Zombie

Zombie
18: 3 Mahasiswa


__ADS_3

Membersihkan Vila dari berbagai macam bangkai lalu menguburnya. Melakukannya lumayan memakan banyak waktu. Beruntung, lubang yang digali oleh kelima anak kecil lumayan besar dan dalam. Hal itu sangat memuaskan. Karenanya, Nanda tidak henti memuji, membuat kelima anak merasa agak bangga dengan kemampuan menggali mereka.


Setelah membereskan mayat, kelima anak dan dua orang dewasa mulai membersihkan Vila dengan baik. Mereka menyingkirkan semua debu, merapikan kembali isi Vila yang berantakan. Beruntung, Vila masih memiliki banyak barang yang berguna. Terdapat beberapa mie instan, kompor gas yang masih berfungsi dan peralatan makan yang lengkap. Jadi, ketika mereka selesai bersih-bersih, semangkuk mie, dengan banyak kuah, mengisi perut mereka.


"Nah, Kakak sudah mengisi bak mandi dengan air, kalian semua bisa mandi bergantian, setelah itu tidur di kamar manapun yang kalian mau," Nanda tersenyum, menatap anak-anak yang dengan patuh menaruh mangkuk bekas makan mereka ke bak pencuci piring. "Kalian langsung mandi, biar Kakak sama Kak Erica yang nyuci piring."


Anak-anak itu saling memandang, lalu mengangguk dan berlarian menuju kamar. Terdapat 5 kamar di Vila ini. Dua kamar berada di lantai dua dan 3 kamar di bawah. Kelima anak memutuskan untuk menaiki tangga dan berbagi kamar di lantai 2. Melihat anak-anak berlarian menaiki tangga dengan penuh semangat, Nanda menghela napas. Tanpa ragu menggunakan kemampuan airnya untuk mencuci piring dalam kedipan mata.


"Apa rencana Tante untuk anak-anak itu?" tanya Nanda seraya berbalik dan menatap ke arah Erica. Sosok wanita berambut pendek duduk di meja makan. Punggungnya bersandar pada bangku, terlihat lelah dengan kedua bahu yang terkulai.


"Entahlah ... terserah kamu, Nda."


Alis Nanda terpaut. "Tante yang bawa mereka, Tante juga yang harus berpikir untuk tindakan mereka ke depannya," Nanda berjalan, menarik kursi dan duduk tepat di depan Erica. "Jangan berkata-kata yang tidak bertanggung jawab seperti itu."


Erica menghela napas. Sepasang iris gelap menatap keponakannya yang berwajah kotor. Ia terlihat sangat lelah hingga membuat Nanda yakin bahwa membalas ucapannya saja sudah membuat Tantenya merasa enggan. "Kalau kubilang mau membesarkan mereka berlima ... bagaimana menurutmu?"


Nanda terdiam selama beberapa detik, ia terlihat berpikir hingga akhirnya, membuka suara. "Itu sulit."


Tidak langsung menyangkal atau menolaknya, tetapi Erica tahu bahwa Nanda tidak mengatakan hal yang berlebihan. Merawat satu anak sudah sulit, apa lagi lima anak sekaligus? Terlebih, sekarang mereka sedang di dalam krisis hidup dan mati. Merawat diri sendiri sudah sangat sulit, apa lagi untuk mengurus yang lain? Erica menertawakan keputusannya sendiri. Bodoh, sangat bodoh. Ia bahkan belum benar-benar mengerti karakter anak-anak ini, tetapi sangat ingin mengadopsi mereka? Menggantikan mereka sebagai ... anaknya sendiri?


Menyadari perubahan mood Tantenya, Nanda tidak memaksa kembali. Ia hanya menghela napas, menatap wanita yang terlihat suram itu dengan sedih. Dalam keadaan mood seperti ini, Erica jelas tidak bisa memikirkan apapun. Wanita ini pasti sudah sangat ... lelah.


"Yah ... makanan masih lumayan banyak. Selama berhemat, bisa bertahan sekitar 2 atau tiga hari," Nanda merubah topik, merasa agak lega dengan penemuan vila ini. "Sebaiknya kita tidur dan istirahat, besok kita pikirkan lagi."


