Zombie

Zombie
5: Perpustakaan


__ADS_3

Perpustakaan Sekolah selalu menjadi tempat yang baik suasana, maupun pengunjung, merujuk ke kata: Sepi.


Terdengar menyedihkan memang, tetapi Nanda tidak ambil pusing. Suasana seperti ini lah yang membuat remaja gemuk memilih tempat ini untuk belajar menulis.


Sekilas, dengan ensiklopedia, buku tulis dan wajah seriusnya, Nanda benar-benar terlihat sebagai murid yang baik. Belajar di perpustakaan dan mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian.


Bu Rini yang memperhatikan sekilas wajah serius Nanda, jelas salah paham. Ia tidak tahu bahwa siswi yang di cap 'rajin' ini sebenarnya sedang belajar menulis.


Kata-kata belajar menulis, cukup memalukan untuk sosok yang duduk di bangku SMA. Karenanya, Nanda agak waspada. Terlebih melihat ada penghuni lain yang juga masuk ke Perpustakaan, membuat irisnya tanpa sadar melirik si pengunjung dengan pandangan mengintai.


AH!!!


Di detik Nanda melirik, di detik itu juga remaja gemuk itu membeku. Sepasang iris membola sempurna--jelas terkejut dengan apa yang dilihat. Ia tidak bergerak, tanpa sadar fokus menatap sosok remaja laki-laki yang memasuki Perpustakaan.


Ganesha Wijaya!


Sosok jangkung dengan kulit tan itu berbalut seragam putih abu-abu. Ia hanya tinggi, dengan tubuh kurus selayaknya tiang--terlihat kurang gizi malah. Hal itu membuat pipinya cenderung tirus, terlebih dengan kesan suram dan tidak ramah pada tubuhnya, Ganesha terlihat sangat kuyu.


Nanda, tentu saja mengenalnya karena sejak kelas 1 SMA, ia sering berpapasan dengan Juara Umum sekolah ini. Mereka tidak pernah sekelas, tetapi setiap kali Nanda ke perpustakaan, sosok jangkung itu pasti juga berada di perpustakaan.


Namun bukan itu yang membuat Nanda memiliki kesan mendalam terhadap Ganesha. Bagaimanapun, seingatnya, selama di SMA, mereka tidak pernah bertegur sapa. Paling banyak hanya ber say-hi sebagai salam umum. Namun anehnya, Ganesha adalah orang pertama yang melindungi dan mencoba membantunya saat gelombang virus Zombie baru saja meledak.


Ayah Ganesha adalah perwira TNI. Saat itu, beberapa pangkalan dibuat untuk menjadi daerah pengungsian. Kekacauan memuncak dan orang-orang cenderung bersikap agresif karena dilanda rasa takut.


Nanda saat itu, memang sudah kurus dan ia cenderung cantik. Kulitnya masih putih bersih, tubuhnya cenderung mungil. Terlebih saat mengungsi, ia sendirian. Hal itu mengundang beberapa orang untuk berbuat jahat. Bisa diperkirakan, di dalan pangkalan yang padat akan orang-orang yang putus asa, ia hampir diperkosa.


Lalu Ganesha muncul, menolongnya dan hanya dalam sekali lirikan, sosok itu entah bagaimana mengenali Nanda. Sebaliknya, justru Nanda yang tidak mengenali Ganesha.


Karena Ganesha yang beberapa tahun ke depan, dengan Ganesha yang dikenalnya sekarang, benar-benar jauh berbeda.


"Ganesha?" Nanda, tanpa sadar membeo. Memanggil sosok jangkung yang berdiri memilih-milih buku. Karena Perpustakaan sepi dan tidak memiliki penghuni lain, suara Nanda yang sebenarnya kecil, terdengar cukup jelas dan besar di ruangan Perpustakaan. Hal itu membuat Ganesha menoleh.


"Apa?"


Nanda canggung. Ia tidak terlalu akrab dengan Ganesha yang suram, tetapi dengan Ganesha yang telah dewasa ... yah, ia juga tidak bisa dibilang dekat. Namun setidaknya, Ganesha dewasa lebih mudah untuk diajak berbicara.


"Gak, aku baru nyadar aja. Kita dah saling kenal sejak kelas 1, tapi gak pernah ngobrol," Nanda nyengir, mencoba mencari topik agar mereka bisa lebih akrab. Bagaimanapun, Ganesha juga salah satu penolongnya sebelum ia memutuskan untuk bergabung ke kelompok Raja. Tidak ada yang salah dengan mencoba berteman baik dengan calon penyelamatnya kan?


