
Bel sekolah baru saja berdering. Guru-guru yang telah merasakan penat menghela napas lega dan dengan senang hati memerintahkan anak muridnya untuk segera pulang. Tentu saja, ucapan itu disambut dengan antusias oleh seisi kelas. Dalam seketika, keributan tidak terelakkan. Wajah-wajah lelah keluar dari kelas, berbondong-bondong berjalan di lorong sekolah yang tidak terlalu panjang.
Beberapa obrolan terjadi di lorong yang ramai. Topik utama dan mendominasi masihlah hal yang sama dengan pagi hari. Tentang foto mading.
Tentu saja semua orang tahu tentang pembullyan di sekolah, tetapi sungguh, belum pernah ada sesuatu yang sefrontal ini. Hal yang wajar bila banyak pihak menjadi waspada. Bahkan keluarga korban, dibuat kebakaran jenggot. Ini bukan hanya prihal mental korban yang akan jatuh, tetapi juga melibatkan reputasi pihak keluarga dan sekolah yang akan rusak.
Namun, diantara beberapa pihak yang masih memperdulikan citra mereka, Raja dibuat sangat geram. Gadis manis pendiam dan terlihat seperti boneka porselen yang sangat ingin ia lindungi, kini menderita. Oh, sungguh, Raja bisa merasakan kemarahan mengamuk di dadanya. Terlebih, selama di ruang BK, ia merasa hanya seperti lelucon.
Raja menyadari bahwa pihak sekolah mati-matian menekan agar berita tidak sampai keluar dari sekolah. Bahkan ketika Ayahnya Luna datang, marah dan nyaris merusak properti sekolah, Kepala Sekolah mencoba melakukan segala cara untuk melakukan aksi damai. Jangan laporkan polisi, biarkan mereka mencoba mencari tahu dahulu.
Raja menarik napas panjang dan menghembuskannya. Pemuda jangkung itu menatap sosok gemuk yang berjalan keluar dari gerbang sekolah, sempat mengobrol dengan beberapa orang dan mengumbar senyuman.
Melihat ekspresi ringan gadis gemuk itu, membuat Raja merasa sangat marah dan jijik. Oh, sungguh, apakah Nanda benar-benar teman Luna? Bukankah mereka dekat? Luna selalu menyapa dan bahkan mengobrol dengan Nanda, gadis pemalu yang biasanya hanya diam menunggu seseorang mencari topik pembicaraan, akan selalu aktif bila didepan Nanda. Bukankah itu jelas bahwa mereka sangat akrab?
Tetapi lihat gadis itu sekarang? Tidakkah ia khawatir sedikit saja tentang sahabatnya? Bahkan Yulis yang tidak lebih dekat dengan Luna, rela membolos untuk menghiburnya! Tetapi Nanda?
Raja menyipitkan mata, memandang punggung yang menjauh keluar dari gerbang. Jelas, arah berjalan gadis itu menuju rumahnya sendiri ...
Menggeretakkan gigi, pemuda jangkung berjalan menuju halte. Bagus, setidaknya sekarang ia tahu bagaimana sifat Nanda yang sebenarnya. Gadis itu tidak benar-benar baik. Ia hanya seorang munafik, tidak pernah menganggap Luna temannya. Setidaknya, ia mengetahui hal ini sekarang dan bisa memperingatkan Luna nanti.
Dan Yulis ... bukankah katanya, Yulis adalah sahabat Nanda? Apakah pacar Alex tahu hal ini? Oh, sepertinya tidak. Yah ... baguslah. Ia juga akan memperingatkan Yulis.
Jangan terlalu dekat dengan Nanda. Jangan menganggapnya sahabat. Gadis itu ... hanya seorang gadis gemuk yang munafik.
.
.
.
Sampai ke rumahnya yang teduh nan sepi, Nanda langsung menuju kamarnya setelah mengunci pintu. Hari ini, Bi Yati tidak datang karena anaknya sakit, membuat rumah satu lantai jadi terasa lebih kosong ketimbang biasanya. Namun, berhubung ia tidak melakukan apapun dan tidak ada tugas, Nanda memilih tidak mengurung diri di kamar.
Sosok gemuk mengangkat jemuran di halaman belakang, lalu menumpuknya bersama dengan cucian yang belum disetrika selama 3 hari.