Erica membalasnya dengan gumaman. Nanda tidak kembali memaksakan diri. Ia bangkit berdiri, berjalan menuju salah satu kamar. Tepat ketika ia hendak menyentuh pintu, suara isak tangis terdengar dari arah dapur. Hal itu menghentikan pergerakannya, membuat tubuhnya kaku selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali bergerak untuk mendorong pintu terbuka.


.


.


.


Pagi-pagi, kelima anak kecil disambut dengan sarapan hangat di atas meja. Hal ini membuat wajah-wajah kecil tersenyum. Sepasang mata mereka berkilau, terlihat tidak sabar untuk memakan mie dengan banyak kuah di atas meja. Namun mereka sangat sabar. Duduk satu persatu di kursi, membagikan mangkuk dengan baik, tidak langsung sarapan dan menunggu kedua Kakak untuk ikut duduk agar mereka bisa memulai sarapan.


Tingkah mereka seolah lupa bahwa baru kemarin, kelima anak kecil mengalami pertarungan hidup dan mati. Di mata mereka, dunia seolah tidak berubah. Jernih dan polos, aman untuk mereka tinggali.


Nanda menghela napas menyadari hal itu. Anak-anak dengan mudah mengalihkan perhatian mereka. Pagi ini juga ia menemukan mata Tantenya yang sembab, jelas semalaman menangis. Namun wanita itu tetap mempertahankan diri. Sesekali tersenyum dan mengajukan beberapa obrolan singkat di atas meja makan. Sarapan sederhana dan bahkan nyaris tidak memiliki rasa, terasa agak hangat dan menentramkan ketika anak-anak dengan serius dan lucu memakan makanan mereka tanpa mengeluh.


"Oke, aku pergi dulu," Nanda tersenyum lima jari, berdiri saat selesai memakan mienya. 5 anak kecil sedang asik di dapur. Saling bergotong royong untuk mencuci piring, benar-benar tidak memperhatikan kedua orang dewasa yang duduk di meja makan sambil memandang tingkah mereka.


"Ke mana?" alis Erica mengernyit, menatap keponakannya dengan bingung.


"Ke luar, kita masih perlu banyak makanan, aku mau mencarinya di sekitar."


Implikasinya adalah Nanda ingin pergi ke luar sendirian. Tidak mungkin untuk membawa anak-anak untuk mencari bahan. Erica juga tidak mungkin untuk ikut. Bila anak-anak ditinggalkan sendirian di sini, tidak ada jaminan Vila ini aman atau mereka tergoda untuk berlarian ke luar Vila. Bagaimanapun, masih perlu orang dewasa untuk mengawasi kelima kurcaci kecil yang masih belum mengerti cara melindungi diri.


Erica, mau tidak mau, harus setuju dengan keputusan Nanda. Jumlah zombie di luar sana tidak terlalu banyak. Keponakannya, sejak dulu memang jauh lebih kuat dan lincah ketimbang dirinya. Sebagai ketua dan pendiri club 'bebas', Nanda adalah sosok kecil yang paling 'pecicilan'. Lagipula, jumlah makanan yang mereka miliki memang terbatas. Terlebih kemungkinan mereka hanya bisa makan 2 atau bahkan hanya 1 kali sehari.


"Tante di sini jaga mereka, juga sekalian ajari mereka untuk membaca dan menulis, juga berhitung," Nanda menyarankan, tahu bahwa Tantenya yang cenderung pendiam, memiliki hati yang lembut kepada anak-anak.


"Biar aku yang ke luar, kamu yang jagain anak-anak," Erica menolak.Nanda adalah guru SD, kenapa justru ia yang harus menjaga anak kecil dan mengajari mereka? Bukankah Nanda lebih ahli di dalam bidang ini?


"Tante, aku lebih kuat dari Tante," Nanda cemberut, alisnya mengernyit. "Di luar lebih berbahaya. Tante cukup mengajari mereka membaca dan menghitung, bila itu susah, lalu ajari mereka untuk sedikit berolahraga. Belajar Pencak Silat atau apapun itu, tidak masalah."


