Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Bagaimana dengan Aku ?


__ADS_3

Sore itu, Alira telah selesai berkemas. Tampak wanita itu duduk sendiri,termangu di ayunan yang terdapat di dekat kolam ikan. Sampai detik ini ia belum tahu siapa yang memberi tahu orang tuanya tentang keberadaan dirinya di sana. Vivian seperti menghilang,tak ada kabar dari wanita itu.


Alira menghela nafas, berharap memang yang terjadi adalah yang terbaik. Ia tak boleh egois,ada janin yang harus ia jaga. Ada anak yang membutuhkan sosok seorang ayah.


'' Mbak '' suara Tino membuat Alira terhenyak, reflek wanita itu menoleh dan mendapati lelaki itu tersenyum padanya.


'' No,kemana aja,aku gak lihat kamu dari kemarin ?'' tanya Alira yang tak melihat pemuda itu sejak kedatangan orang tuanya.


'' Gak kemana-mana kok Mbak '' sahut Tino yang kini duduk di ayunan yang terdapat di sebelah Alira.


'' Maaf tadi pagi gak datang di acara nikahan mbak Alira. Selamat ya Mbak '' lanjut Tino tulus tanpa menatap wanita di sampingnya. Alira tersenyum getir, menoleh sejenak pada lelaki yang selama ini menjadi temannya.


'' Menurut kamu,apa ini yang terbaik No ?'' tanya Alira yang masih dihantui rasa ragu.


'' Menurut ku ini lebih baik daripada Mbak harus melewati semuanya sendiri. Ada hal yang mungkin akan mbak sesalkan jika semua ini tidak terjadi. Percaya saja, Tuhan selalu punya rencana untuk hal yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan '' ucap Tino. Keduanya saling bertatapan dengan senyum terkembang di bibir Alira.


Senyum yang selalu bisa menghipnotis seorang Tino untuk masuk terlalu jauh dalam hidup wanita itu. Namun ia sadar,harus melangkah sejauh apa.

__ADS_1


'' Maaf ya Mbak, kalau aku terlalu mencampuri urusan Mbak Alira '' sambung Tino,yang merasa telah terlalu jauh memasuki kehidupan wanita yang diam-diam mengusik hatinya.


'' Gak apa-apa ,makasih ya sudah perhatian dan udah care sama aku. Malam nanti aku pulang. Kamu baik-baik ya. '' Tino tersenyum tipis sembari mengangguk. Meski sejujurnya ada rasa berat di hatinya , karena mungkin tak akan pernah lagi melihat wanita itu . Namun ia tak bisa menahannya untuk tetap di sana bersama dirinya. Karena ia tak bisa menjanjikan apapun untuk wanita itu.


'' Mbak Alira juga baik-baik di sana. Terima kasih sudah jadi teman yang baik buat saya " tutur Tino,Akira tersenyum dan memberanikan diri menggenggam tangan lelaki yang sangat baik baginya.


'' Terima kasih buat semuanya,Bi Sari pasti bangga punya anak seperti kamu. '' ujar Alira dengan senyum tulus,Tino terperangkap dalam senyum dan tatapan yang membuatnya membatu.


'' Ehmm '' suara orang berdehem di belakang mereka membuat keduanya menoleh bersamaan. Febrian berdiri dengan dua tangannya masuk ke dalam saku celana. Menatap angker pada Tino yang belum menyadari tangan Alira yang masih menggenggam tangannya. Saat tatapan tajam itu tertuju pada tangan,baru Tino menyadari dan dengan cepat menariknya dari genggaman Alira.


Alira menatap tak perduli pada sang suami . Berbeda dengan Tino yang sudah salah tingkah di bawah tatapan elang Febrian.


Alira berdiri dan turun dari ayunan. Melangkah hendak meninggalkan Febrian, tapi langkahnya tertahan saat Febrian menyekal pergelangan tangannya. Alira menatap Febrian dengan tatapan menantang.


'' Dia siapa ?'' tanya Febrian yang sepertinya di kuasai rasa cemburu.


'' Temen '' sahut Alira, yang sepertinya juga tak ada niat untuk menjelaskan tentang Tino.

__ADS_1


" Kalau cuma temen ngapain kamu pegang-pegang tangan dia kayak gitu ?'' ungkap Febrian yang sudah tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya. Alira tersenyum miring, menatap Febrian dengan tatapan dinginnya.


'' Kenapa ?, cemburu ?'' sinis Alira dengan tatapan tak lepas dari mata sang suami.


" Iyalah,aku suami kamu Ra,gak ada yang yang boleh nyentuh kamu selain aku ''. ucap Febrian,Alira tertawa sumir.


'' Aku baru pegang tangan dia lho Mas,apa kabar perasaan aku yang lihat kamu bercinta dengan wanita lain ?'' tanya Alira dengan mata tajamnya yang membuat Febrian tersentak. Genggaman tangan Febrian di pergelangan tangan Alira sedikit mengendur. Gemuruh hatinya membuatnya tersengal. Perasaan bersalah itu kian membuncah.


Benar yang di katakan Alira,ia baru melihat tangan Alira memegang tangan lelaki lain saja rasanya sungguh menyesakkan . Bagaimana perasaan Alira yang melihat dirinya mengungkung wanita lain ?. Febrian tak bisa membayangkan betapa hancur hatinya.


Lelaki itu menarik tubuh Alira dan di peluknya dengan erat tubuh wanita itu. Tak ada yang bisa terucap dari bibir sang lelaki selain kata maaf.


'' Maaf Ra,maaf '' lirih Febrian penuh penyesalan. Di kecupnya kepala sang istri berkali-kali. Alira bergeming,ia bisa merasakan ketulusan dari setiap permintaan maaf dari suaminya. Namun rasa sakit yang masih bersemayam di hati. Membuat dirinya menutupi semua rasa yang sebenarnya masih ada dalam hati.


Alira melepaskan diri dari pelukan Febrian. Menatap lekat wajah tampan yang berdiri di hadapannya. Mengusap wajah Febrian dengan jari-jari lentik itu.


'' Kamu tahu Mas, bagaimana aku di buat jatuh bertekuk lutut oleh cinta yang kamu tawarkan ?. Bagaimana aku tergila-gila oleh wajah ini ?. Bagaimana aku merasakan cinta yang begitu besar dan membuatku terlena ?. Hingga kesalahan fatal itu terjadi atas dalih cinta. Tapi aku tak menyesali saat itu karena lelaki itu kamu. Sekarang apa yang bisa kamu tawarkan setelah luka yang telah kau gores kan di hatiku ?. Maaf ?. Kata itu tak akan bisa mengembalikan keadaan. '' tajam ucapan yang terlontar dari bibir Alira.

__ADS_1


Febrian menundukkan kepala, merasakan ke piluan yang di rasa sang wanita. Ia meraih tangan Alira yang masih bermain-main di wajahnya. Di kecupnya telapak tangan sang istri dengan begitu lembut.


'' Tak ada yang bisa ku tawarkan selain hatiku Ra.'' ucap Febrian seraya membawa tangan sang kekasih untuk menyentuh dadanya. Dada yang selalu berdebar saat bersama wanita itu. Dada yang menyimpan sebuah hati yang hanya menuliskan satu nama '' Alira Cahya Kamila ''.


__ADS_2