Menggelengkan kepala, Nanda mulai menyetrika pakaiannya dan Mamanya. Yah ... karena hanya mereka berdua yang tinggal, cucian tidak terlalu banyak. Bi Yati hanya datang 2 hari sekali, untuk membersihkan rumah dan menyetrika. Mengingat yang benar-benar tinggal hanya ia dan Mamanya, rumah juga tidak pernah terlihat berantakan dan kotor.
bzzzztttttt ...
Tepat ketika Nanda bersenandung seraya menyetrika, ponselnya bergetar. Membuat lagu yang sedang didendangkan berhenti.
"Napa Lis?" Nanda langsung mengangkat telfon, agak kesal karena lagunya terhenti.
"Lo di mana?"
"Di rumah"
"Gak ke sini?"
Nanda tidak langsung menjawab. Sosok itu menaruh setrika di pinggir lalu melepaskan ponselnya, menatap layar datar bertuliskan nama Yulis bersama dengan photo profile kelopak bunga matahari.
"Gak," Nanda jelas mengerti maksud dari Yulis. Dilihat dari jam dan suara di balik telfon yang tenang, jelas sahabatnya masih di rumah Luna.
"Lo cuma di rumah, kenapa gak ke sini aja?"
"Rumah kosong, Bi Yati lagi ngerawat anaknya yang sakit."
Jeda beberapa detik, nada Yulis kemudian terdengar ragu. "Jadi lo beres-beres rumah?"
"Yup."
"Sekarang lagi apa?"
"Nyetrika, udah itu ngepel, terus masak makan malem."
Pada akhirnya Nanda harus memakai headset, mengobrol dengan Yulis seraya mulai bersih-bersih. Sedikitpun, ia tidak merasa terganggu. Toh, rumahnya sangat sepi dan ia suka berbicara, mengobrol melalui telfon sambil melakukan sesuatu membuatnya merasa tidak sendiri.
Tepat ketika ponselnya sudah mulai terasa panas, Nanda mengakhiri percakapannya dan sadar bawah ... ia telah selesai melakukan semua pekerjaannya.
Menyetrika, mengepel, membuat makan malam ... oke, mengobrol juga membuat pekerjaan terasa tidak berat sama sekali. Nanda tersenyum puas.
"Kamu yang masak, Nda?"
Nanda menoleh, menatap wanita cantik yang baru saja memasuki dapur. Wanita itu masih menenteng tasnya, jelas baru saja pulang dan langsung berlari ke dapur.
"Woiya dong, siapa lagi yang buat?" Nanda menyeringai bangga. "Mama mandi sana ah! Bau!"
Dewi menyipitkan mata dengan curiga. "Gak beracun kan?"
"Ini beracun! Gak boleh dimakan!" Nanda cemberut, melotot marah menatap Mamanya. Sukses membuat wanita itu tertawa. Setelah beberapa patah kata untuk menggoda anaknya, Dewi melenggang pergi. Kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
__ADS_1
Nanda mengkulum senyuman, lalu mulai menyusun meja.
Mamanya keluar dari pagi hingga menjelang malam. Bahkan sebelum berangkat ke butik, wanita itu pasti akan menyempatkan diri menyiapkan sarapan untuknya, melakukan apapun untuk menyisihkan waktu agar bisa mengobrol dan berbagi dengannya.
Mereka tidak kekurangan uang sama sekali, bisnis butik hanyalah hobi Mamanya. Nanda tahu, dengan Papa yang sangat jarang pulang dan ia yang bersekolah sampai sore, Mama pasti kesepian. Jelas, butik adalah kesibukan untuk membunuh waktu dan siring berjalannya hari, berbisnis butik menjadi kebiasaan.
Sepasang iris menyendu, menatap meja yang telah tersusun lauk pauk yang masih hangat. Jemari gemuk menyentuh permukaan meja kayu, menatap kenangan yang terasa bergulir memenuhi ingatannya.
Nanda sadar bahwa ia akan langsung bertingkah manja di depan Papa dan Mamanya. Kedua orang tuanya juga dengan sepenuh hati selalu membanjirinya dengan kasih sayang. Mereka seolah selalu memberikan lapisan pelindung hangat, memberitahukan bahwa ia tidak perlu merasa khawatir sama sekali, tidak perlu merasa takut. Dunia luar mungkin kejam, tetapi kedua orang tuanya akan menjamin bahwa mereka akan menjadi benteng pelindung terbaik dan juga pisau terkuat untuk menghadapinya.
