Zombie

Zombie
33: Bertemu Ganesha


__ADS_3

Sosok itu gemetar, kedua tangan yang kurus memeluk erat pria di depannya seolah takut, bahwa pria ini akan pergi. Berbagai gejolak emosi menekan, memberikan tembakan yang akhirnya meledak dalam bentuk air mata.


Nanda, sungguh tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa menggeretakkan gigi, menahan isak tangis yang akan ke luar dan membiarkan air mata jatuh terus menerus mengungkapkan emosi yang tak tertahankan.


Benakah ini Ganesha? Benarkah ini suaminya? Ia sedang tidak bermimpi?


Sepasang iris cokelat yang kabur mendongak. Air mata masih menggantung, tetapi wanita itu dengan keras kepala memandang wajah yang berada di depannya. Kedua tangan yang semula memeluk, kini menangkup wajah pria yang begitu pucat. Rasanya dingin dan keras, seolah ia memegang balok es dan bukan manusia ...


"Ganesha?" Nanda memanggil. Suara serak, dengan rekus memperhatikan wajah suaminya dari jarak dekat. Anak-anak rambut yang membentuk wajah yang tegas, alis tebal yang hitam, hidung mancung yang terukir sempurna, sepasang mata hitam yang memantulkan wajahnya ...


Ini Ganesha? Ini benar-benar Ganeshanya?


Euforia seolah mencekik pernapasan Nanda. Ia terengah-engah, menatap wajah tampan yang berjarak beberapa cm. Sedikitpun tidak menahan diri, bibir yang basah karena air mata mulai menciumi wajah itu. Kening, mata, hidung, bibir ...


Deg!


Nanda membeku. Ia refleks melepaskan ciumannya dan menatap sosok pria itu dengan tidak percaya. Sepasang hazel membola sempurna, wajah tampan itu terbiaskan di sepasang iris kecokelatan. Rona merah penuh antusiasme, yang semula menghiasi pipi, kini menghilang.


Tepat ketika Nanda membuka paksa bibir Ganesha dan memasukkan lidahnya ke dalam guna memperdalam ciumannya, ia mulai merasakan hal aneh. Suhu dingin memasuki indra, seolah ia sedang menjilat es krim. Namun hal ini masih membuat jantungnya berdebar antusias, membakar gairahnya. Sayang, itu hanya beberapa detik tepat ketika ia sudah berhasil menjerat lidah pria itu.


Seandainya Nanda tidak menyadari bahwa sesuatu seolah mulai masuk dan menyerang tubuhnya, ia yakin masih akan mencium bibir itu dan dengan paksa melakukan hal-hal tak terkatakan ...


Virus Zombie.


Wajah Nanda memucat sempurna. Ia langsung terbatuk, begitu keras hingga membuatnya pusing. Beberapa saat kemudian, ia memuntahkan beberapa suap darah hitam di atas kasur. Aromanya busuk, seperti bangkai. Benar-benar mengganggu momen indah penuh reuni yang sempat membuatnya tenggelam di dalam euforia.


Cairan hitam yang keluar dari mulutnya sukses membuat Nanda merasa ditampar. Memberitahukan kenyataan yang tidak pernah terpikirkan di dalam kepala.


Tubuh ini sudah mencicipi virus zombie yang menyerang, sejak pertama kali berhasil mengeluarkannya dengan kemampuan, Nanda tahu, tubuhnya mulai bisa mendetoksifikasi virus zombie. Karena itu, begitu merasakan bahwa ada virus zombie yang masuk, energinya mulai bergumpul. Menyaring virus yang bergerak lincah dan mengeluarkannya ...


Tetapi dari mana virus itu?


