Zombie

Zombie
9: Kencan


__ADS_3

Nes: Udah belajar? 🤔


Nanda: gak


Nes: kenapa? Lo bilang mo masuk 5 besar pas mid sama semesteran. Kalo lo banyak belajar, lo pasti jug bisa kayak gue😎


Nanda: sabtu minggu libur


Nes: Belajar gk perlu libur. 😂


Nes: malem aja belajarnya, biasain biar otak aktif trus😏


Nanda: ...


Nes: Apaantuh elipsis? Udah, belajar sana. Kalo gk ngerti ntar lo tanya aja ama gue😅


Nanda: males


Nes: Yey ni anak, dah dibilang gk boleh males😥


Nes: Ya udah, besok gue ke rumah lo, kita belajar bareng😶


Nanda: Males -___-


Nes: Bodo amat, pokoknya besok gue ke rumah lo. Mana alamat lo?😄


Nanda: ....


Mengirimkan lokasi, Nanda lalu mematikan paket data dan menaruh ponsel di atas meja. Sudah malas untuk membalas pesan Ganesha.


Nanda tidak pernah berkencan, ia juga memperlakukan Ganesha seperti teman biasa. Jadi, ia tidak benar-benar menganggap serius ketika Ganesha menjadi pacarnya. Lagipula, jelas mereka tidak punya perasaan seperti itu kan?


Menghela napas, remaja gamuk menjatuhkan tubuh di kasurnya. Mendadak merasa lelah bukan main hanya untuk menyelesaikan satu hari yang terasa terlalu panjang. Urusan tentang pacar baru, dengan mudah ia kesampingkan.


Papanya pulang, Nanda jadi panen coklat. Tetapi informasi yang didapatkannya membuat Nanda refleks mulai mencari lagi. Mengetik kata kunci yang berbeda-beda didepan leptop, mencoba menemukan beberapa kepingan informasi. Sayangnya, semua hal terlalu samar. Selain berita-berita besar, sudah dipastikan banyak informasi diblokir--atau bahkan berita-berita palsu diedarkan.


Benar-benar tidak akurat dan ... oh, sangat melelahkan.


Membalik tubuh menjadi berbaring, sepasang iris hazel menatap langit-langit kamar yang tinggi. Pikirannya melayang, mengenang masa lalu, membandingkan masa sekarang, membayangkan masa depan ...


Nanda tidak tahu apakah Virus akan meledak 7 tahun kemudian, atau lebih cepat atau lebih lamban. Ia juga tidak bisa mengatakan tentang virus itu meski gatal ingin membeberkannya. Ia masih cukup waras untuk berhati-hati tentang pengetahuan masa depan dan kemampuan uniknya. Salah-salah, ia akan viral dan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa.


Memberikan bukti dengan menunjukkan kemampuan ruangnya hanya kepada orang-orang yang akrab?


Oh, ia bahkan tidak tahu pasti kapan virus akan menyebar, bukankah hanya akan membuat kepanikan? Persiapan apa yang bisa dilakukannya?


Ah? Persiapan?


Sepasang iris cokelat itu berbinar begitu memikirkannya.


Oh! Oh!


Tentu saja! Bukankah ia bisa mempersiapkannya tanpa memberitahu kebenaran?! Nanda tidak tahu pasti kapan virus menyebar, tetapi bila itu terjadi beberapa tahun ke depan, ia bisa membujuk orang-orang di sekitarnya untuk melakukan beberapa kegiatan yang akan membantu mereka ketika masa itu tiba!


Mereka pasti malas, tetapi selama ia memaksa dan membujuk ... juga berhasil membangun sebuah komunitas teretentu yang baik untuk membentuk keterampilan melindungi diri ...


seberapa baik itu?


Nanda terkikik. Cepat-cepat, ia mematikan lampu dan menarik selimut. Oh, tidur dan beristirahat. Besok, ia akan memikirkan rencananya kembali dan menyusunnya dengan benar. Bila beruntung, ia juga turut bisa menyeret Papanya untuk berpartisipasi.


.


.


.


Hanya pulang beberapa bulan sekali, sekalinya pulang hanya bisa di rumah 2 atau 4 hari. Rico Arjuna yang mendapat jatah pulang tidak menyia-nyiakan waktunya yang sangat sempit.


Sebagai suami berdedikasi tinggi, hari Sabtu dihabiskan full dirumah. Menemani anak istri bersama sekaligus istirahat. Besoknya? Pria jangkung itu langsung menculik istrinya yang cantik untuk bulan madu yang manis sebelum kembali bekerja.


Oh, sungguh ...


PAPA, TIDAKKAH KAU LUPA BAHWA KELUARGAMU BERJUMLAH 3 ORANG?!


