
Karin, Galih, Monta, Raga, Leo.
Empat anak lelaki dan satu anak perempuan, merupakan para anggota kurcaci kecil yang Nanda bentuk.Oh, tentu saja Nanda tidak bermaksud membentuk tentara anak-anak, ia hanya ingin melatih kelimanya, memastikan bahwa mereka, setidaknya memiliki pegangan. Bila tidak bisa melawan, maka, kabur akan menjadi pilihan yang sangat baik.
Karena panen yang sangat banyak dan makanan cukup untuk dinikmati dalam jangka waktu yang lumayan lama, Nanda dan Erica berubah menjadi mentor yang berdedikasi. Mereka mendidik kelima kurcaci kecil, mengajari mereka perhitungan lanjutan dan bahasa (Karena ternyata mereka sudah bisa membaca, menulis dan berhitung), juga tidak lupa beberapa keterampilan membela diri. Terutama, untuk berhadapan dengan zombie.
Namun, apalah artinya sebuah teori tanpa praktek? Karenanya, setelah melihat makanan mulai menipis, Erica dan Nanda setuju untuk membawa kelima kurcaci keluar. Mereka akan melihat hasil pelatihan para kurcaci setelah beberapa minggu dididik. Terlebih, suasana sekitar Vila terbilang tepat. Tidak terlalu banyak zombie, menjebak satu zombie tanpa level untuk melatih anak-anak ini bukan masalah besar. Masalahnya adalah ... bagaimana membuat mereka tidak ketakutan.
Memegang tongkat besi setinggi satu meter, tubuh kecil bersih yang kini sudah memiliki sedikit daging pada bagian bawah kulit mereka itu gemetar. Memegang tongkat dingin dengan erat dan menahan diri agar tidak menangis saat ditinggalkan dengan sosok zombie jelek yang menyeramkan.
Dengan senyuman lima jari dan tawa yang menyenangkan, Kak Nanda berujar bahwa ia dan Kak Erica baru akan kembali bila mereka berhasil menjatuhkan Zombie ini. Mereka tidak diizinkan berpencar melarikan diri atau bahkan meminta bantuan. Tugas ini harus ditanggung kelimanya bersama.
"Ki--kita harus menyerangnya?" Leo menelan liur paksa. Kedua kaki gemetar, nyaris terasa selemah jel ketika melihat makhluk busuk yang berjalan kaku seraya membentangkan kedua tangan. Menggapai-gapai ke arah mereka berlima yang tersebar mengelilinginya.
"Kita ... kita harus menyerangnya!"
Namun tidak ada yang berinisiatif untuk mulai menyerang. Mereka cenderung melangkah mundur, sejauh mungkin dari zombie dan dengan pasif menonton mayat busuk itu bergerak-gerak gelisah ke segala arah karena bingung dengan aroma manusia yang mengelilingi. Satu zombie, yang dikeroyok oleh lima orang. Terlihat tidak adil, tetapi melihat kelima anak gemetar ketakutan sementara seorang zombie dengan penuh semangat kebingungan ingin melangkah mendekati daging segar ...
Ini sangat adil.
Aneh, mereka terbiasa melihat Nanda dan Erica membunuh zombie. Keduanya melakukannya dengan mudah. Tetapi kenapa giliran mereka, untuk membunuh satu zombie saja ... ini benar-benar terasa sulit? Apakah karena mereka masih kecil? Oh, ini benar-benar tidak adil!
"Siapa ... siapa yang mau memulai?" Monta menelan liur paksa. Gugup melihat zombie yang lebih tinggi darinya. Suaranya agak gemetar, tetapi sedikitpun tidak mengalihkan pandangan dari sosok busuk yang berada di depannya.
"Errr ... cewek duluan?"
Jantung Karin mencelos mendengar ucapan Galih. Ia sudah cukup mati ketakutan hingga membuatnya ingin menangis, sekarang ... Galih ingin mengorbankannya? Pandangannya kabur seketika, matanya panas, benar-benar tidak ingin mendengar apa yang dikatakan Galih. Oh, ia satu-satunya anak perempuan di sini, apakah Galih mencoba membunuhnya?! Mencoba memberikannya kepada makhluk kotor dan menyeramkan ini!? Jahat! Benar-benar jahat!
"Kenapa gak Galih duluan aja?!" Karin marah, kali ini, wajah gadis kecil berambut pendek itu sudah basah oleh air mata. Suaranya melengking, naik beberapa oktaf dan gemetar karena emosi yang menggebu. "Galih cowok! Harusnya Galih duluan!"
