Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Kedatangan Vivian


__ADS_3

" Bu,bu Alira .'' Lamat-lamat suara Mbak Tia terdengar masuk ke dalam lelap tidur Alira di siang itu. Setelah pulang dari kantor sang suami wanita itu terlelap tidur di ruang keluarga.


" Apa Mbak ?.''tanya Alira dengan nada serak khas bangun tidur. Tampak wanita itu mengerjapkan mata.


'' Ada tamu di luar, nyari bu Alira. Katanya temen ibu .'' tutur Mbak Tia memberi tahu. Alira tampak mengernyitkan dahi.


" Siapa mbak ?." tanya Alira yang di jawab dengan gelengan kepala.


" Gak tahu, perempuan cantik bu." jelas mbak Tia, tanpa bertanya lagi. Alira bangkit dari sofa bed tempatnya mengisyaratkan tubuh. Merapikan rambutnya yang berantakan dengan mengikatnya menjadi satu.


" Tolong mbak buatkan minum ya ." pinta Alira seraya beranjak dari ruang keluarga menuju ruang tamu.


" Baik Bu." jawab singkat Mbak Tia yang kemudian pergi ke arah dapur.


Alira melangkah menuju ruang tamu, sesosok wanita duduk membelakangi dirinya. Tampak rambut hitam panjang yang tergerai indah. Postur tubuh rasanya tak asing di mata Alira.


Alira melambatkan langkah, Memastikan siapa yang duduk cantik di sofa ruang tamunya.


" Vi .'' Alira memanggil wanita yang ia yakini sang sahabat yang menghilang beberapa bulan terakhir. Wanita itu berbalik cepat menghadap Alira.


''Ra " balas Vivian, keduanya sama masih tertegun menatap dengan mata berkaca-kaca.


Vivian berdiri , melangkah mendekat ke arah Alira. Alira yang masih tertegun langsung mendapat pelukan sang sahabat.


" Ra, maafin aku ." ucap Vivian seraya sesenggukan. Alira hanya bisa menggelengkan kepala. Tenggorokannya terasa tercekat. Wanita itu semakin tergugu dalam tangis.


Vivian mengusap punggung sang sahabat. Alira melepas pelukannya, menatap wajah sahabat yang begitu di rindukannya.


'' Kamu kemana aja ?.'' tanya Alira dengan nada tersengal karena tangis. Vivian mengusap air mata Alira saat ia telah bisa menguasai diri.

__ADS_1


" Panjang ceritanya,kamu gimana ?. Febrian baik sama kamu ?, dia gak nyakitin kamu lagi kan ?.'' Vivian memberondong banyak pertanyaan pada Alira. Alira bahkan hanya bisa menggeleng.


'' Bu ,maaf ini minumnya bu.'' Mbak Tia menyela dua orang yang sedang melepas rindu itu.


'' Bawa ke meja aja mbak.'' ucap Alira seraya mengusap sisa air mata di pipinya.


'' Baik bu.''mbak Tia beranjak dengan nampan berisi dua gelas jus jeruk dan kue di piring.


'' Duduk dulu Vi, kamu hutang banyak penjelasan ke aku .'' ucap Alira pada Vivian, wanita bertubuh semampai itu mengangguk.


'' Silahkan bu,saya pamit kebelakang.'' ucap Mbak Tia undur diri dari ruang tamu.


'' Iya, makasih ya mbak.'' ucap Alira. Kini tinggal dua bersahabat itu duduk di sofa panjang. Duduk bersebelahan, dengan tangan saling menggenggam.


'' Ra,aku bener-bener minta maaf gak bisa jaga kamu seperti yang sudah aku bilang dulu. Maaf kamu harus melewati semuanya sendiri. Gimana ceritanya Febrian bisa menemukan kamu ?. '' tanya Vivian dengan tatapan penuh penyesalan, karena merasa telah ingkar pada sang sahabat.


Alira tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala. Menggenggam dua telapak tangan sahabatnya.


Vivian berkaca-kaca dan kembali memeluk sang sahabat dengan erat.