"Perpustakaan bukan tempat ngobrol."


Nanda mengangguk. Tidak kecewa mendengar kata-kata yang jelas mengandung makna penolakan. "Oh, ya udah, lain kali, kita ngobrol di luar perpustakaan aja kalo gitu."


"... ."


Ganesha kehilangan kata-kata. Remaja jangkung itu menatap ke arah Nanda dengan alis yang mengernyit, tetapi pada akhirnya memilih diam.


Tentu saja Ganesha tahu prihal Nanda. Jarang melihat sosok lain yang dengan setia, hampir setiap hari ke perpustakaan. Apa lagi, sosok gemuk itu cukup berisik hingga terkadang membuatnya terganggu. Namun Nanda biasanya tidak pernah berinisiatif untuk mengobrol dengannya. Paling banyak, bila mereka berpapasan atau saling melihat, sosok gemuk itu hanya tersenyum dan mengangguk sebagai sapaan.


Namun mengingat sifat Nanda sendiri ... Yah, bukan hal yang aneh. Mungkin mood perempuan itu sedang baik. Ganesha kembali memalingkan wajah, mencari buku dan mengabaikan Nanda.


Seperti katanya, Perpustakaan bukan tempat mengobrol.


Nanda juga tidak terus berusaha mengganggu. Meski bertemu Ganesha dan memutuskan untuk berteman, ia masih ingat tujuannya. Jadi, ia ikut memilih bungkam. Menunduk dan kembali menulis dengan serius.


Dua remaja yang tidak pernah bertegur sapa, mendadak saling melemparkan beberapa patah kata.


Rini, sebagai guru dan juga Penjaga Perpustakaan, menatap dua remaja yang telah diam dan sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Cahaya emas matahari dari jendela memanjang masuk ke dalam ruangan hingga menyentuh permukaan lantai. Dua sosok yang tenggelam di dalam ketenangan, masing-masing di dalam posisi yang berbeda.


Sosok remaja gemuk duduk di meja, menunduk dan terlihat serius menulis dengan sepasang mata yang merunduk. Di samping kanannya, sosok jangkung pemuda memunggungi. Berdiri tegap, dengan tangan yang tengah membalik beberapa halaman buku.

__ADS_1


Kedua sosok remaja, masing-masing tidak indah sama sekali dan justru tipe yang akan diabaikan atau bahkan mendapat cemooh karena fisik mereka. Satu terlalu gemuk sementara yang satunya terlalu kurus. Kedua orang ini jelas berlawanan dan sibuk dengan kegiatan masing-masing hingga saling mengabaikan.


Namun entah bagaimana ... melihat kedua sosok yang sama-sama serius, diam di dalam keheningan perpustakaan, saling melemparkan ketidak pedulian pada sekitarnya, justru memberikan kesan ... hangat dan harmonis.


Rini mengkulum senyumannya. Bertopang dagu menatap kedua sosok yang saling mengabaikan.


Kedua siswa ini bak lukisan. Sebuah harmoni romantis di sela pembelajaran. Dengan seragam yang sama, di dalam ruangan yang penuh buku, Rini merasa menjadi saksi bisu di awal kisah romansa sepasang insan yang akan saling terikat.


Guru muda itu terkekeh geli. Oh, otaknya sudah ngawur. Muridnya jelas tidak melakukan apapun, tetapi ia seenaknya berfantasi. Ah, menjadi guru bahasa sepertinya membuat otaknya nenjadi kaya akan imajinasi.


.


.


.


Pukul 17.00, sekolah akhirnya membuka gerbang dan mengizinkan pada siswa untuk pulang.


Tidak ada larangan untuk para siswa membawa kendaraan. Itu sebabnya, baik mobil atau motor, adalah hal pertama yang melewati gerbang sekolah.


Para Siswa yang tidak memiliki kendaraan, lebih condong keluar dari gerbang dengan perlahan. Toh mereka tidak terburu-buru pulang. Masih asik mengobrol dan dengan sabar menunggu beberapa saat. Bagaimanapun, jam 5 sore merupakan jamnya lalulintas begitu padat. Macet dan bising, hal utama yang dicoba untuk dihindari.


Karena itu, Nanda masih asik duduk-duduk di dekat pos satpam sekolah. Ia mengobrol dengan teman sekelasnya, menghabiskan waktu ketika ingin pulang dengan berjalan kaki.


