
Tubuh ini adalah tubuh seorang remaja kelas 3 SMA. Masa-masa yang konon katanya adalah titik balik menuju kedewasaan ...
Walau kenyataannya, Nanda tidak memiliki kesan apapun pada saat itu kecuali perasaan tertekan untuk belajar agar bisa Lulus sekolah dan masuk Universitas. Selain itu? Ia tidak memilik kesan apapun.
Karenanya, Nanda mencoba mengingat-ingat masa lalunya seraya menggulir dan membalas beberapa chat dari teman-temannya pada layar smartphone.
Setelah sarapan yang terlambat, Nanda mengurung dirinya di dalam kamar. Bukan, bukan untuk membaca novel, tetapi untuk menyusun kembali ingatannya ketika di bangku kelas 3 SMA.
Oh, ia nyaris ketahuan oleh Mamanya, hal itu membuat Nanda nyaris terkena serangan jantung. Yah, bila mendadak karakter sesorang berbeda ... uh, Nanda berani bertaruh ia pasti akan dikira kerasukan.
Karenanya ia langsung berlari masuk ke dalam kamar, menggulir beberapa chat seraya mencoba mengingat-ingat wajah dan nama teman-teman sebayanya.
Chat group kelas membahas prihal tugas yang harus dikumpulkan besok. Hal itu membuat sang remaja mengernyitkan alis. Sebuah masalah lain sekarang ia hadapi. Begitu foto dan teriakan beberapa anak-anak kelas membahas prihal jawaban setiap pertanyaan muncul di dalam layar ...
Nanda sadari ia lupa semua pembelajaran kelas 3 SMA.
Pluk.
Kesal, remaja itu melempar smartphonenya ke bantal. Oh, demi apapun itu, ia lebih suka praktek latihan tentara ketimbang belajar dan memeras otak!
Baik dirinya yang sekarang atau dirinya yang dulu, tidak ada perubahan bahwa ia membenci belajar! Masalahnya adalah ia jelas sudah duduk di bangku kelas 3 SMA! Masa-masa yang paling ketat untuk mengkaji ulang semua ilmu dari zaman megalitikum ke zaman--oh, lupakan. Mengeluh tidak akan menghasilkan apapun.
Memijat pangkal hidungnya, remaja gemuk dengan frustasi berjalan ke meja belajar dan duduk di sana.
Terdiam untuk beberapa saat, Nanda mulai memikirkan beberapa rencananya dengan tenang. Hal itu membuat tangan gemuk bergerak. Mengambil memo dan pena, lalu mulai menulis rencana tahun ini.
Menurunkan berat badan minimal 10kg
Mendapat juara kelas 10 besar.
Menghemat/mengumpulkan uang.
Masuk Universitas di kota ini.
Nanda tersenyum menatap keempat rencananya. Oh, ia tidak terburu-buru. Rencana satu tahun yang dibuat memang terlihat sederhana, tetapi bila lengah sedikit, salah satu rencana bisa tidak tercapai.
Karenanya yah ... ayo mulai rencana dari hari ini!
.
.
.
Bangun pada pukul 5 pagi ketika alarm berbunyi, Dewi menguap dan dengan linglung hal pertama yang dilakukannya adalah meraih smartphone, membuka aplikasi dan melihat sebuah pesan dari seseorang yang diberi lebel nama Bang Toyip.
pesan suara dikirim beberapa menit yang lalu, suara seorang pria diputar.
"Sayang, selamat pagi!" suara ceria seorang pria mengalun di ruangan itu. Terdengar jernih dan juga lembut. "Aku tahu kamu masih marah, maaf ya sayang ... kemarin dan hari ini aku benar-benar gak bisa pulang, tapi yang pasti, bulan ini aku bakalan pulang. Jadi, please ... baby, ganti dong namaku di kontakmu. Masa' tega banget suami sendiri dikasih nama Bang Toyip? Aku masih jadi suami kesayanganmu kan honeyku?"
Rekaman suara berakhir. Dewi mendengus, tetapi tidak bisa menahan senyum. Suaminya selalu seperti ini. Mereka jarang bertemu, sangat sulit untuk pulang, tetapi pria itu selalu bisa membuatnya marah karena perkataan gombal yang memuakkan ini. Oh, benar-benar palyboy. Beruntung pria itu hanya bersikap playboy kepadanya dan anaknya, bila kepada orang lain ...
