Zombie

Zombie
45: Negosiasi


__ADS_3

Selalu ada hal-hal yang tidak terduga.


Raja tidak pernah menyangka bahwa perjalanan menuju Pangkalan Hijau akan memakan waktu lebih dari dua minggu. Perkiraannya, perjalanan hanya memakan waktu sekitar satu minggu, tetapi di tengah jalan, mereka mendapati beberapa tempat berbahaya yang tidak mungkin untuk dilalui. Misalnya, seperti jalan tol yang dipadati oleh banyak zombie level atas atau mendapati beberapa berita bahwa beberapa tempat memiliki zombie level tinggi.


Akibatnya, kelompok mereka harus melalui perjalanan memutar. Waktu istirahat yang biasanya hanya memakan waktu 3 hari, dipersingkat menjadi dua hari. Bukannya ia tidak peduli dengan kelompoknya yang akan cenderung kelelahan, tetapi semakin lama mereka sampai, akan semakin berbahaya.


Namun beruntung, sekarang mobil mereka sedang berbaris. Mengantri untuk memasuki pangkalan Hijau. Dwi dan Ifa yang masing-masing memegang tanggung jawab logistik dan management bagian Tempur dan Non-tempur, mulai sibuk sejak kendaraan roda empat ikut berbaris mengantri dengan tertip.


Keduanya keluar dari kelompok, menanyakan beberapa informasi lalu mulai menghitung ulang semua kelompok. Tidak ada yang boleh terlewatkan, aturan dan juga jumlah nukleus yang harus dibayarkan bukan jumlah yang kecil mengingat jumlah anggota kelompok yang tidak sedikit.


Jadi, keempat pemimpin duduk di dalam Caravan, berdiskusi singkat prihal pengaturan dan informasi yang didapat tentang pangkalan HIjau.


"Harga halaman yang akan disewa agak mahal," Dwi tidak ragu mengatakan hal yang sebenarnya. Alis pria itu terpaut. "10 Nukleus level 2 perhari. tetapi area yang dipinjam ditentukan oleh pihak Pangkalan."


Jumlah kelompok mereka cenderung besar, karena itu, setiap kali sampai ke sebuah pangkalan, kelompok mereka biasanya akan lebih memilih untuk menyewa halaman agar semua orang bisa mendapatkan tempat ketimbang menyewa rumah atau kamar yang jelas jauh lebih mahal. Tidak semua orang mau menyewa kamar, lagipula kelompok mereka hanya menetap sementara. Setelah itu, akan mengurangi atau bahkan menambah anggota kelompok ketika pergi nanti.


Raja mengetuk-ngetuk meja, terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya buka suara kembali. "Harga masuk perorang?"


"5 Nukleus Level 1," jawab Ifa. "Jumlah Nukleus untuk izin masuk, tidak kurang."


"Kita tidak kekurangan uang sama sekali untuk biaya masuk, tetapi untuk sewa tanah, jumlah 10 nukleus level 2 itu tidak termasuk keamana," Alfa buka suara, menjelaskan informasi yang ia dan Dwi dapatkan.


Itulah sebabnya Dwi mengatakan bahwa sewa tanah begitu mahal. 10 nukleus level 2 tidak termasuk keamanan, mereka hanya murni menyewa tanah, hal ini sangat menyebalkan. Pangkalan Hijau jelas masih memiliki beberapa bidang tanah kosong yang bisa mereka sewa, seharusnya 10 nukleus juga termasuk dengan keamanan mereka kan?


"Jadi maksudnya, kita harus menyewa tentara keamanan mereka secara terpisah?" alis Ifa terpaut.


"Benar," Dwi mencibir. "1 nukleus level 2 perhari untuk satu penjaga, mereka akan mengirim penjaga sesuai dengan jumlah nukleus yang kita berikan."


Raja masih mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya, berpikir.


"Boss, sesuai dengan perjanjianmu dengan Ganesha, setelah sampai di pangkalan Hijau, kita akan memulai pelatihan," Alfa memandang Bossnya. Alasan kenapa mereka agak ragu karena Ganesha menjelaskan mereka akan dilatih dengan ketat dan itu memakan waktu yang terbilang tidak singkat. Kekosongan kepemimpinan, di tempat asing selama sebulan adalah hal yang berbahaya. "Tetapi empat orang yang akan pergi, benar-benar akan mengurangi kekuatan kita."


