Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Kacaunya Febrian


__ADS_3

Berantakan,satu kata itu yang mampu menjelaskan betapa tidak teraturnya hidup seorang Febrian. Rambutnya kini di biarkan panjang, dengan wajah di tumbuhi jambang,kumis dan jenggot yang tak di rawat dengan baik. Tubuhnya tampak lebih kurus dari tiga bulan lalu.


Mata cekung dengan lingkar hitam di sana. Menunjukkan bahwa lelaki itu sering menghabiskan malam dengan begadang. Semakin hari lelaki itu semakin dingin sikapnya. Jarang sekali ada senyum di bibir lelaki itu.


Hidupnya hanya berkisar antara di kantor, rumah dan club malam untuk sekedar minum. Melepaskan segala resah yang menggelayut dalam benaknya. Semakin hari bukannya dia bisa melupakan Alira dalam hidupnya justru semakin ia merindukan wanita itu.


Bayang rasa bersalah seakan terus mengikat hatinya pada wanita yang kini menjadi satu-satunya yang tinggal di hatinya. Semenjak kepergian Alira dengan luka yang di bawanya membuat hatinya seakan mati. Tak ada hasrat untuk sekedar melampiaskan gairah dalam tubuhnya. Hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja.


Anya tak lagi mengganggu hidupnya, wanita itu telah menarik semua modal usaha yang di pinjamkan pada lelaki itu. Sempat terpuruk jatuh usaha yang di bangun Febrian, namun kini perlahan telah membaik. Yang tak kunjung baik tinggal hatinya.


Awan gelap seakan menaungi dirinya,tak ada seberkas cahaya yang mampu menembus ruang gelap hatinya yang di selimuti rasa bersalah dan rindu yang tak lekang termakan waktu.


'' Mau sampai kapan kamu kayak gini Bri ?'' tanya Erza yang menatap prihatin Febrian yang sedang menyesap minuman dalam gelasnya.


'' Sampai aku bisa ketemu Alira dan dapat maaf dari dia '' ucap Febrian dengan tatapan putus asa nya.


'' Bisa aja dia udah bahagia dengan kehidupannya sekarang. Atau dia udah nemuin seseorang yang tepat di hidupnya. Kamu gak bisa gini terus dong. Ayolah move on,ada banyak cewek yang ngantri, kalau penampilan kamu gak kayak gini. '' lanjut Erza.


Dua lelaki itu kini sedang duduk berdua, menatap langit yang menghitam di balkon rumah Febrian. Di temani segelas minuman hangat dan rokok yang di sela jari keduanya.


'' Aku harus mastiin dulu Alira bahagia dengan atau tanpa aku. Jika seandainya dia sudah menemukan orang lain dan dia bahagia, aku tidak akan memaksakan untuk ada di hidupnya. Aku hanya butuh maaf darinya '' ucap Febrian, setelah menghembuskan asap dari dalam mulutnya.


'' Sampai kapan Bri ?, kamu nunggu buat ketemu dia. Bolak-balik kamu dateng in rumahnya dan gak ada yang tahu keberadaan dia. '' ujar Erza. Febrian memang sudah berkali-kali mendatangi kediaman para tua Alira dari yang di sambut baik sampai saat ia berkata jujur tentang hal yang membuat Alira menghilang,ia pulang dalam keadaan babak belur di hajar kakak laki-laki nya Alira.


Tapi ia tak pernah berhenti datang. Sampai kata maaf pun ia dapat dari mereka. Ia hanya ingin membuktikan bahwa ia benar-benar menyesali perbuatannya. Dan kini mereka sama-sama sedang mencari keberadaan Alira yang hilang tanpa jejak.

__ADS_1


'' Kalau harus seumur hidup buat aku menunggu maaf dari dia akan aku lakukan Za '' mendengar perkataan sang sahabat,Erza hanya bisa menghela nafas.


Keduanya terdiam , menikmati semilir angin yang berhembus . Bersama sepi yang mulai merayap. Dua lelaki dewasa itu larut dalam pikiran masing-masing.


'' Hampir tiap hari kamu datengin kampus dia,gak ada gitu yang bisa di tanya ?'' ucap Erza yang sesungguhnya sudah tidak tahan lagi melihat kehancuran sahabatnya. Tak ada aura kehidupan yang terpancar dari wajah lelaki itu. Hanya ada aura gelap yang menyelimuti mendung wajahnya.


