
Nanda sungguh tidak tahu kutukan apa yang menimpa kelompok mereka.
Perjalanan menuju Pangkalan 1 sangat berliku dan panjang. Hampir setiap hari, mereka akan dikejar oleh hewan mutan. Namun kali ini, tidak ada kelompok, hanya beberapa ekor atau hanya seekor hewan mutan. Namun, entah bagaimana ... semua hewan yang berlari mendekati kelompok mereka, selalu berbeda-beda seolah-olah mereka dengan sengaja mengantri satu persatu, dari berbagai ras, untuk mengejar mereka.
"Apakah mereka membentuk kesadaran diri? Bukan hanya dari segi kemampuan dan peningkatan volume tubuh, tetapi IQ mereka juga jadi lebih tinggi?" Dimas mengernyitkan alis. Kali ini, mereka tidak kekurangan satu pun orang atau merugi kehilangan mobil. Namun pengejaran para hewan mutan tetap berlangsung. Anehnya, sejauh ini, mereka tidak menemukan satupun zombie yang mendekat.
Apakah zombie takut dengan hewan mutan? Ataukah hewan-hewan mutan ini sudah membersihkan zombie di hutan ini?
"Aku merasa, mereka seperti menganggap kita mainan," Nanda berujar jujur. Malam ini, seperti biasa, kelompok mereka berkerumun di api unggun. Mendiskusikan dan menganalisa apa saja masalah dan bagaimana solusinya. Selain bahan makanan yang semakin berkurang, untungnya bensin masih tersimpan banyak. Terima kasih untuk para mutan, mereka jadi lebih sering menginjak gas dengan kuat demi menghindari pertempuran.
Bagaimanapun, peluru sangat berharga, para pengguna kemampuan juga tidak bisa selalu menggunakan kemampuan mereka karena masalah fisik. Mereka hanya bisa menggunakan kemampuan ketika nyawa salah satu rekan akan terancam.
"Mainan?"
"Pertama kali, yang megejar kita adalah Ayam," Nanda menunduk, mengambil ranting dan menggambar di tanah.Ia menggambar angka I. "Lalu Hamster, kelinci, tikus, bahkan ada burung, lalu kambing, sapi, babi, rusa, badak, tupai, ular, lalu terakhir kali tadi siang, kodok."
Nanda mengerucutkan bibirnya. Menggambar IIII terus menerus dan menghitung sudah berapa jenis hewan yang mengejar. "Satu persatu muncul secara bergantian, mereka sepertinya sedang bermain kejar-kejaran. Untuk yang pertama kali ... sepertinya murni balas dendam karena kita membunuh kelompok mereka? Bila dipikir-pikir, setelah itu, meski hewan-hewan ini mengejar, mereka tidak menyerang kita sama sekali. Lalu, apa gunanya mereka mengejar kecuali ... kecuali menganggap kita sebagai mainan?"
Nanda tidak percaya bahwa mereka memiliki kesadaran tinggi, tetapi Nanda percaya bahwa IQ mereka memang sudah meningkat. Bila tidak, bagaimana bisa hewan-hewan ini dengan berbaik hati, satu persatu muncul dan bukan berkelompok?
Spekulasi Nanda membuat beberapa keributan kecil.
"Atau menganggap kita sebagi makanan?" beberapa Tentara menyahut.
"Tidakkah kalian ingat bahwa kucing terbiasa bermain dengan tikus sebelum akhirnya memakannya?"
"Saat kita sampai di batas wilayah tertentu, apakah mereka akan mulai menyerang?"
"Jumlah kita tidak cukup untuk mereka makan--"
"Kau mau dianggap makanan?!"
"Kenapa kita tidak menyerang dan membunuh ketika mereka muncul saja?"
"Bodoh! Kau tidak ingat gerombolan ayam itu? Bagaimana bila mereka membalas dendam dan menyerang secara berkelompok seperti ayam-ayam itu?!"
Silih berganti, beberapa percakapan dengan masalah dan solusi dilontarkan. Semuanya bertema tentang hewan mutan yang mengejar mereka. Namun tidak ada yang benar-benar bisa mencapai kesepakatan. Nanda menghela napas di dalam hati. Masih menunduk dan menggambar di tanah dengan ranting seraya mendengarkan orang-orang berdebat.
