
Sore menjelang, tampak Alira bersiap dengan koper berisi pakaian milikinya. Dengan sigap Febrian membawa koper tersebut masuk ke dalam mobil yang hendak mengantar mereka menuju bandara.
'' Bi Sari, makasih banyak ya, selama ini sudah jadi teman,ibu,dan saudara yang baik buat Alira. Alira pamit ya bi.'' ucap Alira berpamitan pada Bi Sari yang berdiri di teras rumah. Wanita itu memeluk Alira dengan sayang.
'' Sama-sama non,Bibi juga seneng ada non Alira di sini. Baik-baik di sana ya non. Percaya saja bahwa semua rencana Tuhan adalah yang terbaik. '' tutur Bi Sari bijak. Alira mengangguk dalam pelukan wanita itu.
Bergantian mereka berpamitan pada Bi Sari, mengucapkan terima kasih pada wanita itu karena telah menjaga Alira. Dalam perjalanan menuju bandara Alira duduk diantara dua orang tuanya. Tak banyak yang mereka bicarakan. Ibu hanya terus membelai rambut sang putri dengan penuh kasih sayang.
Sampai mereka di bandara dan tak menunggu terlalu lama , pesawat yang mereka tumpangi segera take off. Alira duduk berdampingan dengan Febrian. Febrian yang merasa selalu salah di hadapan sang istri memilih diam. Ia hanya menggenggam tangan Alira di sepanjang penerbangan. Meski beberapa kali Alira mencoba melepaskan tangannya namun lagi-lagi Febrian meraih tangan itu dan di genggamannya dengan lembut. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengembalikan rasa cinta yang di miliki Alira padanya.
Turun dari pesawat,kini Febrian berdiri berhadapan dengan Bapak dan Ibu sembari menggenggam tangan Istrinya.
'' Ibu dan Bapak langsung pulang. Kalian baik-baik di sini. Jika ada perselisihan di antara kalian selesaikan dengan baik-baik. Jangan hanya memikirkan ego kalian sendiri. Ada nyawa tak berdosa yang bergantung pada kalian. Jaga dia baik-baik. Jangan membuat kesalahan dua kali dengan mengabaikannya .'' ucap Bapak pada sepasang suami istri di hadapannya. Febrian mengangguk kemudian menyahut.
'' Baik Pak,saya janji semampu yang saya bisa akan menjaga mereka dengan baik.'' Bapak menepuk pundak sang menantu.
'' Saya sudah menyerahkan tanggung jawab ku padamu. Jaga dia, cintai dia,jangan lagi sakiti dia. Jika kamu mengulang kesalahan yang sama lagi. Saya akan mengambil kembali putriku. Saya masih mampu untuk mengurusnya. '' ucap Bapak dengan tatapan menusuk.
__ADS_1
''Saya janji tidak akan menyakiti Alira lagi Pak.'' sahut Febrian mantap.
" Saya pegang janjimu " ujar Bapak penuh penekanan. Febrian mengangguk mantap. Dua lelaki berbeda generasi itu saling tatap seakan menunjukkan kemampuan masing-masing. Sampai kemudian, Bapak memeluk Febrian dan menepuk punggung lelaki itu dengan pelan.
" Bapak percayakan Alira padamu,jaga dan lindungi dia lebih baik dari Bapak ". tutur Bapak dengan nada bijak.
'' Akan saya usahakan semampu saya Pak ". Bapak melepas pelukannya pada Febrian, kemudian menghampiri sang putri yang tampak berkaca-kaca.
Tanpa kata,Alira langsung memeluk Bapak. Air matanya tak bisa lagi di tahan. Ia menangis dalam pelukan bapak. Ia bisa merasakan betapa kasih sayang itu sangatlah besar dari Bapak untuk dirinya.
'' Jadilah istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak-anak mu. Maafkan bapak yang belum bisa menjadi bapak yang baik untuk mu ''. tutur Bapak, yang semakin membuat Alira terisak dalam tangis.
'' Jaga diri baik-baik '' pungkas Bapak setelah melepas pelukan sang anak. Alira mengangguk dengan air mata yang masih tumpah di pipinya.
Berganti ibu yang memeluk anak perempuannya.
'' Jaga kesehatan mu, jaga baik-baik yang sudah Tuhan amanah kan padamu. Dia adalah titipan, apapun alasannya kamu tidak boleh menyia-nyiakannya. Sayangi dia lebih dari ibu menyayangi mu '' ucap Ibu yang kini mengusap air mata anaknya seraya menatap teduh bola mata itu. Kemudian mengecup kening anak perempuannya.
__ADS_1
'' Jadilah istri yang baik danbpatuh terhadap suami mu '' pesan ibu yang terasa berat untuk Alira. Bisakah ia menjadi istri yang baik ?,di saat hatinya masih berselimut luka ?.
Perpisahan dengan kedua orang tuanya, membuat Alira terus meneteskan air mata di sepanjang perjalanan pulang. Rasa sesal menggelayut di hati. Atas kecewa yang telah ia torehkan di hati kedua orang tuanya. Febrian mengerti wanitanya sedang menikmati perasaannya sendiri. Ia hanya meraih tangan Alira dan menggenggam nya, Seakan menyampaikan bahwa kini wanita itu tak sendiri. Ada dirinya yang akan selalu siap siaga menggema tangannya. Menjadi tumpuan dalam hidup.
Suami istri itu duduk di kursi belakang dengan Erza dan Hardi yang membisu di depan. Hardi fokus dengan jalanan di depan, sedang Erza terpejam meski entah ia tidur atau hanya sekedar memejamkan mata saja.
Hening menyelimuti perjalanan mereka menuju kediaman Febrian. Meski ada empat kepala di dalam mobil milik Febrian yang dikemudikan oleh Hardi itu.
Sampai saat mobil berbelok di sebuah perumahan yang tergolong elit di daerah tersebut. Alira menyipitkan matanya yang sudah tidak lagi mengeluarkan air mata.
'' Kita mau kemana ?'' tanya Alira yang bingung dengan arah yang di tuju. Wanita itu menatap suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya.
'' Pulang sayang '' sahut Febrian seraya membelai rambut hitam panjang milik sang istri.
'' Kok kesini ?'' sambung Alira yang masih mengamati lingkungan rumah yang hendak mereka tuju.
'' Pulang ke rumah kamu,aku udah gak punya rumah ,Yang ''. ucap Febrian dengan diakhiri seulas senyum manis. Alira tampak tak mengerti. Saat hendak mengajukan lagi pertanyaan mereka sampai di halaman sebuah rumah berlantai dua. Dengan gaya bangunan minimalis yang tampak cantik. Alira masih terbengong di dalam mobil, Febrian dengan cekatan turun dan membukakan pintu untuk wanitanya.
__ADS_1
Alira tampak terkesima melihat rumah dengan model impiannya kini ada di hadapannya.
'' Welcome home Sayang '' ucap Febrian yang tersenyum puas melihat istrinya terkesima dengan rumah yang memang ia khususkan untuk sang wanita .