"Pencak Silat?"


"Kita tidak bisa untuk selalu melindungi mereka," wanita berkuncir itu mengingatkan. "Setidaknya, mereka harus bisa melindungi diri mereka sendiri. Lagipula, Tante belum mengambil keputusan. Apakah benar-benar ingin mengadopsi mereka atau menyerahkan mereka kepada Pangkalan."


Menyerahkan anak-anak ini kepada Pangkalan?


Sungguh, Erica bisa membayangkan bahwa anak-anak ini akan mulai dilatih menjadi mesin pembunuh oleh militer. Atau bahkan yang terburuk ... akan disumbangkan kepada peneliti untuk menjadi kelinci percobaan manusia? Erica sudah dua kali berpindah Pangkalan dan ia sudah melihat berbagai macam jenis moral yang menghilang. Beberapa orang, bahkan dengan suka rela menjual anaknya sendiri hanya untuk mendapatkan tempat yang lebih layak di Pangkalan.

__ADS_1


"Aku akan mengadopsi mereka."


Alis Nanda terangkat. "Benarkah?"


"Ya."


"Tapi baru saja, Tante menyerahkan mereka kepadaku. Bukankah itu sangat tidak bertanggung jawab? Itu ucapan untuk orang yang ingin mengadopsi lima anak sekaligus?"


"... ." Erica terdiam. Tertohok dengan ucapan keponakannya sendiri.


Nanda tertawa. Ia tersenyum lima jari dan menepuk bahu Erica. "Aku bercanda, Tante. Bila Tante ingin mengadopsi mereka, silahkan saja. Ajari dan beri mereka kasih sayang, aku akan membantu Tante sebisaku," ucapnya geli. Bagaimanapun, akan sangat sulit bagi Erica bila seorang diri membesarkan lima anak kecil ini.


Erica menghela napas. "Aku masih gak biasa dengerin kamu ngomong baku kaya gini."


Tawa wanita itu semakin besar. "Oh, kalau begitu, biasakan. Tante juga harus terbiasa menggunakan bahasa baku, terutama di depan anak-anak itu," ujarnya geli. "Okay, aku pergi dulu. Sebisa mungkin, aku akan kembali dengan cepat."


"Hati-hati."


Nanda mengangguk, tetapi tidak membalas ucapan Tantenya. Tanpa membuang waktu, wanita itu meninggalkan dapur, berjalan ke dalam kamar dan mengambil sebuah ransel dan topi. Sebuah pedang ia keluarkan dari kemampuan ruangnya. Setelah merasa persiapannya cukup, wanita itu keluar dari Vila. Tidak berniat membawa mobil mereka dan berjalan kaki dengan santai hingga membuat Erica cemas.


Nanda hanya bisa tertawa ketika Erica, sekali lagi, kalah dalam berdebat. Erica memaksa Nanda untuk membawa mobil mereka, tetapi Nanda menolak. Bensin sangat berharga, lagi pula ia hanya akan berkeliaran masuk ke dalam beberapa Vila dan rumah mewah di sekitar untuk menemukan beberapa hal. Tidak perlu membawa mobil, bila beruntung, ia kembali membawa mobil lain yang lebih baik untuk mereka gunakan.


Berjalan diantara rimbun pepohonan, wanita yang mengenakan topi itu sesekali bergerak untuk membunuh zombie yang mendekatinya. Sebuah samurai panjang berkilau, memantulkan cahaya matahari pagi. Sebagian wajahnya tertutup oleh bayang-bayang topi yang dikenakan, tetapi bibirnya menyunggingkan senyuman, bersamaan dengan senandung merdu.


Seperti apa yang dikatakan Nanda, ia memang hanya memasuki satu Vila ke Vila yang lain. Jarak antara bangunan satu dengan yang lainnya agak berjauhan, membuatnya perlu berjalan kaki selama beberapa menit untuk mengambil satu Vila dan mulai mencuri apapun di dalamnya.