Nanda benar-benar ingin peotes. Ia hanya dilemparkan uang jajan dengan nominal tertentu dan dibiarkan sendirian di rumah sejak dini hari. Oh, lupakan. Ia hanya pura-pura marah dan lebih peduli dengan nominal uang yang dengan murah hati diberikan Arjuna.

__ADS_1


Salah satu hal yang disukai Nanda ketika Papanya pulang adalah, pria itu sangat baik memberikannya uang jajan yang berlimpah. Sayang, Arjuna hanya pulang beberapa bulan sekali. Bila sosok itu pulang setiap hari atau beberapa minggu sekali, Nanda yakin ia akan jadi jutawan dalan kurun waktu beberapa bulan.


Menghitung isi amplop yang dilemparkan, Nanda bersenandung dengan mata hijau. Beberapa lembar warna merah, dengan nominal mencapai 6 digit merupakan angka yang menyenangkan mata.


Tanpa ragu ia memasukkannya ke dalan tas. Oh, nanti, ketika Ganesha datang, ia akan meminta pacar barunya ini mengantar ke central ATM. Bagaimanapun, tidak baik memegang terlalu banyak uang tunai, lebih baik memasukkannya ke bank untuk belanja online. Lebih praktis, lebih mudah, lebih santai.


Nanda terkikik. Ia memandang layar ponselnya, tersenyum lima jari, lalu berlari menuju pintu dan membukanya.


"Yo! Rumahku gak susah kan dicari?" Nanda berjalan keluar rumah, membuka pagar dan mempersilahkan sosok bermotor untuk masuk dan memarkirkan kendaraannya.


Ganesha membuka helmnya. "Lumayan."


Nanda celingukan, menatap motor ninja berwarna hitam yang terlalu mencolok dan mewah. "Aku gak tahu kamu ada motor segede gini, kenapa gak bawa ke sekokah?"


Mengesampingkan Ganesha yang terlalu kurus, selama Ganesha membawa motor ini, ditambah bahwa ia sangat pintar, pasti banyak cewek yang nyantol! Nanda berdecak. "Beneran rugi, padahal ya, kalo kamu ngebawa ni motor, pasti bakalan keren banget, terus cewek-cewek pada ngerumunin!"


Ganesha tidak menjawab. Pemuda itu turun dari motor, melepaskan sarung tangan kulit dan jaketnya. Sekolah tempat belajar, bukan mencari perhatian lawan jenis. Ganesha tidak pernah membawa motor ini dan lebih memilih membawa motor yang lebih kecil karena jalanan sekolah sering macet. Ketimbang membawa untuk pamer dan ia menderita, Ganesha lebih memilih membawa motor lamanya yang jadul tetapi masih berfungsi dengan baik.


"Eh? Nes, gak bawa cemilan?"


Alis Ganesha terpaut. "Lo mau cemilan? Kenapa gak bilang tadi?"


Nanda mendengus. "Ck ck ck, inilah yang disebut cowok gak peka. Sayangku, sebagai cowok, kamu seharusnya peka dong. Kalo ke rumah temen atau pacar nih ya, paling gak harus bawa bingkisan. Minimal gorengan pinggir jalan tapi enak--Eh?! Mau ke mana?!"


Ganesha, yang bergerak menaiki motornya kembali, terdiam. Nanda benar-benar panik melihat tindakan itu. Oh, ia hanya bercanda! Haruskah cowok ini pulang dan merajuk?!


"Lo bilang mau cemilan kan?" Ganesha berujar serius. "Gue beliin. Lo mau cemilan apa?"


"... ."


Nanda mengkatup rapatkan mulutnya. Entah bagaimana, hatinya terasa gatal mendengar apa yang Ganesha katakan. Bibirnya bergetar, sangat ingin sekali tersenyum. Sungguh, meski wajah pemuda itu datar, dan bahkan ucapannya terkesan cuek, tetapi ...


Kenapa ia merasa Ganesha sangat manis?!


"Gak perlu," Nanda terkekeh. "Hayuk ah masuk, diluar panas kan."


"Gak mau beli cemilannya?"


Nanda mendengus geli. "Ntar aja. Pas udah kelar belajar, kita pegi beli cemilan bareng aja."


Ganesha tidak mengatakan apapun kembali. Pemuda itu turun dari motor dan mengekori Nanda masuk ke dalam rumah.


"Terserah."


Nanda mengangkat alisnya, menatap Ganesha selama beberapa detik sebelun akhirnya terkekeh. "Okay."


Setelah mengatakan itu, Nanda pergi ke dapur, sementara Ganesha menatap sekitarnya dengan penasaran. Rumah ini sederhana. Rapi dan bersih dengan hembusan dingin AC yang dihidupkan di ruang tamu.


