
Nanda tidak akan bergerak bila permintaannya belum terpenuhi, itu sebabnya, setelah ia membuat kesepakatan dengan kelompok Raja, ia tidak langsung mengajar. Sebaliknya, wanita berkuncir itu dengan senang hati berjalan-jalan di pangkalan Hijau tanpa mau tahu kekacauan yang disebabkannya.
Pangkalan Hijau, alasan kenapa Pangkalan ini disebut Pangkalan Hijau karena dinding pangkalan yang pada ujungnya berwarna hijau. Pemimpin Pangkalan adalah pengguna kemampuan kayu. Ia membuat ujung setiap dinding ditumbuhi oleh banyak rerumputan hijau yang subur sehingga membuat dinding tanah kecoklatan seperti memiliki rambut afro berwarna hijau.
Alasan untuk tindakan ini sangat sederhana. Karena Pemimpin merasa udara busuk yang disebabkan para zombie sangat mengganggu, ia ingin Pangkalannya tidak sebau itu. Jadi ia membuat banyak tumbuhan hijau tumbuh subur di atas dinding tanah agar udara yang berhembus lebih tersaring dan segar untuk dihirup.
Karena terlalu unik, Nanda tidak tahan bila ia hanya di dalam mobil. Itu sebabnya sekarang wanita berkuncir itu berada di sini. Berdua dengan Ganesha, berjalan-jalan di hiruk pikuk pasar Pangkalan HIjau. Pasar ini tidak jauh berbeda dengan pasar tradisional yang biasa dilihat. Perbedaan mendasar hanya pada barang-barang yang dijual dan media penukaran, lebih memilih untuk menggunakan nukleus sebagai pengganti uang..
Namun, ketimbang beberapa pangkalan lain, pangkalan Hijau terbilang lebih mewah. Lihat saja beberapa bangunan ruko dan bangunan lainnya yang tersusun dengan baik. Terbagi menjadi dua area yang sangat berbeda. Bagian orang-orang yang memiliki toko dan bagian orang-orang yang berjualan dengan menggunakan stand yang dibangun sendiri. Nanda dan Ganesha, tentu saja memilih ke kompleks bangunan Ruko. Area bagian ini tidak sepadat area yang hanya menggunakan tenda, tetapi masih terbilang cukup ramai dan sangat hidup.
"Nanda!" Nanda menoleh, menatap seorang pemuda yang tersenyum cerah ke arahnya seraya berlari mendekat. Dalam hitungan detik, Nanda langsung mengenali remaja itu. Ia adalah Putra, salah satu pengguna kemampuan pengelihatan jauh. Bekerja dibawah perintah Alfa.
"Waah ... kamu juga jalan-jalan?" Nanda menatap remaja itu dengan penuh minat. Ini adalah pengguna kemampuan termuda di kelompok Raja. Raja hanya memiliki 11 pengguna kemampuan. Beruntung, selain Ifa, semuanya memiliki kemampuan tempur yang cukup baik.
"Ehehehe ... kami disuruh nyari info soal buat stand, tapi memang sekalian jalan-jalan juga sih," Putra nyengir, lalu ia menoleh ke samping. Menatap pria bertopeng dengan tubuh jangkung. Ia mengangguk. "Halo Kak Ganesha," sapanya ramah. Jauh lebih sopan ketimbang menyapa Nanda.
Ganesha tidak mengatakan apapun. Ia hanya mengangguk sebagai balasan salam. Putra sudah terbiasa. Semua orang di kelompok tahu bahwa Ganesha tidak suka berbicara dan sangat sulit untuk didekati. Beruntung ada Nanda, anak perempuan ceria yang setidaknya, sedikit meredam keberadaan suram pria bertopeng itu.
"Kami?" Nanda mebeo bingung. "Di mana yang lain?" sepasang hazel menatap sekeliling, tetapi tidak menemukan wajah-wajah yang mirip dengan anggota kelompok Raja.