Wajah Nanda memucat, menatap suaminya dengan tidak percaya. Namun sosok yang dipandang membalas tatapannya dengan cemas. Pria yang semula hanya diam dan pasif, kini bergerak gelisah. Sepasang iris hitam menatap Nanda, alisnya berkerut, lalu mendadak, setumpuk nukleus muncul di kedua tangan pucat yang kasar. Sosok tinggi itu membungkuk, menaruh segenggam penuh nukleus berwarna-warni di atas kasur tepat di hadapan Nanda.


Nanda tidak bereaksi sama sekali. Pikirannya kosong, mendadak sebuah kesimpulan menguncang jiwa. Namun sepasang hazel tetap tidak bergerak. Mengikuti apa yang suaminya lakukan tanpa sedikitpun bisa untuk bereaksi ...


Takut bahwa kehangatan kecil tidak mengerti meksudnya, Ganesha mengambil salah satu nukleus. Sebelah tangan yang lain bergerak, meraih pergelangan tangan manusia perempuan dengan lembut, membalik dan menaruh nukleus di telapak tangan yang mungil. Dengan hati-hati, seolah takut bahwa ia akan menyakit kehangatan kecil, pergerakan jemari sedingin es dengan lembut membuat tangan kecil itu menggenggam nukleus.


"Agh ...," suara geraman dari dasar tenggorokan mengalun, sangat lembut seolah mencoba menenangkannya.


Sepasang hazel merunduk, menatap salah satu tangan kecil, yang digenggam hati-hati oleh kedua tangan besar Ganesha. Tangan ini keras dan dingin, seperti es yang menutupi. Namun entah bagaimana, Nanda bisa merasakan kehangatan seolah membelenggu hatinya, tetapi juga dengan kejam menusuk dan mengiris hingga memberikan perasaan sakit tak terkira.


Tanpa sadar, satu, dua tetes air mata kembali jatuh. Melewati pipinya lalu pecah ketika terjatuh di atas tangannya dan Ganesha. Nanda membuka, lalu menutup mulut hanya guna untuk mengambil oksigen sebanyak mungkin. Tubuhnya gemetar, lemas dan tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya sekarang. Kebahagiaan yang semula memeluk, kini berubah menjadi duka yang menusuk.


Nanda menunduk, menyandarkan kepala ke bahu bidang pria di depannya.


"Maafkan aku ... ."


Kau berubah menjadi zombie ... kau berubah menjadi zombie karenaku ...


"Maafkan ... ."


Tetapi kau tidak marah dan tetap memperlakukanku dengan baik ...

__ADS_1


"Sayang ... sayang ... ," Sebelah tangan bebas terulur, meraih sisi wajah sang suami. Jemari kecil itu gemetar, dengan lembut, ibu jari mengusap pipi yang keras dan pucat. Nanda mendongak, menatap sepasang iris gelap yang sangat ia kenali. Namun pandangannya kabur oleh air mata, hanya bisa melihat siluet yang begitu berarti dan menderita karena dirinya sendiri ...


"Sayang ... maafkan aku ... maafkan aku ... ."


Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku bersumpah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi ...


.


.


.


Menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Sekarang, Nanda merasa sedikit lebih tenang. Meski ia masih tidak bisa menyingkirkan perasaan bersalah yang bergelayut di hati, setidaknya ia sudah berpikir dengan jernih.


Menatap sosok tinggi yang mengenakan pakaian compang-camping, wanita berhelai rambut panjang itu menelan liur paksa. Sepasang hazel memperhatikan sosok yang kembali berdiri tegap di samping kasur, balas menatapnya dengan sepasang iris hitam yang jernih dan alis tebal yang menukik bak pedang. Kontur wajah yang tegas dengan kulit yang jauh lebih pucat dan bibir tipis pucat ...


Suaminya menjadi zombie, tetapi entah kenapa terlihat lebih tampan.


