Yang Tak Terlupakan

Yang Tak Terlupakan
Merasa Gagal


__ADS_3

Damai ,rasa yang menyelimuti hati Alira saat belai lembut jemari Ibu menari di atas kepalanya. Dalam sepi malam yang datang,ibu dan anak itu masih terjaga. Alira tidur di pangkuan ibu. Mereka berada dalam satu kamar, menikmati kebersamaan setelah lama tidak berjumpa.


Tanpa kata yang terucap dari bibir keduanya. Mereka sama-sama terdiam,bukan tak ada kata yang hendak tersampaikan. Namun lidah yang terasa keluh. Ibu sesekali menghela nafas lirih,memberi ruang dalam dada yang terasa sesak.


Banyak hal yang menggelayuti hati wanita itu. Rasa kecewa berbalut rasa bersalah yang hinggap dalam dada. Membuat rasa itu terasa menyesakkan. Seandainya ia tak melepas anak gadisnya untuk kuliah berbeda kota mungkin tak akan sejauh ini kejadiannya.


Tapi sesal tinggallah sesal, semua telah terjadi. Diratapi pun tak akan mengembalikan semua yang telah terenggut. Yang perlu sekarang di lakukan hanyalah mencoba memperbaiki diri.


'' Tidur nak sudah malam '' ucap ibu pada putrinya.


'' Iya bu '' sahut Alira. Alira memindahkan kepalanya ke bantal. Ibu tak beranjak dari ranjang anaknya. Beliau ikut berbaring, kembali mengusap kepala sang putri dengan lembut.


Beberapa saat ibu mengusap kepala Alira, hingga Alira tampak memejamkan mata. Nafasnya tampak teratur,ibu membelai wajah lelap itu dengan mata berkaca-kaca.


'' Ampuni hamba yang tak bisa menjaga titipan Mu Ya Allah '' lirih Ibu dengan penuh kesedihan. Air mata tak mampu terbendung lagi,rasa gagal menjadi orang tua lebih mendominasi dalam hatinya. Daripada rasa kecewa pada sang anak.


'' Aku sudah gagal membimbingnya ya Allah '' ucap ibu lagi, rasa sesak kian menghimpit dadanya. Membuat wanita paruh baya itu tersengal. Tampak ibu menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Menahan suara tangis yang hendak pecah.


Perlahan,agar tak mengganggu tidur sang putri. Ibu beranjak bangun dari ranjang,dan keluar dari kamar. Langkah wanita itu semakin cepat, dengan setengah berlari. Ibu pergi keluar rumah.

__ADS_1


Dibawah temaram lampu taman,itu terduduk di bangku yang berada di bawah pohon mangga. Tersedu dalam tangis yang begitu pilu. Tampak berkali-kali ibu memukul pelan dadanya sendiri. Rasa sesak kian menjerat hatinya. Rasa gagal menjadi seorang ibu yang mendidik dan mendampingi anak-anaknya membuat hatinya nelangsa.


Malam terus beranjak, mengantarkan keheningan. Ibu masih tergugu dalam pilu. Remuk hatinya, mendapati anaknya berbadan dua. Aib yang harus ia tanggung seumur hidup. Harus dengan apa menutupinya ?.


'' Bu '' suara berat itu memanggil ibu yang tertunduk dengan air mata yang terus mengalir. Ibu mendongakkan kepala, mendapati suaminya berdiri di sana.


'' Pak '' lirih Ibu yang kini kembali menutupi wajah dengan telapak tangan. Ayah mengusap lembut punggung sang istri, kemudian ikut duduk di sampingnya.


'' Sudah bu, semuanya sudah terlanjur terjadi. Ini ujian yang harus kita terima. Jalani dengan ikhlas bu ''. Bapak mencoba menenangkan isterinya seraya terus mengusap punggung wanita itu.


Ibu masih terisak dalam tangis, Bapak meraih tubuh sang istri dan membawanya ke dalam pelukan.


'' Ibu gagal Pak,ibu sudah gagal mendidik anak ''. ucap Ibu dalam pelukan suaminya.


