Zombie

Zombie
29: Senyuman Ganesha


__ADS_3

Duduk di atas batang pohon yang tebal dan kokoh, hembusan angin menerpa menerbangkan dedaunan, menciptakan gemerisik suara diantara batang-batang yang saling bergesekan. Cahaya matahari bersinar terik, tetapi rimbun pepohonan meneduhi membentuk bayang-bayang.


Menghadap ke arah tembok kota, sepasang hazel memperhatikan garis merah yang memanjang. Ia tahu, di balik tembok yang tinggi, terdapat dunia yang penuh dengan kekejaman. Zombie-zombie liar bergerak mencari mangsa. Bersikap rakus dan haus darah, menyerang tanpa pandang bulu.


Pergerakan kaki terhenti. Sosok yang duduk di sebuah batang pohon yang rimbun, menatap kosong ke arah cakrawala yang membentang.


Namun Nanda juga tahu, dibalik tembok itu ... Ganesha pasti berada di sana.


Sepasang hazel meredup. Wajah tanpa ekspresi menatap kosong ke kejauhan. Entah apa yang dipikirkan, sediktpun, sosok wanita dengan helai rambut panjang itu tidak bergerak. Bak patung yang diukir dengan sempurna, tidak ada sirat emosi yang terpancar.


Teman-teman sekelasnya, tetangga, orang-orang yang pernah berpapasan dengannya, anak muridnya, Suami Yulis, Suami Erica, lalu ... kemungkinan suaminya.


Satu persatu, lintas waktu yang diketahui berbeda, memberikan efek berantai yang menakutkan. Alex meninggal lebih dulu sebelum waktu yang Nanda kira, suami Erica berubah menjadi zombie dan bukan berada di Pangkalan 2 seperti apa yang terlintas di kehidupan sebelumnya, beberapa orang yang seharusnya masih hidup, ia temui telah menjadi zombie. Lalu Ganesha ... Ganesha menghilang. Tidak berada di Pangkalan 1 sama sekali ...


Apa yang telah aku lakukan?


Sakit luar biasa kembali menghantam jantung. Berbagai macam pertanyaan silih berganti menghantui. Sebenarnya apa yang benar, apa yang salah? Untuk apa ia terlahir kembali ketika semua terasa jauh lebih buruk? Nanda sungguh tidak pernah merasa seperti ini ... begitu putus asa hingga rasanya sulit untuk bernapas. Ia bahkan mulai takut hanya untuk melangkah mengambil keputusan.


Apakah kali ini justru Ibu dan Ayahnya yang meninggal? Atau kah Erica yang akan meninggal lebih cepat? Nanda takut bukan main. Ia tidak sanggup untuk kehilangan kembali. Ia tidak akan siap bila satu persatu, orang-orang di sekitarnya akan pergi untuk selamanya. Ia bahkan tidak sanggup untuk membayangkan bahwa Ganesha tidak akan kembali ...


"Kamu bisa menolong mereka."


Ucapan Erica kembali terngiang di dalam kepala. Ketika Tantenya menyadari kemampuan Nanda sanggup untuk bergerak menolong orang lain dari kehilangan nyawa, tetapi ia memilih diam. Tidak bergerak dan menutup mata tentang nyawa yang melayang dan menghilang. Bersikap acuh tak acuh tentang kehidupan dan pembantaian manusia di sekitarnya ...


Apakah ini karma?


Kepala itu menunduk, menatap kaki yang tergantung di udara. Di bawah sana, berjarak sekitar lebih dari dua meter, terdapat rerumputan hijau yang membentang. Tanah kecokelatan yang bercampur pasir, terdapat akar pohon dan rumput. Tanah memberikan nutrisi kepada pohon dan sebagai gantinya, tanah akan menjadi lebih kuat dan kokoh dari akar yang memanjang, mengikat masuk ke dalam tanah.


Namun di dalam tanah bukan hanya ada akar, tetapi juga kehidupan lain seperti cacing tanah, juga beberapa hewan pengerat atau bahkan ular ...


Ah ... ia ingat. Ingat sesuatu.


