
Ruangan besar nan mewah itu terasa menyesakkan. Atmosfer berat, membuat keheningan terasa mencekik tenggorokan. Satu kata, seolah mampu membuat seribu luka. Enam orang yang duduk di sofa, masing-masing tidak berani asal buka suara. Lima pasang mata yang berbeda menatap sosok yang baru saja tiba di keluarga mereka, memperhatikan emosi begerjolak di wajah yang sudah seputih kertas.
"Saat hari pertama virus menyebar, kami sudah melakukan evakuasi," Wijaya pada akhirnya buka suara. Sebagai kepala keluarga, suaranya berat dan berwibawa. Membuat sepasang hazel fokus menatap pria tua itu. "Kami mengirim tim untuk langsung mencarimu di rumah lamamu, tetapi kami tidak menemukan siapapun kecuali selembar surat yang berisi pesan."
Bima langsung merogoh saku. Tanpa mengatakan apapun, ia menyerahkan secarik kertas kepada Nanda. Agak gemetar, jemari yang sudah sedingin es menerima selembar kertas berwarna krem. Kertas itu terlipat menjadi empat bagian, membuat proses ketika Nanda membuka lembarannya, terasa lamban dan lama. Tepat ketika beberapa baris kata terbaca, hanya sedikit kelegaan yang dapat ia terima.
Papa duluan yang jemput Mama, jadi Mama ikut dengan Papa.
Nda jangan khawatir, oke?
Mama dan Papa aman, kami akan pergi ke Pangkalan tempat Papa tinggal.
Tulisan ini memang tulisan tangan Dewi. Namun, informasi ini tidak menyurutkan kegelisahan yang seolah mencakar hati. Nanda menarik napas dalam, mencoba bernapas dengan baik, lalu dengan lembut melipat kembali kertas yang berada di tangan.
"Lalu ... lalu bagaimana dengan Ganesha?" Hal inilah yang pertama kali Nanda pertanyakan. Bukan tentang kedua orang tuanya, tetapi tentang suaminya. Di mana Ganesha. Apa yang terjadi dengan suaminya. Sikap keluarga ini terlalu berbelit-belit, membuat jantung berdegup semakin cepat dan tidak nyaman. Ini seolah mempertegas firasat buruknya.
"Kami tidak menemukan kabarmu, hanya pesan di kertas itu sebagai petunjuk bahwa kamu tidak bersama mereka," kali ini, Bimo yang buka suara. Menjelaskan menggantikan Ayahnya. "Karenanya, setelah tim kembali, kami membentuk tim baru untuk mencari keberadaanmu dan Ganesha masuk ke salah satu tim untuk mencarimu."
Nanda membeku. Jantung mencelos mendengarnya. Oh, ia tahu Ganesha pasti akan masuk ke dalam tim untuk mencarinya, tetapi Nanda tidak akan pernah menyangka dadanya akan terasa sesakit ini. Sesuatu seolah mencengkram jantung, mencegah ia hanya untuk bernapas atau menikmati sedikit ketenangan.
"Kami mencarimu dengan cara berpencar. Namun beberapa hari mencarimu, mendadak kami menerima sinyal bantuan dari tim Ganesha. Kami bergegas ke lokasi tetapi ... kami hanya melihat zombie dan mayat para tentara."
Seluruh tubuh Nanda langsung terasa lemas. Pikirannya kosong. Semua ucapan Bimo seolah-olah tidak terdengar sama sekali baginya. Apa yang mulut itu katakan, terasa hanya sebagai kata-kata tanpa makna. Seolah semuanya hanyalah sebuah kebohongan ...
"Bagaimana dengan tubuh?" Nanda bersuara. Nadanya sangat tenang, wajahnya tanpa ekspresi. Sepasang hazel menatap Ayahnya, lalu secara bergantian menatap wajah Bimo, Sinta, Rizal dan Arina.
Alis Wijaya terpaut, tetapi masih menjawab. "Kami tidak menemukannya."
Nanda menghela napas lega. "Berarti, masih ada kemungkinan Ganesha hidup," senyuman kecil mengembang, sepasang hazel menatap wanita yang duduk di sebelahnya. Mata Arina memerah, ia terlihat akan menangis. "Bu, jangan memasang ekspresi seperti itu. Ganesah baik-baik saja ... aku yakin suamiku tidak apa-apa," hiburnya.