Tidak pernah menuntut ia menjadi apapun, menuntunnya bila ia salah, memastikan semua yang terbaik diberikan kepadanya ... hal apa lagi yang bisa Nanda tuntut atas semua limpahan kebaikan ini?
Senyuman kecil mengembang, perasaan hangat seolah melingkupi hatinya. Membuat ia merasa nyaman dan tenang.
Tidak peduli apapun ... ia harus melindungi kedua orang tuanya.
.
.
.
Hiruk pikuk suara obrolan terdengar. Ruangan kelas yang dipenuhi dengan siswa berseragam terlihat sangat berisik. Semua orang saling mengobrol, bercanda dan tertawa, atau bahkan sibuk melakukan kegiatan sendiri.
Namun diantara kebisingan yang lain, pemuda jangkung yang duduk di sudut belakang terlihat tenggelam di dalam dunianya sendiri. Ia mengenakan headphone, asik bermain game pada smartphone yang berada di tangan. Tidak ada yang mengganggunya karena semua orang sudah terbiasa dengan Raja yang asik bermain game.
Namun kali ini Raja tidak benar-benar bermain. Ia hanya memeriksa akunnya, seraya sesekali melirik ke depan, menatap ke sebuah kursi dimana sosok remaja gemuk asik mengobrol. Lalu sepasang iris akan berpindah, memandang ke meja depan dimana sosok gadis bertubuh mungil, tengah membaca novel.
Alis Raja terpaut. Ia merasa tidak nyaman denga kenyataan yang mengganggu hatinya.
Hari ini, semua hal, terlihat seperti ... hari-hari biasa.
Prihal kasus Luna, gosip itu menyebar, menggegerkan seisi sekolah, tetapi dalam beberapa minggu, hal itu perlahan seperti dilupakan semua orang. Meski beberapa orang masih membicarakannya, tetapi tidak ada yang benar-benar ingin mengoreknya lebih dalam.
Prihal Luna teralihkan karena Nanda yang berlari ke kelas A dan dengan suara lantang, berteriak "Sayang" kepada juara umum sekolah.
Tidak ada yang tidak tahu bahwa Ganesha Wijaya adalah juara umum sekolah hampir 3 tahun berturut-turut. Nilainya sempurna, sementara Nanda ... yah, sosok ceria yang kerap suka bercanda. Awalnya, mereka mengira bahwa Nanda tengah bermain dan kalah, tetapi siapa yang menyangka bahwa Ganesha akan menanggapi dengan kata.
"Apa?"
Oh, tindakannya jelas membuat kelas A seperti disambar petir di siang bolong.
Lalu akhirnya Nanda mengaku bahwa mereka memang pacaran dan tempat kencan mereka adalah ... perpustakaan.
Orang yang paling gila setelah mendapat berita adalah Yulis. Sosok cantik itu merajuk selama beberapa hari, membuat Nanda kelabakan membujuk dan menenangkan sahabatnya karena merasa dikhianati. Prihal pacar pertama, bukankah Yulis harusnya menjadi orang pertama yang tahu? Tetapi gadis itu tahu dari gosip dan bukan orang pertama yang diberitahu!
Tetapi mengesampingkan prihal itu, Raja benar-benar dilanda perasaan yang tidak nyaman.
Seminggu setelah peristiwa mading, Luna masuk kembali ke sekolah. Hal pertama yang dilakukan gadis mungil itu adalah berlari mendekati Nanda dan memeluknya. Mengucapkan terimakasih.
Raja tidak tahu apa yang dilakukan gadis gemuk itu, setahunya, Nanda tidak pernah berkunjung ke rumah Luna sama sekali. Hanya ada Yulis, Alex dan dirinya. Mereka bertiga yang selalu mengunjungi Luna dan mengajaknya mengobrol. Tetapi gadis itu justru berlari dan berterima kasih kepada Nanda? Raja benar-benar dibuat bingung. Jelas sepertinya ... ialah yang tidak mengetahui apapun.
Melepaskan headphone, Raja mencondongkan tubuh ke depan, mengetuk bahu mungil gadis yang duduk tepat di depannya. "Lun."
"Ya?" Luna menoleh ke belakang. Wajah mungil dengan sepasang iris gelap yang besar menatapnya dengan ramah. Bibir kemerahan itu membentuk lengkungan, tersenyum menatap Raja.