"Kalo dipikir-pikir ya, sebernya gak pernah ada yang namanya puncak rantai makanan," Nanda berkomentar, duduk bersandar di kursi taman. Ganesha, yang sedang memegang mangkuk es krim rasa vanila menoleh menatap pacarnya. Entah apa yang dipikirkan gadis itu mendadak membicarakan prihal sistem rantai makanan ...


Oh, ia sudah biasa. Nanada memang seperti ini.


"Kenapa?"


Nanda cemberut. Ia menghabiskan satu pot kecil es krim rasa cokelat lalu menyambar pot es krim yang berada di tangan Ganesha. "Sayang, kamu kan lebih pinter, coba simpulin sendiri," lalu sepasang hazel berkilau, seringai nakal merekah. "Kalau bener, ntar aku suapin es krim!"


Ganesha memutar bola mata mendengar ucapan Nanda. "Kalo siklus alam, itu bukan puncak rantai makanan. Beda banget temanya. Tapi gue ngerti maksud lo."


"Hmm?"


"Karena makhluk apapun, entah itu omnivora atau karnivora, pemangsa yang bahkan di dalam buku sains menjadi objek predator yang kuat, tetep aja ... kalo mati, bakal kembali ke tanah. Terus kalo udah ke tanah, unsur di dalam tubuh bakalan berubah untuk jadi nutrisi di tanah, lalu bakalan tumbuh rumput, nah dari rumput bakalan ada herbivora atau hewan pengerat yang makan rumput, dan siklus rantai makanan bakal jalan lagi."


"Woah! Pacarku hebat!" Nanda berseru, tertawa dan bertepuk tangan. "Pinter deh sayangku, sini biar bebeb Nanda suapi es krim sebagai hadiah!" ujarnya lalu menyendok es krim dan menyuapkannya ke Ganesha. Ganesha mendengus, tetapi tetap menurut dan membuka mulut untuk menerima suapan perempuan manis di sebelahnya.


"Tapi, ni topik beda, jangan samain siklus kehidupan ama piramida makanan. Gimanapun, tanah gak bakalan berburu hewan."


Nanda tertawa. "Tahu kok, tahu!"


"Tumben banget ngomong kayak ginian, emang habis liatin apa?" tanya pemuda jangkung itu heran. Pacarnya adalah makhluk teraneh sedunia. Tidak ada yang pernah bisa menebak apa yang dipikiran orang ini hanya dari tawa atau tindakan yang dilakukan.


"Oh, gak sih ... tadi liat ke bawah kan. Rumputnya banyak banget, terus gak sengaja liat tanah, jadinya kepikiran."


" ... ." Ganesha tidak mau berkomentar apapun dengan jawaban Nanda. Apakah rumput jauh lebih tampan ketimbang wajah pacarnya sendiri? Sehingga melihat rumput lebih menarik ketimbang wajahnya? Pria jangkung yang hampir setiap bulan selalu menemukan beberapa surat cinta atau hadiah dari pengagum rahasianya di dalam tas ini, memilih untuk mengalah. Oh, pacarnya memang unik, Ganesha bisa mengerti.


"Bebeb Nesnes."


Alis Ganesha terangkat. "Apa?"


"Kalo misalnya ... ," Nanda mendongak. Menatap langit biru yang membentang, tertutup oleh bayang-bayang pepohonan yang rimbun. "Kalo misalnya nih ya, manusia bakal kena krisis dan terancam punah. Misalnya, kayak perang dunia kedua nih, kena bom atom, terjadi perang ... atau mendadak ada alien dateng ke bumi, mendadak manusia menjadi zombie, pokoknya manusia terancem lah ya ... apa yang pertama kali bakalan Bebeb lakuin?"

__ADS_1


Konyol. Pertanyaan Nanda benar-benar konyol hingga membuat pemuda di sampingnya mendengus geli. Namun, Ganesha tetap menjawab dengan serius. "Hal pertama yang dilakuin? Yah ... nyariin lo, Nda. Mastiin kalo lo gak bakal keliaran."


Nanda bingung. "Keliaran gimana?"