Raja, Alfa dan dua anggota kelompok lainnya akan dilatih di luar pangkalan selama sebulan. Itu berarti selama sebulan penuh, mereka akan kekurangan orang kuat untuk melindungi kelompok. Biasanya, harga sewa sudah termasuk keamanan, tetapi tidak pernah mereka sangka bahwa Pangkalan Hijau, akan menerapkan harga yang terpisah seperti ini.


Dwi dan Ifa, prihal pengambilan keputusan adalah pasangan yang baik, tetapi prihal kekuatan, keduanya jelas sangat lemah. Bagaimanapun, mereka masih memerlukan orang kuat untuk menopang kelompok agar tetap aman ditinggalkan selama sebulan. Meski menyewa keamanan, tidak ada jaminan bahwa orang asing yang bertugas itu tidak akan membuat masalah.


Namun mengikuti pelatihan Ganesha juga merupakan hal yang sangat penting. Hal ini menyangkut masa depan kelompok mereka. Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa semakin kuat mereka, akan semakin baik mereka di masa depan, bukan?


"Ifa," Raja mendadak buka suara, memanggil nama satu-satunya perempuan di rapat kecil itu.


"Ya Boss?"


"Bagaimana menurutmu tentang Nanda?"


"Eh?" Ifa bingung. Agak kaget mendadak nama itu keluar dari mulut Bossnya, tetapi wanita itu tetap menjawab dengan patuh. "Berkelakukan baik, bisa berbaur dengan orang-orang, tidak membuat masalah sama sekali dan justru membantu kelompok untuk merawat anak-anak."

__ADS_1


Dwi tertawa. "Oh, merawat dengan mengadakan lomba?" ujarnya jenaka. "Yah ... anak-anak jadi lebih hidup karena berolahraga, apa lagi hadiahnya makanan--benar. Boss, kau bermaksud meminta anak kecil itu untuk menjaga keamanan kelompok?!" Dwi melotot tidak percaya, menatap Boss yang duduk tepat di sampingnya.


"Dia kuat."


"Aku tahu!" Dwi tidak bisa menyangkal hal ini sama sekali. "Tetapi dia tidak akan setuju! Lihat saja anak itu yang menempel terus dengan mas-mas bertopeng dan rela selalu ikut ketika kita sedang mengumpulkan bahan? Boss, dia tidak akan mau berpisah dari suaminya!"


Dwi tidak buta. 2 minggu lebih melihat Nanda, ia mengetahui karakter si kuncir satu dengan baik. Meski selalu menebarkan senyuman dan bukan pengguna kemampuan, tubuh kurus itu mampu memegang pistol dengan mantap dan membidik dengan tepat. Namun anak ini cenderung posesif. Ia akan menempeli suaminya bila mereka tidak lagi bekerja, lebih suka berkeliaran di area dimana suaminya masih berada di sekitarnya.


Ifa langsung mengerti begitu mendengar percakapan keduanya.


Bossnya bermaksud agar Nanda berada di kelompok, bekerja sama untuk membantu mereka menjaga keamanan.


"Bawa dia ke sini," Raja mengernyitkan alis, mendengar apa yang Dwi katakan. "Kita coba bujuk dia."


Karena hal itulah, sekarang, ketika kelompok Raja telah memasuki pangkalan Hijau dan parkir di sebuah area luas dengan tanah kering, Nanda dibawa ke Caravan. Duduk dikelilingi oleh empat pasang mata yang berbeda. Namun sedikitpun, sosok wanita berkuncir satu itu tidak dilanda gugup.


"Tidak mau," seperti kata Dwi, Nanda langsung menolak begitu saja begitu mendengar permintaan yang terucap dari Ifa.


"Ayolah Dek, cuma satu bulan, tidak akan lama," Dwi mencoba membujuk. Sebagai satu-satunya yang banyak bicara, terlebih dengan karakter Nanda, pria inilah yang akhirnya cenderung memohon. "Nanda cuma perlu membantu kami, membela kelompok bila ada masalah dengan orang luar. Lagian, Nanda tidak kerja juga akan dibayar kok, kami--"


"Kak, aku tidak kekurangan uang," Nanda menyela, membuat Dwi berkeringat dingin.


Benar, keduanya tidak kekurangan nukleus sama sekali, justru dicurigai menjadi orang terkaya di kelompok mereka.


"Anak-anak mungkin akan mendapatkan masalah," Ifa ikut buka suara, mencoba untuk membujuk.


"Tetapi orang luar mungkin akan mengganggu anak-anak."


Sekali lagi, Nanda mengangguk dengan serius. "Benar."