Bergerak sendiri seperti ini, bagaikan panen bagi Nanda. Terlebih beberapa rumah mewah berpenghuni sangat sedikit zombie. Ia dengan leluasa memasukkan apapun ke dalam ruangannya, tetapi tidak lupa juga memasukkan beberapa makanan ke dalam ransel. Beberapa rumah mewah banyak memiliki beras, gandum, mie dan beberapa makanan bungkusan lainnya. Jumlah yang didapat sangat banyak setelah menjarah 3 vila mewah yang besar. Ia juga berhasil mendapatkan sebuah mobil hummer.


Setelah mengisi bensinnya full dengan cara mencuri beberapa bensin yang tersedia di dalam setiap mobil yang ia lihat, Nanda membawa mobil dan barang jarahannya untuk menemui Vila yang lain dalam suasana hati yang sangat bagus. Oh, ia tidak sabar untuk menjarah rumah-rumah yang ada di sekitar sini.


Namun tepat ketika ia mencari Vila keempat, sepasang hazel menemukan sebuah mini market yang dikelilingi oleh sebuah kelompok kecil yang menghadapi zombie. Zombie itu bergerak lincah, menyerang tiga orang pemuda yang mencoba mengalahkannya. Ketiga pemuda juga tidak bodoh. Saling bekerja sama untuk mengalahkan zombie yang lebih kuat dari mereka. Bila Zombie menyerang salah satu diantara mereka, keduanya akan bergerak mengeroyok. Fokus mereka adalah kepala, sengaja memilih tongkat besi dan basebal sebagai alat menyerang karena akut terkena cakar atau diterkam oleh makhluk kanibal ini.


Nanda menonton dari jarak tertentu dengan menarik. 3 orang pemuda, yang jelas adalah Mahasiswa, adalah kenalannya. Ketiganya merupakan salah satu anggota club Bebas yang ia dirikan. Ia, tidak berniat membantu sama sekali. Dengan kemampuan ketiganya, seorang zombie level 2 tentu saja bisa mereka hadapi. Tubuh fleksibel itu tidak sekuat zombie level 4 seperti Pamannya.


Nanda menghela napas. Zombie level 4 sudah keluar, padahal baru sebulan virus menyebar. Ini terlalu cepat ... terlebih ia tidak bisa membunuh level 4 karena itu adalah wajah Pamannya.


Mendadak, Nanda teringat dengan Erica. Bila ingat Pamannya berubah menjadi zombie, Nanda akan teringat dengan Erica.


Sejujurnya, dengan kemampuan Erica, berjalan seorang diri juga bukanlah masalah. Justru lebih baik bila ia yang di Vila dan Erica yang ke luar, karena jelas, ketimbang Erica, Nanda lebih bisa untuk menghadapi anak-anak. Namun sayangnya, keadaan Tantenya tidaklah baik. Membiarkan sosok itu berkeliaran seorang diri dalam suasana duka bukanlah keputusan yang tepat. Itu sebabnya ia menyuruh Erica menjaga anak-anak. Dengan begitu, Erica tidak akan kesepian. Wanita itu akan sibuk, perhatiannya akan sedikit teralihkan. Terlebih kelima anak kecil sangat patuh dan pintar, pasti bisa sedikit mempengaruhi suasana hati Erica yang rendah.


"Aaaaa! Tolong! Tolong!"


Alis Nanda mengernyit, menatap ke arah dimana ketiga Mahasiswa kini berlari ke luar dari dalam mini market. Ternyata, setelah berhasil melawan satu zombie di luar mini market, di dalam mini market yang terkunci, terdapat beberapa zombie level 1. Semuanya lincah, bergerak mengejar ketiga Mahasiswa yang berlarian seperti kucing mengejar tikus.


Mengeluarkan masker dan jaket, Nanda langsung menutupi dirinya dalam hitungan detik. Ia keluar dari hummer, berlari mendekati ketiga pemuda dan dengan mudah, menebas leher beberapa zombie yang menyerang mendekat. Setiap tebasan sangat akurat dan kuat, membuat kepala-kepala Zombie terpotong dengan rapi dan jatuh mengelundung di tanah. 8 zombie level 1 yang mengejar, tidak sampai hitungan menit, telah habis ditebas oleh sebuah samurai.