Putra meringis. "Tadi sama kakak-kakak, tapi kami kepisah," jawabnya jujur. "Gimana kalo kita bareng aja? Aku agak ... yah, kita bareng aja gimana?"
"Oke!" tanpa ragu, Nanda mengangguk setuju, diam-diam tertawa di dalam hati.
Nanda mengerti kegelisahan Putra. Bagaimanapun, remaja ini adalah seorang pria yang terlihat kecil dan agak lemah. Sendirian berkeliaran di tempat asing, meski ia memiliki senjata di tangan dan bisa membela diri, tetapi akan sangat tidak aman bila tanpa sengaja, ia menyinggung beberapa pihak ketika sedang asik berjalan-jalan.
Sekarang zaman sudah berubah. Moral jatuh ke titik terendah. Saling membunuh di tempat, bukan lagi sesuatu yang aneh. Hanya karena masalah sepele, beberapa hal akan langsung diselesaikan dengan menghilangkan nyawa orang-orang yang memiliki posisi rendah. Terlebih mereka hanya tamu, meski ada beberapa penjaga di Pasar untuk melakukan ketertiban, tetapi itu tidak menjamin nyawa akan tetap aman kan?
Nanda dan Ganesha berpakaian bagus dan bersih. Terlebih dengan keberadaan Ganesha yang mengenakan topeng iblis dan tubuhnya yang jangkung, beberapa orang akan berpikir dua kali untuk mencari masalah. Itu sebabnya, Putra tanpa sungkan akan menempel dengan Ganesha dan Nanda begitu matanya menemukan pasangan ini.
"Kalian mau buat stand?" Nanda bertanya, tertarik dengan info yang sebelumnya Putra berikan. Remaja yang berjalan tepat di samping Nanda, mengangguk. Bagaimanapun, mereka yang membuat stand bukan lagi rahasia. Kelompok mereka menetap bukan hanya untuk menumpang tempat berlindung, tetapi juga sedikit mengumpulkan uang dengan berjualan.
Dengan penuh semangat, sambil berjalan, ia menjelaskan kebiasaan kelompok Raja ketika sampai di sebuah pangkalan. Mereka biasanya membangun stand, menjual beberapa barang yang ditemukan selama perjalanan dan uangnya akan masuk ke dalam kas kelompok untuk dikelola. Beberapa barang pribadi yang bukan milik kelompok, tentu saja hasil penjualannya akan masuk ke dalam kantong pemilik barang.
"Ini kesempatan untuk mendapat nukleus tanpa membunuh zombie, tapi biasanya kami keliling dulu, meriksa harga barang di pasar dan juga mastiin peraturan pasar. Kak Ifa dan Kak Dwi orangnya teliti, makanya sebelum mutusin untuk ngebangun stand, kami harus buat laporan dulu ke mereka."
Nanda mengangguk. Kebiasaan membangun stand saat berhenti di satu pangkalan, juga merupakan kebiasaan yang diingatnya di dalam kehidupan sebelumnya. Namun, karena Nanda tidak terlalu peduli dengan hal-hal yang berhubungan dengan nukleus, biasanya ia hanya berlatih lagi dan lagi ketika sampai di pangkalan. Bukannya Nanda benar-benar tidak peduli, tetapi ia sadar bahwa dirinya adalah wanita dan tidak memiliki kemampuan, itu sebabnya ia mencoba mengasah tajam dirinya agar tidak ada seorangpun yang bisa menghina atau bahkan mencoba melecehkannya.
__ADS_1
Saat itu tidak ada yang melindungi Nanda sama sekali. Berkeliaran hanya akan menimbulkan masalah baginya kerena ia cenderung cantik dan kurus. Bahkan Raja yang merupakan Bossnya, tidak akan mungkin untuk selalu melindungi Nanda. Itu sebabnya ia hanya bisa mengandalkan diri sendiri dan selalu ingin menjadi kuat dan lebih kuat lagi.