"Yah ... kalo beneran ada alien nih ya, atau perang live action langsung di depan mata lo, Gue jamin, kalo itu terjadi, lo pasti bakal langsung ngacir pengen nontoninnya karena penasaran, padahal jelas banget bahaya. Makanya, hal pertama yang bakal gue lakuin, nemuin lo dan nahan lo biar gak berkeliaran ke mana-mana. Bila perlu diiket sekalian di tiang biar gak meresahkan warga sekitar."


"... ."  Sungguh, bolehkan ia mengumpat? Nanda benar-benar ingin mengumpat mendengar jawaban Ganesha! "Sayang, kamu kok ngeselin banget? Ngomong suka bener ih, jadi pengen kusiram pakek es krim."


Ganesha menyeringai. "Es krimnya dah habis."


"Ntar beli lagi, terus kusiram ke wajahmu," timpal Nanda kesal. Namun beberapa detik kemudian, ia menyeringai. "Nah, aku bakal lari-lari kan? Kalo misalnya gak ke temu? Gak ketangkep?"


Asli Ganesha terangkat. "Yah ... pokoknya bakal gue cari sampe ketemu lah. Kalo gak ketemu? Bakal terus gue cari."


Nanda mencibir. "Keras kepala banget. Gimana kalo misalnya kamu sampe ikut ngilang? Noh, kita berdua sama-sama ilang tuh jadinya. Pas banget, jadi pasangan ilang."


Ganesha tertawa. Kenapa pacarnya begitu lucu? "Yah bagus dong, kita saling nyari berarti. Kalo lo dan gue saling nyari, ntar pasti bakal saling ketemu. Sama kayak Adam dan Hawa waktu pertama kali dijatuhin ke bumi. Gak langsung bersama kan? Mereka saling nyari."


"... ."


Sama seperti Adam dan Hawa ketika sampai ke bumi, mereka tidak langsung bertemu, tetapi saling mencari satu sama lain.


Sepasang hazel mengerjap. Kenangan kebersamaannya dengan Ganesha, kerap kali muncul. Silih berganti, hal-hal kecil seolah mampu memicunya mengingat hal-hal sepele yang mampu membuat dadanya sesak. Ia merindukan Ganesha ... sangat. Tetapi bila ia pergi, apakah Ganesha akan kembali dan menemukan ia tidak lagi di sini dan masih di luar?


Nanda menarik napas dalam lalu menghembuskan. Ia melompat turun dari pohon, lalu dengan tenang berjalan kembali menuju mansion. Selama perjalanan, beberapa Tentara yang diam-diam mengikuti, memperhatikan dengan seksama. Keluarganya tidak membatasi pergerakan Nanda, tetapi mereka mengirim orang-orang untuk mengawasi.


Takut bahwa ia akan bunuh diri? Nanda mendengus di dalam hati.


Selama masih ada kemungkinan Ganesha masih hidup ... bagaimana bisa ia bunuh diri? Nanda sedikitpun tidak akan berpikir untuk bunuh diri. Menunggu, mungkin adalah hal yang melelahkan dan menyakitkan, tetapi memikirkan bahwa Ganesha akan kembali ... Nanda merasa itu sepadan.


'Yah ... bagus dong, kita saling nyari berarti.'


Nanda mengkatup rapatkan bibir. Tanpa sadar jemari putih gemetar ketika percakapan di dalam ingatan, begitu menyenangkan hingga membuat dada terasa sesak. Oh, sakit ... sakit sekali ... senyuman Ganesha yang berada di ingatan membuat Nanda merasa gila. Diam dan tidak melakukan apapun bukanlah sifatnya. Namun membayangkan bila Ganesha kembali dan menemukan ia tidak ada, lalu kembali berlari ke luar tembok dan menemui bahaya, membuat Nanda gemetar ketakutan.


Jantung Nanda terasa mencelos. Kemungkinan ini selalu menghantuinya, membuat ia merasa tersiksa ingin segera melompat ke luar dari tembok dan mencari suaminya. Namun bagaimana bila memang suaminya dalam bahaya? Di kepung zombie sehingga tidak bisa keluar dari gedung? Atau mengalami cidera sehingga tidak bisa bergerak?


