
Suasana cukup ramai pagi itu. Beberapa orang undangan telah datang. Berkumpul di ruang tamu yang telah di rias dengan sederhana. Febrian tampak berada di sana. Penampilan lelaki itu sudah rapi . Rambut panjangnya telah dipotong. Jambang yang tumbuh di wajahnya telah di cukur habis.
Lelaki itu tampak gelisah , berkali-kali ia menarik nafas panjang seolah sedang menenangkan dirinya sendiri. Terlihat Erza menepuk pundak sang sahabat dan memberikan senyum untuk menenangkan.
Di dalam kamar Alira sudah selesai di-make up oleh orang salon yang diundang khusus oleh Febrian. Alira sudah mengenakan kebaya modern berwarna putih yang juga disiapkan juga oleh Febrian. Wanita itu pun sama gelisah nya dengan mempelai pria.
Banyak hal mengganjal di hati dan pikirannya. Mungkinkah pernikahan ini akan jadi jalan terbaik untuk mereka ?. Atau jalan menuju luka lain didepan sana ?. Banyak kekhawatiran yang terselip di hatinya. Namun ia tak mungkin mundur lagi. Ia tak ingin semakin mengecewakan kedua orang tuanya.
Selesai di rias tinggal Alira duduk sendiri menatap dirinya dalam cermin. Wanita itu mengusap lembut perutnya yang mulai tampak membesar.
'' Semoga ini jalan terbaik untuk kita nak '' lirih Alira. Terasa ada pergerakan yang sangat kecil, namun Alira dapat merasakannya. Seakan pergerakan dalam perutnya merespon apa yang baru ia ucapkan.
Alira tersenyum , hatinya menghangat. Ia meyakinkan hati bahwa keputusannya menikah dengan Febrian adalah keputusan terbaik . Mungkin akan ada sisa luka itu dalam hatinya. Namun ia tak ingin menggores luka pada hati bersih seorang anak. Ia tak akan membiarkan anaknya terluka karena tak memiliki seorang ayah.
Kini bukan lagi tentang hatinya. Tapi tentang seorang bayi yang akan lahir di dunia. Bukan lagi tentang kebahagiaannya namun tentang hati seorang anak yang harus ia jaga. Ia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi kedepannya.
Suara pintu kamar terbuka,Alira menatap ke arah pintu. Muncul ibu yang telah berpakaian rapi masuk ke dalam kamar yang selama beberapa bulan ini menjadi kamar Alira.
'' Nak '' lirih ibu setelah berada di dekat sang anak. Mengusap kepala Alira dengan lembut. Mata wanita itu tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
'' Semoga ini jalan terbaik untuk semuanya Ra. Untuk kamu, Febrian,dan calon anak kalian. Ibu hanya bisa berdoa semoga kalian bisa menjadi pasangan yang penuh dengan cinta, kasih dan sayang. Febrian mungkin pernah melakukan kesalahan fatal di masa lalu. Maafkan dia, mulailah semuanya dengan hati yang lapang tanpa dendam. '' tutur ibu di akhiri dengan helaan nafas lirih.
Alira terlihat ikut berkaca-kaca. Wanita yang nampak cantik dengan polesan sederhana itu hanya bisa mengangguk. Lidahnya keluh, matanya terasa memanas. Ia mencoba mengerjapkan mata agar air mata itu tak tumpah.
Tak berselang lama, ketukan pintu kembali terdengar. Dsn muncullah sang perias dari balik pintu.
'' Mari mbak,sudah di tunggu diluar ! ''. Ucap wanita berumur sekitar 35 tahunan itu. Ibu menggandeng lengan putrinya dan melangkah keluar dari kamar. Diikuti oleh perias yang berjalan di belakang mereka. Memegang ujung kebaya yang menjuntai.
Saat langkah mereka hampir sampai di ruang tamu,ruang dimana hendak diadakan ijab qobul. Alira menghirup nafas panjang, menenangkan kegugupan yang menguasai hati. Ibu menggenggam tangan sang putri sedikit lebih erat, seakan tahu tentang kegugupan putrinya. Ibu seolah menyampaikan bahwa tak ada yang perlu di khawatirkan.
