
Pemandangan di hadapan Febrian cukup membuat goyah hatinya. Anya dengan lingerie super seksi tidur berbaring dengan pose menggoda. Tak bisa di pungkiri betapa wanita itu memiliki aset yang menggiurkan. Dada besar,perut rata dan wajah yang sensual. Nafsu lelaki mana yang tak menggelegak saat melihat pemandangan itu.
Febrian mematung di ambang pintu, niatnya untuk mengusir wanita itu seketika musnah dari otaknya. Pikirannya sudah melalang buana, menyusuri tubuh indah yang tersaji di hadapannya. Anya tersenyum menggoda, dengan gerakan tubuh yang sensual.
Aliran darah Febrian seperti mendidih,rasa panas menjalar di sekujur tubuhnya. Degub jantungnya tak terkendali. Hasratnya membumbung, membutuhkan pelampiasan. Namun entah mengapa kakinya tak ingin melangkah.
Meski otaknya seakan telah mencumbui wanita itu dengan fantasinya. Tapi tubuhnya membatu, menatap nanar pemandangan menggiurkan di hadapannya.
Dengan gerakan yang begitu erotis, Anya bangun dari tempat tidur. Melangkah mendekati Febrian yang tak kunjung mendekat. Gerak gemulainya menyentuh dada Febrian dengan ujung jarinya. Bibir seksinya ia gigit untuk memancing gairah lelaki di hadapan dirinya itu.
Sentuhan Anya sungguh menggoda ke lelakian Febrian. Nafasnya mulai memburu saat sentuhan wanita itu semakin intens dan mulai menjalar pada area sensitifnya. Febrian memejamkan mata, menikmati sentuhan yang membuatnya menggila.
Benda kenyal menempel di bibirnya, melumaat dengan lembut. Memancing Febrian untuk membalas ciuman yang mulai memanas. Nafas kasar mulai membuat Febrian tersengal, gairah telah menguasai diri. Ia mulai membalas ciuman dari Anya. Membuat wanita itu tersenyum puas. Ia telah memenangkan pertandingan.
Cumbuan keduanya semakin memanas, menyisakan suara decapan bibir yang beradu. Sampai ketika perburuan kenikmatan sementara itu semakin jauh. Saat Anya mulai membuka kancing kemeja Febrian. Tiba-tiba lelaki itu memegang tangan Anya, menghentikan apa yang sedang wanita itu lakukan.
'' Stop Nya, aku gak bisa '' ucap Febrian setelah melepas ciuman mereka. Anya mengernyit bingung, mendapati Febrian yang dengan mudahnya menghentikan kegiatan saat sedang tinggi-tingginya.
'' Maksud kamu apa ?'' sarkas Anya dengan tatapan nyalang. Febrian menggelengkan kepala.
'' Aku gak bisa '' ucapnya sambil berlalu dari hadapan Anya. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan wanita itu dengan emosi yang siap meledak.
Sampai di dalam kamar mandi, Febrian menyandarkan diri di tembok, menutup kedua matanya. Butir air bening mengalir di pipinya. Rasa bersalah itu menggunung, menumpuk dalam rongga dadanya.
__ADS_1
Saat ia mencumbu Anya, sekelebat bayangan Alira datang dengan tatapan kecewanya. Lagi-lagi ia mengkhianati kekasihnya itu.
" Maafin aku Ra '' ucap Febrian yang kini melorot duduk di lantai kamar mandi.
Wajahnya tertunduk dengan derai air mata yang kini mengalir dari sela bola matanya. Mengerang frustasi atas rasa bersalah yang mengungkung batinnya.
Cukup lama lelaki itu tergugu, dalam tangis pilu karena rasa salah yang menghantui dirinya. Setelah cukup tenang, Febrian membersihkan diri. Cukup lama lelaki itu berada di kamar mandi. Berharap Anya telah pergi dari kamarnya,saat ia keluar dan kembali ke kamar.
Namun dugaannya salah, wanita itu masih di sana. Masih dengan lingerie membungkus tubuh indahnya. Menatap tajam Febrian yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk sebatas pinggang.