Nanda menghentikan langkah kaki. Napasnya mendadak terasa sesak. Sakit luar biasa membayangkan Ganesha menderita di luar sana.


Ini bukan pertama kali ia berpikir seperti ini, ini sudah yang kesekian kalinya. Namun Nanda masih bisa menahan diri ... ia masih bisa mengikat akal sehat agar tidak bertindak gegabah. Tetapi ... tetapi kenangan dan percakapan itu kembali muncul. Obrolan ringan yang biasa mereka lakukan. Saling menggoda dan mengejek, tetapi di balik itu ...


Nanda tahu, Ganesha benar-benar serius dengan ucapannya.


Sepasang hazel berkilau tajam. Mendadak, sesuatu seolah menusuk, memberikan ledakan yang mencengkram jantung. Kedua tangan terkepal erat, Tanpa sadar, Nanda menggeretakkan gigi. Kembali mengambil langkah menuju mansion. Namun kali ini, ia agak terburu-buru. Masuk melewati pintu ganda, menaiki tangga, lalu berhenti di sebuah pintu yang berada di lantai 2.


"Kak Bima," Nanda bersuara, mengetuk pintu yang ada di depannya. "Ini Nanda Kak."


Hening. Suara gemerisik kertas yang dibalik, mendadak terhenti. Nanda bisa mendengar pria di dalam ruangan seperti mendapatkan tombol jeda. Tidak bergerak selama beberapa detik, sebelum akhirnya menarik napas dalam. Suara seorang pria lalu terdengar dari balik pintu.


"Masuk."


.


.


.


Satu bulan.


Erica mendapati perubahan drastis dari keponakannya. Sosok yang biasa selalu ekspresif dan tidak bisa diam, kini begitu pasif dan hening. Semua orang khawatir, tidak terkecuali dirinya. Nanda adalah orang yang bebas, selalu bisa melihat sisi berbeda dari berbagai hal. Semua orang mengira, hilangnya Ganesha pasti akan memberikan kesedihan, tetapi tidak pernah mereka sangka, seorang Nanda akan menjadi seperti ini.


Semua orang mencoba menghibur. Menempatkan Nanda ke dalam lingkungan yang terbaik, mengajak anak-anak untuk mendekati, mencoba membuatnya berbicara atau bahkan hanya mendengarkan mereka. Namun semua tindakan seperti tidak memiliki makna sama sekali. Selayaknya danau yang begitu tenang, apa yang mereka lakukan hanya seperti setetes air yang jatuh. Memberikan riak dan gelombang, tetapi hanya sekilas sebelum kembali tenang.


Namun entah bagaimana, ketika mereka masih merencanakan beberapa hal dan bahkan masih mencari seorang psikolog profesional untuk Nanda, Nanda tiba-tiba kembali berubah. Perubahan ini membuat mereka sedikit bahagia, tetapi begitu memikirkannya, baik Erica atau keluarga Wijaya, sama-sama membeku kaku.

__ADS_1


Wijaya tidak berbohong bahwa ia mengirimkan tim untuk mencari Ganesha. Bagaimana tidak? Ganesha adalah putra kandungnya sendiri! Harapannya masih sangat tinggi. Sebagai seorang tentara, ia memiliki semangat dan kekeras kepalaan yang kuat. Meski usia telah lanjut dan segala hal bahkan dilemparkan ke tangan si kembar, pria tua itu tidak tutup mata dengan semua yang ada di sekitarnya.


Misal, tentang Nanda yang selama sebulan menjadi manusia tanpa jiwa, mendadak begitu aktif akhir-akhir ini.


Menantu perempuannya akan bangun pagi-pagi sekali--bahkan sebelum matahari muncul, sosok itu akan ke luar dari rumah untuk melakukan pelatihan militer. Tubuh kecil dan kurus, entah bagaimana bisa memiliki energi yang begitu besar untuk menampung kekerasan dalam pelatihan. Tidak cukup hanya latihan militer, ketika hari sudah beranjak siang, saat semua orang selesai istirahat makan siang, wanita berambut panjang akan berlari ke rumah sakit. Ia akan bekerja sampingan di sana, belajar dari Perawat dan Dokter tentang tindakan pertolongan pertama, tinggal di sana hingga hari beranjak malam.


