Zombie

Zombie
1: Hidup


__ADS_3

"Aku kehabisan peluru, Nanda, cepat!"


"Tidakkah kukatakan untuk penghematan peluru?!”


"Sial,jangan mengganggu dan ke belakang saja kalau kehabisan peluru!”


“Cepat Nanda! Berikan aku peluru!"


"Kau istirahat! Pergi ke belakang!"


"Jangan—"


“PERGI KE BELAKANG!”


Teriakan demi teriakan silih berganti diiringi dengan geraman dan suara tembakan yang teredam. Beberapa sosok berdiri di depan sebuah bangunan yang rusak, berbaris membentuk pertahanan dengan senjata di tangan. Mayat-mayat hidup bergerak dengan agresif, mengeluarkan geraman diantara gigi mereka yang beraroma bangkai seolah marah dengan pergerakan perlawanan pada segerombol makanan.


Warna hitam darah keluar, memotong kulit kelabu yang tebal dan keras. Namun, meskipun telah diserang dengan api, tembakan dan bahkan dipotong menjadi daging cincang, para mayat hidup tidak mengenal rasa sakit. Berjalan dengan gigih, menyerang daging segar yang menjadi makanan mereka.


Wanita dengan rambut pendek dipotong tidak merata itu menggeretakkan gigi. Tubuh kurus dengan kulit tertutup debu dan lumpur menatap tajam ke arah beberapa mayat hidup. Ia bersembunyi dibalik mobil yang tidak mampu berjalan.Tidak henti bergerak memberikan tembakan setiap kali melihat zombie yang mendekat.


Beberapa pria dan wanita terlihat melakukan hal yang serupa. Menyerang segerombolan zombie yang mencoba bergerak menuju bangunan tempat tinggal mereka. Memicu irama jantung berdetak kencang — mengalirkan


adrenalin ketika kematian terasa begitu dekat. Semua orang bekerja sama demi mempertahankan kehidupan—saling menjaga atau bahkan bertingkah egois dengan melarikan diri dan menyebabkan nyawa orang lain melayang.


Nanda menggeretakkan gigi. Ia telah menembaki beberapa zombie yang mendekati rekannya.Prioritas untuk menyerang zombie yang terlalu dekat dengan rekan adalah yang utama. Sebagai salah satu yang handal memegang senjata, wanita berambut pendek itu menjadi penolong semua rekan disaat mereka tidak mampu untuk mempertahankan bagian belakang punggung mereka.


Beberapa orang yang tidak takut mati, berdiri di garis depan dan menyerang zombie dengan membabi buta. Pistol, pisau, tongkat bisbol, atau bahkan kemampuan magis mereka, semuanya bekerja sama untuk membersihkan para zombie yang menyebarkan aroma bangkai. Sayangnya, jumlah yang ada di garis depan hanya 5 orang dan mereka berhadapan dengan puluhan zombie yang bergerak lincah dan berkulit tebal.


Hal itu benar-benar memberatkan Nanda yang berada di belakang kelimanya. Ia harus menembaki zombie yang lolos dari pengawasan kelimanya, tetapi di sisi lain, juga harus waspada karena zombie menyerang dari tiga arah hingga posisinya sendiri cenderung tidak aman.


Orang-orang yang berada di sekitarnya tidak dapat diandalkan. Hanya bisa berteriak, merengek meminta peluru atau senjata baru, mendapati senjata mereka mulai tidak berguna, lalu mengumpat dan menyelamatkan diri sendiri.


Mereka benar-benar sampah.


Wanita berambut pendek melirik tajam seorang pria yang melarikan diri, mendengus dingin lalu kembali menghadap ke depan untuk membidik musuh yang bergerak lincah.


“NANDA! AWAS!"


Teriakan yang membahana sukses membuat jantung Nanda terasa mencelos. Tubuh wanita yang kurus itu refleks mencoba bergerak menghindar.Namun ia terlambat, suara geraman yang memekakan telinga dan rasa sakit pada bahu kiri membuatnya menahan napas.


DOR!


Tembakan terdengar. Tubuh bangkai yang mengigit bahunya tidak lagi bergerak mencoba merobek daging.Jatuh tersungkur di atas tanah dengan peluru mengebor menembus kepala yang berhasil menggigit daging segar.


Tanpa sadar, Nanda gemetar. Rasa sakit yang menjalar seolah menjernihkan pikirannya dari syock karena melihat wajah busuk dan hancur yang begitu dekat. Jantungnya masih berdebar keras — mengalirkan ketakutan luar biasa yang sukses membuat wajah itu memucat.


"Kau digigit."