Nanda memerah, tidak bisa menyembunyikan jantungnya yang berdebar keras. Entah kenapa, ia tidak bisa menatap langsung wajah sempurna itu. Terlebih sepasang mata hitam yang biasanya cenderung lembut dan dingin, kini memandangnya dengan polos ... oh, hal ini membuat Nanda lebih merasa malu. Ayolah! Ganesha tidak pernah memandangnya seperti ini, membuat jantungnya semakin tidak tenang.


"Umn ... Sayang, ini di mana?" Nanda kikuk, memandang sekeliling dan tidak memandang ke suaminya kembali. Ruangan ini jelas adalah kamar, tetapi sangat berantakan dan berdebu ... selain kasur, sepertinya tidak ada tempat lain yang bersih.


"Agh?"


Nanda mengerjap. Ia kembali menatap Ganesha begitu mendengar suara geraman. Keduanya saling memandang dan menampilkan ekspresi kebingungan yang serupa.


"Nes ... NesNes? Sayang? Baby? Suamiku tercinta?" Nanda mulai memanggil dengan sejuta panggila kesayangannya. Lalu, sosok zombie kembali menggeram. Nada yang sama, dengan ekspresi kebingungan yang masih tercetak di wajah pucat itu.


Alis Nanda mengernyit. "Nes ... uh ... Sayang, kamu mengerti bahasaku?"


Nanda membuka mulutnya, hendak berbicara, tetapi mendadak, ia kembali menutup mulut. Uh ... tunggu dulu. Suaminya tidak bisa ... bahasa manusia? Oke, tidak apa-apa tetapi bukankah ada masalah lain yang lebih penting? Ganesha ... Ganesha sepertinya tidak mengerti bahasanya?


"Sayang, aku lapar," Nanda kembali buka suara. Alisnya mengernyit dengan kedua tangan di perut seolah mencoba menegaskan bahwa ia lapar. Namun reaksi suaminya benar-benar diluar dugaan. Wajah pria tampan itu berubah, mendadak terlihat panik dan cemas. Dari udara kosong, setumpuk nukleus berwarna-warni ke luar dan jatuh tepat di atas kasur.


"Agh! Agh!" Ganesha langsung menyerahkan setumpuk nukleus, meraih tangan Nanda dengan lembut dan mencoba menyuruhnya untuk menyerap nukleus sesegera mungkin ...


Sebentar. Ia mengatakan lapar, bukan sakit! Ganesha jelas salah menafsirkan bahwa ia kesakitan, bukan kelaparan ... Uh, suaminya benar-benar tidak mengerti bahasa manusia!


Nanda ingin menangis rasanya. Oke, selain beda ras, sekarang mereka memiliki sebuah masalah dasar yang sederhana dan fatal. Komunikasi.


"Aku tidak apa-apa NesNesku sayang," Nanda mencoba menghibur. Mengambil setumpuk nukleus dan menyimpannya ke dalam ruang. Oke, suaminya sudah memberikan, tidak baik mengembalikan. Bagaimanapun, uang suami adalah uang istri.


"Oke, oke, lihat? Aku baik-baik saja, aku tidak kenapa-kenapa," ujarnya seraya merenggangkan kedua tangan, lalu mulai membuat senam kecil seraya tersenyum menatap Ganesha yang mengawasi. Oh, sungguh, Nanda tidak tahu harus mengungkapkan perasaannya bagaimana. Melihat kepanikan suaminya dan kesalah pahaman kecil ini, membuatnya tidak bisa menahan senyum.


Kenapa perubahan suaminya menjadi zombie, membuatnya jauh lebih manis?


Namun Ganesha masih menatap Nanda dengan gugup. Sepasang mata hitam tidak henti mengawasi setiap pergerakan, seolah takut, manusia di depannya akan mendadak diserang oleh rasa sakit. Namun pengawasan dari zombie di depannya membuat Nanda merasa Ganesha semakin imut. Ia tidak tahan dan langsung mencium pipi suaminya.


