
Terlihat sepasang suami istri berada dalam ruang rawat. Tak ada suara yang keluar dari bibir keduanya. Namun tampak sang lelaki yang sedang menyuapi istrinya. Tatapan mata Alira tak lagi memancarkan kebencian pada lelakinya.
Febrian telah menjelaskan apa yang terjadi dengan bukti rekaman video yang telah Rasya kumpulkan. Tak ada tanggapan dari sang istri. Namun tatapan wanitanya yang telah melembut membuat hati Febrian cukup lega. Lelaki itu tak akan memaksa untuk wanitanya mengerti. Ia cukup memahami tentang diri yang terlanjur menancapkan duri dalam hati sang istri.
" Udah,kenyang " lirih Alira saat Febrian hendak menyuapkan kembali nasi pada sang istri.
" Sedikit lagi sayang " bujuk Febrian namun Alira segera menutup mulut dengan telapak tangannya. Dan menggeleng, tak mau lagi membuka mulut. Febrian tersenyum kecil, kemudian mengusap lembut kepala istrinya sebelum meletakkan piring yang masih tersisa sedikit makanan Alira.
" Ya udah gak apa-apa" ucap Febrian. Lelaki itu bangkit dari kursi dan mengambil buah apel yang berada di atas meja. Dicucinya buah tersebut di wastafel yang tersedia dalam ruangan. Kemudian dikupasnya buah itu dengan pisau yang telah ia sediakan. Setelah menjadi potongan kecil-kecil, Febrian kembali duduk di kursi sebelah ranjang. Dengan piring berisi buah yang telah di potongnya.
__ADS_1
'' A' sayang '' ucap Febrian seraya menyodorkan potongan buah yang di tusuk menggunakan garpu. Alira menatap sang suami , sorot mata keduanya bertemu. Tangan Alira terangkat dan mengusap lembut pipi Febrian. Lelaki itu tertegun dengan tangan yang masih terulur di depan bibir sang istri.
'' Maaf '' lirih Alira. Wanita yang kini terlihat lebih segar itu menunduk dengan mata berkaca-kaca. Febrian meletakkan piring buah serta garpu yang dipegangnya. Meraih dua sisi pipi sang istri dengan dua belah tangannya.
'' Jangan minta maaf, kamu gak salah. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah lalai menjaga kalian ''tutur Febrian lembut. Butir bening air mata mengalir di pipi Alira. Febrian mencondongkan tubuhnya dan meraih wanitanya dalam pelukan.
'' Maaf,maaf karena aku mudah terpengaruh dan gak percaya sama kamu mas. Seharusnya gak gini, seharusnya aku percaya sama kamu. Tapi...'' ujar Alira dalam isak tangisnya.
Sepasang suami istri itu saling berpelukan dalam tangis yang tak bisa lagi tertahan. Tangis dari seorang wanita yang merasa belum bisa menjadi pendamping yang baik dan mengerti sang istri. Dan tangis seorang lelaki yang menyesali perbuatannya di masa lalu.
__ADS_1
Karena apa yang terlanjur di lakukan oleh dirinya di masa lalu telah meninggalkan luka yang tak terlupakan . Membuat lubang dalam hati yang tak mampu lagi tertutupi meski curahan cinta ia berikan. Namun jejak luka itu masih tetap ada. Bagai kaca pecah yang tak bisa meninggalkan guratan retaknya meski mampu di satukan kembali.
Keduanya saling melepaskan pelukan, menatap dalam mata masing-masing. Febrian mengusap air mata sang istri dan mengecup kelopak mata itu. Alira terpejam menikmati debaran dalam dada atas perlakuan manis yang selalu di lakukan oleh lelakinya.
Febrian meraih tangan sang istri dan menggenggamnya dengan lembut. Dua pasang bola mata itu saling menatap dalam diam. Febrian mengusap lembut pipi sang istri dengan sebelah tangan lainnya. Hingga tatapan matanya terarah pada bibir yang masih tampak pucat. Di usapnya bibir itu dengan ibu jarinya. Perlahan lelaki itu mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibir mereka. Sesaat keduanya tenggelam dalam pertemuan dua bibir yang sedang mencurahkan kerinduan lewat sebuah ciuman lembut namun memabukkan.
Cukup lama keduanya meleburkan rindu itu, hingga Febrian melepaskan bibirnya dan membawa sang istri dalam pelukan. Menghujani kepala istrinya dengan kecupan sayang.
'' Aku tak mungkin bisa memutar waktu dan merubah apa yang sudah terlanjur terjadi. Aku tak mungkin bisa mengembalikan segalanya seperti semula. Tapi ijinkan aku mengabdi di sisimu di sisa hidup yang aku miliki. Untuk menebus kesalahanku di masa lalu. '' Ucap Febrian,tak ada kata yang mampu terucap dari bibir Alira. Ia tak menyangkal bahwa cinta di hatinya masih sama besar untuk lelakinya. Namun entah sampai kapan ia bisa melepaskan diri dari rasa was-was dan khawatir akan sebuah pengkhianatan yang baginya bisa saja terjadi.
__ADS_1
Perutnya yang membesar, tubuh yang tak lagi langsing seperti dulu. Membuat dirinya merasa tidak percaya diri. Apalagi nanti setelah melahirkan, tubuhnya pasti tak akan mudah untuk mengembalikan seperti semula. Rasa khawatir itu hanya mampu tersimpan rapat di hatinya. Menambah rasa khawatir dan rasa curiga pada sang suami. Namun siapa yang bisa mengendalikan soal hati ?.