Untuk beberapa alasan, entah bagaimana Nanda tidak merasa hewan-hewan itu memiliki rencana untuk memakan mereka. Sebaliknya, lama-lama, kemunculan mereka secara bergantian terlihat sangat ... lucu? Mereka seperti penasaran dengan ras lain. Bermaksud mendekat dan mengenali, tetapi karena mereka berlari, hewan-hewan itu refleks mengejar dan menganggap mereka ... sedang mengajak bermain?
Okay. Salahkan otaknya. Terima kasih karena ia memang merasa kuat dan mengalahkan satu mutan seorang diri hanyalah masalah kecil. Namun dari sudut pandang beberapa orang yang jauh lebih lemah dari mutan-mutan itu, bila melihat hewan raksasa tiba-tiba mengejar dan terlihat berbahaya ... siapa yang tidak akan mati ketakutan dan berlari?
Nanda menghela napas di dalam hatinya. Tanpa sadar, sudut mulutnya tertekuk menjadi senyuman.
Satu-satunya hal baik dari mutan-mutan itu adalah, mereka memaksa kelompok ini, untuk lebih cepat sampai ke Pangkalan 1 AD.
.
.
__ADS_1
.
Dinding berwarna merah kecokelatan itu kokoh berdiri. Tebal dan terlihat sangat agresif dengan ketinggian lebih dari 5 meter. Dari kejauhan, itu seperti tembok china yang panjang dan membatasi sebuah wilayah tertentu di dalamnya. Dari segi ukuran, jelas keberadaan tembok yang membentang memanjang ini jauh lebih besar ketimbang Pangkalan 2. Hanya melihatnya dari kejauhan, rombongan mobil sudah merasakan kemegahan tembok merah yang terlihat sombong.
Dimas, tanpa sungkan menghubungi saluran Pangkalan 1 AD. Mereka tidak perlu untuk sampai ke tembok, beberapa tentara sudah mendekat, merapatkan mobil dan mulai saling menyapa. Lalu beberapa orang menatap Nanda, menyapa dengan ramah dan diam-diam memastikan bahwa orang yang Pangkalan 2 kirim, memang orang yang mereka cari.
Nanda menarik napas dan menghembuskan secara perlahan ketika mereka samakin mendekati tembok. Oh, hanya dalam beberapa bulan, Pangkalan 1 AD mampu membuat lapisan tembok tanah yang begitu besar dan luas. Mereka bahkan berjaga-jaga dengan para tentara yang berkeliaran di sekitar tembok. Management jelas tertata dengan baik, tetapi Nanda tahu, sehebat apapun itu ... tidak mungkin dalam beberapa bulan bisa diimplementasikan dengan begitu cepat dan baik. Apa yang mereka lakukan seolah-olah mereka memang sudah mempersiapkan sejak lama, sebelum virus zombie menyebar.
Sepasang hazel meredup.
Keluarga suaminya adalah orang yang baik, apa lagi Ayah dan Ibu mertuanya. Namun Nanda masih cukup ingat dengan kesibukan yang dilakukan Ipar dan Ayah mertuanya tepat beberapa hari sebelum hujan mengguyur setelah musim panas yang berkepanjangan. Tindakan yang paling Nanda sadari adalah penekanan Ayahnya untuk tidak meminum atau memanfaatkan air hujan. Ia bahkan tidak tanggung-tanggung mengirimkan air ke rumah karena takut bahwa mereka akan menggunakan air hujan.
Nanda curiga bahwa mereka tahu prihal virus yang akan menyebar, tetapi ia tidak mengambil pusing prihal itu. Hal pertama yang dipikirkannya adalah celah waktu untuk bertemu dengan Mamanya dan mengumpulkan orang-orang yang disayanginya agar mereka semua aman. Karena itu, setelah mendapatkan izin dari Ganesha yang entah bagaimana sangat sibuk, Nanda baru bisa terbang menaiki pesawat untuk pulang menemui Mamanya.
Namun sayangnya, Yulis tidak langsung pergi ke rumah Mamanya sesuai dengan permintaan Nanda. Hal itulah yang menjadi alasan kenapa Nanda langsung pergi begitu hari terakhir hujan. Ia bermaksud menjemput sahabatnya, sekaligus menjarah beberapa hal di kota untuk persiapan mereka. Tetapi siapa yang menyangka bahwa ia akan salah perhitungan? Tertidur selama 3 minggu, lalu ... mendapati semua hal sudah sangat terlambat untuk dilakukan.
