa tatapan Ibu Alira, ketiga lelaki itu meninggalkan kediaman keluarga Alira. Kunjungan mereka hari itu tak bertemu dengan Ayah Alira yang sedang bekerja. Dan tak mendapat informasi apapun soal Alira.


'' Kamu yang bawa mobil Za '' ucap Febrian tak bersemangat, seraya memberikan kunci mobilnya. Erza tak menyahut,ia tahu sahabatnya itu sedang kehilangan semangat.


'' Ra kamu sebenarnya dimana ?, kenapa harus menghindari ku sampai harus menghilang ?'' tanya batin Febrian. Satu-satunya orang yang kemungkinan tahu keberadaan wanita itu adalah sahabatnya yang pernah ia jumpai di kost Alira.


Yang bahkan wanita itupun kini seperti menghilang. Febrian memijit keningnya. Ia benar-benar merasa frustasi dengan keadaan ini. Suara ponsel Febrian meraung-raung. Menandai panggilan masuk. Nama Anya tertera di layar ponselnya. Febrian menghela nafas panjang. Tapi panggilan dari wanita itu terus masuk meski ia berusaha mengabaikan.


'' Halo '' akhirnya Febrian mengangkat panggilan dari nomer Anya dengan nada cuek.


'' Halo, benar ini dengan Febrian ?'' tanya wanita di seberang sana. Namun suara itu membuat Febrian mengernyit. Karena bukan suara Anya yang di dengarnya.

__ADS_1


'' Iya saya Febrian ini siapa ?'' tanya Febrian masih dengan suara dinginnya.


'' Saya Kakak dari Anya. Begini adik saya sedang sakit. Dan tidak mau makan. Orang yang terus di sebut dia kamu. Bisa minta tolong temui adik saya ?'' ucap wanita di seberang sana. Febrian menghela nafas, bertambah lagi beban hidupnya.


Belum juga,Alira ia temukan. Kini di tambah Anya yang sakit. Beberapa hari ia merasa tenang tanpa ada gangguan dari wanita itu. Ternyata wanita itu sedang meratapi patah hatinya hingga tumbang dan jatuh sakit.


'' Maaf tapi saat ini saya sedang di luar kota '' jawab Febrian yang sesungguhnya enggan menemui Anya. Sudah bisa di pastikan saat ia menjenguk wanita itu akan bertemu keluarganya. Dan ia tak ingin di pojokan oleh keluarga wanita itu.


'' Kapan kamu kembali ?'' sambung di seberang sana. '' Adik saya benar-benar membutuhkan kamu. Dia dehidrasi dan tubuhnya sudah sangat lemah karena tidak mau makan dam minum sudah lebih dari tiga hari '' tambah wanita yang menghubunginya.


Febrian menarik nafas dalam dengan mata terpejam. Sungguh ia sedang menuai apa yang telah di tanamnya. Dua wanita ia lukai hatinya. Dan keduanya memusingkan kepalanya.


'' Saya usahakan,sore ini atau paling lambat besok pagi saya akan datang. Maaf saya tutup telponnya karena saya sedang di perjalanan '' ucap Febrian, tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Febrian telah menutup sambungan telepon.


'' Apalagi Bri ?'' tanya Hardi yang melihat wajah kusut Febrian.


'' Kayaknya aku lagi panen karma. Belum beres urusan Alira, sekarang Anya masuk rumah sakit '' keluh Febrian. Lelaki itu menyenderkan punggungnya di sandaran kursi. Kepalanya berdenyut, memikirkan segala permasalahannya. Fokusnya mencari Alira sudah terbagi dengan urusan pekerjaan, sekarang di tambah lagi urusan Anya.


'' Mungkin ini bentuk teguran buat kamu Bri. Tidak ada orang terbaik di dunia ini yang ada adalah orang yang berusaha untuk lebih baik. Dan sekarang saatnya kamu memperbaiki diri. Kamu sudah menyakiti wanita baik seperti Alira, saatnya sekarang kamu mengembalikan semuanya seperti seharusnya. Selesaikan masalah kamu dengan Anya secara baik-baik,jika yang ingin kamu perjuangkan adalah Alira. Apapun keputusan kamu selama itu baik aku dukung '' tutur Erza dengan bijak.

__ADS_1


'' Thanks guys, kalian selalu jadi sahabat terbaik ku '' ujar Febrian yang kemudian merebahkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan mata.


__ADS_2