"Jangan nangis!" Galih panik. Selama ini, mereka berlima tidak ada yang pernah menangis sejak bersama dengan Nanda dan Erica, tetapi kali ini, ia melihat temannya menangis ... hal itu membuat perasaan Galih tidak nyaman. Ia tidak mau melihat temannya menangis, terlebih itu disebabkan oleh dirinya sendiri. "Zombie ... Zombie suka makan anak penakut!"
"Siapa yang penakut?! Galih kira, Karin penakut?! Karin gak penakut! Galih yang penakut!"
"Aku bukan--"
"AAAAAA!"
Dua anak yang saling berteriak sama-sama tersentak. Mereka semua refleks memegang erat tongkat besi dan menatap horror ke arah zombie yang berlari dengan kaku. Melangkah dengan pasti menuju ke satu anak yang sejak tadi tidak bergerak.
"RAGA!" keempat anak kecil refleks memanggil nama teman mereka, tetapi yang dipanggil hanya bisa gemetar ketakutan. Menangis dalam diam seraya ... mengompol di celana.
"Raga! Lari Ga! Lari!" Monta berteriak. Namun, bukan hanya ia sendiri yang menyerukan agar Raga berpindah posisi. Karin, Galih dan Leo turut berteriak. Tetapi Raga seolah tidak mendengar mereka. Tubuh kecil itu hanya berdiri diam di tempatnya, dengan tangan gemetar memegang tongkat dan sepasang iris yang fokus memandang zombie dengan penuh ketakutan. Bahkan, untuk bersuara, Raga mendapati ia tidak mampu untuk melakukannya. Seolah-olah teriakan tadi, merupakan suara terakhir yang ia keluarkan.
Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bagaimana ini?!
Raga benar-benar panik. Jantungnya berdegup kencang sekali seolah akan pecah. Wajah kecil itu sudah memucat sempurna, dengan keringat dingin yang terus merembas membasahi pelipis. Namun, Zombie itu tidak berubah arah sama sekali, konstan melangkah dengan pasti ke arahnya. Aroma busuk dari zombie sudah tercium di hidung, setiap langkah kaku yang diberikan Zombie itu, seolah-olah menjadi setiap detik kehidupannya.
__ADS_1
Apakah ia akan mati sekarang? Apakah ... apakah ...
Tang!
"Jangan deketin Raga!"
Sebuah pukulan tepat mengenai kaki Zombie, sukses membuat sosok kaku itu terjatuh terjerambat di atas tanah. Karin, yang masih basah oleh air mata, memandang marah ke arah sosok busuk yang berada di atas tanah. Makhluk jelek ini lah yang mengganggu mereka. Monster yang sangat menjijikan dan membuat Galih mengejeknya sebagai penakut!
"Kamu! Jangan! Ganggu! RAGA!"
Tang! Tang! Tang! Tang!
Auman Zombie membahana. Karin mencengkram batang besi yang dipegangnya, memukul tubuh zombie sekuat tenaga dengan marah. Meski yang melakukannya hanyalah anak kecil, tetapi batang besi yang kuat cukup untuk membuat tubuh membusuk itu menerima luka. Terlebih tindakan si kecil terbilang anarkis. Memukul sekuat tenaga ke arah zombie dan tidak membiarkan makhluk itu memberikan perlawanan.
Raga ternganga tidak percaya. Ia mati ketakutan, bahkan mengompol dan tidak bisa bergerak karena Zombie. Namun satu-satunya anak perempuan di antara mereka berempat menyelamatkannya. Dengan berani memukul zombie, menghancurkan monster menakutkan itu dengan senjata yang sama seperti mereka ...
TANG!
Kepala Zombie menjadi sasaran, hancur setelah beberapa pukulan hingga merusak otak dan membuat makhluk itu tidak kembali bergerak. Tepat pada pukulan terakhir, napas Karin terenga-engah. Dada kecilnya naik-turun dengan cepat. Anak perempuan berambut pendek itu menatap monster di depannya selama beberapa detik, memastikan bahwa monster itu tidak akan bergerak lagi atau bersuara.
Setelah merasa yakin bahwa ia menang, Karin berbalik. Sepasang mata hitam yang bulat memandang keempat anak lelaki di depannya. Dagu kecil itu terangkat, begitu sombong dan pongah di hadapan empat orang yang semula gemetar ketakutan. Terutama ketika ia melihat Galih, Karin mendengus.
"Lihat?!" ucapnya seraya berdecak pinggang sementara tangan yang satu menunjuk keempat anak lelaki di depannya dengan tongkat besi. Mata itu masih agak memerah karena habis menangis, hidungnya sesekali menghisap ingus yang akan keluar. Namun, Karin tidak menurunkan kesombongannya. Ia hebat, tentu saja! Ia juga lebih kuat! "Karin gak takut! Karin bukan pengecut dan kalian semua, LEMAH DAN PENGECUT!"
"... ."