Terdapat beberapa bingkai foto keluarga menempel di dinding. Ketika Ganesha selesai mengeluarkan semua buku dan alat tulis, remaja itu bangkit berdiri, mendekati dinding dan memperhatikan foto-foto itu dengan seksama.


Foto-foto ini disusun sedemikian rupa, seolah-olah menjadi sebuah cerita perjalanan waktu. Dari sebuah foto yang sangat jadul. Sepasang pria dan wanita yang berfoto didepan sebuah gedung universitas, lalu dengan objek yang sama, keduanya kembali berfoto tetapi telah mengenakan toga.


Foto salanjutnya kedua orang itu duduk di sebuah meja berhiaskan lilin. Berdua memamerkan cincin yang serupa. Lalu kedua orang itu menikah, ketika keduanya berfoto di rumah sakit dengan memegang sebuah foto hitam-putih janin yang baru terbentuk, foto ketika kedua orang memegang bayi merah di ranjang rumah sakit.


Setelah itu fotonya berubah menjadi bertiga. Anak kecil yang berada di foto seperti boneka. Berkulit putih pualam, dengan senyuman cerah dan pipi kemerahan. Sangat imut dan cantik, terlebih sepasang iris cokelatnya yang seolah bersinar memancarkan kebahagiaan.


Seiring foto itu bergeser, foto gadis kecil itu juga berubah, menunjukkan tiga orang, tetapi gadis kecil itu semakin tumbuh besar. Dari batita, TK, SD, SMP, SMA ... sekarang Ganesha tahu. Nanda mulai terlihat gemuk ketika di foto perpisahan SMP.


Hingga mencapai berat seperti sekarang ... yah, Nanda sangat berubah. Namun anehnya, Ganesha merasa sosok itu tidak benar-benar berubah. Ada satu hal yang selalu sama baginya, bahkan tidak berubah dari Nanda kecil hingga sekarang.


"Hayo!" Ganesha melirik, menatap Nanda yang mencoba mengagetkannya tetapi gagal. "Liat apaan hayooo?


Ganesha kembali menatap ke depan. "Siapa yang nyusun fotonya?"


"Mamaku," Nanda tersenyum bangga. "Bagus kan? Tiap tamu dateng, pasti bakal liat ini. Mama nyusunnya dari waktu Papa sama Mama masih pacaran di kampus mereka sampe sekarang--oh!!!"


Seolah sadar, Nanda langsung menunjuk foto seorang anak kecil yang sangat imut. "Ini aku yak, jangan pangling! Gini-gini aku pernah seimut hamster!"


Nanda cukup sadar diri. Semua tamu yang datang dan melihat foto ini, biasanya tidak percaya bahwa anak lucu itu adalah dirinya. Atau bahakan mempertanyakan apakah dirinya anak pungut!


Benar-benar kurang ajar! Kecantikannya hanya tertutup oleh lemak, jerawat dan kulit kusam! Setelah kurus dan mulus, ia benar-benar mirip Mamanya!


Ganesha tidak mengatakan apapun. Ia hanya menatap Nanda selama beberapa detik, lalu berbalik dan kembali duduk di sofa. Sepasang irisnya langsung fokus ke atas meja. Menatap nampan dengan botol berisi ... air putih?


Sadar dengan arah pandang pacarnya, Nanda tertawa. "Katanya terserah, jadi aku kasih ini aja," ucapnya jenaka. "Lebih sehat."

__ADS_1


Ganesha tidak ambil pusing. Ia datang untuk mengajar, bukan bertamu. Karenanya, pemuda itu langsung membuka buku tebal, memulai sesi belajar hingga membuat Nanda yang melihatnya menggerang sebal.


Ganesha benar-benar cowok yang terlalu kaku!!!


.


.


.


Sesuai perjanjian, setelah 2 jam sesi belajar yang membosankan, Ganesha dan Nanda benar-benar keluar. Keduanya menuju pasar tradisional, berjalan di sebuah tempat yang masih cenderung ramai meski sudah siang hari.


Kios-kios berjajar rapi, suara pedagang memanggil pelanggan terdengar. Beruntung, meski matahari masih agak terik, penutup pada bagian atas kios sebagian menutupi jalan. Membuat teduh dan nyaman orang yang ingin berbelanja. Terlebih jalanan tidak becek, meski sempit hingga kios yang berjajar di kanan dan kiri membentuk lorong kecil yang panjang dan membuat orang berhempit-hempitan.


"Aku di traktir kan?" Nanda menoleh ke belakang, menatap pemuda yang berjalan santai seraya menatap sekeliling.