Suara seorang pria tanpa fluktasi emosi, menyadarkan Nanda. Tanpa sadar, Nanda menelan liur paksa, mendongak menatap pria jangkung dengan wajah tampan yang tengah menatapnya juga. Wajah itu tanpa ekspresi, dengan sepasang iris hitam yang terlihat dingin dan kejam.


Tanpa bisa menahan diri, Nanda tertawa. Pernyataan itu jelas merupakan keputusan kematian, tetapi ia masih sempat menumpahkan senyuman. Ini benar-benar ironi. Ia tidak menyangka bahwa kali ini, adalah gilirannya untuk mati.


"Bos, kau benar-benar kejam,” ucapnya ringan, seolah membahas cuaca hari ini dan bukan tentang kematiannya sendiri. Nanda menggelengkan kepala, bangkit berdiri dan mengabaikan rasa sakit berdenyut pada bahunya. “Bisakah aku memakan coklat sebagai perpisahan?"


Sosok yang dipanggil Boss tidak mengatakan apapun. Sosok jangkung dengan tubuh yang terlihat begitu kuat memalingkan wajah, menatap sekitar dimana masih begitu banyak zombie yang menantang mereka.


Nanda cemberut. Ia tahu tidak cocok untuk mengobrol di tempat seperti ini, tapi bisakah Bossnya bersikap lebih lembut? Oh, bahkan ketika ia akan mati, tidak bisakah sosok ini memberikan permintaan terakhirnya? Memakan makanan manis sudah menjadi hal langka yang sangat mewah, bisakah ia menikmatinya?

__ADS_1


"Tidak ada coklat untukmu,” di luar dugaan, Nanda mengira ia akan diabaikan tetapi sosok jangkung itu justru buka suara. Hal itu membuat Nanda menatap Bossnya dengan luar biasa. “Kau akan hidup. Tidak akan pernah ada perpisahan."


Nanda bungkam. Meski nada yang diberikan pria itu begitu dingin dan acuh tak acuh, tetapi ia bisa merasakan harapan dari ucapannya. Namun sayangnya ... ia tidak bodoh.


Melirik luka pada bagian bahu, darah yang seharusnya berwarna merah, kini berwarna kehitaman. Rasa sakit yang sebelumnya berdenyut perih secara ajaib mulai menghilang digantikan panas yang membuat jantung tidak henti berdebar keras. Oh, dalam beberapa jam, wanita ini jelas akan berubah menjadi zombie, tetapi Bossnya dengan murah hati menghibur dan meyakinkannya?


Nanda tidak bisa menahan diri dari tertawa. Kedua tangan bergerak, pistol yang tergenggam menghilang dan digantikan dengan sepasang pedang yang tergenggam di kedua tangan kotor wanita itu.


"Bos,kau begitu baik,” senyuman jenaka merekah. Agak centil, wanita itu memberikan ciuman selamat tinggal pada pipi kiri pria itu dan mengedipkan sebelah mata untuk sosok tampan yang masih berdiri diam. “Aku akan mengira kau jatuh cinta kepadaku jika kau begitu baik seperti ini, Boss."


Tidak membiarkan sosok jangkung itu bereaksi, Nanda mengayunkan salah satu samurai, menusuk kepala zombie yang ada di belakang pria jangkung itu. Senyuman masih merekah di bibir sang wanita — seolah kematian yang jelas menjemputnya bukanlah hal besar.


"Semoga kita bisa bertemu kembali,” bisiknnya lalu kembali dan berlari menuju sekawanan zombie.


"NANDA!"


Beberapa orang langsung berteriak dengan marah. Memanggil namanya begitu melihat sosok wanita mengorbankan diri berlari memancing segerombolan zombie.  Ayunan sepasang samurai begitu lihai — menari diantara warna hitam dan potongan tubuh yang berceceran.


Nanda tahu bahwa ia sekarat. Dirinya akan berubah menjadi zombie, menjadi sosok kanibal yang memakan rekan dan bahkan orang yang dicintainya. Ia tidak akan memiliki perasaan apa pun kembali dan hanya akan menjadi hewan buas tanpa akal. Karena itu, sebelum ia memutuskan untuk bunuh diri ... setidaknya, ia ingin berguna untuk orang itu.


Nanda tidak bisa menahan senyumannya. Sepasang iris menatap lembut sosok Boss yang selalu spesial di hatinya. Pria yang sangat dingin dan tinggi itu kini begitu kacau. Berlari membabi-buta ke arahnya, menembaki beberapa zombie yang mencoba menyerang tubuh kuat itu. Namun Nanda hanya bisa tersenyum dan tertawa. Kesadaran semakin terasa hilang, membuat pandangannya secara bertapa mulai berkabut sebelum akhirnya, hanya ada kegelapan yang ia sadari.


