
Waktu berlalu mengiringi sepasang suami istri itu. Febrian tak pernah berhenti memperlakukan sang istri bak ratu. Sebulan pernikahan mereka, Alira tak sedingin saat awal-awal menikah. Mereka menjalani hubungan seperti awal mereka pacaran. Trauma karena tersakiti secara perlahan mampu teratasi.
Febrian tak menuntut langsung untuk berhubungan intim. Ia menyadari ada luka tak kasat mata yang harus terlebih dahulu ia sembuhkan. Febrian mencoba membiasakan diri dengan sentuhan-sentuhan kecil menuju keintiman.
Kandungan Alira yang mulai membesar, menambah rasa sayang seorang Febrian pada wanita itu. Wanita yang telah di sakiti dirinya namun masih mau mempertahankan buah cinta mereka. Meski hubungan mereka belum layaknya suami istri yang seharusnya. Namun tak mengurangi rasa cinta yang Febrian miliki untuk wanitanya.
'' Sayang hari ini jadwal kamu ke dokter ya ?." tanya Febrian yang sedang di pasangkan dasi oleh Alira.
'' Iya, kalau Mas sibuk biar nanti aku pergi sama Mbak Tia aja. '' sahut Alira, wanita itu telah selesai mengenakan dasi di leher sang suami. Febrian menarik tubuh sang istri, mendekapnya dalam pelukan. Sebuah kecupan tersemat di kening wanita itu.
'' Pasti Mas sempetin sayang. Nanti sore aku jemput kita periksa di klinik saja. '' ucap Febrian yang kemudian menunduk dan mencium bibir ranum yang selalu mengundang untuk di lumaatnya.
Beberapa saat keduanya hanyut dalam suasana intim di kamar mereka. Sampai Alira mendorong pelan dada sang suami saat ia mulai kehabisan nafas. Febrian yang menyadari melepas ciumannya. Dengan nafas tersengal, Febrian menghirup nafas dalam. Menenangkan gejolak hasratnya yang menguasai seluruh aliran darah.
Beberapa saat keduanya terdiam, menekan gairah yang membumbung. Setelah menguasai diri, Febrian mengecup kening sang istri.
" I love you,my wife ." bisik Febrian di telinga Alira. Alira tersipu,bagai wanita yang baru mengenal cinta.
__ADS_1
" I love you too,my husband ." kata yang akhirnya keluar dari bibir tipis itu. Febrian mengembangkan senyum dan menarik tubuh sang istri dalam pelukan.
Saat pelukan lelaki itu terasa erat, tendangan kecil terasa sampai di perut Febrian yang menempel erat pada tubuh istrinya.
" Wah anak Papa kayaknya jealous nih. " kelakar Febrian sembari melepas dekapannya. Mengusap lembut perut Alira. Kemudian lelaki itu menunduk dan ciuman perut sang istri.
" Hallo jagoan Papa ?, sehat-sehat ya nak ." ucap Febrian yang kemudian mencium lagi perut Alira. Alira tersenyum tipis seraya mengusap rambut setengah basah milik Febrian.
" Kayaknya anak Papa udah laper ini.'' ujar Febrian seraya menengadah menatap Alira yang masih berdiri di hadapannya.
'' Iya kayaknya udah kelaparan ,udah bunyi perutnya .'' sambut Alira. Febrian bangkit dari posisi jongkoknya. Merangkul pinggang Alira sang istri, dan membawanya keluar kamar. Menuju meja makan yang sudah tersedia sarapan pagi untuk keduanya.
Seperti biasa, Febrian sigap melayani Istrinya dengan mengambilkan nasi,sayur,lauk dan tal lupa ia mengambilkan segelas air putih. Istrinya seakan tak diijinkan untuk bergerak. Selama ada Febrian di samping wanita itu segala hal pasti siap sedia di layani sang suami.
'' Makasih Mas .'' ucap Alira yang tinggal duduk manis menyantap makanan yang telah tersaji di hadapan dirinya.
'' Sama-sama sayang .'' sahut Febrian sembari mengusap rambut hitam panjang milik sang istri. Sepasang suami istri itu menyantap dengan lahap sarapan pagi mereka dengan diam.
__ADS_1
Usai sarapan Febrian berpamitan pada sang istri untuk pergi bekerja. Alira mengantar suaminya hingga teras rumah. Berdiri menatap punggung kokoh yang berjalan menjauh dan akhirnya masuk ke dalam mobil. Alira tersenyum seraya melambaikan tangan saat mobil yang di kemudikan Febrian meninggalkan halaman hingga akhirnya hilang dari pandangan Alira.
Wanita itu masuk ke dalam rumah. Tampak wanita menghirup nafas dalam. Kemudian tersenyum samar. Entah apa yang ada dalam benak wanita itu. Namun sepertinya ada hal yang sedang direncanakan oleh Alira.
'' Mbak Tia, temenin Alira ke salon yuk. Sekalian nanti Mbak Tia aku traktir perawatan deh .'' ajak Alira pada Mbak Tia yang sedang membereskan meja makan . Wanita berumur kurang lebih empat puluh lima tahun itu menoleh pada sang nyonya.
'' Bener bu ?.'' tanya Mbak Tia dengan mata berbinar. Alira mengangguk dengan senyum lebar di bibir.
'' Oke Bu, siap.'' sahut Mbak Tia dengan semangat.
'' Selesai beres-beres dapur langsung siap-siap ya Mbak .'' titah Alira yang kemudian melenggang pergi meninggalkan ruang makan.
'' Siap Mbak .'' jawab janda dua anak yang kini tersenyum sendiri sembari memegangi wajahnya.
'' Mas Roni pasti seneng kalo aku habis perawatan .'' ujar Mbak Tia dengan wajah merona. Sepertinya wanita itu telah memiliki tambatan hati setelah mendapat penghianatan dari suaminya.
Dan hari itu Alira benar-benar memanjakan diri dengan perawatan lengkap di salon begitu juga dengan sang asisten yang di bawanya. Usai perawatan Alira pergi ke Mall,menuju toko dalaman yang menjual berbagai macam underwear dan lingerie.
__ADS_1
Dengan di bantu Mbak Tia, Alira memilih beberapa potong lingerie dengan berbagai warna serta underwear yang bisa ia gunakan di kehamilannya yang semakin membesar.
Hanya dengan membeli pakaian itu saja sudah membuat hatinya berdebar. Membayangkan apa yang akan terjadi jika ia memakai di hadapan sang suami. Alira tampak menghirup nafas dalam, dan menghembuskan perlahan. Menenangkan debaran di hatinya yang berpacu dengan cepat.