Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Saat Rasa itu Telah Kembali


__ADS_3

Sepasang suami istri tampak masih lelap terpejam,saat pagi datang menjelang. Febrian masih memeluk erat tubuh sang istri. Sedang Alira terlihat nyaman tidur dengan bantal dada bidang sang suami. Selimut masih rapat menutupi tubuh polos keduanya.


Sampai akhirnya,mata Febrian tampak mengerjap. Lelaki itu tampak membuka mata. Cahaya redup dari lampu kamar membuat kamar itu tampak temaram. Febrian tersenyum mendapati sang istri yang masih terlelap. Febrian mengamati wajah tenang Alira yang masih tertidur pulas.


Mengingat kejadian semalam membuat dirinya tersenyum lebar. Akhirnya penantian panjangnya berakhir sudah. Ia berharap semua akan terlewati dengan baik . Alira telah menyambutnya kembali bersama cinta hangat yang di miliki.


Febrian mengecup puncak kepala sang istri,rasa bahagia itu terasa membuncah dalam dadanya. Di pandangnya wajah cantik yang masih memejamkan mata . Sampai kelopak mata itu terbuka,dan bola mata hitam yang tampak jernih. Menatap lelaki yang juga sedang menatap dirinya.


'' Selamat pagi My Wife ." sapa Febrian, kemudian menyematkan sebuah kecupan di kening istrinya.


" Selamat pagi my husband .'' sahut Alira seraya menengadah, menatap wajah yang masih saja tampan meski baru terbangun dari tidur. Febrian tersenyum dan menundukkan wajah. Mengecup sekilas bibir sang istri.


Kemudian lelaki itu kembali mengeratkan pelukannya. Seolah enggan lepas dari sang istri.


" Aku mau mandi mas." ucstp Alira sembari berusaha melepas tangan suaminya.

__ADS_1


" Sebentar,dia pengen lagi.'' bisik Febrian yang membawa tangan sang istri untuk menyentuh aset miliknya.


Tidak tinggal diam lelaki itu langsung menyerang sang istri. Alira yang hendak protes akhirnya terbawa suasana. Pagi yang dingin menghangat karena sentuhan hangat sang suami. Dan akhirnya pagi itu di awali dengan olahraga yang menggetarkan jiwa. Menghempaskan rasa, menyisakan nikmat yang ingin selalu di ulang dan di ulang lagi.


Usai dengan kegiatan panas mereka , keduanya mandi bersama. Kali ini benar-benar mandi. Tak ada ronde tambahan,karena Alira sudah kembali mengingatkan tentang janin dalam perutnya. Kalau tidak mengingat tentang calon bayi mereka, Febrian pasti akan terus memintanya.


Aroma wangi sabun dan sampo menguar dalam kamar tidur sepasang suami istri tersebut. Tampak Alira sedang duduk di depan meja rias masih dengan handuk kimono yang melekat ditubuhnya. Rambut basahnya sedang dikeringkan dengan hairdryer okeh sang suami.


Tatapan keduanya berkali-kali bertemu lewat pantulan cermin di hadapan mereka. Saling bertukar senyum dalam diam. Sampai Febrian selesai mengeringkan rambut sang istri.


'' Sayang, jadwal senam ibu hamil kapan ?." tanya Febrian yang bulan lalu tak bisa mendampingi sang istri.


''Minggu depan,Mas bisa ikut ?.'' tanya Alira dengan nada berharap.


'' Mas usahakan ikut.'' jawab Febrian sambil tersenyum kearah Alira yang belum beranjak dari kursi meja rias. Alira hanya tersenyum menanggapi, wanita itu kemudian mengambil beberapa skin care yang aman digunakan saat dirinya sedang hamil.

__ADS_1


Setelah memoles wajahnya hingga terlihat lebih segar. Kini wanita itu menghampiri suami yang sedang mengenakan dasi.


" Mau ada rapat ?.'' tanya Alira dengan tangan mengambil alih tangan sang suami yang sedang memakai dasi .


'' Iya ada rapat dengan rekan bisnis dari luar kota. Jadi harus rapi.'' sahut Febrian, karena untuk keseharian jarang lelaki itu pergi dengan stelan formal apalagi dengan dasi.


Kegiatan kecil yang selalu mereka lakukan mulai hari itu. Hari dimana cinta itu mulai menaklukkan segala ego di hati. Saat kepercayaan itu telah kembali,dan semua luka telah mengering. Bersama-sama keduanya meniti tangga demi tangga jalan yang mereka lalui dalam sebuah hubungan baru bernama pernikahan. Mereka kini telah menjalani dengan utuh.


Waktu yang berlalu semakin membuat hubungan mereka kian erat. Cinta itu bermekaran semakin wangi. Setiap yabg berada di dekat mereka akan merasakan aura cinta mereka yang begitu kuat.


'' Mas lepas !." pinta Alira yang telah dibelit tangan sang suami cukup lama.


'' Sebentar masih kangen.'' dan itu adalah jawaban yang selalu terlontar dari mulut lelaki itu.


Setiap hari saat pulang kerja,ia akan memeluk lama sang istri. Seakan ia telah meninggalkan wanita itu berhari-hari. Nyatanya tak lebih dari delapan jam ia meninggalkan sang istri. Dan itulah cinta yang ia persembahkan untuk istri tercinta. Sebuah rasa yang begitu besar. Hingga ia merasa tak mampu lagi hidup jika tanpa cintanya.

__ADS_1


__ADS_2