"... ," Ifa agak kehilangan kata-kata mendengar persetujuan itu. Nanda hanya mengatakan satu kata tanpa berniat melanjutkan sama sekali, membuat Ifa terpaksa mengatakan arahannya. "Tidakkah kau akan khawatir dengan mereka?"


Sepasang iris hazel yang bulat menatap Ifa. Mengerjap polos seolah bingung dengan apa yang wanita itu katakan. "Apakah Kakak akan membiarkan mereka mendapat masalah?"


"Tentu saja tidak."


Alis Nanda terangkat, bibir tipis membentuk seringai. "Nah? Jadi, apa yang harus aku khawatirkan?"


Dwi dan Ifa mendadak sakit kepala.


"Sudah kami katakan, kami kekurangan orang," Alfa mengkerutkan kening. "Kemampuanmu baik, setidaknya bisa membantu untuk melindungi kelompok. Setidaknya, ketimbang orang luar, kami jauh lebih mempercayaimu."


Lalu karena itu ingin memanfaatkanku? Nanda tertawa di dalam hati, tetapi ekspresinya berubah menjadi kebingungan. Oh, apakah mereka benar-benar berpikir bahwa ia polos? Meminta orang yang jelas-jelas bukan anggota kelompok untuk membantu melindungi mereka, padahal jelas ia terlihat bukan sebagai pengguna kekuatan, apakah mereka bermaksud meminimalkan pengeluarana dari menyewa seorang penjaga?


"Kakak ... ," Nanda cemberut. "Itu urusan kalian, bukan urusanku. Aku cuma ingin bersama suamiku, Tidak mau bergabung dengan kelompok atau melakukan hal-hal merepotkan seperti menjaga kelompok."

__ADS_1


"Hanya satu bulan, Nanda. Hanya Satu bulan, itu tidak lama sama sekali," Dwi nyaris gila berbicara dengan Nanda. Oh, anak ini begitu keras kepala, sukses membuat Dwi nayris frustasi.


"Satu bulan, 4 minggu, 30 hari, 720 jam," sepasang iris cokelat menatap Dwi. "Itu sangat lama untukku."


Empat orang kuat akan mengelilingi Ganesha, lalu ketika mereka menyadari bahwa suaminya adalah zombie, akankah mereka masih ingat bahwa yang mengajari mereka adalah Ganesha? Nanda mendengus dingin di dalam hati. Oh, ia yakin, empat orang ini pasti tanpa ragu akan mengarahkan pembunuhan mereka kepada suaminya begitu tahu bahwa Ganesha adalah zombie.


Jadi, masih bisakah ia duduk diam di tempat yang jauh dengan suaminya dengan kemungkinan bahwa pria itu akan diserang oleh orang-orang yang jelas ia ajari sendiri?


"Ini adalah kelompok yang kubentuk dengan tujuan agar semua anggota dapat menemukan apa yang mereka cari," Raja mendadak buka suara. Sepasang iris gelap menatap Nanda, terlihat serius dan dingin. "Kau membantu anak-anak di kelompokku, aku sangat berterima kasih, tetapi aku juga ingin bersikap sedikit egois dengan meminta bantuan mu lagi untuk membantu kelompok ini."


Eskpresi Nanda berubah. Sepasang iris hazel yang semula terlihat naif, kini bersinar dengan keseriusan. Raja ... tentu saja, Nanda sangat megetahui sifat Bossnya di kehidupan yang lalu. Pemimpin satu ini mementingkan anggota kelompoknya, bersikap dingin dan serius, tidak ragu mengambil keputusan tegas dan bahkan merendahkan diri demi kelompoknya.


Nanda menatap dingin Raja. Pria tinggi, dengan kulit tan terbakar matahari ini seharusnya memiliki wibawa yang mengesankan. Membuat semua orang mengaguminya. Namun apa yang dikatakan Raja membuatnya sangat tidak tahan. Nanda marah, sangat marah dengan apa yang pria ini katakan. Namun dalam hitungan detik, ekpsresi wanita itu berubah. Sepasang iris yang menatap tajam, kini melembut dengan lengkungan bulan sabit pada belahan bibir yang merah muda.


"Kakak, masih ada solusi lain, kau tidak perlu mengatakan hal seperti ini hanya untuk membuatku menetap," Nanda berujar lembut, terkikik dengan naif seolah tidak menyadari suasana ruangan yang mendadak rendah. "Kau tidak mempercayai orang luar, lalu percayailah kelompokmu sendiri."