Bagaimanapun, jalanan sedang macet. Hal itu membuat jalan alternatif akan cenderung padat oleh motor-motor yang ingin memotong jalan. Karenanya, Nanda masih duduk-duduk. Malas untuk mendengar banyak klakson yang akan mengamuk meminta jalan kepada pejalan kaki.


Tin!


Sebuah mobil sedan merah berhenti tepat di depan Nanda. Hal itu sukses membuat obrolan kedua siswa berhenti. Dua pasang mata menatap ke depan, memandang jendela kaca diturunkan.


"Nanda, hayok masuk!" Alex, yang membawa mobil mewah, menyeringai menatap Nanda. Namun sebelum remaja gemuk bereaksi, kaca jendela belakang ikut dibuka, menampilkan sosok Yulis dan Luna di belakangnya.


"Oy Ndut, gue nyariin lo dari tadi, ternyata lo di sini!" Yulis melotot galak. "Cepet masuk, harini kita karokean!"


" ... ."


Nanda benar-benar lupa bahwa setiap pulang sekolah, sejak Yulis berpacaran dengan Alex, ia kerap ikut diseret untuk pergi bareng keempatnya.


Ia tidak masalah sama sekali untuk pergi bersama mereka. Bagaimanapun, Luna terlalu pendiam, Yulis tidak tega bila ia sedang asik dengan Alex, Luna akan terabaikan. Raja tidak akrab dengannya, lebih suka bermain game di ponsel katimbang mendengarkan obrolan. Namun sayangnya ...


Tanpa sadar, Nanda melirik ke co-pilot. Mendapati sosok pemuda tampan yang menunduk bermain ponsel.


Kembali, debar menyakitkan meremas dadanya. Oh, sungguh, Nanda bisa memanfaatkan kegiatan ini untuk akrab dengan Raja. Namun bila melihat Raja dan Luna di dalam satu tempat ...


Nanda tidak yakin bisa menanggung rasa sakitnya.


"Gak dulu guys, harini aku langsung pulang," Nanda menolak, menatap meminta maaf ke arah Luna dan Yulis.


"Loh? Napa? Tumben banget langsung pulang?" Yulis menatap Nanda dengan luar biasa.


Ia bisa mengerti bila setiap sabtu dan minggu, Nanda benar-benar tidak bisa diganggu untuk diajak jalan. Remaja itu lebih suka mengurung diri di rumah untuk membaca novel dan komik, tetapi untuk penolakan ini ...


Bagaimanapun, Nanda dan Luna sama-sama suka membaca buku. Obrolan mereka nyambung. Jadi, Luna tidak akan kesepian. Namun bila Nanda tidak ikut ... yah, Raja dan Luna bukan teman mengobrol yang baik.


Nanda terlihat ragu. Ekspresi wajahnya resah, sukses mengundang tanya dari ketiga pasang mata yang penasaran.


Canggung, Nanda berjalan mendekati mobil, mencondongkan tubuh ke arah Yulis lalu berbisik. "Aku taruhan sama Mama."


"Taruhan apaan?"


"Uh ... gini loh, Mamaku nyuruh aku masuk 5 besar di mid-semester dan Semester ini, jadi, mulai sekarang, aku bakalan langsung pulang soalnya tiap hari, bakal ada tutor di rumah. Jadi, kalo aku berhasil masuk 5 besar, duit jajanku bakal naik, tapi kalo gagal, novel dan komikku disita."

__ADS_1


"Woah ... ," Yulis menatap Nanda dengan luar biasa. "Dosa apa lo sama Tante Dewi?"


Yulis, jelas sangat mengenal Mamanya. Meski Mama Nanda cerewet, tetapi wanita itu jelas bukan pemaksa. Dewi cenderung memanjakan Nanda. Selama anaknya tidak keterlaluan, wanita itu juga tidak pernah ambil pusing.


Nanda mencibir. "Mama lagi merajuk sama Papa, aku jadi korban."


"Ahahahaha!" Yulis langsung tertawa. "Makanya, suruh Nyokap dan Bokap lo buat anak lagi biar yang jadi korban bukan lo sendirian."


"Bah!" Nanda mendengus jengkel. "Yang ada malah aku yang disuruh cepet-cepet nikah biar mereka bisa kencan berduaan mulu. Ketimbang buat anak baru, mereka lebih milih ngebuang anak biar bisa honey-honeyan bareng."


Tawa Yulis semakin besar. "Aduh perut gue ... perut gue ... ."