Bagaimana perasaan suaminya sekarang? Oh, Nanda bisa membayangkan Ganesha menjadi gila karena terlalu cemas. Suaminya cenderung posesif, ia tidak akan tahan melihat Nanda terluka atau bahkan dalam bahaya. Membayangkan dirinya berlarian di tengah zombie, Nanda yakin, selama beberapa bulan ini, suaminya pasti sangat putus asa mencari ...
Nanda menunduk. Jantungnya berdebar keras hingga membuat perutnya bergelit. Mendadak, ia sangat cemas dan gugup. Ia senang akan bertemu dengan Ganesah, ia sangat merindukan suaminya. Namun membayangkan kemarahan pria itu ... oh, bagaimana cara agar ia bisa menghibur suaminya? Ganesah sebenarnya orang yang lembut dan akan menuruti apapun yang diinginkannya, tetapi bila sudah menyangkut keselamatan istrinya sendiri, sosok itu akan berubah tegas dan tidak toleran.
Pikiran Nanda kusut. Ia bahkan tidak bisa memperhatikan keadaan sekitarnya yang sudah berubah. Mobil yang dikendarai sudah melewati tembok merah. Lingkungan yang semula adalah sebuah hutan, kini berubah menjadi sebuah perkotaan dengan beberapa gedung bertingkat menjulang tinggi. Suasana yang hidup dan teratur, juga kendaraan dan orang-orang berlalu-lalang, menciptakan ilusi bahwa penyerangan zombie di luar sana sebenarnya tidak ada sama sekali.
Mobil tentara di depan menunjukkan jalan. Melaju dengan kecepatan sedang. Melewati beberapa petak perkebunan dan kolam-kolam ikan yang tertata rapi. Orang-orang mengenakan topi bambu. Mengawasi bebek-bebek yang dilepaskan, bertani dan ada yang sedang membawa ember penuh dengan ikan menggelepar.
Pemandangan ini sangat mewah. Membuat lima kurcaci di dalam mobil menjadi bersemangat. Mereka mulai mengobrol, menunjuk benda-benda atau bahkan tertawa, menyapa beberapa orang petani dan peternak yang lewat. Tidak ada yang menyadari keanehan Nanda kecuali Erica yang sedang membawa mobil. Ia melirik keponakannya dan mendapati sosok yang lebih pendek menunduk.
Erica benar-benar tidak tahu apa yang dipikirkan Nanda. Ia ingin bertanya tetapi keponakannya pasti tidak akan menjawab dengan jujur. Pada akhirnya ia hanya bisa diam. Terus mengemudi dan mengikuti mobil di depan sana mencapai sebuah mansion yang cenderung mewah ...
Mobil berhenti tepat di depan mansion. Beberapa tentara di mobil depan turun, memberitahukan sesuatu kepada setiap mobil. Tepat ketika salah satu tentara sampai ke Hummer Erica, sosok wanita yang mengenakan pakaian militer berwarna hijau itu tersenyum ramah.
"Ini mansion keluarga Wijaya," info wanita itu. "Mobil yang lain akan pergi ke tempat yang lain untuk urusan mereka, Nona silahkan masuk ke Mansion," ucapnya ramah. Setelah mendapat anggukan dan terima kasih dari Erica, Tentara wanita itu berjalan ke gerbang, berbicara dengan beberapa orang di sana, lalu gerbang dibuka.
Hummer yang semula diam, berderum dan bergerak masuk ke dalam halaman mansion. Mereka melewati taman yang penuh dengan rerumputan hijau dan bunga-bunga, lalu mendekati bangunan besar berlantai 2. Beberapa mobil yang sejenis dan cenderung terlihat lebih ganas, terparkir rapi. Erica mengikuti, parkir di sana setelah salah satu tentara yang berjaga mengarahkan.
"Nda, kita sampai," Erica mengingatkan, sukses membuat wanita berkuncir tersentak. Sepasang hazel mengerjap, menatap sekitar dengan lingkung sebelum akhirnya menghela napas. Nanda tidak mengatakan apapun. Ia hanya langsung keluar dari mobil dan seolah tahu apa yang harus dilakukan, berjalan lebih dulu menuju pintu ganda tanpa menunggu orang-orang yang berada di belakangnya sama sekali.
"Kalian jangan berlarian, ikut dengan Kakak. Oke? Jangan ribut," peringat Erica, takut bahwa anak-anak akan berisik ditengah suasana pertemuan antara keluarga yang sudah lama berpisah. Kelima kurcaci mengangguk patuh. Mereka akan diam dan tenang.