"Okay," tidak mau terus bersembunyi, Nanda dan Erica sama-sama melompat turun dari atas pohon--membuat lima pasang mata yang berbeda memandang. "Hebat sekali Rinrin, ayo beri tepuk tangan ke RinRin!" Nanda berujar ceria, bertepuk tangan semeriah mungkin guna mengusir kesuraman kelompok para kurcaci. Namun sayangnya, yang bertepuk tangan hanya Nanda. Empat kurcaci pendek masih merasa malu dan canggung, membuat mereka menundukkan kepala dan tidak menerima nada ceria itu.
"Nda," Erica mendelik, menatap Nanda untuk berhenti main-main. Pandangan itu membuat Nanda cemberut. Ia menghela napas, menggelengkan kepala lalu berjalan mendekati Karin.
"Oke, oke, pertama ... Kakak mau minta maaf dengan kalian."
Eh?
Sontak, empat kepala yang menunduk, mendadak terangkat. Lima pasang mata bulat memandang Nanda dengan bingung dan heran. Kenapa Kak Nanda meminta maaf? Apakah ... apakah mereka akan ditinggalkan sendiri karena gagal mengalahkan zombie bersama-sama? Mendadak kelima anak kecil itu merasa cemas. Jantung mereka berdegup kencang, gugup bukan main dengan apa yang akan Nanda jelaskan.
"Kakak dan Kak Ercia membuat kalian menghadapi Zombie sendirian dan meninggalkan kalian, Kakak dan Kak Erica ingin meminta maaf karena membuat kalian ketakutan," Nanda tersenyum. Berjongkok hanya guna mensejajarkan tinggi dengan kelima anak kecil yang selama beberapa minggu, telah bersamanya. Tindakan dan apa yang dikatakan Nanda, membuat para kurcaci yang semula cemas, kini dirudung tanda tanya.
Ekspresi wajah anak-anak ini terlalu jujur ...
Nanda mengkulum senyuman. "Tahukah kalian kenapa Kakak dan Kak Erica melakukan ini?"
Tidak ada yang menjawab. Kelima anak kecil yang semula tersebar, dengan sadar diri berjajar di hadapan Nanda. Mereka semua saling pandang--seolah bertanya apakah ada di antara mereka yang tahu jawabannya? Namun Nanda memang tidak berharap akan ada yang menjawab. Karena itu, setelah beberapa detik, sang wanita kembali membuka bibirnya.
"Tahukah kalian kenapa Kakak memberikan tongkat itu untuk kalian pegang?"
Kali ini, kelima kurcaci menunduk. Refleks memandang tongkat besi yang masih berada di tangan mereka. Selama beberapa detik, mereka terlihat berpikir. Lalu beberapa saat kemudian, kelimanya ragu-ragu. Para kurcaci menatap Nanda, tidak tahu apakan akan menjawabnya atau tidak. Tetapi reaksi itu membuat Nanda tetap mempertahankan senyumannya.
__ADS_1
"Ini untuk ... memukul Zombie," pada akhirnya, Monta lah yang buka suara. Memberikan jawaban dari pertanyaan terakhir yang diajukan Kak Nanda.
Nanda mengangguk. "Benar," ujarnya. "Tetapi siapa yang menggunakan tongkat ini?"
Empat pasang mata refleks menatap Karin.
Sadar bahwa ia menjadi pusat perhatian, anak perempuan itu kehilangan kesombongannya. Mendadak, ia merasa agak gelisah. Memegang tongkat besi yang ada di genggamannya dengan erat. Oh, apa yang dilakukannya ... benar kan? Ia tidak melakukan kesalahan kan?
"Jangan khawatir, apa yang Rinrin lakukan, memang benar," Nanda terkekeh, mengangkat tangannya lalu mengusap kepala Karin dengan lembut. "Rinrin sangat berani dan hebat, Kakak sangat puas," pujinya--sukses membuat anak perempuan itu tertegu, sebelum akhirnya berseri-seri dengan senyuman yang memamerkan sederet gigi susu.
"Tetapi," Nanda mengalihkan pandangan, menatap sisa empat kurcaci yang berkeringat dingin. "Empat yang lainnya tidak menggunakan tongkat ini dengan benar."
Ucapan terakhir dari Nanda sukses membuat keempat anak lelaki tertohok. Oh, mereka memang tidak menggunakan tongkat yang sudah diberikan. Mereka ... mereka tidak menyerang zombie seperti Karin menyerang zombie tadi. Apakah ... apakah Kak Nanda akan mengusir mereka? Keempat anak lelaki menelan liur paksa. Jantung berdegup kencang, mendadak merasakan ketegangan ekstream yang membuat perut mereka bergeliat tidak nyaman.
