
Menatap wajah tenang yang tertidur begitu pulas. Membuat Febrian tersenyum sendiri. Kini lelaki itu berjongkok di hadapan Alira yang terlelap. Mengecup sekilas bibir merona merah yang sungguh sangat dirindukan. Mengusap bibir itu dengan ibu jari . Perlahan dsn sangat lembut, karena tak mau mengganggu tidur sang istri.
Beralih menatap perut yang mulai terlihat membesar. Di usapnya dengan lembut,perut itu dari baju yang di kenakan Alira. Sebuah gerakan kecil membuat Febrian terbelalak. Rasanya sungguh luar biasa. Hatinya merasa sangat takjub saat pergerakan itu sungguh di rasa dirinya.
Febrian kini duduk di lantai menyamakan wajahnya dengan perut Alira.
" Hai jagoan Papa, baik-baik di dalam ya. Jangan nyusahin Mama ." lirih Febrian seraya mengusap perut istrinya. Kemudian lelaki itu memberikan ciuman hangat di perut Alira. Diraihnya telapak tangan wanita yang begitu tenang dalam lelapnya. Febrian membawa tangan itu di pipinya.
Perlahan rasa kantuk menyerang,saat Febrian menatap wajah istrinya tanpa jeda. Hingga akhirnya lelaki itu ikut terlelap sambil terduduk di lantai, sedang kepalanya beralaskan telapak tangan sang istri.
Sepasang suami istri itu tidur dengan lelap. Sampai tak menyadari bahwa gelap mulai menyapa. Ketukan di daun pintu beberapa kali terdengar, namun begitu lelap keduanya tertidur hingga tak mendengar. Rasya yang penasaran dengan apa yang terjadi di dalam ruangan memberanikan diri membuka pintu yang tak terkunci itu.
Lelaki bertubuh jangkung dengan wajah putih bersihnya itu tercengang melihat pemandangan di ruangan sang atasan. Ia memilih perlahan mundur dan penutup kembali pintu. Mengembalikan dokumen yang hendak ia serahkan pada sang atasan kembali ke meja kerjanya. Segera berkemas untuk pulang dan mengistirahatkan raganya yang terasa lelah.
Sedang sepasang suami istri itu masih juga terlelap. Sampai rasa lapar mengganggu tidur Alira . Perutnya terasa perih membangunkan ia dari tidur lelapnya. Wanita itu tampak mengerjapkan mata. Menyesuaikan dengan cahaya terang yang menyilaukan. Sedikit menyipitkan mata berusaha mengenali tempat dimana ia tertidur.
Setelah kesadarannya kembali, dan mengingat bahwa ia tertidur di ruang kerja suaminya. Ia merasa sedikit kebas di tangannya. Saat berusaha untuk diangkat terasa susah. Dan baru ia sadar jika tangan miliknya di jadikan bantal okeh sang suami.
Tatapan mata Alira melembut melihat lelaki itu tertidur dengan pulas dengan tubuhnya yang terduduk di atas lantai.
__ADS_1
'' Mas .'' panggil Alira , tak ada pergerakan dari Febrian.
'' Mas Brian .'' ulang Alira seraya menggoncang sedikit bahunya. Ia merasa kasihan melihat sang suami yang terduduk tanpa alas di lantai.
Febrian terlihat mulai mengerjap, tak lama kemudian ia terbangun. Dan yang pertama di lihat indera penglihatannya adalah wajah cantik sang istri.
'' Sayang udah bangun ya. Maaf aku ketiduran. '' lanjut Febrian,Alira mengangguk sambil meringis kecil. Febrian baru menyadari tangan istrinya masih dalam genggaman.
''Aduh maaf sayang maaf aku lupa .'' panik Febrian seraya memijit lembut tangan Alira.
'' Sakit ?.'' tanya Febrian.
Alira berusaha bangkit,duduk dengan menyisakan wajah kantuknya. Rasa lapar yang menyapa perut tak dapat lagi di tahan. Suara perutnya berbunyi hingga terdengar telinga Febrian.
Febrian tersenyum kecil, kemudian mengusap perut sang istri.
'' Anak Papa laper ya ?. Sebentar ya kita cari makan .'' tutur lembut Febrian. Membuat Alira merasa begitu sejuk di hatinya.
Tampak Febrian melihat jam di pergelangan tangannya. Dan lelaki itu cukup terkejut.
__ADS_1
'' Astaga,pantes aja anak Papa sudah laper. Udah jam delapan malam sayang.'' ucap Febrian sedikit keras dengan wajah menengadah menatap istrinya.
Tak menyangka mereka terlelap cukup lama. Alira tersenyum samar, batinnya tak bisa memungkiri bahwa ia selalu nyaman di dekat lelaki itu. Mungkin itu yang menjadi sebab dirinya begitu lelap.
'' Aku ke toilet dulu Mas, pengen pipis .''ujar Alira agar sang suami sedikit menyingkir. Karena ternyata lelaki itu masih saja duduk di lantai.
'' Iya Yang.'' jawab Febrian sambil beranjak dari duduknya. Febrian memberi jalan sang istri dan menunjukkan arah toilet yang terletak di dalam ruangannya.
Sambil menunggu istrinya keluar dari kamar mandi. Febrian kembali ke kursi kebesarannya. Menata beberapa dokumen yang belum sempat diperiksa. Suara pintu terbuka , Febrian menyudahi kegiatannya menata dokumen di meja.
'' Ayo saya sayang, kita langsung cari makan. Kasihan anak Papa pasti kelaparan.'' ujar Febrian yang langsung menyambar tas kerja,dan melangkah panjang ke arah sofa. Mengambil tas sang istri. Alira mengulurkan tangannya mengambil tas di tangan Febrian. Kemudian mengantungkan di bahunya.
Febrian meraih tangan Alira untuk di genggamannya. Sebelah tangannya dengan tas kerja, sebelah lagi menggandeng tangan Alira. Berjalan dalam sepinya perusahaan yang tak lagi ada karyawan. Sungguh bos yang berdedikasi sangat tinggi karena pulang paling akhir.
Febrian membawa Alira turun dari lantai atas dimana ruang kerja Febrian berada.
'' Mau makan di mana Yang ?.'' tanya Febrian sembari membukakan pintu mobil. Setelah mereka sampai di tempat parkir.
'' Terserah Mas aja. " jawaban yang sesungguhnya membingungkan. Benarkah kata terserah itu, benar-benar terserah ?. Namun Febrian tak lagi bertanya. Ia hanya perlu membawa ke restoran favorit sang wanita.
__ADS_1