Sampai di ambang pembatas , ruang tengah dengan ruang tamu. Semua mata tertuju pads pengantin wanita yang tampak begitu cantik dan anggun. Febrian tak mampu mengalihkan pandangan dari wanita pujaannya.
Hatinya mengembang sempurna, melihat calon istrinya yang tampil begitu cantik dengan pakaian yang dipilihkan olehnya. Sampai saat wanita yang sedari tadi menundukkan kepalanya itu duduk di sebelahnya, Febrian tak melepas tatapannya.
Setelah pengantin wanita datang tak berselang lama acara pun di mulai. Bapak menikahkan putrinya, menyerahkan tanggung jawabnya pada lelaki yang kini menjabat tangannya. Menerima ijab dari Bapak dengan qobul yang terucap lantang dan lancar dari seorang Febrian Dirgantara.
Detik itu juga,Alira telah berubah status menjadi nyonya Febrian Dirgantara. Alira menyalami sang suami dan membawa punggung tangan itu untuk diciumnya. Dan Febrian mengecup kening sang istri dengan perasaan bahagia sekaligus lega.
Perasaan Alira sungguh sulit untuk di ungkapkan. Ada rasa lega ,tapi juga ada rasa khawatir . Tak di pungkiri juga ada sebentuk hati yang menghangat. Namun bayang pengkhianatan pun terasa begitu nyata di depan mata. Hingga rasa sakitnya pun masih terasa. Ia hanya bisa pasrah pada apa yang akan terjadi nanti di hidupnya.
__ADS_1
Acara selesai teriring doa untuk kedua mempelai. Pernikahan dadakan itu berakhir dengan lancar.
'' Selamat bro, akhirnya '' ucap Hardi seraya menyalami Febrian yang tersenyum lebar.
" Thanks,thank you banget juga udah mau selalu aku repotin '' sahut Febrian yang langsung memeluk sang sahabat. Hardi hanya tertawa seraya menepuk punggung Febrian.
Berganti Erza yang mengucapkan hal sama. Dua orang itulah saksi perjuangan seorang Febrian untuk menemukan cintanya yang terluka. Hingga akhirnya takdir juga yang membawanya sampai di detik ini.
Febrian menyadari Alira nya tak lagi sama. Setelah selesai akad pun wanita itu langsung menghilang. Meninggalkan dirinya yang masih di sana menemani beberapa tamu yang hadir untuk makan.
'' Perjuangan baru di mulai Bri, jangan nyerah '' bisik Febrian pada dirinya sendiri saat melangkah masuk hendak menyusul sang istri di kamar. Ia mengetuk pintu pelan.
'' Masuk '' suara Alira menyuruh dirinya masuk. Dengan perasaan berdebar , Febrian mendorong pintu kamar itu. Sampai saat pintu terbuka dan memperlihatkan sesosok wanita yang ia rindukan. Wanita yang selalu indah dimatanya.
Meski tak ada seulas senyum pun yang tergambar di bibir wanita cantik itu. Hanya ada tatapan dingin dari wanita yang sedang menghapus make up nya. Febrian menghela nafas,ia bingung memulai darimana untuk berbicara pada wanitanya.
'' Ra '' ucap Febrian yang berdiri di belakang Alira yang menghadap cermin. Alira menatap tak langsung sang suami. Ia hanya menatap bayangan lelaki itu dalam kaca.
'' Jangan berharap banyak dengan pernikahan ini Mas,aku mau menikah dengan kamu hanya demi janin yang terlanjur tumbuh di rahimku.'' dingin ucapan itu meluncur dari bibir wanita yang dulu selalu berbicara lembut padanya.
__ADS_1
'' Maafkan aku Ra '' ujar Febrian lirih, wajahnya terlihat lesu. Ia seakan tak mengenali wanita di hadapannya.
'' Aku sudah memaafkan kamu, tapi tidak mungkin melupakan apa yang sudah kamu lakukan terhadapku '' sahut Alira yang kemudian berbalik dan menatap tajam pada Febrian.