"Sayang, apakah ini rumah kita?" menatap sekitarnya, Nanda bangkit berdiri. Ia berjalan menuju jendela yang sudah tidak lagi berbingkai. Dari sini, ia bisa melihat keadaan luar yang cenderung tenang dan asri. Yah ... tenang seandainya Nanda tidak melihat tumpukan zombie level atas yang berkeliaran.


Dari lantai dua kamar, Nanda bisa melihat halaman belakang rumah. Terdapat rerumputan yang sudah tinggi, juga sebuah pohon yang rimbun di dekat jendela. Di luar pagar kayu, zombie-zombie berkeliaran, sesekali berhenti hanya untuk memandangnya. Namun karena semua yang berada di sekitar bangunan adalah zombie level 5 dan 4, Nanda menemukan penampilan mereka agak ... menarik.


Tidak berbeda seperti manusia biasa, selain kulit mereka yang agak kelabu dan pakaian mereka compang-camping dengan banyak bercak sisa darah, zombie ini benar-benar seperti manusia yang sedang berjalan-jalan.

__ADS_1


Sepertinya ini di pedesaan? Nanda menebak-nebak, memandang beberapa rumah yang berjarak tidak terlalu jauh. Namun lingkungan sekitar memang cenderung asri. Rumah ini berada di puncak bukit, membuatnya dengan mudah memperhatikan beberapa pepohonan rimbun dan area persawahan yang jelas telah tidak terurus. Seandainya ia tidak melihat langsung siapa yang berkeliaran di sekitar, Nanda akan mengira ini adalah pedesaan yang aktif karena mengira zombie adalah manusia.


Kamampuan anginnya hanya akan menghantarkan suara dan aroma, oke? Dari suara, ia baru bisa menggambarkan. Namun gambar itu sendiri tidak disertai warna. Hanya sebuah garis kasar yang lebih mirip sketsa bergerak.


"Sayang, rumah ini sangat berantakan, halamannya juga belum terurus, kita harus membersihkannya," Nanda menghela napas. Berbalik dan memandang suasana kamar yang berantakan. Meski suaminya tidak mengerti apa yang dikatakan, Nanda tidak bisa menahan diri untuk terus berbicara. "Atau kita harus ke luar dan mencoba mencari rumah yang lebih baik? Sayang, jendela dan pintu di sini rusak, aku tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya dan kau pasti juga tidak tahu."


Nanda berjalan mendekati Ganesha, tanpa sungkan meraih tangan yang lebih besar dan menggandengnya. "Ayo ke luar, sudah lama kita tidak kencan kan?" ujarnya jenaka. Ia tidak takut berada di luar. Suaminya, jelas lebih kuat. Mungkin level 6? Atau 7? Ganesha tidak terdeteksi oleh radarnya, membuat Nanda agak cemas. Namun mendapati bahwa lelaki ini berada di jarak pandangannya, hal itu meredam kegelisahan Nanda.


Sepasang iris hitam menatap tangan yang digandeng, lalu menatap wajah tersenyum Nanda. Sebuah geraman terdengar, seolah menanggapi apa yang Nanda ucapkan. Hal itu membuat sang istri terkekeh. Tanpa sungkan memeluk lengan yang keras dan dingin.


"Oh, ini tangan atau es batu? Dingin sekali," Nanda menggerutu, agak cemberut seraya menepuk-nepuk lengan Ganesha. Zombie yang dipeluk hanya mengerjap. Menuruti langkah kaki manusia perempuan yang menuntunnya ke luar dari rumah. Keduanya berjalan di jalan setapak yang tidak beraspal. Jalannya agak berbatu dan kering, dengan deretan rumah di pinggir jalan. Namun di belakang rumah, terdapat hutan atau perkebunan. Jalanan juga jelas mengarah menuju ke persawahan yang berada di dataran rendah.


Ini jelas sebuah desa, sayangnya tidak berpenghuni manusia, tetapi zombie.