"Lo sih Ndut, kelamaan jomblo," Alex ikut tertawa, geli mendengar ucapan Nanda. "Cari cowok sana! Oh, kalo gak dapet, ambil yang di sebelah gue aja nih, jumblo juga noh! Gue rekomendasiin, terjamin plus plus no minus. Mertua pasti langsung suka!"


"Oohh! Boleh, boleh," Nanda langsung cerah. Jantungnya berdegup kencang. "Bisa tester gak?"


Raja tersenyum geli. "Maaf, yang ini special. Limited edition, gak bisa tester dan sembarangan diubah status."


Alex tertawa, lalu menoleh ke arah Nanda. "Dah ah, masuk gih! Gue anter ke rumah."


Luna dan Yulis refleks menggeser, memberikan ruang untuk Nanda duduk. Hal itu sukses membuat remaja gemuk meringis.


"Sorry, aku pulang sendirian aja."


"Kenapa?" kali ini, Luna yang buka suara. Terdengar kecewa dengan penolakan Nanda.


"Lagi macet, lebih cepet jalan kaki," jawab Nanda enteng. Ia tersenyum, melambai ke arah penghuni mobil. "Aku duluan ya, kalo kangen, miss call dedek," tambahnya jenaka, lalu berbalik dan berjalan menjauhi gerbang--tidak membiarkan orang-orang di dalam mobil bereaksi untuk menahannya kembali.


Nanda tidak suka berbohong, terlebih di depan sahabatnya. Namun terkadang, berbohong itu adalah hal yang mampu menyelamatkan ... yah, meski hanya sementara.


"Perasaan gue aja, atau Nanda lagi agak aneh ya?" Alex menutup kaca, lalu mulai menjalankan mobil.


"Aneh gimana?" tanya Yulis bingung. Oh, dirinya yang sahabatan dengan Nanda, kok Alex yang sadar kalau Nanda sedang aneh?


"Tumben banget nolak dianter ... ."


"Oohh," Yulis tersenyum. "Gak ah, gak aneh, si Ndut lagi diet soalnya ... makanya milih pulang jalan kaki."


"Eh? Serius?"


"Serius lah ... tadi juga gue liat dia gak banyak ngemil. Bagus sih ... gak baek juga banyak makan junk food."


Alex tersenyum, tidak melanjutkan pembicaraan prihal Nanda kembali. Mobil melaju lamban, terjebak macet karena padat aktivitas kendaraan lain. Namun, penghuni mobil tidak merasa jenuh. Obrolan masih berlanjut, membicarakan apapun demi membunuh rasa bosan.


.


.


.


Berjalan kaki dari sekolah ke rumah, ternyata cenderung membuat tubuhnya sakit.


Kedua bahu yang membawa tas ransel terasa pegal, sukses membuat Nanda merintih merana. Oh, benarkah isi tasnya hanya buku? Bukan batu bata yang beratnya beberapa puluh Kg? Nanda curiga ada makhluk ajaib yang dengan sengaja membuat tasnya menjadi jauh lebih berat. Kakinya asam, seluruh tubuh bermandikan oleh keringat yang lengket. Hari pertama berjalan kaki santai dari sekolah ke rumah, Nanda merasa tubuhnya terasa hancur.


Oh, reaksi ini membuat Nanda tidak nyaman. Tubuhnya sangat lemah ... Nanda benar-benar bisa menebak bahwa besok, ia akan bangun dalam keadaan pegal-pegal.


Nanda menghela napas berat. Menghabiskan dua gelas air mineral lalu berbaring di atas sofa guna mendinginkan tubuh.


Memikirkan hari pertamanya ke sekolah, entah bagaimana Nanda merasa agak frustasi. Bertemu Boss dan rekannya, tetap harus tenang dan bertingkah agar tidak dicurigai ... ah, hari ini benar-benar seperti roller koster. Menaik-turunkan debar jantungnya dengan ekstream. Terlebih memikirkan kedamaian ini akan hilang ...


Nanda, sekali lagi, menghela napas berat. Ia tidak tahu apakah masa depan dengan kehidupannya yang dulu dan sekarang akan sama atau tidak. Namun yang pasti, ia berharap masa depan tidak akan hancur seperti kehidupan sebelumnya ...

__ADS_1


Yah ... semoga saja. Semoga saja tidak akan hancur dan umat manusia, tidak akan kembali tenggelam di dalam lautan kekejaman.


__ADS_2