
Plakk !!
Satu tamparan keras menghantam pipi Febrian. Lelaki itu hanya bisa tertunduk menahan pedihnya bekas tamparan itu. Erza dan Hardi tampak meringis,sedang Alira memejamkan mata. Tidak mengira Bapak akan menampar lelaki itu dengan begitu kerasnya.
'' Saya membesarkan dan menjaga anak saya dengan seluruh jiwa dan raga saya. Kenapa kamu menghancurkannya seperti sampah ?'' ucap Bapak dengan ucapan yang begitu tajam. Meski dengan nada pelan.
'' Maaf '' hanya itu yang mampu terucap dari bibir Febrian. Ia tahu ,ia bersalah tidak seharusnya dia merusak orang yang dicintainya. Cinta tidak seharusnya ia jadikan alasan untuk melampiaskan nafsu. Kini ia hanya bisa tertunduk di bawa tatapan Ibu dan Bapak Alira serta dua sahabatnya. Dan wanita yang seharusnya ia jaga jiwa dan raganya.
Bapak tampak menghembuskan nafas berat. Di ruang tamu rumah peninggalan milik eyang Vivian. Mereka berkumpul setelah drama di teras rumah antara Alira dan Febrian.
Mereka kini duduk di sofa ruang tamu. Masih dalam diam. Bi Sari keluar dengan nampan berisi minuman dan beberapa makanan ringan. Setelah meletakan semuanya di atas meja. Bi Sari kembali ke belakang. Merasa bahwa ia tidak memiliki kepentingan diantara orang-orang yang berada di sana.
'' Saya tidak mau tahu, kamu harus menikah dengan Alira.'' ucap Bapak dengan tegas. Febrian yang duduk di hadapannya mengangguk cepat seraya menahan senyum.
'' Baik Pak, saya pasti akan bertanggung jawab '' sahut Febrian dengan semangat.
Tanpa harus bersusah payah meminta restu lelaki itu dengan mudah mendapatkan kembali wanitanya. Alira terlihat membuang muka saat mendapati Febrian mencuri pandang padanya.
__ADS_1
Ada rasa lega bercampur resah yang menghampiri hati Alira. Lega,ia tidak harus berjuang sendiri untuk membesarkan bayi dalam perutnya,namun resah pun menyapa. Ia khawatir luka yang belum sepenuhnya sembuh itu tergores kembali. Bisakah ia kembali mempercayai Febrian ?. Hatinya telah meragu pada lelaki yang telah menghancurkan kepercayaannya.
'' Saya mau secepatnya kamu menikahi Alira, saya tidak mau anak itu lahir tanpa Ayah '' pinta Bapak yang menatap Febrian dengan tatapan dingin.
'' Segera saya siapkan Pak. Bagaimana kalau besok pagi ?.'' usul Febrian,ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan . Ia tak ingin kehilangan kembali cintanya. Alira tampak melotot mendengar ucapan Febrian.
'' Kamu hanya mau menikahinya secara siri ? '' suara Bapak terdengar sedikit mengeras. Wajahnya tampak tidak suka menatap Febrian.
'' Tidak begitu Pak, saya tetap akan meresmikan ,tapi agar pernikahan itu segera bisa terlaksana. Di sini kita nikah siri, setelahnya saya akan meminta pengacara saya untuk melegalkan pernikahannya.'' ujar Febrian. Bapak tampak mengangguk,ia pun tak ingin putrinya menanggung malu sendiri. Mereka harus bertanggung jawab atas perbuatan mereka.
Dan siang itu di putuskan jika esok mereka akan menikah secara siri. Sisa hari itu di gunakan Febrian dan dua sahabatnya untuk mengurus semuanya. Mencari orang untuk menjadi saksi dan orang yang mau menikahkan mereka. Ia tak mau kesempatan emas ini sampai terlewatkan.
Febrian tahu wanita itu belum memaafkan dirinya. Tapi ia berjanji pada dirinya sendiri,bahwa ia akan membuat wanita itu kembali jatuh cinta padanya.