Nanda dengan serius menatap sekeliling. Berjalan seraya memilah-milah rumah mana yang terlihat lebih baik. Oh, itu akan menjadi rumah mereka, Nanda menginginkan yang terbaik, yah ... mumpung geratis. Terlebih banyaknya zombie level 4 dan 5 di sekitar, 100% Nanda yakin tidak ada manusia lain selain dirinya di sini. Jadi, ia jelas bebas memilih rumah mana yang ingin ditinggali. Terpenting, rumah itu harus kokoh dan kuat. Bila sewaktu-waktu ada angin kencang atau badai kembali, setidaknya rumah itu akan tetap utuh.


Setelah membandingkan rumah yang satu dengan yang lainnya selama beberapa waktu, Nanda pada akhirnya menjatuhkan pilihan pada sebuah rumah berlantai satu yang sederhana. Rumah itu memiliki halaman kecil, dengan pagar besi yang hanya sebatas pinggang orang dewasa. Dindingnya di cet krem, agak kusam, tetapi baik pintu maupun jendela, semuanya dalam keadaan utuh. Atap juga masih utuh.


Meski hanya memiliki satu kamar yang akan langsung berhadapan dengan ruang tamu, juga sebuah dapur yang memiliki satu kamar mandi, tetapi itu lebih dari cukup untuk dihuni dua orang. Nanda tidak menunda waktu sama sekali. Dengan kemampuan air dan angin, menyingkirkan debu dan semua kotoran yang ada di rumah, juga melemparkan semua barang rusak ke luar halaman, dalam setengah jam, keadaan rumah langsung bersih dan ... kosong.


"Oke," Nanda mengangguk puas. Tersenyum lima jari dengan sepasang hazel yang bersinar, Nanda memandang zombie yang membantunya melemparkan barang rusak ke luar halaman. Ia menggandeng tangan Ganesha, menyeretnya masuk ke dalam ruangan kosong yang menjadi kamar. Dalam sekali kedipan, sebuah kasur berukuran queen size muncul. Masih berlapis oleh pelastik dan jelas baru.


"Sayang, apakah zombie perlu tidur?" Tanya Nanda penasaran. Ia melepaskan pelukannya, melemparkan dirinya ke atas kasur yang empuk, mengeluarkan seprai dan selimut, lalu mulai berbenah. Kamar ini kecil, ia hanya bisa menggunakan kasur berukuran queen size untuk tidur. Selain kasur, Nanda tidak bisa memikirkan untuk menaruh lemari. Bagaimanapun, masih lebih praktis ruang dimensinya ketimbang lemari.


"Coba pilih, seprai warna apa bagusnya? Oh! Warna biru lebih bagus!" Nanda tertawa. Bertanya dan menjawab sendiri.


"Apakah sebaiknya dindingnya kita cat ulang? Ah, tidak ... terlalu merepotkan. Lagipula, kita hanya sebentar di sini."


"Sayang, perlukah kita memasang lampu? Apakah Zombie bisa melihat dalam gelap sepertiku? Ah, benar. Ini dekat dengan hutan, siapa tahu kita bisa melihat kunang-kunang kan? Sebaiknya tidak perlu lampu."


Sepasang iris hitam hanya memperhatikan manusia perempuan yang hari ini begitu aktif dan ceria. Nanda tidak marah, ia terbiasa berbicara sendiri tanpa tanggapan. Bahkan sebelum Ganesha menjadi zombie, pria itu terkadang membiarkannya berbicara sendiri seolah berbicara dengan tembok. Jadi, tindakan Ganesha sekarang, bukanlah hal yang aneh menurutnya. Meski Ganesha sesekali menggeram seolah menanggapi, Nanda cukup sadar diri bahwa frekuensi otaknya dan Ganesha di jalur yang berbeda.


Selesai menata kamar, Nanda mendapati perutnya keroncongan. Wanita itu menghela napas, menarik Ganesha untuk ke luar kamar dan mereka duduk di atas lantai berlapis karpet bludru yang lembut dan hangat.