Semuanya dilakukan tanpa keluhan. Hari-hari kosong sang wanita berubah menjadi hari yang begitu sibuk. Wajah yang tanpa ekspresi, kini menimbulkan fluktasi emosi. Secara bertahap, Nanda yang semula kosong, kini mulai terisi dengan berbagai warna selayaknya Nanda yang mereka kenal.


Namun, mereka tidak bodoh sama sekali. Tindakan Nanda terlalu terbuka dan jelas, siapapun akan langsung tahu apa tujuan dari kegiatannya yang begitu padat dan tanpa kenal lelah.


"Nda," Sinta, yang duduk di sofa, memandang Nanda yang baru saja pulang. Ini hampir jam 12 malam, sosok adik ipar yang akhir-akhir ini begitu aktif di luar rumah, kini kulitnya sudah agak berubah kecokelatan karena terbakar matahari. "Lo baru pulang?"


Nanda tertawa. "Yup," jawabnya santai. "Kakak sedang apa? Tumben kerja di sini," sepasang hazel menatap beberapa berkas di atas meja, lalu memandang Sinta yang duduk santai di sofa. Sebelah tangannya memegang perkamen, terlihat sibuk membaca.


"Yah ... urusan biasa," Sinta tidak bermaksud menjelaskan dan Nanda mengangguk mengerti. "Lo ... ," alis wanita itu terpaut, agak ragu, pada akhirnya menghela napas dan menepuk-nepuk sofa di sampingnya. "Sini Nda, gue mau nanya sesuatu ama lo."


Alis Nanda terangkat, tetapi tidak mengatakan apapun. Ia menurut, duduk di samping Kakak iparnya.


"Lo jawab jujur," Sinta menaruh perkamen di tangan ke atas meja, lalu menoleh menatap Nanda dengan serius. "Keterampilan bertarung dengan tangan kosong, menggunakan senjata, atau bahkan menggunakan kemampuan lo, di atas rata-rata warga sipil. Bahkan sama bagusnya dengan para elit militer,"


Nanda masih diam, mendengarkan.


"Keterampilan kayak gini, gak bakal tiba-tiba muncul cuma dari pelatihan sebulan dua bulan. Ini jelas diasah selama bertahun-tahun ... Nda, jawab jujur. Tuk apa lo latihan kayak gini bahkan sebelum virus nyebar?"


Sinta tidak pernah meragukan laporan dari bawahannya sama sekali. Kemampuan Nanda di atas rata-rata. Keterampilannya sangat baik hingga membuat semua orang tercenga. Ia memang tahu bahwa Nanda mengikuti beberapa pelatihan ilmu bela diri, tetapi hanya pelatihan private dan bahkan adik iparnya ini tidak pernah mengikuti kejuaraan! Lalu ... bagaimana bisa sebagus ini?


Sinta agak cemas memikirkannya. Apakah Nanda tidak sesederhana yang mereka pikirkan? Bila tidak, untuk apa Nanda yang jelas-jelas mengambil jurusan keguruan, justru memiliki keterampilan bertarung yang baik?


Nanda menghela napas. Terlihat lega sekaligus geli mendengar pertanyaan Sinta seolah apa yang dipertanyakan, ternyata bukanlah hal yang serius. "Ooh ... kak Sinta tahu sendiri kan, waktu SMA, Nanda benar-benar gemuk."


Sinta mengangguk. Saat pertama kali bertemu, Nanda memang agak gemuk, tetapi ia tidak menyangka bahwa dulu, Nanda jauh lebih gemuk.