Dewi menggelengkan kepala. Rasa kantuknya hilang begitu saja. Bangkit dari kasur, wanita itu membalas dengan satu kata.
Gombal.
Sedetik ketika pesan itu terkirim, Bang Toyip menelfon. Jelas, terlihat panik karena ditinggal tidur dalam keadaan merajuk. Hal ini membuat Dewi merasa geli. Tanpa bisa menahan diri, ia mengangkat telfon.
"Selamat pagi Mama," suara pria itu mengalun, menyapa dengan penuh vitalitas. "Baby, gimana tidurnya semalem? Mimpiin Papa, gak?"
Pria berusia 40tahunan dan masih berbicara selayaknya remaja yang sedang pacaran dan dirudung khasmaran ... oh, Dewi tidak tahu harus tertawa atau meringis dengan kegiatan ini.
"Mama? Mama kok gak ngomong apa-apa? Masih marah ya? Sayang please ... jangan marah lagi, okay? Papa beneran kangen berat sama Mama, jadi--"
"Stop," Dewi tidak tahan. Mereka sudah tua, okay? Tidakkah suaminya cukup sadar diri? "Aku gak marah," ucapnya--sukses membuat si penelfon menghela napas lega.
__ADS_1
Pada akhirnya, Dewi menyempatkan beberapa menit untuk mengobrol dengan suaminya. Yah ... kegiatan rutin pada pagi hari tetap harus dilanjutkan. Dewi mandi, lalu setelahnya keluar dari kamar dalan keadaan segar dan berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
"Da?" Dewi membeo, agak kaget melihat halaman belakang dan mendapati sosok gemuk yang masih mengenakan piyama, duduk menyilangkan kaki di atas lapisan selimut yang dilipat-lipat agar tidak merasakan dinginnya lantai semen.
"hmm?" Nanda bergumam, tetapi matanya tidak terbuka. Jelas masih berkonsentrasi dan tidak menyadari tatapan aneh Mamanya.
"Ngapain kamu?"
"Yoga."
Dewi langsung teringat bahwa putrinya ingin ... diet? Hal ini membuat wanita cantik itu mengkulum senyumannya.
Biasanya, Nanda sulit sekali dibangunkan. Anak semata wayangnya ini baru akan bangun ketika jam 6, tergesa-gesa mandi dan sarapan lalu berangkat ke sekolah. Padahal jelas, bel sekolah berbunyi pada pukul 06.30, tetapi anaknya tidak pernah jerah selama bertahun-tahun. Selalu datang terlambat, atau bahkan nyaris terlambat. Membuat guru piket geleng-geleng kepala dengan frustasi.
Namun pagi ini jelas berbeda. Oh, motivasi penambahan uang jajan jelas sesuatu yang efektif. Well, bila tahu hasilnya akan seperti ini, kenapa Dewi tidak berucap seperti itu jauh-jauh hari saja?
Wanita itu menggelengkan kepala. Ia tidak mengganggu putrinya kembali dan memilih untuk sibuk di dapur. Oh, bila ia menggodanya, Dewi khawatir mood Nanda untuk diet menjadi hancur. Ia tidak mau anaknya berhenti di awal atau bahkan di tengah jalan. Karenanya ... yah, ia harus mengsupport anak semata wayangnya ini.
.
.
.
"Jadi, Da mau Mama nyiapin menu diet apa besok? Atau ntar malem gk makan malam dan gantinya makan buah aja?"
Nanda yang sedang menikmati sarapan bubur kacang hijau buatan Mamanya, mendadak menatap wanita itu dengan bingung.
"Menu diet?"
"Iya, Da kan lagi diet," Dewi mengangguk, menatap putrinya dengan serius. "Diet bukan cuma olahraga, tapi juga ngatur pola makan loh!"
"Tenang aja, Nanda tahu kok Ma," Nanda buru-buru berujar. Takut Mamanya akan mulai memotong jatah makannya. Oh, ia tidak buru-buru untuk kurus, setidaknya ia akan mengendalikan kebiasaan makan junk food dan membiasakan diri banyak bergerak. Banyak meminum air putih dan minum yogurt untuk mengendalikan nafsu makan.