"Baca apa?"
"Ah?" Luna refleks menatap buku di tangannya. Wajah manis itu agak merona. "Umn ... cuma baca ulang buku biologi."
Raja mengkulum senyumannya. "Lo rajin ya."
"Gak kok," gadis berbando putih langsung menyangkal. Terlihat lebih malu dengan rona yang semakin kentara. "Kan minggu depan mid-semester ... uh ... harus belajar."
Sepasang iris menatap lembut gadis di depannya. Oh, Luna selalu seperti ini. Gadis mungil yang cantik, sangat polos dan lucu hingga membuatnya tidak tahan ingin melindunginya. Beruntung, kejadian saat mading tidak merubah Luna yang ia kenal. Gadis pendiam yang sangat pemalu.
"Mau belajar bareng?" ajak Raja. Senyumannya masih mengembang, membuat kontur wajahnya terlihat lebih tampan dan menyenangkan mata. "Kita buat kelompok belajar. Ajak Yulis sama Alex juga."
Wajah Luna terlihat berseri-seri mendengarnya. "Boleh juga," setujunya. Jelas terlihat bersemangat dengan kata kelompok belajar. Raja terkekeh melihat pipi gembil yang merona itu. Tangannya gatal, ingin mencubit pipi yang terlihat lembut.
"Oke, gue minta Alex sama Yulis dulu," ujarnya serayang bangkit berdiri. Luna tidak mengatakan apapun lagi, tetapi senyuman tidak henti merekah di bibirnya. Tindakan itu membuat Raja merasa geli.
"Lex," Raja langsung menghampiri meja di sisi lain, menatap Alex, Yulis dan beberapa teman sekelas yang membuat kelompok untuk bermain UNO.
"Apaan?"
"Buat kelompok belajar yok."
"Ha?" kali ini Yulis yang menoleh. "Tumben banget."
__ADS_1
"Boleh, boleh!" Fadil yang mendengar langsung menyahut dengan semangat. "Kita buat kelompok belajar, belajarnya tiap hari minggu, gimana? sambil buat tugas juga!"
"Yakin buat kelompok belajar?" Yulis menyipitkan mata, curiga menatap Fadil. "Gue yakin, yang ada malah main-main ntar!"
"Ah gak apa lah Yang, buat aja," Alex tersenyum lima jari, menunjuk ke arah Nanda. "Ajak Nanda, suruh Nanda ajak cowoknya juga. Lumayan kan ntar ada juara umum ngajar kita?"
Raja mengernyitkan alis mendengarnya, tetapi tidak mengatakan apapun. Sementara semua yang mendengarnya, langsung antusias. Yulis tidak menunda waktu, jelas setuju dengan apa yang dikatakan Alex.
Bangkit berdiri dan menghampiri meja Nanda dengan mata yang berkilau senang, Yulis bisa merasakan tatapan penuh harap beberapa orang di belakangnya.
"Ndut, lo nganggur kan minggu?"
Nanda menoleh, memandang orang yang berbicara , lalu mendengus mendengar ucapan Yulis. "Ah kata siapa aku nganggur? Aku tuh orang sibuk tauk!"
"Yaelah, sok sibuk," Yulis mencibir. "Udahlah, ikut kami yuk, minggu kita mau buat belajar kelompok."
Nanda menghela napas. Menatap Yulis dengan pandangan yang sangat sabar. Ia tersenyum, menepuk bahu sahabatnya. "Bebeb Yulisku tercinta, hari minggu tuh hari keramat. Sebagai makhluk yang udah gak jomblo lagi, tiap minggu diriku harus kencan ama ayangku biar cinta kami semakin bersemi indah selayaknya bunga-bunga indah bermekaran--"
"Halah, sabtu sama malming emangnya lo gak keluar tuk kencan?"
Nanda tertawa. "Gak lah!"
Yulis bingung, menatap sahabatnya dengan luar biasa.
"Sabtu adalah saatnya diriku rehab, waktunya me time~," Nanda menyeringai, menyajikan nada sing a song yang menyebalkan. "Nah, minggu baru deh main ama bebeb di rumah, 2 jam cukup lah, sebelum pegi keluar tuk kencan."
Otak Yulis mendadak mandek. Syock bukan main mendengarnya, sebelum akhirnya, beberapa detik kemudian, gadis cantik itu meledak marah.
"Dua jam? Kalian berduaan aja selama dua jam di rumah?"