"Oh? Ada apa di depan?" Putra mendadak berseru, terlihat sangat tertarik dengan sesuatu. Hal itu membuat Nanda turut tertarik, menoleh ke arah pandang putra dan menemukan sebuah bangunan besar yang agak ramai. Bangunan itu tunggal, terlihat sebagai bangunan paling luas di area ini. Sangat mirip seperti sebuah rumah bergaya Eropa yang mewah dan besar. "Ah! Tempat pelelangan!"
"Lelang?" Nanda tertarik, menoleh ke arah Putra yang matanya secerah lampu neon.
"Ya!" Putra mengangguk. "Di papan itu tulisannya rumah lelang, dari kakak-kakak juga, kudengar, rumah lelang Pangkalan Hijau terkenal. Setiap dua minggu sekali, mereka akan mengadakan lelang," jelasnya. Remaja itu terlihat berseri-seri, tidak sabar untuk mendekati area rumah mewah tetapi masih menahan diri agar tidak berlari ke sana.
Bagaimanapun, ia belum pernah ke tempat pelelangan, tetapi sekarang ia bersama dengan Nanda dan Ganesha, tidak bisa memaksa mereka agar bisa pergi ke sana. Nanda tertawa melihat betapa antusiasnya remaja itu, pada akhirnya ia tersenyum lima jari, menunjukkan ekspresi penasaran yang sama dan melangkah ke rumah lelang.
Ketika mereka memasuki pintu ganda yang terbuka lebar, mereka disambut oleh ruangan besar dengan area yang terbagi dua. Ada sebuah stand bertuliskan penjualan tiket, ada dinding monitor besar yang memaparkan barang-barang lelang. Orang-orang di dalam terbagi menjadi membeli tiket atau melihat barang apa yang akan dilelang.
Gambar-gambar yang berada di dinding disertai nama, penjelasan dan harga awal. Namun, yang membuat Putra terkejut adalah, diantara gambar itu, terdapat gambar seorang anak lelaki cantik, juga terdapat dua foto wanita yang cantik. Hanya sekali lirik, Nanda tahu bahwa tempat Pelelangan ini juga melelang manusia. Apapun itu, asalkan bisa menghasilkan banyak Nukleus, itu bisa dilelangkan.
"Halo, selamat datang di Rumah Lelang Pangkalan Hijau," seorang wanita cantik yang mengenakan setelan formal mendadak menyapa, mengagetkan Putra yang sedang terpesona menatap sekeliling. Wanita itu tersenyum ramah, seolah tahu bahwa ketiga orang yang berkunjung merupakan pendatang baru. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Ah, kami ... kami baru di sini," mendadak, Putra agak tergagap. Entah bagaimana, ia seperti masuk ke sebuah toko dan seolah pelayan toko menghampiri dengan ramah, menjelaskan barang yang dijual dengan sepenuh hati hingga membuat pelanggan yang terjebak masuk merasa bersalah bila tidak membeli. "Itu ... Kak, untuk ikut lelang, ada peraturannya?"
Wanita itu mengangguk, masih terlihat sopan dan dengan ramah mulai menjelaskan. "Ya, untuk mengikuti lelang, pertama kalian harus membeli nomor tempat duduk yang dijual di sana," wanita itu menunjuk ke arah stand dengan beberapa orang yang mengantri. "Tempat duduk dibagi menjadi tiga kelas, kelas satu, dua dan tiga. Kelas Tiga untuk umum, kelas dua untuk orang-orang yang melelang barangnya dan kelas satu untuk orang-orang yang membeli tiket VIP."
"Kursi kelas tiga dan satu, biasanya dijual umum di tempat yang sama, tetapi untuk kelas dua, itu khusus untuk orang-orang yang melelang barangnya. Nah, apakah kalian tertarik untuk ikut lelang? Pelelang akan diadakan lusa nanti, jadi kemungkinan yang tersisa sekarang adalah kursi kelas tiga."