Secara alami, pola hidup sehat akan membuat tubuhnya terbiasa dan Nanda yakin ia akan mengurus dengan sendirinya ... yah, langsung memaksakan diri untuk kurus dengan memotong jatah makannya, Nanda justru yakin bahwa ia akan sangat mudah tergoda.
"Mama kayak biasa aja, tapi yah ... kalo bisa emang nambahin buah sama sayur. Gak perlu batesin jatah makan Nanda."
Dewi menatap putrinya dengan ragu. "Kamu yakin?"
"Aish ... percaya deh ama Nanda, kapan anak Mama yang cantik ini gak bisa dipercaya?"
"Oh, Mama inget waktu bulan kemaren ada yang bilang gak bakal beli Novel lagi terus beberapa hari kemudian, ketangkep basah sedang baca Novel yang baru dibeli ... ."
Nanda nyengir, lalu meneguk susu vanilanya sampai habis. "Yah ... ini dan itu kan beda."
"Apa bedanya?"
"Bedanya, sekarang Nanda mau berangkat ke sekolah," Nanda tertawa, bangkit berdiri dan salim kepada Mamanya. "Nanda berangkat dulu, Ma! Mama Nanda yang cantik, do'ain Nanda sampai ke sekolah dan pulang dengan selamat ya!"
Dewi mendengus geli. Anak itu jelas melarikan diri, tetapi wanita cantik ini tidak berniat untuk mengomel. Oh, mulut anak ini jelas-jelas mirip seperti Ayahnya ...
"Hati-hati di jalan."
"Okay, Ma!"
Lalu tanpa menunda kembali, remaja yang mengenakan seragam putih abu-abu keluar dari rumah. Berjalan santai seraya bersenandung menuju halte bus yang berada di luar kompleks perumahan.
Beberapa tetangga menyapa Nanda. Terkejut dengan keberadaan remaja itu yang pergi pada pagi hari. Biasanya, sosok itu akan berlarian dengan ekstream, panik luar biasa dan tidak sesantai ini ...
Yah, sejujurnya, sekolah dan rumahnya berjarak tidak terlalu jauh. Hanya beberapa menit menaiki bus. Ia bahkan bisa berjalan kaki dan lebih cepat jalan kaki ketimbang naik bus bila jalanan dalam keadaan macet. Namun bila teringat dengan tubuhnya yang mudah berkeringat ...
Okay, Nanda lebih memilih untuk pulang berjalan kaki ketimbang pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Ia tidak mau sampai di sekolah dalam keadaan basah kuyup oleh keringat. Lagi pula, di dalam bus itu ber-AC.
__ADS_1
Saat sampai di Halte, Nanda mendapati Halte sudah agak ramai. Banyak pelajar sepertinya, tetapi juga banyak juga Mahasiswa dan pegawai kantoran.
Tidak perlu menunggu lama, Nanda yang baru saja sampai, mendapati bus jurusannya datang. Seperti yang remaja itu kira, bus dalam keadaan penuh. Namun beruntung, hanya ia sendiri yang masuk dan menyelinap ke dalam lautan manusia, tidak ada penghuni lain yang ikut nimrung sehingga bus kembali berjalan.
Semua kursi penuh, banyak orang yang berdiri dan saling berdesakan. Beruntung, AC bus cenderung kuat. Setidaknya tidak benar-benar membuat orang merasa kehabisan napas.
Bus berjalan sesuai dengan jalurnya. Pemandangan kota sepanjang jalan, membuat Nanda terpesona. Bangunan-bangunan tinggi, toko, sekolah, rumah ... oh, suasana kota yang hancur dan berubah kembali menjadi hidup seperti ini ... sungguh membuat Nanda tidak terbiasa. Ia bahkan beberapa kali harus menahan diri untuk tidak menyerang atau menghindari orang-orang yang menepuk bahu atau mendekatinya dari belakang!
Menelan liur paksa, Nanda buru-buru turun dari bus begitu sampai di Halte ke-3. Beruntung, meski ia agak linglung, Nanda masih sadar dengan tujuannya sehingga tidak melewati Halte.
Beberapa orang dengan seragam yang serupa terlihat. Nanda tidak terlalu memperhatikan sekitarnya lagi. Remaja itu memilih untuk berjalan lurus, mengikuti ingatannya menuju ke sebuah bangunan dimana menjadi gedung tempatnya menimba ilmu.