Ibu mulai tenang dalam dekapan sang suami. Isak tangisnya telah reda. Bapak penuh dengan kesabaran dan kasih sayang, mengusap punggung dan sesekali mendaratkan kecupan di kepala sang istri.


'' Kita harus menyelesaikan kewajiban kita bu. Alira harus menikah dengan Febrian '' ucap Bapak,ibu hanya mengangguk dalam dekapan suaminya.


Dalam temaram malam,di bawah sinar redup sang bulan. Sepasang suami istri itu saling menguatkan. Mencoba ikhlas dengan apa yang sudah terlanjur terjadi. Dan bisa berdiri sebagai orang tua yang bijak untuk anaknya. Meski kesalahan itu terlalu besar dan tentu saja mencoreng wajah mereka . Namun anak tetaplah anak yang menjadi tanggung jawab mereka.

__ADS_1


Menghukum dan mengabaikannya bukanlah pilihan. Mereka harus tetap merengkuh dan membimbingnya agar tak terlalu jauh kehilangan arah. Membenci anak karena sebuah kesalahan bukanlah hal yang di benarkan. Karena mereka tetap anak kita , hal yang harus di pertanggung jawabkan hingga kelak saat raga telah terpisah dengan nyawa.


Tanpa sepasang suami istri itu tahu,di balik dinding yang tak jauh dari sana. Alira tampak terduduk dengan tangis tanpa suara. Ketika orang tuanya merasa gagal karena perbuatannya. Hatinya tersayat,ia telah melukai kedua orang tuanya.


Orang tua yang tak pernah mengecewakan dirinya kini, justru dirinya yang mengecewakan dan membuat luka yang begitu dalam. Kebodohannya yang terbuai akan manisnya cinta kini meninggalkan banyak luka.


Luka yang tak akan muda untuk disembuhkan. Alira terduduk dengan wajah yang ia telungkup di atas lutut. Semua sesal dan rasa bersalah kini menghujam semakin dalam. Sakit,sesak hingga bernafas pun terasa berat.


'' Ya Allah maafkan hamba '' tuturnya lirih dalam isak tangis yang tak henti. Bayangan wajah terluka yang tergambar di wajah kedua orang tuanya menari-nari di pelupuk mata. Alira tersengal-sengal menahan agar suara tangisnya tak terdengar.


Ia yang tadi hanya berpura-pura tidur,saat ibu masih berada di kamarnya. Dan saat ibu menangis dan menyalahkan diri sendiri atas dosa yang dilakukan oleh Alira. Membuat Alira tercekat.


Ia menyadari bukan hanya rasa malu dan kecewa yang ia torehkan di hati keduanya. Namun juga luka yang begitu dalam. Sungguh egois dirinya yang tak berpikir tentang mereka saat ia terbuai dosa manis itu.


Mungkinkah ini balasan Tuhan atas dosa yang terlanjur ia buat ?. Di duakan saat cinta itu masih merekah indah. Ia merasa bahwa dunianya telah hancur,bahwa hatinya lah yang paling terluka. Tapi ternyata ia salah.


Dunia tenang ,damai, dan nyaman kedua orang tuanya lah yang telah ia hancurkan. Ia porak-porandakan dengan segala salah yang ia lakukan. Ia menyakiti hati mereka melebihi rasa sakit yang Febrian berikan padanya.


Cukup lama Alira terduduk di sana, hingga rasa sakit terasa di perutnya. Wanita itu tampak berusaha menenangkan diri. Mengurangi rasa sakit yang melilit perutnya.

__ADS_1


Tampak Alira meluruskan kaki, menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Rasa sakit yang menjalar di perutnya sedikit berkurang perlahan-lahan. Alira ya g melihat Ibu dan Bapak yang saling berpegangan berdiri dari kursi taman.


Secepatnya Alira masuk ke dalam kamar. Membungkus diri dalam selimut. Menghapus sisa air matanya dan kemudian berusaha terpejam. Meski hatinya masih menyisakan rasa sesak.


__ADS_2