Ketiga pemuda melongo, sebelum akhirnya mereka berseru senang ketika mendapati seseorang tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga membunuh semua zombie seorang diri. Oh, orang ini, benar-benar sangat kuat! Tiga pasang mata berkilau penuh dengan rasa kekaguman. Namun, ketiganya tidak berani untuk berbicara dengan seenaknya. Bagaiaman bila orang kuat ini tersinggung dan menjadikan mereka sasaran seperti zombie-zombie itu? Itu sebabnya mereka saling melirik, mendorong satu sama lain hingga pada akhirnya, salah satu menyerah. Maju dengan gugup dan tersenyum mewakili kedua temannya yang pengecut.


"H-Halo ... itu ... namaku Eka, terima kasih sudah menolong kami," pemuda bernama Eka berujar gugup. Jantungnya berdegup kencang, membuat kedua tangan berkeringat. Kedua teman sialan di belakangnya benar-benar menyebalkan. Tidak tahu apakah pahlawan ini perempuan atau lelaki, Eka tidak berani buka suara untuk memanggilnya 'Adik' atau 'Kakak' karena takut salah usia.


Namun sang pahlawan hanya diam, menatap ketiga pemuda dari balik bayang-bayang topi. Sosok ini begitu misterius. Ia mengenakan topi, juga memakai masker. Jaket besar menenggelamkan tubuhnya, membuat ia terlihat lebih kecil, tetapi ternyata tubuh kurus itu agak tinggi. Sekitar mencapai 160cm, entah ia seorang remaja lelaki atau seorang perempuan dewasa.


Keheningan diantara mereka membuat ketiga Mahasiswa gugup bukan kepalang. Oh, ayolah! Mereka sudah berterima kasih, sudah memperkenalkan diri, apakah pahlawan ini begitu pemalu atau arogan? Sedang berpikir bagaimana cara merampok mereka atau memperlakukan mereka sebagai babu? Sungguh, mereka lebih memilih pilihan terakhir. Menjadi babu orang kuat, siapa tahu bisa memberikan manfaat di tengah suasana hidup dan mati seperti ini.


"Kompesasi setelah menyelamatkan kalian," suara serak yang teredam terdengar, membuat ketiga Mahasiswa bergidik. Punggung mereka tegak lurus, jantung berdegup kencang mengalirkan adrenalin ekstream. Oh, oh, apa yang diinginkan penyelamat mereka? "Aku duluan yang akan masuk dan mengambil, lalu sisanya terserah kalian."


"Ah?"


"Itu ... maksudmu mini market itu?"


Nanda menyipitkan matanya. Apa? Para bocah ini tidak mau berbagi? Namun Nanda tidak menyuarakan protesnya. Ia hanya diam, membiarkan ketiga pemuda menelan liur paksa. Wajah mereka sudah sangat pucat, lelah karena bertarung melawan zombie, tetapi ketiganya tidak mungkin menolak. Sudah menjadi hukum tidak tertulis bahwa yang lemah harus tunduk kepada yang kuat.

__ADS_1


"Umn ... kami ... kami akan menunggu di sini, Kakak--eh, Adik--eh, itu ... kamu bisa masuk. Kami hanya di luar untuk berjaga," Eka buka suara. Bingung dan panik harus memanggil orang ini seperti apa. Bagaimanapun, meski agak tidak rela, lebih baik menyerahkan jumlah ini ketimbang membuat masalah dengan orang kuat.


Nanda mendengus mendengarnya. Agak geli dengan reaksi Eka dan berbalik untuk mengambil panen.


Sementara melihat sosok misterius masuk ke dalam mini market, ketiga Pemuda saling menyikut satu sama lain, berbisik penuh dengan keluhan karena apa yang harus mereka miliki, kini harus berbagi. Namun, berapa banyak yang bisa diambil oleh satu orang? Ketiganya lalu penuh harap. Menatap Nanda, yang baru saja keluar dari Mini Market dengan dua karung beras dan satu kardus yang membebani pundaknya.


Bagaimana bisa orang ini membawanya dengan mudah seolah-olah itu hanya karung dan kardus kosong? Oh, tubuh sekecil itu ... benar-benar menipu.