"Nanda ... ."
"Bener kata Nanda," Sinta menyela. Ia tersenyum menatap Nanda dan terlihat penuh dengan percaya diri. "Adek gue gak selemah itu, dia pasti baik-baik aja. Tenang aja, Nda. sejak dia ngilang, kami juga udah ngirim tim untuk nyari tuh bocah."
Nanda terkekeh mendengarnya. "Oke, Kak, makasih."
Rizal menghela napas, lalu tersenyum. "Kamu tenang aja Nda, serahin semua kepada kami. Ganesha pasti bakal kami temuin. Nah, tugasmu cukup di sini aja, jadi istri yang baik dan nunggu suaminya pulang."
Nanda nyengir mendengarnya, tetapi beberapa saat, ia menunduk. Menatap pakaiannya yang kumal. Alis wanita itu terajut. "Itu ... ada baju baru untuk Nanda?" tanyanya cemberut. "Nanda ngerasa kayak gembel."
"Ah?" seolah menyadari sesuatu, Arina menatap penampilan menantunya. "Tentu saja ada! Kami sudah menyiapkan kamar, mau langsung ke sana?"
Nanda dengan antusias berdiri. "Di mana?"
"Di lantai dua," Arina ikut bangkit berdiri. "Mau Ibu temani? Ibu--"
"Aish, Nanda mau sekalian mandi," Nanda cemberut. "Badan Nanda udah gatel."
"Ada di lantai dua, lurus aja ikutin lorong, di ujung lorong ada pintu. Nah, itu kamarmu sama Ganesha," jawab Sinta.
Nanda nyengir. "Thanks Kak!" ujarnya, lalu berbalik dan berlari menaiki tangga.
Arina menatap cemas ke arah Nanda. "Aduh, Nanda, kamu--"
"Bu," Bima menyela. Sepasang iris menatap Ibunya dengan serius. "Biarin Nanda sendiri," ucapnya tegas, lalu melirik ke arah tangga di mana punggung mungil secara perlahan mulai menjauh. "Nanda perlu menerima semuanya dengan perlahan."
.
.
.
'Kami langsung bergegas ke lokasi tetapi saat kami sampai di sana ... kami hanya melihat zombie dan mayat para tentara.'
__ADS_1
"Ah ... ."
Ganesha pergi untuk menyelamatkannya.
Nanda mencengkram erat bantal yang berada di tangan. Mulutnya menggigit bantal empuk dengan kuat ketika rasa sakit tak tertahankan menggerogoti dada.
Suaminya pergi untuk menyelamatkannya, mempertaruhkan nyawa untuk mencari dirinya. Sementara ia dengan santai menikmati semua hal. Seenaknya pergi mencari orang lain tanpa mempertimbangkan apakah suaminya akan cemas. Seenaknya pergi menikmati makanan enak buatan koki ketika suaminya menderita mencarinya. Sementara ia dengan sombong menonton orang lain mati satu persatu, suaminya mati-matian mencoba mempertahankan nyawanya sendiri ...
Ganesha ...
Ganesha ...
"Ugghhh ... uuugghhh ... ."
Menggigit kuat bantal yang tersumpal di mulutnya, Nanda meringkuk menjadi bola. Dadanya bergemuruh bak badai. Sakit ... sakit sekali ...
Ganesha ...
Angin kencang berhembus kuat bersamaan dengan rinai air yang berputar memenuhi ruangan. Segala hal berterbangan, hancur dan berubah menjadi puing selayaknya badai yang mendadak menerpa. Auman gemuruh angin yang mengalun, bersama suara benda-benda yang hancur menabrak dinding memekakan telinga. Namun, di tengah segala kekacauan, sosok wanita yang berada di atas kasur tidak henti menggigit bantal yang berada di pelukan. Dengan putus asa menangis, melampiaskan rasa sakit tak tertahankan yang menyumbat dada.
Ganesha ...
Ganesha ...
"Aaaahhh ... aaaaahhhh ... ."
Ganeshaku ... Ganeshaku ... Maafkan aku ...
Hatinya sakit ... sakit sekali. Rasanya seperti pisau tumpul mengiris hati, perih, berdenyut menyakitkan. Namun Nanda sangat putus asa ... perasaan sakit ini tidak bisa dibuang. Membuat napasnya menjadi semakin berat dan sesak. Ia mencengkram dada, mencoba mempertahankan sedikit kesadaran dari perasaan putus asa yang mencekik tenggorokan.
