
Cahaya matahari mulai masuk kedalam kamar yang di huni wanita yang masih meringkuk di balik selimut tebal. Tirai jendela yang sudah disingkap sebagian mengantarkan cahaya matahari pagi menerobos masuk ke dalam kamar. Tampak Alira mengerjapkan mata, sesaat wanita itu terdiam dengan dahi mengernyit. Tampak ada gurat kebingungan di wajah cantik yang baru terbangun dari tidur lelapnya.
Sesaat wanita itu tersentak dan menoleh ke samping. Tak di dapatnya lelaki yang ia kira masih berada di samping dirinya. Saat mata menangkap cahaya dari balik jendela. Ia baru menyadari bahwa hari mulai beranjak siang.
Dengan berat,Alira bangun dan duduk di atas tempat tidur. Merenggangkan tubuhnya yang terasa lelah. Sisa perjalanan semalam masih di rasakan tubuh yang pegal-pegal dan rasa berat di kepalanya.
Suara derit pintu yang terbuka dengan sangat perlahan membuat wanita yang tetap cantik meski baru terbuka mata dari lelap tidurnya menoleh asal suara. Mata keduanya bertemu, Febrian tersenyum lebar, melihat wanitanya telah terbangun.
" Pagi sayang !." sapa Febrian seraya mendekati ranjang dan menghampiri sang istri yang masih bungkam meski matanya tak lepas dari sosok yang pagi itu tampak segar dan terlihat sangat tampan.
Febrian menundukkan kepalanya dan mengecup sekilas kening sang istri. Alira masih bergeming, membeku di tempat ia duduk. Meskipun hatinya hendak berloncatan dengan debar jantung yang terasa begitu cepat. Alira membuang muka saat Febrian menatap dalam padanya saat lelaki itu ikut duduk di tepi ranjang dan menghadap pada dirinya.
Tangan Febrian terulur, menyentuh helaian rambut yang tampak berantakan. Di selipkannya anak rambut di belakang daun telinga. Matanya tak bisa lepas menatap wajah ayu yang sedang tertunduk di hadapannya. Bisa Febrian lihat rona merah di pipi putih bak pualam itu.
__ADS_1
Ada desir bahagia yang yang menyapa hati lelaki berwajah tanpa cela itu. Masih bisa ia lihat rona cinta di wajah sang istri. Meski samar namun masih mampu untuk Febrian rasakan. Lelaki itu tersenyum tipis, meyakinkan hati bahwa semua akan kembali seperti semula. Hanya butuh waktu sebentar saja untuk meyakinkan sang wanita bahwa ia telah berubah, hatinya bisa lagi di percaya.
'' Kamu bersih-bersih dulu,habis itu kita sarapan. Aku udah bikin sarapan buat kita. Jagoan Papa juga pasti sudah lapar .'' ucap Febrian seraya mengusap lembut perut Alira yang sudah mulai membesar.
Ada perasaan menghangat di dada Alira saat tangan itu membelai perutnya. Dan sebuah pergerakan kecil terasa di perut. Mata cantik itu berkaca-kaca sebuah rasa yang tak mampu terurai dengan kata.
Ketika mata mereka bertemu, butir air bening mengalir di pipi Alira. Febrian menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.
'' Kenapa minta maaf ?, kamu gak ada salah Sayang .'' tutur Febrian. Wanita dalam dekapannya masih tergugu dalam tangis.
'' Karena aku belum bisa mengembalikan rasa ini lagi. Maaf aku belum bisa jadi istri yang seharusnya. Aku.... aku gak bisa buat membohongi hati kalau aku masih merasakan sakit itu setiap melihat kamu Mas. Aku harus bagaimana ?.'' ujar Alira dalam isak tangis yang tak juga surut. Febrian mengusap lembut kepala Alira.
'' Ssstttt, jangan nangis sayang, kamu gak salah. Aku yang salah udah nyakitin kamu,udah khianati kamu. Aku ngerti kamu butuh waktu untuk menyembuhkan luka yang aku buat. Dengan kamu di sini buat aku udah cukup sayang. Aku tidak akan memberikan batas waktu untuk mengembalikan rasa cinta dan kepercayaan kamu ke aku. Selama apapun waktu yang kamu butuhkan untuk menyembuhkan luka yang telah aku torehkan. Aku siap,asal jangan pernah berpikir untuk pergi dari hidupku. '' ucap tulus Febrian.
__ADS_1
Alira bukan tak merasakan ketulusan dan kesungguhan dari Febrian. Ia bisa merasakan itu semua. Namun entah kenapa ada bisik lirih di hatinya yang selalu mengingatkan diri untuk waspada . Seakan segala yang diperbuat lelaki itu adalah tameng untuk menyembunyikan kelakuan nakalnya. Oh, hati bisakah ia kembali untuk percaya ?.
'' Kamu bersih-bersih dulu,aku tunggu di ruang makan. Kasihan baby nanti dia kelaparan .'' lanjut Febrian yang tersenyum senang membayangkan sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah. Alira mengangguk dan turun perlahan dari atas ranjang. Mata Febrian mengamati pergerakan lambat sang istri. Ia hanya bisa meringis membayangkan wanita cantik yang selalu tampil sempurna kini harus menanggung ulah dirinya. Hamil di saat belum siap, bahkan wanita itu harus menunda pendidikannya.
Setelah Alira menghilang di balik pintu kamar mandi. Febrian keluar dari kamar. Menutup kembali pintu yang di bukanya. Tampak lelaki itu bersandar di dinding. Air matanya mengalir tak terbendung. Kedua telapak tangannya menutupi wajah yang berurai air mata. Rasanya terlalu menyesakkan mengingat luka yang ia beri. Entah sampai kapan ia menunggu cinta itu kembali merekah indah seperti sedia kala. Saat cintanya masih utuh tak terbagi dengan nafsu.
Febrian menenangkan diri, menghela nafas dalam. Ia tak akan menyerah untuk meraih kembali cintanya. Apapun akan ia lakukan agar wanitanya bisa lagi percaya pada dirinya.
Pagi itu terlewati sepasang suami istri itu dengan tenang setelah drama yang selalu membuat air mata tumpah. Keduanya sarapan bersama dengan sandwich yang di buat oleh Febrian. Karena untuk beberapa hari ke depan mereka harus mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Karena ART yang Febrian cari lewat sebuah yayasan baru bisa datang minggu depan.
Menjelang siang, Febrian mengajak sang istri untuk bertemu pengacaranya yang akan mengurus surat-surat untuk melegalkan pernikahan mereka secara negara.
Usai dengan segala urusan yang berkaitan untuk melegalkan pernikahan mereka. Kini sepasang suami istri itu duduk saling berhadapan di sebuah restoran untuk makan siang. Febrian benar-benar memperlakukan dirinya bak ratu. Bahkan steak daging yang Alira pesan telah Febrian potong-potong kan. Segala hal kecil tak luput dari perhatian lelaki yang sedang mencoba untuk memperbaiki keadaan yang sudah terlanjur ia hancurkan.
__ADS_1