Sepasang hazel berbinar, menatap suaminya dengan penasaran. "Sayang, apakah zombie bisa memakan makanan manusia?" tanyanya lalu mengeluarkan sebuah apel dan sekotak steroform. Di dalam kotak putih itu, berisi satu set makan siang. Oh, terima kasih dengan kebiasaan menimbun makanan. Ada banyak yang seperti ini di dalam dimensinya. Terlebih untuk satu orang, Nanda tidak perlu memikirkan untuk memasak sama sekali.


"Agh?" Zombie itu mengerjap, bingung. Sepasang mata memandang apel yang diberikan Nanda, sebelum akhirnya menatap kembali ke manusia perempuan di depannya.


Nanda merasa gemas dengan pandangan sepasang iris hitam yang polos itu. Namun, sedikit ke khawatiran mendadak meraba. Oh, setahunya, Zombie memakan daging mentah segar ... Nanda tidak pernah melihat zombie memakan bangkai. Namun, apakah mereka bisa memakan daging yang dikelola? Memakan makanan manusia, tidak akan membuat perut mereka sakit kan?


Agak ragu, Nanda kembali menyimpan apelnya dan memilih membuka bekal makan siang. Tanpa ragu, ia langsung mencubit ayam gorengnya dan mengarahkan uraian daging putih itu ke mulut Ganesha. "Sayang, coba makan ini, bila tidak bisa menelannya, kau bisa memuntahkannya."


Ganesha mengerjap beberapa kali. Ia menatap sedikit daging putih yang diberikan Nanda. Mengendus sebentar, alis pria itu terpaut, terlihat jijik dengan aromanya. Melihat reaksi suaminya yang mengalami penolakan, Nanda hendak menarik tangannya tetapi mendadak, Ganesha membuka mulut, Dengan ringan dan lembut, memakan daging ayam yang berada diantara ibu jari dan telunjuk Nanda.


"Ah?" Agak kaget, Nanda mengerjap beberap kali, Namun, ia langsung bereaksi. Menatap ekspresi tidak menyenangkan yang jelas tercetak di wajah suaminya. Nanda ingin tertawa, tetapi mengingat bahwa hal ini sangat penting, ia lebih memilih menahan diri. "Bagaimana? Kau bisa menelannya?"


Tidak ada jawaban dari Ganesha. Zombie tampan itu mengkatup rapatkan bibirnya menjadi garis lurus.


"Coba buka mulut, Aaaaa," Nanda membuka mulutnya, memberikan contoh gerakan. Bagusnya, Ganesha meniru. Membuka mulutnya dan menampakkan rongga yang ... kosong. Oh, ayamnya sudah di telan? "Bagaimana? Apakah sakit perut? Walau rasanya tidak enak, apakah masih bisa diterima?"


Ini bukan masalah apakah Ganesha menyukai rasanya atau tidak, permasalahannya adalah ... apakah memakan makanan manusia, tidak akan membuat zombie sakit perut? Atau memberikan efek samping negatif lain? Nanda menatap serius Ganesha. Energi air bergerak, lembut dan hati-hati memeriksa tubuh suaminya.


Terima kasih untuk kemampuan air ini, mengingat bahwa semua makhluk hidup pasti memiliki cairan di dalam tubuhnya, Nanda dengan mudah memanipulasi cairan itu. Namun ... jangankan tubuh zombie, ia bahkan belum pernah melakukan analisa untuk manusia! Nanda menghela napas. Ia perlu perbandingan tubuh Ganesha dengan tubuh zombie yang lain.

__ADS_1


Mendadak perut Nanda berbunyi, protes karena ada makanan tetapi tidak dimakan. Hal ini membuat Nanda agak cemberut. Oh, sebaiknya ia makan dulu sebelum melakukan beberapa hal secara bertahap..


__ADS_2