Mendapatkan jaminan dari anak-anak, Erica tersenyum. Akhirnya, enam orang turun dari hummer. Mengikuti Nanda dari belakang dan dengan sengaja, agak menjaga jarak begitu menyadari punggung yang tegap itu, tidak sedikitpun ragu atau bahkan ingin menoleh ke belakang. Nanda terlalu fokus dengan apa yang ada di dalam kepalanya, jelas tidak memperhatikan sekitar.
Tepat ketika Nanda sampai di pintu dan memasukinya, sepasang hazel melihat sebuah ruang tamu besar dengan satu set sofa dan meja. Di sana, pada ruangan yang agak mewah, terdapat 6 orang dewasa dan dua anak kecil. Suasana sangat hidup terlihat ketika dua batita tidak henti berlarian mengelilingi sofa. Saling kejar-kejaran dengan ceria dan membuat kedua orang tua mereka cemas.
Ada tiga orang dewasa yang mengenakan seragam militer. Satu perempuan dan dua lelaki. Pria yang paling tua duduk santai. Mengenakan celana dasar dan kemeja, tetapi meski sudah memiliki garis usia pada kulit dan rambut sudah memutih, punggungnya yang tegap dan sikap yang teratur masih terlihat dengan jelas. Menyuarakan aura kepemimpinan yang hangat dan terkendali pada setiap gesture yang diciptakan.
"Nda?"
Suasana yang semula ramai, mendadak hening. Tidak ada yang berbicara begitu suara itu jatuh. Semua pasang mata langsung menatap ke arah pintu yang terbuka, memamerkan sosok wanita yang agak kurus, putih dan mengenakan pakaian kumal berdiri di dalam ruang tamu mewah nan elegan. Ia terlihat berdiri di tempat yang salah. Namun tidak ada yang memperhatikan hal tersebut.
Begitu panggilan jatuh terdengar, keluarga itu menyadari orang yang mereka tunggu, akhirnya datang.
__ADS_1
Sosok yang mereka cari selama berbulan-bulan ada di hadapan mereka.
"Nanda!" Wanita, dengan garis usia yang terukir di wajah dan rambut yang disanggul, langsung bangkit berdiri. Matanya merah, melangkah mendekati Nanda dengan terburu-buru. Nanda tersentak. Ia refleks langsung berjalan lebih dulu. Mencegah wanita itulah yang menghampiri dan tanpa sungkan sama sekali, menghambur ke dalam pelukan yang hangat.
"Astaga ... sayang, kamu benar-benar Nanda? Kamu tidak apa-apa? Kau tahu betapa kami mencemaskanmu? Kami mencarimu ke mana-mana, tetapi sedikitpun kami tidak menemukanmu!" Wanita itu mengeluh. Matanya merah dengan suara yang gemetar penuh emosi. Kedua tangan yang keriput, tidak henti memeluk erat tubuh wanita yang ada di pelukannya, seolah takut anak ini akan menghilang. Seolah takut ini adalah mimpi. "Lihat betapa kurusnya kamu ... maafkan kami, sayang, kami terlalu lama menemukanmu ... ."
Nanda gemetar. Matanya terasa panas dan pandangannya mengabur. Mendengar semua perkataan penuh kecemasan wanita itu, membuat hatinya seolah disiram dengan kehangatan. Nanda nyaris menangis ketika menemukan bahwa ia ... sungguh merindukan keluarga ini. Terutama Arina, Ibu dari Ganesha yang sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.
"Ibu ... ," suara Nanda serak. Dengan lembut, ia melepaskan pelukan Arina dan tersenyum menatap wanita tua itu. "Nanda baik-baik saja, Ibu lihat sendiri kan? Nanda sehat dan tidak terluka sedikitpun," ujarnya menenangkan. "Maaf sudah membuatmu cemas ... ," sepasang iris cokelat lalu berpindah menatap Ayah, Kakak ipar dan dua keponakannya. "Maaf sudah membuat kalian semua cemas ... ."
Siska, istri dari Bima Wijaya, tersenyum lembut. Ia bangkit berdiri, meraih tangan Arina dan juga Nanda. "Bu, Nanda baru sampai, perjalanannya pasti panjang, itu sangat melelahkan. Ayo duduk dulu," ajaknya lembut seraya menggiring mereka untuk duduk di sofa.
Nanda terkekeh. "Kak, sudah lama gak ketemu, Kak Siska dan Kak Sinta makin cantik aja. Kak Bima dan Kak Rizal juga makin ganteng, OH! Apa lagi Ayah! Semakin gagah dan perkasa!"