Ganesha ...
.
.
.
"Bu ... Erica bilang, Nanda itu pengguna kemampuan. Dia gak bakalan lemes cuma karena gak makan siang sama gak makan malem," Sinta dengan sabar mencoba membujuk Ibunya. "Siska udah nyoba ngajak Nanda sarapan, tapi belum ada reaksi di dalem. Ibu tenang aja, kujamin Nanda gak kena-napa di kamarnya."
"Gak kenapa-napa gimana?" Arina melotot. "Dia manusia, bukan mesin! Kalau kamu gak mau bantu Ibu, Ibu suruh pelayan untuk bongkar pintunya!"
"Aduh Bu," Sinta pusing bukan kepalang. Wanita berambut bob tidak henti mengikuti langkah kaki Ibunya. "Ya iya, Bu, kata siapa pengguna kekuatan tuh mesin? Fisik Pengguna kekuatan tuh bagus, bisa tahan laper lebih dari dua hari--buktinya Sinta aja bisa gak makan selama 4 hari tapi sampe sekarang masih baik-baik aja kan?"
"Ya kamu kan tidak makan karena sedang misi. Tapi Nanda? Dia sedang sedih! Kita harus ngibur dia--"
"Iya, iya, kita harus ngibur Nanda, tapi gak sekarang Bu."
"Terus kapan? Tunggu Nanda jadi kerangka? Kamu tidak lihat iparmu badannya sudah kayak triplek?!"
Sinta meringis. Oh, ia benar-benar harus sabar menghadapi Ibunya yang mengamuk. Namun, ia bisa mengerti kecemasan Arina. Bagaimanapun, Nanda adalah orang yang ekspresif. Biasanya, sosok itu akan sangat ceria di depan mereka. Namun kali ini, ketika untuk pertama kali Nanda mengurung diri di dalam kamar ... bukan hal aneh bahwa semua orang akan merasa cemas. Mereka tidak terbiasa dengan Nanda yang bersedih. Biasanya orang itu akan tertawa dengan konyol, mengucapkan kata-kata memalukan dan manja dengan enteng. Bukan mengurung diri di dalam kamar seolah seluruh dunia telah memusuhinya.
"Oke, oke, Bu, biar Sinta aja yang ngebujuk," Sinta menghela napas berat. Berbalik dan menghadap ke arah pintu. Ia langsung mengentuk lapisan kayu. "Nda, lo dah bangun belum? Sarapan gih! Banyak makanan kesukaan lo di bawah!"
Hening. Tidak ada yang menyahut sama sekali setelah beberapa menit menunggu. Dengan enggan, Sinta kembali mengetuk di bawah tatapn tajam Ibunya.
"Oy Nda, makanan kesenengan lo ntar dingin nih," Sinta masih mengetuk. Suaranya agak diperbesar. "Buka gak ni pintu? Atau mau gue dobrak?" ancamnya. Oh, dengan suara sebesar ini, tidak mungkin Nanda tidak mendengar. Namun, setelah menunggu beberapa saat, tidak ada reaksi sama sekali. Hal ini membuat alis Sinta terpaut.
"Dobrak saja Sin," Arina mengusulkan. Gemas karena tidak ada reaksi. Perintah itu membuat Sinta cemberut. Meski mulutnya kasar, ia masih mengharagai privasi adik iparnya. Belum lagi, ia mengerti perasaan Nanda. Siapa yang tidak sedih mendapati suaminya berkemungkinan besar sudah meninggal? Bahkan sampai mayatpun tidak ada? Sinta memang sedih dengan hilangnya kabar adik kandungnya, tetapi itu sudah terjadi selama beberapa bulan, ia dan keluarganya sudah mulai menerima keadaan dan tidak sesuram sebelumnya karena masih ada pasangan mereka yang menghibur.
Namun Nanda berbeda. Ia adalah Istri Ganesha, seseorang yang menjadi pasangan adiknya. Perasaan kehilangan belahan jiwamu bukan sesuatu yang baik. Bahkan Sinta yakin, bila hal itu ia yang mengalaminya, bila Rizal mendadak menghilang di medan perang, dengan sikap kerasnya, Sinta yakin ia akan maju ke medan perang, mencari suaminya sampai ke titik darah penghabisan.