"Kami ingin ikut pelelangan," Nanda buka suara, tidak mau terlihat terlalu berpikir tentang wajah wanita ini yang akrab di pengelihatannya. "Ada barang yang ingin kami lelang."
Wanita itu tersenyum. "Kalau begitu, mari ikut saja," ujarnya lalu berbalik dan memimpin jalan.
"Ada barang yang ingin kau lelang?" Putra membeo bingung. Ia menatap Nanda yang berjalan di sampingnya.
Nanda nyengir. "Ada dong!"
"Apa?"
"Ra~ha~si~a!"
Putra berdecak, tidak lagi bertanya begitu mendengar nada menyebalkan Nanda. Wanita yang memimpin jalan membawa ketiga tamu menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Lalu, ia berhenti di sebuah pintu yang tertutup. Mengetuk pelan pintu itu sebelum akhirnya seseorang membukanya.
"Silahkan, di dalam ada seseorang yang akan menilai barang yang akan dilelang," ucap sang Wanita, ramah. Putra dan Nanda saling pandang, lalu keduanya sama-sama masuk diiringi Ganesha yang mengekori sepasang remaja. Entah bagaimana, karena tubuh Ganesha yang hampir setinggi 2 meter, Nanda dan Putra terlihat seperti sepasang anak-anak yang sedang diasuhnya.
__ADS_1
Di dalam ruangan tidak terlalu besar. Hanya seperti sebuah ruang tamu dengan satu set sofa. Di sana, seorang pria tua duduk mengenakan setelan jas yang rapi. Ia menoleh, tersenyum menatap ketiga orang yang memasuki ruangannya.
"Selamat datang, silahkan duduk," ucapnya seraya bangkit berdiri dan mempersilahkan Ganesha, Putra dan Nanda untuk duduk di sofa. Tanpa merasa sungkan, ketiganya duduk, diikuti pria tua yang memilih duduk bersebrangan dengan tiga orang tamu. "Halo, sebelum menyerahkan barang yang ingin dilelang, di sini saya ingin menjelaskan kesepakatan Rumah Lelang Pangkalan Hijau ini."
"Kesepakatan?" Putra bingung, ini pertama kalinya ia memasuki rumah lelang dan ingin melelang barang, hal ini benar-benar baru untuknya.
"Ya, peraturan," Pria tua itu mengangguk. "Peraturan pertama, kami tidak akan memberitahukan identitas orang-orang yang melelangkan barang, peraturan kedua, kami yang menentukan harga awal dan disesuaikan dengan kualitas dan seberapa berharga barang itu. Peraturan ketiga, barang yang sudah dilelang, tidak bisa diminta kembali. Peraturan keempat, harga akhir lelang akan dipotong 30% untuk biaya administrasi, bagaimana?"
"Oke," Nanda tanpa ragu setuju. Bagaimanapun, kesepakatan yang diberikan merupakan hal-hal umum yang adil. Waualu 30% rasanya itu adalah biaya yang agak ... mahal.
"Baik, kalau begitu, boleh saya melihat barang yang ingin dilelang?"
Nanda tersenyum, ia membuka ransel yang sejak tadi tersemat di punggungnya dan mengeluarkan sebungkus kopi dari dalam ruang dimensinya. Berat kopi ini hanya 500 gram, masih terbungkus dengan baik dan terlihat baru. Pria tua yang melihat kopi, terlihat berseri-seri. Senang bukan main melihat kopi hitam yang sudah lama sekali belum pernah diminumnya, tetapi ketika ia memegang dan memeriksa kopi, senyuman pria itu menghilang.
"Ekspaired?" beonya.