Eka menelan liur paksa, agak kikuk mendekati penyelamat mereka. "Apakah hanya ini? Apakah kamu ... mau kami membantu?"


"Tidak, ini cukup. Pergilah."


"Ah?"


"Aku sudah selesai," ucap Nanda, mengabaikan wajah berseri-seri ketiganya dan berjalan menuju Hammer yang terparkir agak tersembunyi. Ketiga pemuda berseru senang, berlarian memasuki Mini Market dengan hati berbunga-bunga. Menganggap Pahlawan satu ini, benar-benar baik karena hanya mengambil sedikit. Sayangnya, ketiganya tidak tahu bahwa semua dari isi gudang sudah dikuras Nanda, hanya menyisakan beberapa kardus berisi mie dan beberapa hal yang masih terpajang pada rak mini market.


Oh, ia benar-benar panen.


Mood Nanda sangat baik. Ketiga bocah itu benar-benar menambah panennya. Namun... kenapa mereka berada di sini? Apakah tempat ini dekat pangkalan? Atau ketiganya terjebak dan menjadikan Vila ini sebagai tempat beristirahat? Bila mengingat masih banyak Vila dan rumah yang belum dijarah, tidak mungkin ada pangkalan di dekat sini. Jadi, kemungkinannya bahwa ketiga bocah itu bekerja sendiri, tanpa pernah diambil militer untuk ke pangkalan.


Nanda bersyukur bahwa ia harus menyamar. Setidaknya, ia tidak mau bertemu dengan bocah-bocah itu sekarang. Biarkan mereka belajar mandiri dahulu. Selama mereka masih tinggal pada area Vila, cepat atau lambat mereka pasti akan bertemu lagi.


Menaruh beras dan kardus pada bangku belakang, lalu mengeluarkan beberapa hal dari dalam ruangnya untuk menambah 'panen yang terlihat', Nanda selesai membuat kamuflase. Yah ... kemampuan ruangnya tidak boleh diketahui oleh siapapun, bahkan Tantenya. Itu sebabnya, ketika ia kembali, senyuman cerah kelima kurcaci kecil menyambutnya. Anak-anak membantu membawa barang yang bisa mereka bawa, sementara sisanya, dua karung beras, dibawa dengan mudah oleh Nanda dan Erica.


"Jarak antara satu rumah ke rumah yang lain lumayan jauh, tapi jalannya lumayan aman. Tidak terlalu banyak zombie di luar," ucap Nanda seraya masuk ke dalam rumah. Erica membalasnya dengan gumamaman. "Ngomong-ngomong, Tante masih ingat dengan Ken, Bobi dan Genta?"


"Siapa?"


"Anak-anak dari Club Bebas."


Erica mengernyitkan alis. Club Bebas adalah kelompok aneh yang dibuat Nanda. Anggotanya banyak, terdiri dari berbagai macam usia dan karakter. Tujuan klubnya sudah sangat jelas dari nama yang dibuat asal-asalan oleh Nanda. Bebas. Berarti setiap anggota, memiliki kebebasan. Dari menentukan pikiran, usulan kegiatan dan lain sebagainya. Kebanyakan yang dilakukan merupakan hal-hal positif. Mengajar anak-anak di jalanan, melakukan bakti sosial, atau bila mereka sedang iseng, bersama-sama membersihkan semua sampah di jalanan kota selama dua hari. Namun, ada sesuatu yang konstan dan pasti dilakukan.


Pelatihan Fisik.


Sebelum semua hal dilakukan, anggota akan melakukan senam pagi, berolahraga ringan, memakan makanan sehat lalu memulai kegiatan. Kegiatan yang dilakukan benar-benar bebas dan tidak terbatas. Terkadang mereka berlatih untuk menembak, atau belajar memanah, belajar pencak silat, jalan-jalan ke kebun binatang, merajut ... Oh, benar-benar apapun itu, bisa kau lakukan asalkan bukan kegiatan negatif.


Lalu ketiga nama itu ...


"Kau melihat mereka?" Erica menebak. Menurunkan beras ke dapur dan melihat beberapa kardus dan bungkusan pelastik sudah dibuka oleh anak-anak. Sesuai dengan inisiatif sendiri, anak-anak itu memisahkan barang bawaan menjadi dua bagian. Satu adalah makanan sementara yang lain bukan makanan.