"Ya udah, Ibu minggir dulu--"
__ADS_1
Ceklek.
Pintu mendadak terbuka. Dua pasang mata refleks langsung menoleh, menatap sosok yang keluar dari ambang pintu dengan penuh semangat. Namun ketika mereka melihatnya, mereka membeku kaku.
Sosok wanita itu sangat pucat, dengan mata bengkak dan memerah, juga bibir pucat pecah-pecah. Wajahnya tanpa ekspresi, kosong seolah telah kehilangan jiwa. Tubuh kurus yang terlihat akan patah kapan saja, dilapisi oleh jaket hitam dan jins hitam. Baik ekspresi maupun pakaiannya, ia terlihat suram dan menyendiri. Sangat berbeda dengan Nanda yang ekspresif dan cerah yang biasa mereka kenal.
"Sayang, ayo makan di bawah," Arina tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung menghampiri Nanda, merangkul bahunya dengan lembut. "Di bawah banyak makanan kesukaanmu, kamu bisa makan sepuasnya. Sekarang, Nanda pasti lapar kan? Kamu belum makan sama sekali sejak kemarin."
Nanda hanya menatap ke wajah Ibu mertuanya selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengangguk. Sdikitpun ia tidak mengeluarkan suara. Arina juga tidak memaksa. Ia membawa Nanda berjalan melewati lorong, menuju lantai satu dimana ruang makan masih menyediakan sarapan untuk menantunya.
Sinta menghela napas. Ia baru saja hendak menutup pintu kamar iparnya, tetapi beberapa saat kemudian, membeku kaku.
Ruangan kamar, yang besar dan cenderung mewah, disiapkan dengan hati-hati dan di tata sedemikian rupa, mendadak berubah seolah-olah habis terkena bencana.
Pemandangan yang mengerikan itu membuat Sinta tidak jadi menutup pintu. Ia menatap ngeri seluruh ruangan. Semua perabotan bernatakan, terpotong dengan rapi seolah terbelah oleh pisau yang sangat tajam. Jendel pecah, bahkan dinding juga memperlihatkan beberapa goresan. Tidak ada yang selamat dari kehancuran. Kasur besar berukuran king size juga hancur, terpotong-potong dengan banyak bulu berterbangan.
Bencana macam apa ini?!
Sinta masih ingat bahwa Erica mengatakan, Nanda adalah pemilik kemampuan air. Oh, di Pangkalan, kemampuan air bisa membuat bola air, menjadi bagian penting sumber air karena kemampuan mereka cenderung lemah, tidak mampun bersaing untuk melawan zombie. Namun apa yang dilihatnya sekarang ...
Astaga, seberapa kuat kemampuan air Nanda?
.
.
.
Ruangan besar, dengan meja panjang penuh makanan itu hening. Hanya suara sendok yang menghantam piring yang terdengar. Nanda tidak mengatakan apapun, ia hanya memilih bubur kacang sebagai sarapan dan makan dengan perlahan.
Arina, yang masih cukup cemas takut Nanda tidak menghabiskan makanannya, mengawasi menantunya memakan semangkuk bubur kacang. Ia menawarkan yang lain, tetapi ditolak dengan gelengan kepala. Tangan pucat itu hanya meraih bubur kacang, memakannya dengan perlahan dan tenang.
Sifat tenang Nanda membuat Arina merasa lebih cemas. Ini seperti suasana damai sebelum terjadinya badai. Karena itu, ia mencoba membuat Nanda berbicara, tetapi menantunya tidak mengatakan apapun. Masih makan dan seolah berubah menjadi tuli.
Grek ...
Suara gesekan lantai dan kursi terdengar nyaring. Hal itu membuat Arina dan Nanda sama-sama mengangkat kepala dan menatap pendatang baru. Erica, yang entah baru kembali dari mana, bergabung di meja itu. Sepasang mata menatap Nanda yang belum dilihatnya dari kemarin. Ia agak terkejut memandang keponakannya yang terlihat sangat suram, tetapi memilih bungkam dan tidak berkomentar tentang penampilannya.
"Nda, kamu mau bantu anak-anak latihan dulu?" tanya Erica to the point.