"Woah Neng, tumben dateng cepet," satpam penjaga sekolah menyapa, tersenyum menatap Nanda yang mendekati gerbang sekolah. Pria berkumis dengan wajah sangar itu memang terlihat bak preman pasar, tetapi Nanda sangat mengenalnya.
Pak Bidin tipe badan kekar hati hello kitty. Terlihat sangar tetapi sebenarnya baik dan ramah. Senyumannya seperti seringai setan, itu bukan khiasan tetapi memang wajahnya mampu membuat anak kecil menangis. Untungnya, banyak pelajar dan guru yang sadar bahwa Pak Bidin orang baik.
"Woiya dong, Nanda dah kelas 3, gak boleh telat mulu."
"Bagus, bagus!" Pak Bidin menganggu-angguk. "Pertahanin terus kayak gini, Neng!"
"Siap Pak! Nanda pertahanin pasti!"
"Ndut!"
Nanda refleks menghindar. Namun, tubuhnya yang berat dan tidak fleksibel membuat reaksinya lebih lamban. Sosok yang ingin menepuk bahunya berhasil--memberikan sensasi merinding ke tubuh sang remaja.
"Tumben banget lo gak telat!"
Nanda menelan liur paksa, keinginan untuk berbuat kasar nyaris keluar. Insting bertahan hidup dan sentuhan mendadak membuatnya refleks ingin mempertahankan diri dan menyerang balik, tetapi perempuan itu buru-buru menekannya. Lingkungannya sekarang begitu damai dan tindakan agresifnya justru akan terlihat ... terlalu berbahaya.
"Yulis ... bisa gak sih gak ngagetin?" Nanda menghela napas. Menepuk-nepuk dadanya dengan gaya dramatis. "Gimana kalo aku kena serangan jantung? Situ mau donor jantung?!"
Remaja jangkung itu memutar bola matanya. Gadis dengan tinggi 165cm itu begitu cantik dengan rambut ikal dikuncir satu. Matanya cokelat, kulitnya putih dangan wajah arab mempesona.
Isabella Yulis.
Dari suara dan wajah, Nanda langsung mengenalinya. Sosok sahabat yang sangat ia rindukan ... oh, melihatnya lagi, membuat Nanda tidak tahan untuk tertawa.
"Kenapa lo?" Yulis menatap teman yang sedang dirangkulnya dengan aneh. Namun tidak menunggu jawaban, remaja cantik itu kembali berceloteh. "Oh ya, tumben lo gk aktif di grup? Kuota lo abis ya? Tugas Fisika dah kelar belom?"
"Ya udah lah," Nanda berujar dengan nada meremehkan. "Soal kayak gitu mah, kecil!"
"Halah! Gaya lo selangit, biasanya juga nyontek!"
"Enak aja! Anak baik dan rajin--oh! Pak, kami masuk dulu!"
"Ahahaha masuk aja sana Neng, cepetan salin PRnya biar gak kena marah guru."
Yulis nyengir. "Okay Pak, kami masuk dulu!" ujarnya lalu menyeret si gendut untuk menuju gedung kelas mereka. "By the way, lo tumben banget gak telat, kesambet setan apa lo harini?"
"Eh! Cantik-cantik gini malah dibilang kesambet setan!" Nanda cemberut. "Yang bener tuh ya, kesambet bidadari."
Yulis langsung memasang pose muntah.
"Kenapa kamu? Hamil? Oh! Anaknya udah berapa bulan, Bu?"
Yulis memutar bola matanya. "100 bulan."
"Anak apaan 100 bulan?"
Yulis tersenyum manis, lalu dengan anggun menepuk-nepuk perut buncit Nanda. "Bu, ini udah lebih dari 100 bulan, kok gak keluar-keluar?"
"KAMPRET!"
Nanda tidak bisa menahan diri dari mengumpat--sukses membuat Yulis tertawa. Pada akhirnya, keduanya berlarian masuk ke dalam kelas--lupa diri bahwa bukan lagi anak-anak TK. Namun tidak ada yang peduli. Namanya sekolah, selama guru belum masuk ke dalan kelas, anak murid bisa melakukan apapun yang mereka suka.
__ADS_1