'' Aku seneng dengernya Ra. Semenjak aku denger kabar kamu menikah,aku khawatir banget. Aku takut Brian nyakitin kamu lagi. Sementara aku gak bisa ngapa-ngapain Ra.'' ucap Vivian. Alira membalas pelukan sang sahabat tak kalah erat


" Kamu sendiri kemana aja ?.'' Vivian melepaskan pelukannya. Menghapus air mata yang mengalir di kedua pipinya. Menarik nafas dalam, memberikan ruang dalam sesak dalam dada .


" Aku,aku juga sudah menikah Ra.'' jawaban Vivian membuat Alira terbelalak kaget.


'' Bagaimana bisa ?.'' tanya Alira dengan kekagetannya. Vivian menghela nafas, tatapan matanya menerawang.


'' Pernikahan bisnis Ra. Aku tumbal keserakahan orang tuaku. Demi bisnis, mereka menggadaikan kebebasanku dengan sebuah hubungan kerjasama.'' Tutur Vivian dengan suara tersengal. Alira meraih tubuh Vivian dan membiarkan sang sahabat menangis dalam pelukan.

__ADS_1


Sesaat mereka hanya diam, Vivian mencoba menenangkan perasaannya sendiri. Pelukan hangat sang sahabat mengantar rasa nyaman. Membuatnya merasa tak sendiri melewati hidup yang ia rasa cukup kejam.


" Bagaimana suami kamu,dia jahat ?.'' tanya Alira saat Vivian tak lagi menangis. Vivian melepaskan pelukannya . Wanita itu tampak menggeleng.


'' Dia baik Ra, sangat baik. Memperlakukan aku seperti ratu,tapi aku gak cinta Ra sama dia. Umur dia hampir dua kali lipat umurku.'' terang Vivian dengan wajah cemberut.


'' Memang umur berapa dia ?.'' tanya Alira penasaran.


'' 41 tahun Ra, bayangin !!!. Dia lebih cocok jadi om aku.'' ucap Vivian yang kemudian menghempaskan diri bersandar di sofa.


'' Ada fotonya gak ?.'' Alira benar-benar di buat penasaran dengan suami sahabatnya.


'' Ada,nih.'' ucap Vivian sembari memberikan ponsel pada Alira. Dengan cepat Alira mengambilnya dari tangan Vivian.


'' Pin ?''.


'' Tanggal lahir ku.'' sahut Vivian, Alira segera membuka ponsel milik Vivian. Ia berselancar dengan cepat membuka galeri foto. Ada beberapa foto pernikahan di sana. Vivian yang tampak begitu manis dengan balutan gaun putih yang terlihat mewah. Di sampingnya lelaki yang memang terlihat dewasa namun wajah tampannya menutupi usia matang lelaki tersebut.


Lelaki dengan tuksedo berwarna hitam tampak gagah dan berwibawa. Belum ada garis kerut di wajah tampan nan menawan itu.


'' Ini sih om-om meresahkan Vi. Mau cari yang kayak gimana lagi kamu ?.'' tanya Alira yang sama sekali tak prihatin dengan nasib sang sahabat setelah melihat foto lelaki yang menjadi suami Vivian.


'' Ya ,yang gak setua itu juga dong Ra.'' keluh Vivian. Alira menghela nafas. Meraih tangan sang sahabat.


'' Vi,kamu percaya cinta datang karena terbiasa ?.'' tanya Alira . Vivian mengangkat bahu. Ia sendiri tidak tahu mampukah ia terbiasa dengan keberadaan lelaki yang masih terasa ading baginya .


'' Selama dia memperlakukan kamu dengan baik. Selama dia tidak pernah mengkhianati janji suci pernikahan. Dia layak untuk kamu pertahankan. Percaya Vi,cinta bisa datang karena terbiasa.'' tutur lembut Alira. Membuat Vivian tersenyum tipis kemudian kembali memeluk sang sahabat.


'' Makasih ya Ra, doakan aku bisa menjalani pernikahan aku dengan baik. Aku juga pengennya menikah sekali seumur hidup.'' ucap Vivian dalam pelukan sang sahabat.

__ADS_1


'' Pasti Vi.'' jawab Alira.


Sampai sore hampir tenggelam bersama datangnya malam. Dua insan bersahabat itu masih saling bertukar cerita. Mengisahkan segala yang terjadi selama mereka terpisah.


__ADS_2