Siska melotot mendengarnya, tetapi tidak bisa menahan senyuman. "Kamu tuh ya, baru aja dateng udah mulai godain kita?"
"Ya iyalah makin cantik, gak kayak lo kan? Lihat tuh badan makin kurus aja, udah kayak papan gilesan," timpal Sinta santai.
Nanda melotot ke arah Sinta, lalu langsung menoleh ke arah Arina. "Bu! Lihat! Kak Sinta ngejekin Nanda!" keluhnya.
Arina tertawa. Ia langsung mencubit pelan hidung Nanda. "Sinta benar, kamu memang jelek. Lihat? Kamu sangat kurus."
"Bu!" Nanda frustasi. Tidak ada yang membelanya. Hal itu membuat mereka yang berada di ruangan tertawa. Namun, ketika Nanda memandang ke arah pintu, mendadak sepasang hazel menemuka Erica dan para Kurcaci. Senyuman mengembang di belahan bibir. "Tante, sini, sini."
Bangkit berdiri, Nanda langsung menarik Erica dan kelima kurcaci untuk masuk ke dalam mansion. Enam orang pendatang ini terlihat canggung. Terlebih menyadari pakaian mereka, terlihat seperti gembel yang datang untuk mengamen.
Meski mereka bersih, dengan pakaian kumal seperti ini dan suasana bak borjuis, bagaimana keenamnya bisa tidak minder?
"Bu, Ibu ingat kan? Ini Tante, Tante Erica, sepupu Papa," Nanda memperkenalkan Erica, membuat wanita berambut pendek itu dengan kikuk tersenyum dan mengangguk. "Nah, ini Karin, Raga, Leo, Galih, dan Monta. Mereka anak-anak hebat yang ikut kami selama perjalanan," ucapnya, memperkenalkan kelima kurcaci yang langsung tersenyum cerah ketika mendengar pujian Nanda.
"Halo," Bima tersenyum ramah, menatap kelima anak kecil lalu menatap kedua batita yang menatap para tamu dengan penasaran. "Dinda, Roni, ayo kenalan sama kakak-kakak," ujarnya, mendorong putri dan keponakannya untuk berkenalan dengan kelima anak yang lebih tua dari mereka.
Satu persatu, semua orang saling memperkenalkan diri. Nanda tidak henti tersenyum melihat mereka semua, secara perlahan mulai akrab. Namun, sepasang hazel tidak henti melirik ke sekitar, sesekali menatap ke pintu dengan penuh harap atau bahkan ke beberapa tempat bagian lain yang terlihat oleh mata.
"Bu," Nanda mengerucutkan bibirnya, alis itu terpaut.
"Ya?"
"Mana Nesnes?" tanya Nanda. "Dia masih kerja?" gelisah, sepasang hazel menatap ke arah pintu. Oh, apakah Ganesha tidak tahu bahwa istrinya hari ini datang? Kenapa belum muncul juga?! Nanda agak kesal. Jelas menyadari bahwa suaminya pasti merajuk. Tidak mau bertemu dengannya dan ingin ia yang membujuk?
"Erica, anak-anak, ayo ikut Tante, Tante mau nunjukin kamar kalian," Siska bangkit berdiri, tersenyum seraya mengajak para tamu untuk mengikuti. Anak dan keponakannya juga turut dibawa, seolah takut mereka akan berisik dan mengganggu.
Tindakan halus ini membuat jantung Nanda mencelos. Mendadak, ia menyadari perubahan atmosfer ruangan. Dadanya sesak, kecemasan menghantam. Panik bukan main, sepasang hazel satu persatu memperhatikan ekspresi wajah keluarga yang berubah ...
"Apa yang terjadi dengan Ganesha?" suara Nanda serak. Ia menelan liur paksa, mendadak takut mendengar jawaban yang akan diberikan keluarganya. "La-lalu ... bagaimana dengan Papa dan Mama? Ayah ... A-Ayah juga mencari mereka kan?"
Keluarga Wijaya mencarinya, tentu saja mereka juga mencari kedua orang tuanya kan? Mereka juga mencari Papa dan Mamanya kan? Lalu Ganesha ... Ganesha hanya merajuk dan tidak ingin bertemu dengannya, bukan? Suaminya ... suaminya tidak apa-apa kan?
Nanda takut. Sungguh, kali ini ... ia benar-benar merasa takut.
__ADS_1