Alis Dwi terpaut, tidak mengerti. "Maksudnya?"


"Hu.um, aku akan melatih anggota kelompok menggunakan pistol dengan baik, mumpung kita sedang berdiam di sini, tidak ada salahnya kan? Aku juga akan melatih mereka dengan dasar-dasar ilmu bela diri," Nanda tersenyum lima jari. "Jadi, sebelum berangkat, anggota kelompok yang lain setidaknya lebih kuat."


"Ini ... ," Ifa ragu. Remaja perempuan yang terlihat rapuh ini cukup mengejutkan dengan kemampuannya menembak, tetapi tidak pernah menyangka bahwa ia juga memiliki kemampuan material art.


"Aku tidak akan menetap di sini, aku tetap akan mengikuti suamiku," Nanda menyela, menghela napas lalu memasang ekspresi cemberut. "Bila Kakak mempercayai anggota kelompok Kakak, aku akan melatih mereka menjadi memiliki keterampilan yang baik sebelum kalian pergi. Yah ... bagaimanapun, aku tetap tidak akan setuju untuk menetap, aku akan tetap bersama suamiku."


Dwi menghela napas lega. Oh, solusi yang diberikan Nanda, jauh lebih baik. Namun melatih orang-orang bukan sesuatu yang bisa dilakukan dalam sekejap. Bila mereka lebih lama di sini, lebih dari dua bulan, nukleus yang mereka miliki jelas kurang ... belum lagi masalah konsumsi dan beberapa hal lain yang akan menjadi biaya tidak terduga.


"Aku mengerti," Raja mengangguk. Setuju dengan usulan Nanda. "Jadi, biaya apa yang kau inginkan?"


BOSS!!! Dwi dan Ifa betreriak secara serempak di dalam hati. Keduanya jelas mulai menghitung pengeluaran ekstra dan agak pusing dengan penghematan yang harus dilakukan, tetapi Raja dengan santai mengucapkan prihal kompensasi! Tidak bisakah itu menunggu ketika mereka keluar dari Pangkalan Hijau?!


Nanda tertawa, senang bukan main dengan apa yang Raja katakan. "Aku mau koki!"


"Ah?"


"Aku mau kalian menemukan seorang koki," sepasang hazel berkilau, senyuman kian mengembang. "Kalian tidak perlu mempermasalahkan biaya menyewa jasa atau bahan baku, aku hanya memerlukan seseorang yang bisa memasak dan meminjam seorang pengguna api dari kelompok kalian setiap kali koki akan memask."


Koki? Empat orang yang berada di ruangan itu bingung, tetapi beberapa saat kemudian, mengerti.


Nanda sudah memiliki Ifa yang disewa untuk menyegarkan bahan-bahan makanan, tetapi ia tidak bisa menikmatinya dengan maksimal karena kemampuan memasak yang kurang ... karena itu, perempuan ini menginginkan Koki untuknya memasak makanan yang enak?


Tanpa ragu, Raja menyetujuinya. Oh, tugasnya jadi bertambah, tetapi ketimbang permintaan Ganesha, permintaan Nanda untuk mencari Koki adalah hal yang cenderung lebih sederhana. Kriteria yang diinginkan Nanda juga cenderung umum. Ia hanya menginginkan Koki yang terbiasa memasak berbagai hidangan, seseorang yang berpengalaman dalam bidang kuliner. Karena keterbatasan bumbu dan bahan, jelas Nanda memang memerlukan koki yang terbiasa bereksperimen.


Karena itu, ketika wanita berkuncir satu melompat keluar dari Caravan, wajah itu berseri-seri. Oh, melatih orang-orang yang sudah terbiasa memegang pistol dan sudah bergerak untuk menghindari serangan dan gigitan zombie bukan sesuatu yang terlalu sulit. Terlebih, ia hanya akan melatih mereka sampai batas kemampuan tertentu. Setidaknya, mereka akan sedikit lebih terampil dan kuat.


Namun, permintaannya tidak bisa dibilang sederhana.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Sekarang, zaman sudah berubah. Pekerjaan sebagai koki jelas akan percuma dan sia-sia mengingat bahan makanan sekarang sudah cenderung menipis dan orang-orang lebih mementingkan kekuatan. Terlebih koki profesional yang mampu mengakali kekurangan bahan. Jelas, mencarinya dari tumpukan banyak orang bukan sesuatu yang ... mudah.


Nanda bersenandung riang, masuk ke dalam hummer lalu menerkam suaminya dengan berjuta ciuman kasih sayang.


__ADS_2