Nanda berkedip, lalu menggelengkan kepala. Ia menunduk, memakan kembali bubur seolah keberadaan Erica tidak pernah ada. Reaksi itu membuat alis Erica terajut. Ia menatap Arina, tetapi yang ditatap hanya tersenyum meminta maaf kepadanya. Oh, sungguh, Erica dan Arina tidak pernah tahu, bahwa ketika sosok Tantenya itu muncul, jantung Nanda terasa mencelos.
Mendadak, ia ingat bahwa seharusnya, Pamannya masih hidup.
Dikehidupan sebelumnya, saat Nanda diselamatkan Ganesha karena hampir diperkosa, Ganesha mengajarinya untuk menembak. Saat itu juga, ia bertemu dengan Paman dan Tantenya. Karena itu, selama beberapa hari tinggal di Pangkalan 2, ia tinggal dengan mereka sebelum akhirnya bertemu dengan kelompok Raja dan memilih mengikuti mereka karena ingin mencari kedua orang tuanya.
Namun dikehidupan ini, Pamannya menjadi zombie. Bukankah ... bukankah Pamannya adalah Tentara? Pangkatnya lumayan tinggi. Tetapi kenapa Pamannya berubah menjadi zombie? Apakah karena Pamannya menjadi salah satu anggota tim yang ditugaskan untuk mencarinya? Ia dan Tantenya berada di area yang terbilang hampir sama, ada kemugkinan tujuan utama Pamannya ikut kelompok pencarian karena ingin mencarinya dan juga Tantenya.
Karena itu ... karena itu ... karena ia berkemungkinan besar ikut ke dalam tim Ganesha dan tim Ganesha diserang oleh segerombol Zombie ...
Pamannya turut berubah menjadi zombie.
Tanpa sadar, tangan ramping gemetar. Sendok yang sebelumnya hendak mengambil bubur, kini tidak jadi terangkat. Jantungnya berdebar kencang, sesak bukan main ketika menyadari efek kupu-kupu lain yang disebabkannya. Namun, wajah itu masih begitu tenang, tanpa ekspresi dan seolah tidak mencerminkan sedikitpun emosi.
"Eh? Nda sudah kenyang?" Arina menatap kaget menantunya yang berhenti makan. Nanda tidak mengatakan apapun. Ia menaruh sendok dan bangkit berdiri. Berjalan dengan linglung meninggalkan meja makan tanpa memperdulikan panggilan Arina yang cemas.
Erica menatap bingung keponakannya, tetapi masih menoleh ke arah Arina dan tersenyum menenangkan. "Biar aku yang mengikutinya," ucapnya, lalu berdiri dan dengan segera menyusul Nanda yang berjalan keluar dari mansion.
Erica tahu bahwa Nanda dan Ganesha sudah berpacaran sejak SMA. Hubungan mereka berjalan dengan sangat mulus seolah-olah tercipta tanpa gelombang. Selama bertahun-tahun pacaran, mereka sekalipun tidak pernah putus atau terdengar memiliki pertengkaran. Sungguh sangat mengejutkan bagi Erica bahwa mereka bisa bersama dengan kepribadian yang saling bertolak belakang. Namun yang lebih mengejutkan baginya, bahwa kepribadian yang berbeda itu justru berubah menjadi begitu harmonis katika keduanya bersama.
Karena itu, ketika ia menyadari bahwa Nanda hanya sendiri, bahwa ia terpisah dari Ganesha tetapi masih menampilkan sisi yang begitu bebas dan tenang, ia sempat bingung dan bertanya-tanya. Apakah Nanda tidak memiliki perasaan kepada Ganesha? Mereka biasanya lengket, bukankah seharusnya ada kepanikan ketika mendadak berpisah? Terlebih di dalam lingkungan yang seperti ini?
Namun ketika melihat kegelisahan dan kepanikan Nanda ketika mereka akan semakin dekat dengan Pangkalan 1, Erica tahu bahwa ternyata, selama ini Nanda menahan diri. Keponakannya dengan baik menyembunyikan peraaannya, tetap tersenyum dan bertingkah selayaknya Nanda yang ia kenal. Tetapi sekarang ...
__ADS_1
Menatap seseorang yang berjalan di depannya, Erica mendapati punggung yang tegap dan lurus itu kini begitu sunyi. Sepi dan rapuh. Berjalan terhuyung-huyung ke depan seolah tidak mengetahui arah dan tujuan. Hanya mengetahui bahwa mungkin, ia masih harus hidup hanya untuk merasakan perasaan menunggu di dalam ketidak pastian masa depan.