Sore itu, Febrian berdiri sendiri di tepi pantai. Menatap hamparan air laut , tersenyum sendiri membayangkan Alira menjadi pengantinnya. Rasa rindu yang selama beberapa bulan ini terasa membelenggu hatinya. Kini terasa ringan, terlepas dengan melihat wajah wanita yang selama ini menghantui siang dan malamnya.
'' Jangan pikir karena aku diam,aku menerima pernikahan ini. Aku hanya tak mau mengecewakan Bapak. Pernikahan ini hanya formalitas belaka,agar anak ini lahir ada ayahnya. Jangan berharap lebih, karena aku belum memaafkan kamu '' suara Alira dari arah belakang membuat Febrian menoleh . Wanita itu berdiri dengan tatapan dingin dan tajam .
__ADS_1
Febrian menghela nafas, mencoba tersenyum menatap wanita yang masih menyimpan luka darinya.
'' Tidak apa-apa,aku layak mendapatkan hukuman itu darimu. Yang terpenting saat ini kamu ada di sampingku, aku bisa menatapmu setiap saat. Kamu tahu Ra ?,aku gila tanpa kamu .'' tutur Febrian dengan tatapan mata yang begitu dalam. Alira melengos,tak mampu menyelami tatapan mata lelaki yang masih menguasai hatinya.
'' Tidak apa-apa, kalau kamu belum bisa menatapku seperti dulu. Karena semua memang salahku,tapi ijinkan aku untuk kembali menumbuhkan cinta itu. '' tutur Febrian, tenggorokan Alira terasa tercekat. Dadanya berdebar kencang, belum apa-apa lelaki itu telah membuatnya kembali terjatuh pada pesonanya.
Alira tak ingin menunjukkan perasaan yang sesungguhnya. Ia tak ingin lelaki itu terlalu percaya diri. Meski harus ia akui cintanya belumlah berubah. Dia terlalu bodoh karena cinta, bahkan saat cinta itu menyakiti dirinya. Namun rasa benci yang ada tak mampu menghapus rasa cinta yang bersemayam di dada.
'' Dan aku berharap, kamu tidak akan menorehkan luka yang sama '' ketus Alira .
'' Aku memang gak bisa janji untuk jadi manusia terbaik,tapi aku bisa janji kalau aku akan terus memperbaiki diri. Aku gak bisa jadi manusia sempurna,tapi aku akan terus berusaha untuk tidak lagi membuatmu terluka. '' ujar Febrian. Alira menatap mata lelaki itu. Ada ketulusan di sana. Bukan sekedar ucapan rayuan manis belaka. Alira tak menyahut , wanita itu memilih pergi.
Febrian menatap punggung yang kian menjauh meninggalkan dirinya. Ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan lagi cinta wanita itu. Ia tak ingin lagi jauh dari wanita yang sedang mengandung benih buah cinta mereka. Febrian berharap dengan lahirnya bayi itu nanti cinta mereka kembali merekah.
'' Aku janji Ra,aku akan jadi suami dan ayah yang baik untuk kalian '' gumam Febrian, berbicara sendiri dengan seulas senyum tipis. Hari ini ia benar-benar bahagia kembali menemukan wanita yang begitu di rindunya.
Dan lagi bayangan memiliki seorang bayi , membuat dadanya mengembang. Tak bisa di sangkal jika hadirnya janin itu buah dari kesalahan. Namun ia tak mau kelak bayi itu lahir sebagai sesuatu yang salah. Ia menginginkannya, mengharapkan kehadiran buah dari cinta itu meski ia ada dengan cara yang salah.
__ADS_1
Cukup ia menerjang norma yang ada atas dalih cinta. Biarkan dosa itu melekat erat dalam dirinya. Namun ia akan menjaga buah cinta itu dengan segenap jiwa dan raga.
Febrian melangkah meninggalkan tepi pantai setelah langit mulai menggelap. Ia harus segera ke penginapan, menghubungi kedua orang tuanya untuk mengabarkan pernikahan dadakannya.