Menghela nafas saat melihat wanita itu masih duduk di ranjang miliknya. Febrian tak perduli,ia mengambil pakaian ganti dan memakainya. Setelah mengeringkan rambut,dan mengembalikan handuk ke kamar mandi. Febrian hendak beranjak keluar dari kamar.
'' Mau kemana kamu ?'' tanya Anya dengan tatapan membunuh.
Plak
Sebuah tamparan sukses mendarat dengan sempurna di pipi Febrian. Lelaki itu melongo seraya memegangi pipinya yang di pastikan kini memerah.
'' Bener-bener brengseek kamu ya,gak semudah itu kamu bisa buang aku Bri ''seru Anya dengan tatapan nyalang.
'' Nya, aku udah gak bisa terusin hubungan ini. Ini salah Nya '' tutur Febrian yang di sambut tawa getir Anya.
'' Salah ?, dari awal kita emang udah salah Febrian . Terus kenapa baru sekarang kamu merasa bersalah ?. Setelah cewek kamu pergi, kamu baru merasa bersalah ? Iya ?'' cerca Anya dengan tatapan penuh amarah.
__ADS_1
'' Maaf Nya,tapi aku bener-bener gak bisa terus sama kamu '' ucap Febrian dengan nada rendah.
'' Kenapa ?, Kenapa gak bisa ?'' teriak Anya yang tampak frustasi.
'' Aku gak cinta sama kamu Nya,aku cintanya sama Alira. Sorry '' ujar Febrian. Anya tertawa getir. Dan air mata mengalir dari pelupuk matanya.
'' Gak cinta ?, jadi selama ini kamu gak cinta sama aku ?,terus yang kita lakuin atas dasar apa Febrian Dirgantara ?'' tanya Anya di sela tangis yang tak terbendung lagi.
'' Maaf Nya,tapi emang aku gak pernah cinta sama kamu '' ucap Febrian, Anya tergugu menutup mulutnya dengan telapak tangan. Hatinya remuk dalam sekejap. Ia segera memakai blazer dan rok untuk menutupi lingerie yang ia gunakan. Air matanya tumpah tak terbendung. Dengan tangis Anya mengambil tas yang tergeletak di atas meja, berlari menabrak pundak Febrian meninggalkan kamar lelaki itu.
Seharusnya ia sudah tahu, semua akan seperti ini. Dari awal dialah orang ketiga. Dan dia tahu itu. Namun dengan rasa percaya dirinya ia pasti bisa mengambil hati Febrian. Hingga menjadi lelaki itu benar-benar miliknya. Ternyata ia salah, nyatanya lelaki itu hanya menjadikan dirinya pelampiasan nafsu saja.
Tak pernah ada cinta, tak pernah ada rasa. Ia telah gagal merebut lelaki itu dari kekasihnya. Bahkan saat wanita yang di cintai lelaki itu mengetahui hubungan mereka dan pergi. Ternyata cinta itu tetap tak bisa ia raih. Anya menangis tergugu, merasa membodohi diri sendiri. Berharap bisa menggenggam cinta seorang Febrian Dirgantara.
Sementara di dalam kamar, Febrian duduk termenung di tepi ranjang. Memijit pangkal hidungnya dengan jari telunjuk dan jari jempolnya. Kepalanya berdenyut sakit, dalam sekejap dia telah menyakiti dua wanita. Apa pun status Anya di hatinya, namun ternyata wanita itu memiliki rasa cinta yang nyata.
Tapi Febrian tak bisa lagi bermain-main,ia harus melepaskan Anya agar tak semakin terluka. Ia memang lelaki brengseek yang lebih menggunakan nafsu dari pada akal sehatnya
Tadi hampir saja ia menyentuh lagi Anya dalam balutan gairah yang membumbung dari dalam diri. Akalnya tak berfungsi dengan baik saat gairah itu menyapa. Untung saja, bayang tentang wanitanya datang menghampiri.
Dan kini rasa bersalah itu menggelayut dalam hati. Saat ia sedang berusaha menemukan cintanya,tapi godaan datang,dan ia hampir saja membiarkan dirinya tenggelam bersama hasrat yang membara.
Febrian memejamkan mata, menikmati sepi yang menyambut malamnya. Dan bayang itu menyapa ,bayang wanita yang begitu di rindunya.
__ADS_1