"Kakak tidak akan meninggalkan kalian hanya karena kalian tidak bisa mengalahkan banyak Zombie," Nanda menghela napas, bangkit berdiri dan menatap empat kepala yang tertunduk lesu. Sungguh sangat menyadari apa yang ada di dalam kepala anak-anak ini. "Tetapi apa yang Kakak harapkan dari kalian adalah keberanian."
Eh?
"Selama beberapa minggu, Kakak dan Kak Erica sudah mengajarkan kalian dasar-dasar pertempuran, bukan? Bagian kepala yang hancur akan membuat Zombie tidak bergerak, atau beberapa sendi yang harus diserang agar pergerakan lawan menjadi terganggu?"
Para kurcaci kecil ini memang mendapatkan pelatihan. Mereka disuruh melakukan olahraga fisik, melatih tubuh agar lebih kuat dan lentur. Makanan yang cukup, belajar ini dan itu. Erica dan Nanda dengan sabar mengajari mereka, membuat mereka merasa lebih ... lebih merasa hidup.
"Kakak berharap kalian bisa menjaga diri kalian sendiri. Bukan berarti Kakak dan Kak Erica tidak akan melindungi kalian, tetapi ada saatnya ketika Kakak dan Kak Erica pasti tidak bisa melindungi kalian. Di saat itu, kalian hanya bisa melindungi diri kalian sendiri," sepasang hazel menatap serius kelima kurcaci di depannya. Tidak ada senyuman, hanya keseriusan yang tercetak di wajah itu.
"Tetapi apa yang kami ajari, tidak akan berguna bila kalian tidak memiliki keberanian untuk mempraktekkannya. Karena itulah Kakak menyuruh kalian menyerang Zombie. Ini bukan tentang apakah kalian bisa menjatuhkannya atau tidak, apakah kalian bisa melawan zombie atau tidak. Ini hanya tentang ... apakah kalian berani untuk mengangkat tongkat dan benar-benar memukul Zombie?"
Nanda kembali mengkulum senyumannya. "Sejujurnya, Kakak tidak berharapn ada diantara kalian yang berani mengangkat tongkat besi. Kalian masih terlalu kecil, wajar bila ketakutan. Tetapi ... yah, kalian membuat kakak terkejut," sepasang hazel beralih, menatap satu-satunya anak perempuan di barisan itu. "Rinrin, apa kamu takut dengan zombie?"
Mendadak ditanya, Karin merasakan jantungnya seakan melompat ke luar dari rongganya. Namun gadis itu dengan panik buru-buru menjawab dengan jujur. "Takut Kak!"
"Lalu kenapa masih memukul Zombie?"
"Itu ... itu ... ," Karin mendadak bingung. Tadi ia terlalu emosional. Benar-benar lupa dengan ketakutannya sendiri. "Itu ... um ... karena zombienya mau makan Raga. Karin gak mau Raga dimakan zombie."
Nanda tertawa, puas dengan jawaban itu. "Lihat? Rinrin juga takut. Dia takut zombie, tetapi dia masih menyerang zombie karena tidak mau Raga dimakan zombie. Nah, kalian ... apkaah mau teman kalian dimakan zombie?"
"Gak mau Kak!"
"Kalau begitu, belajarlah untuk berani," Karin tersenyum. Menatap kelima kurcaci yang semuanya, tidak lagi menundukkan kepala. "Bernilah untuk melindungi diri kalian sendiri dan beranilah untuk melindungi teman-teman kalian. Kakak, tidak memaksa kalian untuk bisa membasmi banyak zombie, tidak akan memaksa kalian untuk menghadapi hal-hal yang kalian takuti. Bagaimanapun, setiap orang pasti memiliki ketakutan. Tetapi, cobalah untuk menghadapi ketakutan kalian. Bagaimana caranya? Yaitu ... cobalah untuk berani."
Kelima pasang mata menatap ke arah Nanda. Mereka, tidak sepenuhnya mengerti dengan apa yang Nanda ucapkan. Namun satu hal yang pasti kelimanya tahu, yaitu keberanian. Sebuah perasaan kuat yang akan mereka gunakan untuk melawan rasa takut. Sebuah perasaan yang pasti, akan digunakan untuk melindungi sesuatu. Entah apakah itu teman-teman mereka, atau mungkin ... diri mereka sendiri.
Kelima kurcaci saling memandang sebelum akhirnya diam-diam menyepakati sesuatu.
Tidak peduli apapun yang terjadi ... berkat hari ini, mereka menyadari sesuatu.
Mereka tidak ingin Raga diserang, mereka tidak ingin salah satu diantara mereka akan ada yang tersingkirian. Mereka ingin selalu bersama, bermain bersama, belajar bersama, makan bersama dan tumbuh dewasa bersama. Namun untuk mencapai hal itu ... mereka harus menjadi lebih kuat.
__ADS_1