Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Bekal Sebelum Pergi


__ADS_3

Perjalanan rumah tangga, Alira dan Febrian berjalan semakin harmonis dan romantis. Membuat Vivian yang kini semakin sering berkunjung di buat iri oleh keromantisan sepasang suami istri itu.


'' Chatting an mulu perasaan pisah belum ada tuh 5 jam. Tiap malam juga di kekepin. '' sungut Vivian yang duduk bermalas-malasan di atas karpet yang terdapat di ruang tengah kediaman Alira.


Alira tertawa terbahak mendengar ucapan sang sahabat.


'' Abis gimana Vi, bawaannya kangen mulu.''ucap Alira yang duduk di samping Vivian dengan mulut tak berhenti mengunyah. Di kehamilan yang menginjak delapan bulan , wanita itu tampak semakin berisi . Tidak hanya perutnya yang membesar , pipi tirusnya kini terlihat semakin chubby.


'' Hilih bucin.'' ucap Vivian yang sedang memainkan ponselnya.


'' Tunggu aja kamu bucin sama om kamu Vi.''sahut Alira sembari tangannya mengusap pelan perut buncitnya.


'' Om mah nyebelin, dari kemarin baru dua kali kirim pesan. Telpon sekali doang." sungut Vivian yang sedang di tinggal keluar kota okeh sang suami. Alira tertawa renyah menanggapi kekesalan sang sahabat.


" Ada yang kangen ternyata." ucap Alira.


" Gak ya .'' sahut Vivian dengan tatapan tajam yang tertuju pada Alira yang masih menertawakan dirinya.


" Masih nyangkal .'' ujar Alira yang merasa sudah ada perkembangan dalam hubungan sang sahabat dengan suaminya.


" Terbiasa ada dia kali ya Ra,kayak sepi aja gitu." sambung Vivian dengan tatapan menerawang. Alira tersenyum menatap Vivian yang sedang galau. Wanita itu menggeser duduknya, merangkul pundak sang sahabat.


'' Terkadang ada hal yang mati-matian kita hindari. Karena kita merasa itu bukan hal yang baik buat kita. Tapi Tuhan terus mendekatkan pada kita,karena Tuhan lebih tau apa yang terbaik untuk kita. Jangan sia-siakan apa yang sudah Tuhan kasih. Jangan sampai karena kita tidak bersyukur Tuhan akan mengambilnya kembali.'' tutur Alira, Vivian merebahkan kepala di pundak sang sahabat.


'' Apa aku udah cinta ya Ra sama si Om ?. Pikiranku negatif mulu gak di hubungi sama dia.'' ucap Vivian yang membuat sang sahabat tersenyum simpul.


'' Ikuti kata hati saja Vi, gak ada salahnya kan kamu terima dia. Menurut ku ya dia itu,baik,care sama kamu, ganteng juga. Kurang apa coba ?.'' ujar Alira .

__ADS_1


'' Kurang muda .'' jawab Vivian lirih. Hati wanita itu sedang galau. Antara ingin mengakui jika ia telah terjerat cinta si om. Atau tetap menampik rasa yang datang menyapa tanpa permisi.


'' Sayang !." suara panggilan dari arah ruang tamu membuat Vivian yang bersandar fi bahu sang sahabat menegakkan badan.


'' Suami kamu Ra ?, kok udah pulang aja ?.'' tanya Vivian,Alira bangkit dari duduknya seraya mengangkat bahu.


'' Yang !!.'' lagi seruan Febrian terdengar memenuhi ruangan.


'' Lho mas udah pulang ?,tumben pulang tengah hari begini ?.'' tanya Alira seraya menyambut sang suami. Seperti biasanya wanita itu mencium punggung tangan Febrian. Dan lelaki itu akan mengecup kening serta memeluk tubuh sang istri.


'' Mas harus keluar kota sore ini Yang.'' ucap Febrian sembari melepaskan pelukannya dan menatap sendu wajah sang istri.


'' Keluar kota, berapa hari ?.'' tanya Alira,berat rasanya melepas sang suami pergi. Setiap malam ia terbiasa tidur dalam pelukan lelaki itu. Membuatnya merasa tak bisa tidur tanpa sang suami.