"Yup!"
"NGAPAIN KALIAN BERDUAAN DI RUMAH?! DUA JAM TUH NGAPAIN?!" Yulis gemetar. Ia siap melabrak Ganesha bila sampai apa yang dipikirkannya benar.
Nanda meringis. Mendadak sadar apa yang dipikirkan Yulis. Namun ketimbang menyangkal, gadis itu malah terkikik malu. Wajahnya merona. "Yah berduaan ... yah gitu, kami sama-sama belajar. Ehehehe ..."
"APAAN EHEHEHE SAITON!" Yulis murka. Tidak ragu mencengkram tangan Nanda dengan marah. "Lo seriusan. Gue beneran bakal ke kelas Ganesha dan minta lo berdua putus kalo sampe gaya pacaran lo berdua gak bener!"
"Apaan yang gak bener?" Nanda sewot. "Dari mananya yang gak bener dari belajar?"
"Ya kalian belajar apaan!"
"Ya belajar mata pelajaran lah!" Nanda cemberut, lalu beberapa detik kemudian menyeringai. "Hayooo ... Lis, kamu mikirin apaan tadi? Hayo, ngaku kamu."
"Belajar?" Yulis kaku.
"Yup, belajar, belajar untuk ujian~ kan dedek mau pinter kayak bebeb Nesnes tersayang~"
" ... ." Yulis bersumpah, ia benar-benar ingin menjambak rambut temannya karena sudah dibuat gila. "Untung populasi orang kayak lo cuma dikit, kalo makhluk kayak lo ada banyak, gue bakal bingung mau ngebunuh yang mana duluan."
Nanda tertawa. "Dah ah, pokoknya minggu gak bisa. Soalnya kencan ama Ganesha tuh penting, tahu."
"Seberapa penting Ganesha ketimbang gue?" Yulis tersenyum, tetapi auranya jelas mengatakan 'lo berani milih dia, bakal gue bunuh.'
"... ."
Ini ancaman?
"Gini deh," Nanda membalik tubuhnya, menghadap ke arah Yulis. "Aku mau nanya. Lis, sayangku, cintaku, sahabatku, kamu jago gak matematika sama Fisika?"
Dalam hitungan 0,1 detik, Yulis dengan percaya diri menjawab. "Ya gak lah!"
Nanda tertawa. "Ya udah, Ganesha lebih penting klo gitu."
"Heh!" Yulis melotot.
"Lah, kamu gk bisa Matematika sama Fisika," Nanda berujar polos, memandang wajah tidak bersalah sama sekali. "Aku sama Nesnes mah, kencannya belajar berdua, bukan main ke bioskop atau berduaan bebeb, bebepan."
"What?"
"Beneran," Nanda memasang wajah serius. "Ingetkan kalo kubilang taruhan sama Mama? Nah, tutorku itu si Nesnes, makanya kami pacaran."
Alis Yulis mengernyit. Alasan kenapa sahabatnya mau berpacaran itu sangat ... ajaib. Lalu pada akhirnya, Yulis gagal membujuk. Bukan karena Nanda memang tidak mau, tetapi ia tahu tujuan dari Yulis sebenarnya adalah Ganesha.
Sungguh, rasanya Nanda ingin tertawa. Ia meminta Ganesha agar mau mengajarinya saja perlu bujuk rayu, apa lagi membuat kelompok belajar? Terlebih, dengan jumlah kelompok yang cenderung banyak, Nanda tidak yakin semuanya benar-benar belajar.
Menghela napas di dalam hati, Nanda bisa merasakan tatapan beberapa orang di belakangnya. Oh, semuanya, secara sekilas, tidak berubah, tetapi Nanda sangat menyadari keterasingan Raja kepada dirinya sendiri.
Tindakan itu pada mulanya membuat Nanda merasa tidak nyaman, tetapi untungnya secara bertahap ia mulai terbiasa. Biarkan Bossnya menjauh, itu adalah pilihannya sendiri. Toh yang terpenting, ia tidak melakukan kesalahan. Fokusnya sekarang hanya perlu belajar, mempengaruhi orang-orang di sekitarnya secara bertahap agar mau menjaga lingkungan dan ... bisa membela diri sendiri.
__ADS_1
Yah, ia harus mempersiapkan diri. Karena bagaimanapun, masa depan yang ia tahu tidak akan seindah negri dongeng.