'' Satu-satunya yang tau keberadaan Alira hanya sahabatnya yang bernama Vivian. Tapi gadis itu tak tersentuh. Bahkan sekarang dia datang ke kampus dengan bodyguard. Setelah aku berkali-kali berusaha berbicara dengannya.'' terang Febrian, wajah sendunya sungguh memprihatinkan.


'' Punya fotonya ?'' tanya Erza. Febrian menggelengkan kepala.


'' Di sosmed nya Alira kali aja ada '' tambah Erza, Febrian merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Di bukanya sosmed miliknya dan mencari Alira untuk melihat-lihat foto milik sang wanita.


Ternyata ia sudah di blokir oleh Alira, sungguh wanita itu sudah bertekad hilang dari kehidupannya.


'' Bikin akun baru'' Erza memberinya sebuah ide. Tanpa menunggu lama, Febrian membuat akun baru dan setelah terdaftar ia segera mencari akun milik Alira.


Dan satu yang ia lewatkan selama ini. Yaitu sosmed,kini ia sedang berselancar di beranda milik Alira, melihat foto yang ternyata banyak yang baru diupload.


'' Pantai '' gumam Febrian yang masih terdengar oleh Erza.


'' Pantai apa ?''tanya Erza seraya merapat, hendak melihat apa uang Febrian temukan.


'' Dari foto yang Alira unggah, kayaknya dia tinggal di daerah pesisir.'' ungkap Erza yang melihat beberapa unggahan foto milik Alira.


Satu foto membuat Febrian tertegun, nampak Alira berdiri menyamping dengan pemandangan sunset di pantai. Dan satu yang membuat Febrian seakan berhenti bernafas. Perut Alira yang sedikit menonjol, karena dress selutut yang di pakai Alira tertiup angin.

__ADS_1


'' Apa mungkin Alira sudah menikah ?'' tanya Febrian dengan gemuruh di dadanya. Runtuh sudah pengharapan dirinya untuk bertemu sang wanita dan merangkai kisah dari awal kembali. Erza menatap foto yang membuat Febrian tertegun. Dan ia pun menangkap hal yang sama.


'' Tunggu,tapi kalau pun dia sudah menikah masa sudah kelihatan seperti itu perutnya ?'' analisa Erza membuat Febrian mengerutkan dahi. Menoleh dengan raut resah pada Erza yang menatapnya tajam.


'' Kamu ngerasa gak ?'' selidik Erza yang diangguki oleh Febrian.


'' Sekitar empat bulan lalu, waktu itu aku gak pake pengaman. Menurut kamu ?'' tanya Febrian,Erza menegakkan tubuhnya menatap dalam mata sahabatnya.


'' Fix dia anak kamu ''. ucap Erza yakin. Tangan Febrian bergetar , dadanya bergemuruh dengan hebatnya. Benarkah Alira sedang mengandung anaknya ?. Oh , sungguh ia sangat membenci dirinya sendiri jika itu sungguh yang terjadi. Dia telah menelantarkan dua nyawa sekaligus.


'' Kenapa dia pergi Za, seharusnya dia minta pertanggungjawaban dariku ?'' tanya Febrian dengan nada bergetar.


'' Mungkin gak malam dimana dia mergokin kamu lagi main sana Anya dia mau ngasih kabar itu ?'' .


Seketika Febrian membeku,tak bisa menjawab apa yang di lontarkan sahabatnya. Benar, bisa saja malam itu Alira hendak memberi tahukan itu padanya. Karena tidak biasanya malam-malam wanita itu datang kerumahnya.


Tampak Febrian mengguyar rambutnya, mengusap dengan kasar wajah kusut itu.


'' Aku harus nemuin dia Za,ini pasti alasan dia juga menghilang dari keluarganya. Please bantu aku Za '' ucap Febrian putus asa. Erza menepuk pundak sang sahabat.


'' Bakal aku bantu sebisa ku Bri ''. ucap Erza menenangkan sang sahabat .


Febrian menengadah menatap langit, terlihat samar bulan sabit tertutup awan. Air mata meleleh dari pelupuk mata lelaki itu.


'' Maafin aku Ra. '' rintihannya lirih.

__ADS_1


__ADS_2