"Yup," Nanda mengangguk. "Tapi mereka sibuk, jadi tidak kusapa."


Erica tidak bertanya kembali mendengarnya. Ketiga pemuda itu sangat aktif dan berisik, mungkin karena itu Nanda tidak mau mereka ikut bergabung dengan mereka? Takut ketiga pemuda akan menjadi beban? Wanita berambut pendek itu tidak mau terlalu banyak berpikir. Toh, dengan mereka saja sudah lebih dari cukup.


"Bagaimana keadaan di luar?"


Nanda menghela napas. Ia menurunkan beras di samping karung tempat Tantenya menaruh beras, lalu membuka sebuah panci besar. Tanpa ragu menggunakan kemampuan air untuk melapisi setiap bagian bungkus makanan dengan air tipis yang membentuk es, menciptakan makanan pengawet yang akan lebih tanah lama bila disimpan dalam keadaan membeku.


"Daerah ini sepertinya belum terjamah militer. Setiap rumah masih memiliki isi perabotan yang utuh, berarti belum ada yang menjelajahi. Pangkalan sudah pasti berjarak sangat jauh dan yah ... tiga kurcaci itu mungkin terjebak di sini sejak sebelum virus menyebar," Nanda menjelaskan spekulasinya. Memasukkan semua makanan yang dibekukan ke dalam kulkas yang sudah mati karena tidak ada listrik.


"Bila ingin meninggalkan vila ini, kita harus--ah! Jangan buka semuanya, sayang, shampoo, sabun dan pasta gigi cukup buka satu saja. Okay? Sisanya, semuanya disimpan," Nanda buru-buru menghampiri para kurcaci kecil yang penasaran. Sekelompok anak-anak itu terlihat kaget, menunduk dan merasa bersalah. "Tidak ... tidak apa-apa, jangan meminta maaf, kalian tidak tahu, nah, jangan memasang ekspresi seperti itu, okay? Kakak masih perlu bantuan kalian, kalian mau membantu kakak kan?"


"Iya Kak ... ."


"Bagus," senyuman lima jari merekah, Nanda menunjuk ke peralatan mandi yang sudah dibuka. "Nah, peralatan mandi yang ini, taruh di dalam kamar mandi belakang--oh, mulai sekarang, kita akan mandi secara bergantian. Hanya mandi di kamar mandi belakang. Kita harus berhemat. Jangan menyia-nyiakan air dan sabu. Sayang, sabun-sabun ini sangat mahal," Nanda tidak bisa menahan diri dari mengeluh.


"Sabun sangat mahal?"


"Ya, ini semua sangat mahal. Kakak hampir mati demi bisa mengambil ini, jadi kita harus berhemat," ucapnya kalem, sukses membuat kelima wajah anak kecil itu memucat. Wanita berkuncir itu tertawa, tidak menghibur anak-anak sama sekali dan mulai memerintahkan untuk menaruh beberapa barang ke beberapa tempat. Para kurcaci kecil melakukannya dengan sungguh-sungguh. Berlarian ke sana ke mari, berjinjit dan berlomba siapa yang lebih cepat menyelesaikan tugas.


Erica, yang menonton Nanda berubah menjadi Boss diktator yang memerintahkan para anak kecil, hanya bisa menghela napas. Ia ingin bertanya detail apa yang dipikirkan keponakannya, tetapi menyadari suasananya tidak tepat. Pada akhirnya ia hanya bisa membantu untuk menyusun beberapa bumbu dan makanan. Menyimpan mereka, lalu mulai untuk memasak makan malam yang jauh lebih baik ketimbang makanan mereka sebelumnya. Hal ini benar-benar membuat keenam pasang mata berkilau penuh antusais ketika melihat meja makan. Lima anak kecil dan satu orang dewasa menikmati nasi goreng sosis yang akhirnya bisa mereka cicipi dengan penuh suka cita.

__ADS_1


Oh, memiliki Erica sebagai koki mereka, benar-benar hal yang baik.


__ADS_2