Nanda tersenyum, sudah mengantisipasi pertanyaan ini. "Tidak," sangkalnya. "Aku mengenal seorang teman yang memiliki kemampuan mengubah semua jenis makanan busuk, ekspaired dan lainnya, menjadi baru dan fresh kembali. Jadi, aku meminjam jasanya untuk meregenerasi kopi ini. Bila tidak percaya, ini salah satu kopi yang dia ubah menjadi baru."
Nanda kembali mengeluarkan sebungkus kopi, kali ini saset kecil dan memberikannya kepada pria tua itu. Pria itu menerimanya, memperhatikan tampilan kopi saset yang baru tetapi jelas ekspaired, memperhatikan apakah ini pernah terbuka atau tidak, lalu merobek saset, memeriksa butiran hitam yang mengeluarkan aroma wangi kopi.
Pria itu memejamkan kedua mata, menikmati dan meresapi aroma wangi kopi sebelum akhirnya tersenyum dan memandang ketiga orang di hadapannya. "Ini sangat baik ... kopi yang baik," ujarnya dengan nada nostalgia. "Bisa saya membeli kopi yang sudah dibuka ini?" tanyanya.
Nanda terkekeh. "Tentu," setujunya. "Lalu Anda percaya dengan kemampuan teman saya?"
Pria itu tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, tetapi saya harus membuka kopi ini dan memindahkannya ke tempat yang baru. Bagaimanapun, ketimbang kopinya, saya khawatir justru keberadaan teman Anda yang akan menjadi fokus peserta lelang."
"Terima kasih," wanita berkuncir berujar tulus. "Lalu harga berapa yang ditetapkan? Saya ingin melelangnya secara bersama-sama, 500 gram kopi."
Pria itu terdiam untuk beberapa saat. Sepasang mata kembali fokus menatap sebungkus kopi di tangannya, menatap merk dan juga berat yang tertera pada bungkus. "Untuk harga awal, saya akan menetapkan harga 5 nukleus level 3, bagaimana?"
Putra menelan liur paksa. Tercenga dengan harga nukleus level 3. Oh, ini benar-benar banyak! Terlebih ini baru harga awal, harga ini akan melonjak seiring dengan penawaran nanti!
"Setuju," Nanda mengangguk, puas dengan harga yang pria tua itu berikan. Toh ia dan Ganesha tidak suka minum kopi, hanya kebetulan saja Nanda cukup serakah hingga mengambil semua hal-hal ke dalam ruangannya. Sekarang, setelah dipikir-pikir, ia tidak memerlukan beberapa hal di dalam ruangannya dan mulai berencana untuk sedikit membersihkan isi ruangannya dari hal-hal yang terasa tidak terlalu berguna.
Setelah ketiganya menerima nomor bangku, Nanda, Ganesha dan Putra meninggalkan ruangan. Ketiganya kembali ke lantai dasar, kali ini berjalan ke dinding untuk melihat-lihat apa saja yang akan dilelang. Beberapa adalah barang-brang yang umum dimiliki seperti parfume, beberapa pakaian kulit atau sesuatu seperti senjata dan beberapa obat.
Puas melihat-lihat, ketiganya keluar dan melanjutkan jalan-jalan. Putra sangat bersemangat. Jantungnya berdentum kuat, memegang kartu nomor tempat duduk dengan wajah berseri-seri. Ia tidak sabar untuk kembali, bercerita dengan Dwi dan Ifa tentang pengalamannya agar mereka sebaiknya melelang! Mereka memiliki banyak sekali barang, mungkin, salah satu barang bisa sangat berguna dan langka kan? Harganya akan berkali-kali lipat menaik bila dilelang!
__ADS_1
Karena itu, ketiganya kembali ke kelompok Raja begitu selesai berkeliling melihat-lihat pasar yang ramai dan padat. Ganesha dan Nanda memilih untuk berdiam diri di dalam tenda sementara Putra, berlarian mencari semua kakak-kakaknya untuk menceritakan ide yang tersemat di dalam otaknya.