.


.


.


RIIIINNNNGGGGG!


Jantungnya berdebar dengan keras — mengalirkan adrenalin untuk tetap membuat sikap defensif yang keras. Sepasang iris menyipit dan memandang sekitar, sementara tangan yang lain bergerak memukul alarm di atas meja kayu dengan tangan kosong.


Ruangan itu mendadak hening.


Tidak ada lagi suara alarm, tetapi keheningan menjernihkan pikiran Nanda. Sepasang iris menatap sekitar dengan kebingungan yang luar biasa. Oh, bagaimana tidak? Ia sepertinya berada di ... kamar? Ruangan persegi ini jelas berantakan, tetapi yang membuat Nanda bingung adalah tidak adanya aroma busuk bangkai, tidak ada aroma berdarah, tidak ada suasana dingin yang terasa akan merenggut nyawanya kapan saja ...


Di mana ini?


Nanda menelan liur paksa. Ia berdiri tegap, tetapi tidak menghilangkan kewaspadaannya. Sepasang iris menatap liar ruangan persegi. Terdapat sebuah kasur, meja belajar, rak buku, lemari, boneka ... semua perlengkapan masih utuh dan tidak ada yang dicuri. Meski agak berantakan, Nanda bisa menyimpulkan ruangan ini masih


digunakan. Tapi ...


Alisnya terpaut. Secara perlahan, berjalan di atas karpet pelastik bermotif polkadot. Sepasang mata memandang sekitarnya, memilah-milah mengapa kamar ini begitu ... begitu familier? Apakah ia pernah ke sini? Lalu sekarang kenapa ia bisa berada di sini? Nanda bingung bukan main, pertanyaan demi pertanyaan silih berganti di dalam kepalanya.


Perlahan,Nanda merasakan sakit di tangan. Ia menunduk, menatap tangan kanan yang tadi menghancurkan alarm. Namun, ketika melihat tangan yang membiru dan agak bengkak, sepasang iris membola sempurna.


Ini bukan tangannya. 


Tangan yang dilihatnya sekarang terlihat gempal, ditutupi oleh lemak dan lemah. Jelas, ini sangat berbeda dengan tangan yang ia miliki. Tangan yang seharusnya Nanda miliki lentik, kurus, kasar dan penuh dengan kapalan. Perjuangan dan pelatihan untuk mempertahankan nyawanya terukir dengan jelek pada tangan yang kerap memegang senjata. Lalu bagaimana mungkin mendadak ... tangan lembut penuh lemak ini ia miliki?


Panik, sebuah pikirkan melintas di dalam kepala. Cepat, kaki itu melangkah ke sebuah cermin yang menempel di sisi lain dinding. Lalu tepat ketika sebuah bayangan jatuh terpantul di permukaan datar, tanpa sadar, Nanda menahan napas.


Sosok perempuan berdiri di sana, dengan tubuh gempal kelebihan berat badan. Kulit anak itu putih hingga nyaris pucat. Namun wajahnya sangat mengerikan. Kusam, berjerawat, pori-pori besar dan berminyak ...


Nanda sangat mengenali sosok itu. Bagaimana tidak? Ini adalah dirinya saat ia masih muda! Pantas saja tubuhnya terasa berat dan sulit untuk bergerak lincah! Bukankah ini masa-masa pubertasnya yang begitu suram dan mengerikan?!


Syock bukan main, Nanda melangkah mendekati cermin. Menggerakkan jemari gemuk ke wajah bulat dengan tidak percaya. Oh, seandainya tangan ini tidak berdenyut sakit, Nanda yakin ia tengah bermimpi kembali ke masa lalu. Terlebih kamar ini ... ah, sekarang ia ingat. Bukankah ini kamarnya sendiri?

__ADS_1


Alis Nanda terpaut.


Bagaimana bisa ia ...


Menggigit bibir bawahnya dnegan gelisah, Nanda berbalik. Berjalan mendekati kasur dan menghindari serpihan jam yang ia hancurkan. Tangan gempal itu terulur. Meraih ponsel yang ada di sebelah bantal dan membuka pola kunci yang tidak pernah ia rubah selama bertahun-tahun.


Deg.


Minggu, 3 September 2017.


Hari dan tanggal yang tertera pada layar tipis membuat Nanda membeku. Otaknya terasa kosong, seolah tidak mampu memikirkan apapun kembali. Hal terakhir yang ia ingat adalah dirinya yang mati karena gigitan zombie...