" Dua hari Yang.'' sahut Febrian seraya memeluk erat sang istri kembali.


'' Aku bakal lebih kangen,aku tidurnya gimana ?.''tanya Alira dengan wajah memberengut. Febrian menangkup wajah sang istri dan mengecup bibir Alira.


'' Duh sayang,aku harus gimana ?.'' Febrian tampak merasa bersalah harus meninggalkan istrinya yang sedang hamil besar itu.


Mengetahui suami yang bimbang,Alira tersenyum. Bukan saatnya ia bermanja-manja. Sang suami bekerja untuk keluarga kecil mereka,ia tak boleh egois.


'' Gak apa-apa Mas, nanti baju ini jangan di cuci dulu. Biar bau keringatnya mas Brian. Buat nemenin tidur aku.'' tutur Alira, membuat lelaki itu menatap penuh syukur pada sang istri yang selalu bisa mendukung dirinya.


'' Terima kasih sayang,i love you.'' ucap Febrian kemudian kembali memeluk tubuh Alira.


'' I Love you too sayang.'' jawab Alira dalam pelukan sang suami.

__ADS_1


'' Haduuh, bener-bener nih duo bucin ya. Serasa dunia milik berdua. Ngontrak gue ngontrak.'' sungut Vivian ya g sudah berdiri di bawah gawang pintu yang menghubungkan ruang keluarga dan ruang tamu. Bukan melepas Alira dalam pelukannya justru Febrian semakin erat memeluk sang istri. Memamerkan pada wanita yang menatap jengah pada sepasang suami istri itu.


'' Kenapa iri kamu, kasihan di tinggal suami .'' ledek Febrian, semenjak dua bersahabat itu sering bertemu mereka kini cukup dekat. Bahkan Febrian dengan Nicho pun seakan berteman dekat. Ia bahkan tahu jika suami sahabat istrinya itu sedang di luar kota.


Vivian mendengus sebal.


'' Aku pulang dulu Ra.'' ucap Vivian namun belum beranjak dari tempatnya berdiri.


'' Mas lepas dulu.'' pinta Alira pada suaminya yang masih mendekap erat tubuhnya.


'' Sebentar mas masih kangen.'' sahut Febrian yang mendapat cibiran Vivian.


'' Engap .'' keluh Alira yang merasa sesak karena di peluk erat Febrian. Akhirnya lelaki itu melepaskan istrinya.


'' Pulang dulu Ra, besok aku mau ke salon . Kamu wajib ikut.'' ucap Vivian yang diacungi jempol oleh Alira. Lumayan bisa refreshing saat harus di tinggal suami kerja di luar kota.


'' Tapi jangan lama-lama di luar nanti kamu kecapekan.'' protes Febrian.


'' Iya sayang.'' sahut Alira dengan nada manis.


'' Posesif .'' cibir Vivian yang kemudian mendekati sang sahabat. Mencium pipi kanan kiri sahabatnya kemudian berpamitan pulang. Ia tak mau jadi nyamuk di tengah pasangan bucin itu.


Setelah kepulangan Vivian,Alira masuk ke dalam kamar. Mempersiapkan pakaian yang akan di bawa sang suami. Namun saat ia sedang menata pakaian di dalam koper. Suaminya justru terus menempel padanya. Memeluk dari belakang tubuh Alira dan berkali-kali menciumi pipi wanita itu.


'' Aduh Mas, gak selesai-selesai ini.'' keluh Alira yang risih dengan tingkah sang suami yang terus menggelayuti dirinya.


'' Yang, sekali yuk,buat bekal.'' bisik Febrian di telinga sang istri. Alira menoleh menatap wajah suaminya dan seperti di beri kesempatan lelaki itu langsung mencium bibir sang istri.

__ADS_1


Febrian mencium bibir sang istri semakin dalam dan panas. Nafas keduanya semakin memburu. Di siang yang panas itu keduanya tenggelam dalam lautan gelora cinta yang membawa mereka merengkuh nikmat bersama.


__ADS_2