Sebelum ke pasar, merek ke ATM center. Bila Nanda menabung dan menyetor uangnya, sebaliknya, Ganesha menarik uangnya. Hal itu membuat mata Nanda berkilau hijau.


"Iya," Ganesha setuju--mengkonfirnasi hingga membuat sang pacar cekikikan senang.


"Terserah aku mau beli apapun kan?"


"Um."


"Gak ada bates kan?"


"Iya."


Dengan itu, Nanda langsung bersenandung senang. Menghampiri beberapa toko dan membeli beberapa jenis kacang dalam jumlah besar ...


Ganesha kaku. "Oy."


"Ya?" Nanda menoleh, menatap Ganesha yang mengkerutkan kening begitu menyebutkan ingin membeli ... 4kg kacang??


Orang ini manusia atau gajah?


"Lo bilang lagi diet," ucapnya--teringat bahwa si gemuk berkata ingin diet, itu sebabnya menolak diantar pulang sekolah.


"Yup!" Nanda mengangguk mantap. Namun Ganesha tidak lagi buka mulut. Matanya menatap tajam ke kantung yang berisi beberapa kg kacang dengan berbagai macam jenis dan rasa yang dipilih Nanda.


Perempuan itu mengerti. Ia langsung cemberut. "Katanya traktir," oh, apakah ia terlalu berlebihan? Tetapi melihat Ganesha menarik uangnya dalam jumlah besar, rasanya ia berbelanja tidak sampai menguras setengah uangnya ah!


Apakah pacar tidak seperti itu? Nanda amatir dalam hal berpacaran, tetapi satu hal yang pasti ia tahu, hak perempuan adalah ditraktir pacarnya.


"Lo bilang diet," Ganesha menekankan--menyadarkan Nanda dari kesalahpahaman.


"Oohh," Nanda tertawa. "Tenang ah! Ini kacang dan bukan junk food, lagian aku makannya gak sekaligus, pelan-pelan. Ini cemilan untuk sampai beberapa bulan ke depan."


Alis Ganesha terpaut tetapi tidak mengatakan apapun lagi.


Senyuman remaja itu semakin mengembang, sepasang iris menatap Ganesh selama beberapa detik. "Nes, kamu gk mau ngegym?"


"Hm?"


"Aku kan lagi diet nih karna kegemukan," Nanda menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk ke arah Ganesha. "Nah, kamu kan kekurusan, apa gak mau ngegym? Nambahin berat badan plus biar sekalian tambah sehat, jadi gemuknya bukan lemak tapi otot."


Ganesha tidak langsung menjawab. Pemuda itu menatap ke arah Nanda selama beberapa detik, lalu teringat dengan foto masa kecil pacarnya yang imut ...


"Lo diet biar cantik?"


"Ya gak lah," Nanda langsung menjawab. Cemberut katika teringat semua orang menganggap tujuannya kurus agar cantik. "Terlalu gemuk kan gak sehat, lagian kalo demi kecantikan, pasti aku udah ikutin Luna, pegi ke tantenya yang dokter kecantikan itu."


"Hmm ... ."


"Jangan hmm doang lah!" Nanda menggerutu. "Pulang ini kita daftar ke gym bareng aja. Jadi setiap sabtu sama minggu sore ngegym bareng."


"Males."


"Heh gak boleh males-males!" Nanda melotot. "Ayolah~ Nes Nes sayangku~"


Alis Ganesha terpaut.


"Hayuk ah, biar sehat bareng. Nah kan udah pinter bareng, kita sehat bareng juga. Positif loh! Ini Positif! Kegiatan positif yang baik! Dijamin deh, investasi baik tuk masa depan, gak bakal rugi! Modal kecil, asal dilakuin dengan teratur dan rajin, hasilnya udah pasti menguntungkan!"


Pada akhirnya, Nanda tidak berhenti berbicara. Mati-matian membujuk Ganesha agar mau ngegym. Anak lelaki itu jelas keras kepala menolak, pergi ke gym terlalu merepotkan. Ganesha malas memberitahu bahwa di rumahnya, ia memiliki ruang gym pribadi karena Ayah dan Kakaknya yang tentara, ketat prihal latihan.

__ADS_1


Kesal dengan mulut yang terus berkicau, Ganesha pada akhirnya mengiyakan, sukses membuat sang pacar bersorak senang.


Ganesha pikir, Nanda senang karena bisa lebih lama bersamanya. Oh, bukankah katanya, masa-masa indah itu ketika baru-barunya pacaran? Namun nyatanya ... yah ... Nanda bahagia karena ia jadi punya ojek geratis pulang-pergi ngegym.


__ADS_2