Mungkinkah ia? Mungkinkah ia kembali ke masa lalu? Ataukah ... selama 4 tahun menderita itu semua hanya mimpi?


Nanda tidak mampu memikirkan apapun. Ia hanya bisa berdiri mematung di depan kasur, menatap linglung ke arah smartphonenya sendiri. Kilasan fragmen dimana ia melatih untuk melindungi diri sendiri menghujam kepala. Ia ingat hampir diperkosa karena jumlah perempuan yang sangat sedikit, ia ingat ketika mereka bertengkar untuk mendapatkan makanan, ia ingat hampir mati karena dikejar segerombolan zombie, ia ingat melihat satu persatu rekannya mati di depan matanya sendiri ...


Bzztttt ....


Mendadak, benda pipih yang ia pegang bergetar — menandakan pesan sudah masuk. Layar kembali terang, gambar dengan icon hijau terpampang diiringi dengan pesan grup dan obrolan pribadi yang belum dibaca.


Mama: Nda, udah bangun belum? Awas ya kalo pas Mama pulang kamu masih belum mandi


Yulis: Ndut! Udah kelar belum PR Fisika? Liat dong No.6 ehehe: 3


Napas Nanda terasa sesak. Tanpa ia sadari, pandangannya kabur. Matanya panas, diiringi dengan perasaan yang seolah *** jantung. Sebuah pemikiran sukses menghancurkan pertahanannya. Lega luar biasa terasa lembut


membelai, membuat Nanda tidak bisa menahan diri untuk menangis.


Mereka masih hidup ...


Mama ... Papa ... Yulis ... teman-temannya. Semua orang yang dicintainya ...


Mereka semua masih hidup.


"Ah ... ah ... hiks .... "


Seluruh tubuh Nanda terasa lemas. Tenaganya seperti hilang — menguap hingga membuat kakinya terasa selembut jeli. Dengan lemah ia jatuh terduduk di atas kasur, menangis dan melampiaskan segala emosi yang selama ini terpendam.


Nanda ingat ketika ia kehilangan kontak dengan Papa dan Mamanya. Betapa khawatirnya ia, dengan membabi buta mencoba mencari informasi apa pun, tentang kedua orang tuanya. Di tengah kekacauan yang begitu memuakkan, Nanda tidak berharap kedua orang tuanya masih hidup. Hatinya secara bertahap menjadi mati rasa saat mayat hidup dan moral manusia kian terkikis. Hanya satu harapannya dari sekian pencarian di tengah kotornya dunia. Setidaknya, biarkan ia melihat mayat kedua orang tuanya, menguburkan keduanya, melakukan hal terakhir untuk berbakti kepada kedua sosok yang telah merawatnya.


Lalu sekarang ...


Kedua orang tuanya masih hidup.


Mamanya mengirim pesan, berbicara dengan nada galak yang biasa ia dengar. Namun ia tidak marah sama sekali, Nanda justru sangat senang sampai dadanya terasa sesak. Oh, betapa ia merindukan ketika Mamanya marah, betapa ia sangat merindukan ketika Mamanya khawatir, betapa ia merindukan suara dan wajah itu ... 


Oh meskipun Papa jarang pulang karena kesibukannya, tetapi kedatangannya sangat


berarti. Sosok itu kerap menelfonnya setiap malam. Menanyakan kabarnya, apa kegiatannya hari ini, selalu bertanya apa saja tentangnya. Meski hanya melalui suara ... Tapi Nanda tidak marah. Ia tahu Papanya sangat sibuk, tetapi masih sangat berkompromi untuk setiap hari menelfon mereka atau mencari celah waktu untuk pulang. Ia sungguh menyadari betapa Papanya mencintainya ... 


Lalu sekarang ... masih hidup. Mereka masih di sisinya. Masih bisa mendengar suara mereka ...


Nanda tidak tahu harus menggambarkan perasaannya bagaimana. Ia bahagia. Sangat bahagia hingga rasanya semua ini tidak nyata. Hal ini juga memberikan rasa takut baginya. Ia begitu senang, tetapi jika semua ini hanyalah mimpi, Nanda tidak akan bisa membayangkan betapa besar perasaan kecewa yang akan ia hadapi.


Bila ini adalah mimpi, tolong jangan bangunkan dirinya. Namun bila ini adalah kenyataan ... Nanda bersumpah untuk dirinya sendiri, ia ingin menjadi anak yang baik. Sosok, yang bisa membuat kedua orang tuanya tidak merasa malu karena keberadaan dirinya.


Oh, mampukah ia? Mampukah ia sekarang ... menebus semua penyesalan yang belum sempat ia lakukan?

__ADS_1


__ADS_2