"Nanda mulai diet ketika mulai pacaran dengan Ganesha ... awalnya untuk kesehatan, ketika tahu kalau gemuk mengundang banyak penyakit dan bahkan penyakit jantung ... uh ... Nanda agak takut, jadi mulai rajin olahraga ... terus Kakak tahu kan Nanda suka baca novel? Nah, karena merasa orang-orang yang punya keterampilan bertarung itu keren .. jadi Nanda pikir, kenapa tidak sekalian saja? Jadi yah ... sejak SMA, Nanda pelan-pelan belajar macem-macem ilmu bela diri, juga tuk senjata, Kakak tahu sendiri Nanda ikut klub senjata api dan panah, awal mulanya karena diajak sama Ayah."


Sinta mendengarkan dan agak lega ketika Nanda menjelaskan. Oh, ia tidak tahu prihal klub panah dan senjata api ternyata pekerjaan Ayahnya. Mereka tidak pernah membahas urusan militer di atas meja makan, Sinta hanya tahu bahwa Nanda adalah orang yang aktif mengikuti ini dan itu, tetapi tidak pernah tahu ternyata kesibukannya tentang ini. Mengetahui alasan sebenarnya, Sinta agak lega.


Nanda sudah memiliki kemampuan dasar, ditambah dengan zombie yang menyerang dan membuat nyawa kapan saja terancam, bukan hal aneh bila segala hal yang dipelajarinya akan meledak ke dalam keterampilan yang baik. Terlebih, Nanda di luar tembok selama berbulan-bulan dan selalu memiliki pertarungan hidup dan mati ...


"Terus, pertanyaan terakhir."


"Hm?"


"Lo jujur aja ama gue," alis Sinta terpaut. "Lo mendadak ikut pelatihan militer dan keterampilan dasar pertolongan pertama ... itu untuk iku tim yang nyari Ganesha kan?"


Nanda tertawa, tanpa sungkan mengangguk. "Yup!" jawabnya. Tidak membiarkan Sinta kembali buka suara untuk memprotes, Nanda kembali berbicara. "Dan Nanda juga tahu, tidak peduli seahli apapun Nanda, kalian pasti tidak akan mengizinkan kan? Kalian akan tetap mencoba agar Nanda baiknya di dalam tembok. Sehat dan aman."


Sinta bungkam, tidak menyangkal atau mengiyakan. Kesan mereka terhadap Nanda adalah sosok kecil yang ceria dan terlihat lemah. Mereka tidak bisa memikirkan apapun selain memastikan Nanda tetap aman dan sehat. Tidak menerima kerugian apapun bahkan setelah kerapuhannya terungkap ketika mengetahui suaminya menghilang. Sinta tidak menyakal bahwa mereka bahkan tanpa sadar memperlakukan Nanda menjadi jauh lebih hati-hati. Seolah takut, satu kata saja mampu membuatnya hancur.


Nanda tersenyum lembut. Meraih tangan Sinta dan menepuk-nepuk punggung tangan Kakak Iparnya. "Kak ... Nanda tidak bodoh untuk bergerak mencari kematian. Selama masih ada Ganesha untuk hidup, selama itu juga Nanda akan tetap berusaha hidup agar bisa bertemu lagi dengan Ganesha."


Sepasang hazel menyendu.


Dan selama Ganesha mencarinya ... tidak peduli apakah keluarganya setuju atau tidak, ia juga akan mencari Ganesha.


Sinta menghela napas lega mendengarnya. "Yah ... ini udah malem," ucapnya mengalihkan pembicaraan. "Baiknya lo istrahat, besok masih latihan kan?"


Nanda tertawa. Ia langsung bangkit berdiri. "Oke, Nanda ke atas dulu Kak, Kakak juga jangan lupa istirahat."


Sinta mengernyitkan alis melihat beberapa pekerjaan di atas meja, lalu menggerutu. "Iya, iya, gue tahu."


Nanda tidak menggoda Kakaknya kembali. Tanpa menunda waktu, ia menaiki tangga dan berjalan menuju kamar. Tepat ketika langkah kaki berjalan di lorong yang sepi, senyuman jenaka yang selalu terukir di bibir merah muda mendadak menghilang. Sepasang hazel berubah dingin dan penuh tekat.


Malam ini ... ia harus bergerak.

__ADS_1


__ADS_2